
1 tahun kemudian. 🏵️
"Cup...cup.... cup.... Anak ganteng, jangan menangis lagi dong." Rili dengan bahagianya menggendong bayi berjenis kelamin laki-laki, yang berusia sekitar 6 Minggu. Wajah tampannya nampak memerah karena Rili selalu mentowel pipinya.
"Ellleeuuu...ellleuu.... Marah ya, karena pipinya diciumin terus." Rili sibuk mengajak bicara bayi yang masih memerah itu, dihalaman rumahnya, dibawah panas cahaya matahari. Mereka berdua sedang berjemur dipagi hari, agar bayi yang diberi nama Valri Mandraguna itu tumbuh sehat.
"Adek Valri harus berjemur setidaknya 15 menit ya. Aduuhhh... Belum genap dua bulan, Adek sudah lasak, Adek kepanasan ya? Sabar Ya sayang, ditahan dulu. Panas sinar matahari pagi sangat bagus untuk tubuh mungilmu ini.
"Adek Valri tahu tidak, cahaya matahari yang menghasilkan sinar UV (ultraviolet), apabila menyentuh permukaan kulit lembut dan halusmu ini, maka tubuhmu akan menghasilkan vitamin D. Vitamin D dibutuhkan untuk menjalankan fungsi metabolisme kalsium." Rili berbicara sendiri, sambil memijat pelan kaki dan lengan Valri yang tidak mengenakan sehelai benang itu.
"Aduhh.... cucu Nenek ganteng." Mamanya Rili mengambil alih untuk menggendong Valri.
"Dia masih bayi, penjelasanmu tentang manfaat sinar matahari tidak bisa dicerna otaknya." Mama Rili merepet, sejak punya cucu, semakin galak saja kepada putrinya.
Rili cemberut dan mendengus kesal, mendengar ocehan mamanya. Tapi, Dia tetap mengajak Valri becanda. Walau Bayi itu belum merespon.
"Lagi berjemur ya Valri." Ucap tetangga yang datang meminjam sapu lidi. "Wajahnya berubah-rubah ya, kemarin mirip Mamanya sekarang koq jadi mirip Ayahnya?" ucap tetangga Rili yang ternyata bernama Ibu Rosida.
"Iya Tante, yang penting Valri tetap ganteng kan?" Ucap Rili menirukan suara anak kecil.
Mendengar suara Rili yang lucu, membuat mereka tertawa bersama.
"Ayahnya sudah pergi lagi ya Rili?" ucap Ibu Rosida sambil memegangi kaki Valri yang mungil.
"Udah Tante. Dia hanya dapat cuti dua Minggu kemarin." Jawab Rili dengan tetap mengajak Valri becanda.
"Ya gak apa-apa sih tidak ada Ayahnya yang jaga. Toh Kakek dan Nenekny masih kuat menggendong." Ibu Rosita, mengambil sapu lidi milik keluarga Rili didekat kran air penyiram bunga.
"Iya Uwak, Ayahku harus cari uang banyak untuk beli susu dan mainan Valri." Lagi-lagi Rili menirukan suara anak-anak menjawab pertanyaan Ini Rosida.
__ADS_1
"Pinjam sapu lidinya ya." Ibu Rosida melenggang pergi.
"Ayo masuk, cahaya matahari paginya sudah mulai terasa menyengat." Mama Rili menggendong Valri, dan Rili mengekori mamanya.
"Kamu nanti sore pulangkan nak?" ucap Mama Rili, langkah Rili terhenti saat memasuki kamarnya.
"Pulang dong ma. Aku tidak menginap di Hotel. Mana bisa Aku pisah lama dengan Valri." Rili kembali menciumi pipi tembem Valri, yang berada di gendongan Mamanya.
"Aku mau mandi ni Ma, udah telat." Rili masih saja menciumi Valri yang menggemaskan itu. Walau baru berumur 6 Minggu. Tapi berat badan Valri sudah 6 kg.
"Mama juga mau memandikan Valri." Mama Rili berjalan menuju kamar mandi. Dia akan memandikan cucunya itu.
🏵️🏵️🏵️
Rili membuang napasnya kasar, saat Dia sudah sampai di parkiran khusus motor di area Hotel milik Yasir. Dengan lemas, Dia turun dari motornya. Melangkahkan kakinya dengan gontai menuju lobi Hotel.
Sejenak Dia berdiri mematung, di depan lobi Hotel. Sungguh, ini yang pertama kalinya Dia menginjakkan kakinya di Hotel ini, sejak satu tahun yang lalu. Bahkan, satu tahun ini Dia tidak pernah datang ke pantai dekat Hotel milik Yasir ini. Dia traumah, hatinya masih terasa sesak, bila mengingat perpisahannya dengan Yasir.
