Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Sah


__ADS_3

"Turunin Bang, Aku malu dilihatin orang-orang." Ucap Rili dengan wajah bersemu merah yang disembunyikannya di dada bidangnya Yasir. Dia pun menutupi wajahnya dengan rambut panjangnya yang hitam dan lurus itu.


"Tidak akan Abang lepasin, biarin aja orang lihat. Abang senang dilihatin." Ucap Yasir dan menghentikan langkahnya di loby Hotel. Yasir yang tidak melanjutkan langkahnya, membuat Rili bertambah malu. Pasalnya saat ini Hotel milik Yasir sangat ramai, karena hari libur. Banyak pelancong yang menginap di Hotel itu.


"Tuan, Asisten Jef sudah duluan menuju kamar Presidential suite." Ucap receptions yang bernama Rina yang datang menghampiri Yasir yang tengah menggendong Rili.


"Ok, terima kasih." Ucap Yasir dengan tersenyum bahagia. Dia pun melanjutkan langkahnya menuju lift khusus untuk menuju kamar tersebut.


"Bang Yasir, turunin Aku!" seru Rili, kini Dia memberanikan diri menatap wajah Yasir yang sangat dirindukannya itu.


"Tidak akan!" Jawab Yasir tegas, dengan tersenyum. Tubuh Rili seperti kapas saja, sedikitpun Yasir tidak merasa berat saat menggendong Rili.


"Nanti tangan Abang bisa kram, karena kelamaan menggendong tubuhku ini." Ucap Rili. Dia semakin mempererat lengannya yang melingkar di leher Yasir.


"Minta diturunin, tapi semakin memeluk erat tubuh Abang." Ucap Yasir yang membuat Rili terlonjak kaget.


"Aku takut jatuh." Ucap Rili beralasan, memang Rili yang muna ini, semakin membuat Yasir gemas. Dia sebenarnya sangat senang digendong Yasir. Tapi, mulutnya selalu melontarkan kalimat perintah untuk diturunkan dari gendongan Yasir.


Ting........


Tak terasa lift khusus menuju kamar yang akan ditempati Rili dan Yasir sudah terbuka. Hanya berjalan 10 langkah, Yasir sudah berada di depan pintu kamar Hotel yang sudah terbuka. Asisten Jef, sudah menunggu di dalam kamar.


Yasir masuk ke dalam kamar dan Rili masih dalam gendongannya. Mata Rili melotot penuh menyoroti setiap sudut kamar Hotel yang interiornya sangat mewah. Ya Rili memang sedikit norak, pasalanya Dia belum pernah berada di dalam kamar yang begitu mewah, luas dan tergolong privat itu.


Berbagai fasilitas mewah tersedia khusus. Mulai dari kamar yang terdiri dari tiga ruang tidur, ruang tamu, ruang makan, area kerja yang besar, hingga kolam renang pribadi. 


"Ini kamar Hotel, atau rumah? kenapa begitu luas?" Gumam Rili dalam hati. Dia pun masih betah dalam gendongan Yasir. Sedangkan Yasir tengah menikmati tingkah Rili yang lucu itu. Yasir tersenyum, hatinya begitu bahagia. Perasaan harap-harap cemas hilang sudah. Yang ada sekarang ini adalah perasaan legah dan bahagia.


Mata Yasir tak lepas memandangi wajah Rili yang sedang takjub melihat interior kamar yang akan mereka tempati.


"Eehhmmm....ehmmmm.....!" Deheman Asisten Jef, menyadarkan Rili dari ketercengangannya. Dia pun melihat ke arah wajah Yasir yang tersenyum. Wajah Rili sedikit memelas, minta diturunkan.


"Baiklah, Abang akan turunkan!" ucap Yasir, Dia pun berjalan ke arah ranjang ukuran besar yang terdapat di ruang tersebut.


Dia mendudukkan tubuh Rili dengan pelan, yang membuat Rili merasa sangat disayang dan begitu berharga.


