Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Cobalah untuk mencintaiku


__ADS_3

"Coba dech lihat pria yang berdiri dekat mobil warna silver itu.!" ucap salah satu gadis yang baru keluar dari kelas bersama teman satu geng nya yang berjumlah empat orang. Auto teman lainnya melihat ke arah gerakan tangan si wanita itu.


"Ya ampun itu cowok cakep banget, nampak Mateng lagi ya Siska." Timpal teman satunya lagi.


"Aku baru lihat tu cowok. Siapa sih Dia? Apa mahasiswa disini yang lagi ambil S-2 ya?" Ucap Siska, matanya tidak berkedip melihat on Rival yang memang lagi tersenyum. Dia sedang teringat ciuman Mely tadi pagi.


"Kalau Dia mahasiswa S-2, ngapaian Dia disini. Gedung untuk pasca sarjana kan bukan disini. Apa dosen baru ya? cakep baannggeettt sih?" ucap mereka serentak dengan gaya centilnya.


"Yuk kita samperin? siapa tahu Dia kecantol sama kecantikan kita?"


"Yuk...!" Siska nampak berjalan cepat. Yang gerakan kakinya dihentikan Dina.


"Tapi nanti Dia sama Aku aja ya. Soalnya Aku yang paling cantik diantara kalian bertiga. Tentu Dia akan melirik Aku." Ucap Cewek yang Dina berpakaian minim bahan itu. Dimana Dia pakai dres ketat di atas lutut.


"Kepedean loh Dina." Timpal Siska.


"Yuk arah, jangan berantem. Jangan-jangan suami orang lagi."


"Kalau begitu cakepnya jadi simpanan juga gua mau. Lihat tuh Seperti Dia orang kaya. Mobilnya aja bagus gitu." Ucap Siska.


Kini mereka berempat sudah berada dihadapan Rival, berusaha menampilkan pesonanya masing-masing. Yang membuat Rival bingung dan heran.


"Godain kita dong bang?" ucap Dina tersenyum genit. Dengan menggerakkan jari telunjuknya yang lentik. Menyentuh dada Rival sekilas.


Tingkah Dina membuat ketiga kawannya dan juga Rival jadi tertawa.


"Gaya loe seperti banci kaleng tahu." Ucap Siska, mereka pun sama-sama tertawa. Karena tingkah Dina sangat lucu dimata mereka.


Rival yang sudah tahu bahwa cewek-cewek itu berniat menggodanya, hanya membalasnya dengan senyuman.


"Perkanalkan cewek paling cantik dan tersexsy di kampus ini. Namaku Dinanti Cinta." Ucap Dina dengan mengedipkan sebelah matanya lalu menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Rival.


Rival yang memang orangnya ramah. Menyambut tangan Dina. Kemudian ketiga wanita lainnya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk berkenalan dengan Rival.


Mely yang sudah dari tadi keluar dari kelas, dengan wajah kesal dan cemburu menyaksikan Rival, begitu ramah kepada keempat gadis centil itu. Dia sampai mengepalkan tangannya dan meninju dinding bangunan kampus dekat parkiran. Dia pun berjalan cepat menghampiri Rival dan keempat wanita yang kini nampak akrab bicara dengan Rival.


"Eeehhmm...eehhmmmm. eeehhmmm...!" deheman Mely untuk ketiga kalinya tidak digubris Rival dan keempat cewek centil itu. Karena Rival tidak menyadari kedatangan Mely. Ditambah suasana parkiran sudah ramai, sehingga suara Mely tidak terdengar.


Merasa tidak dipedulikan, Mely dengan cepat menerobos disela-sela tubuh keempat wanita itu. Kini Dia sudah berdiri disebelah Rival. Rival terkejut, tapi Dia masih tersenyum kepada Mely.


"Ngapain loe semua godain suami gua?" tanya Mely dengan wajah menantang. Ucapan Mely membuat keempat wanita itu tertawa kecil dengan centilnya.