Di Hotel milik Yasir, sedang diadakan pelatihan UKM selama dua hari. Yaitu hari Sabtu dan Minggu. Rili kebagian tugas sebagai penanggung jawab acara. Dia sudah menolak, untuk tidak ikut sebagai panitia. Dia lebih memilih bekerja di kantor saja. Tapi, keputusan pimpinan tidak boleh dibantah.
Desain interior Hotel milik Yasir tidak ada perubahan. Hanya saja di dekat Hotel itu, sudah dibangun Waterboom.
"Kalau begini ceritanya Aku tidak bisa konsentrasi bekerja. Dikepalaku hanya ada mantan." Gumam Rili dalam hati.
"Dek Rili, Yasir apa kabarnya?" Ibu Rita bertanya, sambil memeriksa profil UKM yang sudah mengisi data.
Kenapa Ibu Rita, mengungkit Abang Yasir. Membuat aku semakin melow saja. Gerutu Rili dalam hati.
"Aku tidak tahu Bu, kami tidak pernah lagi berkomunikasi." Ucap Rili dengan tidak semangat. Dia pun beranjak pergi meninggalkan Ibu Rosita, menuju toilet.
__ADS_1
"Aduuhh.... Aku kelepasan. Pasti Dia tersinggung. Karena Aku menanyakan mantannya." Ucap Ibu Rita, Dia mentowel kepalanya sendiri. Dia merutuki dirinya yang selalu ceplas-ceplos.
Selama acara berlangsung, Rili lebih banyak diam. Setelah acara selesai pukul 4 sore Dia pulang ke rumahnya. Sedangkan Ibu Rita, memilih menginap di Hotel. Kan sayang, tidak mau menginap di Hotel padahal di suruh nginap.
🌌🌌🌌
Di Kota Canberra, Negara Australia yang terkenal dengan hewan berkantung itu yaitu kanguru. Saat ini, cuaca begitu dingin. Ternyata Canberra sedang mengalami musim gugur menjelang musim dingin. Musim dingin terasa mulai Juni-Agustus. Daun-daun di pepohonan tampak berubah warna menjadi lebih pekat. Sebagian daun di pohon malah ada yang sudah rontok. Sebagian lainnya tampak berubah warna menjadi 3 yakni hijau, kuning, dan merah.
Yasir yang sedang duduk di sofa ruang tamu apartemen mewahnya, melirik jam yang melingkar dipergelangan tangan kirinya. Waktu sudah menunjukkan pukul 08 PM. Rasanya Yasir sangat malas untuk menghadiri resepsi pernikahan relasi bisnisnya yang diadakan tidak jauh dari Apartemennya.
Dia lebih suka menghabiskan waktu malam harinya berada di Apartemen, untuk istirahat atau pun bekerja di ruang kerjanya. Sejak memutuskan meninggalkan Negara Indonesia. Dia berubah menjadi pria dingin dan Workhollik. Banyak wanita pribumi ataupun mancanegara yang mengincarnya. Tapi, sedikitpun tidak ada yang bisa mendapatkan hatinya.
Akhirnya Dia pun keluar dari Apartemennya. Penampilannya tentu saja rupawan. Dia mengenakan Jas semi formal, crop pants, dan sepatu loafer. Penampilan Yasir kali ini nampak lebih fres dan sangat Kren.
"Kini Yasir sedang duduk di jok belakang supir. Ya, di Negara Australia Dia selalu memakai jasa supir. Sepanjang perjalanan Yasir melamun. Entah kenapa satu hari ini, Dia selalu mengingat Rili.
"Tuan, sudah sampai." Suara Pak Supir menyadarkan Yasir dari lamunannya.
"Oh Iya Pak." Yasir pun memasuki Hotel tempat resepsi pernikahan itu diadakan.
Supir Yasir kebetulan adalah orang Indonesia ya. Jadi mereka berkomunikasi tetap pakai bahasa persatuan, Yaitu bahasa Indonesia.
Suasana pesta sangat meriah. Yasir banyak melihat orang-orang Indonesia di acara tersebut. Karena memang yang mengadakan Pesta ini adalah dulunya WNI, yang berimigrasi ke Australia.
Saat menikmati minuman jenis redwine, yang ditawarkan waiters. Mata Yasir membelalak, melihat sosok pria yang sangat dikenalnya.
"Kenapa Dia ada disini? Apakah Dia juga berada di pesta ini?" Dengan gugupnya Yasir berbicara sendiri. Degupan jantungnya semakin cepat, disaat Pria yang dikenalnya itu, berjalan ke arahnya. Tapi, tatapan matanya tertuju ke tempat lain.
Bersambung....
__ADS_1
Mohon beri dukungannya dengan like, coment positif, rate 🌟 5 dan jadikan novel ini sebagai favorit.
Tetap aku mengharapkan vote kalian kakak2 cantik.😍🙂