Rili menatap wajah Yasir yang berdiri dihadapannya.


"Malam ini kita akan menikah. Adek mandi dulu ya. Sebentar lagi akan datang tukang rias( pada zamannya Yasir dan Rili menikah, istilah MuA belum viral)." Ucap Yasir lembut, Rili yang mendongak ke arah Yasir. Langsung mendapat hadiah ciuman di kening Rili yang membuat Rili malu, karena asisten Jef masih berada di ruangan tersebut.


Rili mengangguk, sungguh saat ini Dia merasa sangat terkejut. Pikirannya melayang-layang. Kejadian ini mendadak, Dia belum ada persiapan untuk dinikahi malam ini juga. Membayangkan dirinya akan menikah dengan Yasir, membuat darahnya berdesir yang dilanjutkan dengan jantungnya yang meletup-letup.


"Abang tidak akan pergi, Abang juga akan mandi disini." Ucap Yasir, Dia menatap Rili dengan gemas. Aduhhh.... Dia sudah tidak sabar untuk melahap Rili.


"Apa? mandi disini juga?" tanya Rili kaget, otaknya udah kotor, Dia sudah membayangkan akan mandi bareng dengan Yasir.


"Iya, Abang akan mandi dikamar sebelah sana." Yasir menunjuk ruang tidur dikamar itu juga.


"Oh Iya bang, kirain tadi...." Rili menghentikan ucapannya, Dia pun melirik Yasir yang kini masih berdiri dihadapannya.


"Kirain apa? Ayo, kamu mikirin apa sayang?" Goda Yasir sambil mentoel hidung mancung Rili dengan gemes.


"Adek pingin mandi bareng ya?" Yasir menjawair dagu Rili dengan tertawa kecil.


Rili menepis tangan Yasir, " Siapa juga yang pingin mandi Bareng!" Seru Rili jutek, Dia memalingkan wajahnya dari tatapan Yasir. Yang membuat Yasir begitu gemas dengan tingkah Rili.


"Abang tinggal ya dek," ucap Yasir, Dia pun mengelus lembut puncak kepala Rili yang membaut Rili salah tingkah. Kemudian Yasir dan Jef berjalan menuju ruang kerja yang masih terdapat di kamar itu.


Rili memasuki kamar mandi mewah tersebut. Sesampainya di kamar mandi. Dia sangat bingung. Dia tidak menyangka akan menikah dengan Yasir malam ini juga. Ternyata, mereka akan bersatu juga.

__ADS_1


Rili membersihkan tubuhnya dengan sabun cair yang sudah tersedia. Merasa dirinya belum wangi. Rili kemudian berendam di bathtub dengan air hangat yang beraroma terapi lavender, sesuai dengan aroma kesukaannya. Dia juga keramas.


"Aku harus wangi, Abang Yasir saja begitu wangi. Aku sungguh tidak percaya diri. Aaakuu, takut tidak bisa menyenangkannya. Dia lebih cocok mendapat wanita yang kaya raya, yang kalau keramas saja harus ke salon. Lah diriku, pergi ke salon saja kalau ingin potong rambut." Rili berbicara sendiri sambil berendam dan membersihkan semua organ tubuhnya yang bisa dijangkaunya.


Walau Rili jarang ke salon, sebenarnya Dia sangat menjaga keindahan tubuhnya. Tapi, secara tradisional. Dia Selalu minum jamu kewanitaan, luluran yang diraciknya sendiri dengan menghaluskan kunyit, beras dan bengkuang. Sehingga, kulit Rili bersih, putih dan halus. Orang-orang pasti mikirnya Rili sering ke salon untuk perawatan.


"Dek...!" Rili terkejut mendengar suara Yasir yang memanggil-manggil namanya dari balik pintu kamar mandi. Dia keasyikan berendam sambil berfikir keras, mengenai kejadian hari ini yang diluar jangkauan otaknya.


