
Hari itu juga perawat yang bernama Febri, langsung bekerja di rumah nya Rival. Febri yang keibuan itu nampak memang cekatan dalam bekerja. Dia pandai membedong sikembar, dan Dia selalu sigap dalam mengurus si kembar seperti sore ini. Dia memandikan sikembar dengan melakukan message ditubuh mungil itu. Dia dengan hati-hati membersihkan pusat si kembar saat mandi. Rival senang dengan cara Febri bekerja.
"Terima kasih ya Tante Febri, si kembar sudah wangi." Rival menggendong putrinya dengan perasaan begitu bahagia. Dia mendekat ke arah Mely dan duduk dibibir ranjang mereka.
"Iya Bang, sama-sama. Aku sudah menghubungi temanku. Katanya Dia mau bekerja disini. Tapi, besok siang Dia baru sampai." Ucap Febri dengan sedikit segan, Dia masih merasa sungkan di rumah Rival. Ya namanya juga pendatang baru.
"Iya Feb, nanti seumpama kalian lembur. Ada bonus lagi." Ucap Rival sambil memandangi putrinyaa.
"Lembur.? maksudnya Abang..?" tanya Febri bingung. Tugas apa yang dikerjakan malam-malam sampai namanya lembur.
"Kamu kenapa memanggil suamiku dengan sebutan Abang?" tanya Mely penuh selidik. Memotong percakapan Rival dan Babysitter baru itu. Berani Sekali cewek ini pikirnya. Kan banyak tutur lainnya. Bapak, tuan atau Bos kek. Ini Abang. Emang Abang tukang Bakso.
Mely mulai kesal, jangan sampai wanita yang ada dihadapannya ini menyukai suaminya itu. Sudah cukup Sari pembantu Gila yang terang-terangan menyukai Rival.
Melihat istrinya mulai cemburu, Rival senang sekali. Berarti Mely masih mencintainya. Mungkin sikap Mely yang dingin karena kecewa kepadanya. Tentulah istrinya itu masih kesal. Selama empat bulan Dia tidak bisa mendampingi Mely.
Rival melirik Mely dengan tersenyum, kemudian mengalihkan pandangan datar kepada Febri.
"Nanti saya jelaskan, tinggalkan kami Feb. Nanti saya panggil lagi." Ucap Rival sopan. Dia tidak ingin orang lain mengetahui bahwa hubungan Dia dan Mely sedang tidak harmonis.
Setelah kepergian Febri, Rival menatap Mely dengan tersenyum dan penuh dengan tatapan cinta serta kerinduan mendalam.
"Sayang.... Anak-anak kita mau dikasih nama siapa?" tanya Rival tersenyum lebar, sambil mengayun-ayunkan putrinya dalam gendongannya. Dan melayangkan pandangan kepada putranya yang masih tidur pulas di box bayi.
Mely menatap suaminya itu. "Raiyan dan Raina." Ucap Mely dengan tersenyum mengelus lembut kepala putrinya. Yang masih digendong Rival.
"Hanya Aku yang boleh mengasih nama. Karena Aku yang capek dan merasakan sakit saat hamil dan melahirkan. Mas tidak boleh ikut campur untuk memberi nama kepada mereka." Ucap Mely tegas, disaat Dia melihat mulut suaminya mau protes tentang nama yang disebutkannya.
"Koq ngomongnya itu? emang Mas ada protes kamu." Cibik Rival, dan mengalihkan pandangannya ke putri kecilnya.
"Princes Raina, aduh nama yang dikasih Mama bagus banget sih!" ucapnya, Rival mulai merangkak ke atas ranjang sambil menggendong Princes Raina.
Dia pun meletakkan putrinya itu ditengah mereka, dan Rival mulai berbaring. Dia merasa sangat kantuk sekali dan juga sangat lelah. Mau tidur tanggung, waktu sudah menunjukkan pukul lima sore.
Rival memiringkan tubuhnya dengan menggunakan tangannya menopang kepalanya. Menghadap Mely yang kekesalannya terhadap suaminya itu sudah nampak berkurang.
"Raina, artinya Ratu Damai. Semoga kehadiranmu, bisa mendamaikan Ayah dan Bundamu ya Sayang....." Ucap Rival mengelus pipi putrinya yang merah dan menciumnya pelan.
"Tahu gak Raina. Ayah ini sudah ka----ngen.....
"Kangen band." Ucap Mely memotong ucapan Rival. Mely tahu suaminya itu ingin menggodanya. Pasti ingin mengatakan kangen kepadanya.
"Kangen Band? si Andika dong. Adek lagi request lagu Kangen band ya? baiklah Mas akan bernyanyi, semoga Adek terhibur." Ucap Rival mulai mencari alasan dan topik pembicaraan, agar tebakan Mely yang tahu tentang dirinya yang memang kangen itu tidak ketara.