__ADS_1


"Suami, gak malu loh ngaku punya suami. Pacar saja kamu gak punya. Bagaimana mau punya, lihat tuh gaya loe biasa aja. Mana ada pria yang mau sama cewek jadi-jadian kayak loe." Ucap Dina dengan menahan tawa.


Mely melirik ke arah Rival yang kini diam tanpa ekspresi. Kemudian Mely melirik keempat wanita dihadapannya.


"Mau bukti loh, Dia suami gua." Mely pun membuktikannya dengan cepat mencium pipi Rival yang membuat keempat cewek itu melototkan matanya, kemudian dengan bersamaan menutup mulutnya yang menganga.


Rival yang tidak tahu akan dicium Mely pun akhirnya tidak bisa menghindar. Karena Mely melakukannya dengan cepat. Rival menjadi sangat malu. Benar ya Mely ini tidak tahu aturan tempat.


Melihat Rival yang diam saja tidak menolak atau marah dengan perlakuan Mely. Akhirnya keempat wanita itu pun yakin bahwa Mely ada hubungan dengan pria yang dihadapan mereka.


"Udah ah cabut." Ucap Dina, akhirnya keempat wanita itupun meninggalkan mereka dengan berbisik-bisik. Mereka tidak terima Mely adalah istrinya Rival.


Rival langsung memutari mobil membukakan pintu mobil untuk Mely. Tapi, Mely tidak beranjak dari tempatnya berdiri. Dia kesal kepada Rival yang tersenyum karena dikerumuni cewek.


"Dek, ayo masuk!" ucap Rival dengan lembut, tapi hatinya sedang bahagia melihat Mely cemburu. Jelas sudah Mely sangat menyukainya.


Mely masih diam tidak menggubris Rival, sehingga Rival pun berjalan ke arah Mely. Menuntunnya masuk ke dalam mobil. Setelah Mely duduk manis. Rival menutup pintunya, berjalan cepat untuk masuk ke dalam mobil.


"Pakai seat belt nya Dek!" titah Rival, Mely masih cemberut. Akhirnya Rival memasangkannya. Disaat Riaval memasangkan seat belt, Mely terus saja menatap wajah Rival.


Tiba-tiba rasa percaya dirinya hilang, karena mendengar ucapan keempat wanita tadi.


"Apa aku tidak menarik?" tanya Mely dengan nada pelan.


Rival menoleh ke arah Mely. Sehingga tatapan mereka bertemu. Rival langsung mengalihkan pandangannya fokus untuk menyetir.


"Jawab...!" teriak Mely dengan mata berkaca-kaca. Mungkin Mely mau PMS kali makanya sensitif.


"Menarik, cantik, manis." Ucap Rival tanpa melihat ke arah Mely. Sikap Rival yang bicara itu tidak menoleh kearahnya walau sebentar membuatnya merasa Rival berbohong. Walau hati kecilnya senang dengan jawaban Rival.


"Tapi, tadi kata mereka Aku tidak menarik." Ucap Mely dengan cemberut.


"Jelaslah buat mereka Adek tidak menarik. Kan kalian satu jenis. Yang tarik menarik itu harus berlawanan jenis." Ucap Rival mencoba ngelawak. Tapi, lawakannya tidak lucu.


"Apa Aku menarik Dimata Abang?" tanya Mely dengan serius. Rival diam, jujur wajah nya Mely yang polos membuat Rival suka. Dia tidak terlalu menyukai wanita menor. Tapi sikap Mely ini yang tidak disukai Rival.


"Menarik." Jawab Rival singkat.


"Apa nanti malam kita sudah bisa tidur seranjang?" tanya Mely cepat yang membuat Rival sontak ngerem mendadak. Dia terkejut dengan ucapan Mely. Dia belum siap untuk berbagi ranjang dengan Mely. Apalagi Mely sangat agresif.