Dia sama sekali belum sempat menghubungi kedua orang tuanya. Bagaimana mungkin Dia menikah tanpa restu Ayah dan Ibunya.


"Dek, kenapa lama sekali?" ucap Yasir dengan panik, Dia sudah menduga-duga hal buruk yang menimpa Rili di dalam kamar mandi. Pasalnya sudah 30 menit Rili belum juga keluar dari kamar mandi.


Yasir saja, sudah siap dengan pakaiannya untuk ijab kabul. Dia mengenakan setelan jas satu dengan warna yang seluruhnya putih mulai dari kemeja, rompi, dasi hingga bawahannya yang membawa kesan sakral yang kental. Ditambah saputangan saku berwarna gold yang membuat tampilan Yasir kali ini semakin Kren saja.


"Dek Rili, Abang hitung sampai 10 ya, kalau Adek belum keluar, Abang masuk ya?" teriak Yasir, yang membuat Jef dan tukang rias juga ikut panik.


"Satu....Dua..... tiga........" Yasir mengencangkan suaranya yang membuat Rili gelabakan di dalam kamar mandi. Dia kebanyakan berfikir, sehingga Dia sedikit telmi dan tiba-tiba jadi pelupa.


Ceklek


Rili keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai Bathrobe warna pink, dengan rambut basa digerai. Dia menundukkan kepalanya. Dia beranggapan Yasir marah kepadanya, sehingga Yasir berteriak memanggilnya.


Dug.....dug...dug..... Melihat Rili yang keluar dari kamar mandi dengan menggunakan Bathrobe, jantung Yasir kembali berdegup kencang. Tidak dipungkiri, mengingat Rili saja, hormon testosteronnya pasti meronta-ronta. Apalagi melihat penampilan Rili dihadapannya sekarang, jangan tanya lagi. Dia tidak munafik, Dia ingin menyentuh wanita itu. Dia ingin mengekspresikan cintanya.


"Kalian keluar dulu!" Perintah Yasir dengan memberi kode mengusir dengan tangannya kepada Asisten Jef dan tukang rias. Dia tidak mau Jef dan tukang Rias, melihat keadaan Rili saat ini yang menurutnya sangat menggoda.


"Oalah Bos Yasir, orang mah melihat Nona Rili biasa saja. Nona Rili kan menggunakan Bathrobe yang menutupi tubuhnya." Asisten Jef menggerutu dalam hati.


Sepeninggalan Asisten Jef dan tukang Rias. Yasir meraih tangan Rili, yang memegangi pinggir bathrobe bagian bawahnya. Yang membuat Rili memandang wajah Yasir.


"Aku tidak bisa menikah malam ini." Ucap Rili saat Yasir menarik pelan lengan Rili. Dia ingin menuntun Rili untuk duduk di kursi di depan meja rias.


Ucapan Rili membuat Yasir terkejut, Dia menghentikan langkahnya dan berputar, sehingga mereka bersitatap.


"Aku tidak siap menikah saat ini." Ucap Rili dengan lemah, tubuhnya bergetar karena menahan tangisnya yang akan pecah.


"Apa maksud Adek, Apa Adek tidak ingin hidup bersama dengan Abang? Abang sangat mencintaimu. Ku mohon, bersedialah sayang! walau malam ini kita nikah sirih. Tapi, besok semua berkas sudah akan selesai diurus." Ucap Yasir dengan berusaha melihat wajah Rili yang selalu menunduk dan bersembunyi dibalik rambutnya yang masih basah.


"Rili menggeleng, Rili menolak menikah malam ini. Karena Dia ingin pulang dan meminta restu dulu kepada orang tuanya, setidaknya orang tuanya harus tahu jika Dia akan menikah.


"Ini mimpi, ini hanya mimpikan?" Rili sudah terisak, Dia menatap Yasir.


"Iya, ini mimpi kita yang akan menjadi nyata sayang. Kenapa Adek menolak menikah malam ini?" tanya Yasir dengan perasaan kacau. Kenapa Rili jadi berubah pikiran.


"Mana mungkin, Kita menikah padahal Aku belum meminta izin kepada Ayah dan Ibu. Walau Ibu selalu menolak hubungan kita, Aku tidak berani menikah tanpa diketahui mereka." Ucap Rili dengan menangis. Yasir pun langsung menarik Rili kepelukannya. Dia mencium puncak kepala Rili yang sangat wangi itu.


"Tenang ya sayang, Ayah dan Ibu sudah memberi restu. Bahkan Ayah ikut mempersiapkan semuanya. Mereka sekarang berada di Hotel ini." Ucapan Yasir membuat Rili tercengang. Dia pun menatap mata Yasir dengan berkaca-kaca.


"Benarkah?" tanya Rili tidak percaya. Yasir mengangguk Dia pun kembali memeluk Rili.


Rili merasa sangat nyaman dalam pelukan Yasir, sungguh Dia sangat menyukai wangi tubuh Yasir.


"Kalau Abang dipeluk terus, kapan Adek pakai bajunya? tidak mungkin kan, penampilan Adek seperti ini saat ijab kabul?" Yasir menggoda Rili yang membuat rona merah di pipi Rili. Akhirnya keduanya melepas pelukannya.


"Abang sudah rapi, maaf gara-gara Aku menangis pakaian Abang jadi basah dan lusuh."


"Iya sayang, tidak apa-apa. Apa Adek mau sholat Maghrib?"


"Iya, sudah dapatkah waktunya?" tanya Rili matanya mencari jam dinding di kamar tersebut.

__ADS_1


"Waktunya sudah mepet sayang, Ayo Adek wudhu lagi. Abang tunggu disini." Ucap Yasir dengan tersenyum. Walau Yasir mesum kepada Rili, Dia masih ingat Tuhannya. Ya namanya manusia.


Rili pun berjalan cepat menuju kamar mandi untuk berwudhu. Dia pun melakukan sholat Maghrib dan berdoa semoga dosa-dosanya di ampuni.


Rili pun akhirnya dirias. Saat Rili dirias, Yasir diusir oleh Rili dari tempat itu. Karena, Rili grogi dilihatin oleh Yasir terus. Akhirnya Yasir mengalah, Dia pun masuk ke ruang kerja dan mendapati Asisten Jef diruang tersebut yang sibuk mengurus dokumen pernikahan Yasir untuk di daftar besok.


"Apa semuanya sudah beres?" tanya Yasir, Dia mendudukkan bokongnya, di sofa sebelah Jef.


"Sudah Bos. Tapi, ada sedikit kejanggalan mengenai mas kawin?"


"Masalah apa?"


"Sebaiknya mas kawinnya, tidak usah dinampakkan saat ijab kabul."


"Kenapa seperti itu?" tanya Yasir bingung. Dia pun mengubah posisi duduknya menjadi Tegap menghadap Jef.


"Uang sebanyak 16 Milyar itu kebanyakan Bos." Ucap Jef dengan menghela napas dalam.


"Itu masih sedikit, Aku malahan maunya mas kawinnya semua harta yang ku punya." Ucap Yasir kesal kepada Asisten Jef.


"Siapkan semuanya, uangnya tidak usah kamu bawa 16 M. Kamu buat aja dalam bentuk bingkai atau apalah. Setbperhiasan dan seperangkat alat sholatnya juga jangan lupa kamu siapkan. Jangan buat saya malu." Ucap Yasir, Dia pergi dari ruangan kerjanya dengan menepuk pundak Jef dengan keras.


Yasir kembali mendatangi Rili yang sedang dirias. Yasir sempat megap, dan pangling melihat riasan Rili. Saat ini Rili sangat cantik, anggun dan sangat ayu.