Rival diam, Dia sedang mencoba mengatur jantungnya yang berdetak cepat itu saat Mely mengajaknya tidur satu ranjang. Hal itu saat ini adalah hal yang ditakutinya.

__ADS_1


"Kenapa diam?" ucap Mely dengan kesal dan malu. Bagaimana tidak malu. Asyik Dia saja yang agresif.


"Terserah Adek saja maunya bagaimana." Ucap Rival. Dia saat ini tidak bisa bilang iya atau menolak.


"Serius terserah Aku?" tanya Mely dengan wajah sumringah. Rival mengangguk, matanya lurus ke depan menatap badan jalan.


"Hore... akhirnya Aku punya teman tidur." Ucap Mely dengan mengangkat kedua tangannya hendak merangkul Rival yang menyetir. Rival memberi penolakan.


"Jangan lasak Dek, Abang lagi menyetir." Ucap Rival dengan sedikit gugup. Dia sungguh mati Kutu dengan tindakan Mely.


Mely pun akhirnya menurunkan tangannya kembali duduk manis di bangkunya dengan tersenyum melihat ke arah Rival. Rival pun tersenyum, tapi tatapan lurus ke depan.


Sesampainya di rumah, mereka dikejutkan dengan orang tua mereka yang sedang siap-siap berangkat pergi.


"Ayah dan Mama mau kemana?" tanya Mely dengan penuh selidik.


"Ayah ada urusan penting ke Australia. Jadi Mama mau ikut." Mamanya Mely mengelus pelan kepala putrinya yang kini berdiri disebelahnya.


"Kenapa mendadak Ayah, tadi dikantor ayah tidak memberi tahu." Ucap Rival.


"Tidak mendadak, ini memang sudah terjadwal. Tapi Ayah belum memberi tahuku. Kamu kan baru seminggu bekerja. Ayah titip Mely ya. Pekerjaan disini kamu juga yang handle. Kamu Mely nurut sama suamimu. Jangan buat ulah." Ucap Pak Ali. Kini mereka pun berjalan menuju mobil yang akan membawa mereka ke bandara.


"Ayah, kami ikut antarinnya ke bandara ya?" pinta Mely. Sungguh Dia tidak sanggup pisah lama dengan Mamanya. Kalau sudah keluar Negeri biasanya lebih dari dua Minggu.


"Tidak usah. Suamimu capek itu. Hati-hati di rumah." Ucap Pak Ali. Kini mobilpun menghilang dari pandangan Rival dan Mely.


Mereka berdua pun masuk ke dalam rumah. Dimana Mely langsung menggandeng tangan Rival dengan manjanya yang membuat Rival grogi sekaligus merasa tidak biasa.


Rival melepas tangan Mely dari lengannya. Karena Dia akan masuk ke kamarnya. Tapi. Mely menolak. Dia malah menarik tangan Rival, mengajaknya masuk ke kamarnya.


"Mulai malam ini, kita tidur di kamar ku." Ucap Mely masih menarik tangan Rival. Hingga mereka masuk ke dalam kamar tersebut. Mely dengan cepat mengunci pintu kamar, Dia pun memeluk tubuh Rival dengan cepat yang membuat Rival hampir kehilangan keseimbangan.


Mely mendongak, berketepatan wajah Rival melihatnya. Mely ingin mencium bibir Rival yang setengah terbuka itu. Tapi, Dia takut Rival menolaknya seperti tadi pagi. Sehingga Dia hanya tersenyum, kemudian membenamkan wajahnya di dada Rival yang bidang. Perlahan tangan Rival bergerak membalas pelukan Mely.


Merasa pelukannya dibalas. Mely begitu senangnya. "Coba lah mencintaiku." Ucap Mely lirih dalam pelukan Rival. Rival hanya diam, tapi hatinya akan berusaha menerima istrinya itu.


TBC.


Mampir juga ke novel ku yang berjudul


Dipaksa menikahi Pariban

__ADS_1


__ADS_2