Rili mengenakan kebaya warna putih berkerah Shanghai, yang bertabur swaroski warna navy, sangat kontras, sehingga kebaya panjang menjuntai yang dikenakan Rili terlihat sangat indah melekat ditubuh rampingnya. Yasir sampai tidak rela, penampilan Rili kali ini dilihatin banyak mata. Tahu hasilnya secantik ini, lebih baik Rili tidak usah dirias.


Mata Yasir tidak berkedip memandangi penampilan Rili. Darahnya berdesir hebat. Dia sudah tidak sabar untuk menjamah wanita yang sangat dicintainya itu. Hormon kelaki-lakiannya meronta-ronta.


Rili yang dipandangi Yasir, merasa ditelanjangi. Dia sangat malu, sekaligus cemas. Tatapan Yasir itu seperti ingin melahapnya saja.


"Tuan, kami permisi." Ucap tukang rias. Yasir tidak menghiraukan ucapan tugas Rias lagi. Dia melangkah terus ke arah Rili dengan tersenyum dan berusaha tenang, karena jantungnya berdetak tidak karuan.


"Abang, Aku ingin bertemu dengan Ayah dan Ibu." Ucap Rili saat Yasir berada satu meter dihadapannya. Saat ini Rili sedang duduk di kursi meja Rias dekat ranjang.


Langkah Yasir terhenti. Dia pun menghubungi Jef, dengan mengambil ponselnya dari saku celananya.


Setelah menelpon Jef, Yasir hendak melanjutkan langkahnya ke arah Rili.


"Baang, Aaaku haus sekali. Aku ingin minum jus alpukat pakai es yang banyak." Ucap Rili dengan sedikit gugup. Dia sengaja mengatakan itu, sungguh Rili tiba-tiba grogi dihadapan Yasir. Dia pun merasa salah tingkah diruangan yang ada hanya mereka berdua.


"Iya sayang," Yasir kini sudah berada dihadapan Rili. "Adek sangat cantik." ucap


Yasir, dengan nada lemah dan tatapan mata yang sayu. Dia menjawir dagu Rili yang menunduk itu. Yasir pun berjongkok dihadapan Rili. Yang membuat Rili semakin malu. Rona merah, jelas terlihat diwajah cantiknya.


Ceklek


Pintu terbuka, ternyata kedua orang tua Rili masuk dengan Asisten Jef. Rili menggerakkan kepalanya melihat siapa yang masuk. Matanya langsung berkaca-kaca melihat orang tuanya di tempat itu.


Yasir berdiri, sedangkan Rili langsung berlari memeluk Mamanya, Mamanya membalas pelukan Rili dengan sayang, kemudian Rili memeluk Ayahnya.


"Ayah, Putrimu ini minta restu. Maafkan Rili


yang banyak salah kepada Ayah." Tubuh Rili bergetar, air mata menetes di pipi putihnya.


"Sudah nak, jangan menangis lagi. Harusnya kami orang tuamu ini yang meminta maaf." Ucap Mamanya dengan menangis tersedu-sedu. Dia pun memeluk putri dan suaminya tersebut. Ketiganya menangis saling berpelukan. Yang membuat Yasir dan asisten Jef, ikut meneteskan air mata. Jef pun memeluk Yasir. Yang membuat Yasir bingung. Tapi, Dia tetap membiarkan Asistennya memeluknya.


💖💖💖


"Saya nikahkan engkau Yasir Kurnia bin Sultan Jalaluddin dengan putri kami Rili Askana binti Ridwan Askan dengan mas kawin seperangkat alat sholat, satu set perhiasan dan uang 16 Milyar rupiah dibayar, tunai!"

__ADS_1


"Saya terima nikah dan kawinnya Rili Askana binti Ridwan Askan dengan mas kawin tersebut dibayar, tunai!" ucap Yasir dengan tegas dan lantang.


"Bagaimana saksi?"


__ADS_2