Rival mukai mentest suaranya. "Copy.... 1, 2 eehhmmmm.. ehhmmmm.!" ucapnya dengan ekspresi wajah yang dibuat lucu. Berharap Mely tertawa.
"Bintang terlihat terang
Saat dirimu datang
Cinta yang dulu hilang
Kini kembali pulang
__ADS_1
Lihatlah dia mulai bernyanyi
Coba merangkai mimpi
Cinta yang dulu pergi
Kini datang kembali
Wajahmu mengingatkanku
Dengan kekasihku dulu
Wajahmu mengingatkanku
Dengan masa laluku...... Uupsss....! Sorry, lagunya salah ya sayang?" Rival menggaruk-garuk lehernya, dengan tertawa kecil. Dia masih berbaring miring dengan posisi membuat tangan kirinya sebagai penopang kepalanya.
Ternyata lirik lagu kangen band yang dinyanyikan Rival. Disangkut pautkan Mely dengan Rili. Semuanya jadi serba salah.
Kini Rival mendudukkan tubuhnya, Dia pun akan melanjutkan nyanyiannya, yang memang suaranya merdu.
"Kekasih yang dulu hilang
Kini dia t'lah kembali pulang
Akan 'ku bawa dia terbang
Damai bersama bintang
Kekasih yang dulu hilang
Kini dia t'lah kembali pulang
Dan takkan 'ku lepaskan
Kekasih yang dulu hilang
Kini dia t'lah kembali pulang
Akan 'ku bawa dia terbang
Damai bersama bintang.
Rival menyanyikannya dengan menggerak-gerakkan tangannya kepada Mely. Kelakuan Rival itu membuat Mely geram. Bisa-bisanya Rival meledeknya.
Rival mungkin sengaja menyanyikan itu, agar bisa mengolok-olok nya karena Dia yang menghilang sudah Kembali.
Puukk... Mely melempar bantal kepada Rival, yang langsung ditangkap Rival.
"Jangan ke GR an, Aku itu tidak ingin kembali kepadamu. Bisanya hanya menyindir." Ketus Mely. Dia pun berbaring dan membelakangi Rival dan putrinya.
"Aduhhh salah lagi. Semua yang kulakukan selalu salah. Piye to Raina?" Ucap Rival, Dia pun mencium pipi putrinya itu. Menggendong Raina yang masih tertidur, dan meletakkannya di Box bayi.
"Bobo yang pulas ya anak-anak Ayah." Rival kembali mencium gemes pipi kedua anaknya. Kemudian melirik ke arah Mely yang masih tidur miring membelakanginya.
__ADS_1
Dengan gerakan pelan, Rival merangkak di atas tempat tidur dan membaringkan tubuhnya disebelah Mely.
Mely yang merasakan pergerakan Ranjangnya, dibuat dag dig dug serrr...... Entahlah, mungkin karena sudah lama tidak bertemu. Jadi Mely merasa canggung dan malu.
Dia sebenarnya malu dengan dirinya, yang tidak dewasa mengambil keputusan main kabur dari rumah. Tapi, jikalau itu tidak dilakukan nya, mungkin suaminya itu tidak akan pernah sadar, kalau ada Dia yang layak diperjuangkan. Bukannya terus mengingat-ingat mantan.
Mely merasakan hembusan napas Rival ditengkuknya. Seketika Dia bergidik. Mata Mely membulat penuh, disaat tangan kanan Rival merambat pelan dan langsung membelit pinggangnya.
Mely yang masih malu itu, langsung maraih tangan Rival agar lepas dari tubuhnya. Tapi, tangan itu tidak bisa Mely singkirkan.
"Biarkan seperti ini. Mas sangat merindukanmu." Ucap Rival lembut tepat di telinga Mely. Yang membuat bulu Roma Mely meremang. Dia pun bergidik karena geli.
Mely merasa belum siap dengan perlakuan Rival. Hatinya masih merasakan sakit. Dia yang menyadari selama ini hanya dirinya yang memuja suaminya itu. Membuatnya mengasihani diri sendiri. Kenapa Dia tidak mendapatkan cinta yang besar, seperti Rival mencintai mantan istrinya.
Mely pun akhirnya pasrah dipeluk Rival dari belakang. Tak butuh lama, Dia pun mendengar suar napas Rival yang halus dan teratur. Ternyata suaminya itu sudah tertidur.
Mely merangkum, tangan Rival yang membelit tubuhnya dibagian perut. Dia pun menautkan jari-jarinya dengan jemarinya Rival. Dia pun ikut tertidur.
❤️❤️❤️
"Sayang, kita besok saja ya pulangnya." Ucap Yasir lembut di ceruk leher istrinya. Yasir memeluk erat Rili dari belakang dan mengendus aroma tubuh Rili di area favoritnya yaitu ceruk leher istrinya.
Mereka saat ini sedang menikmati indahnya sunset yang dilihat dari balkon kamar hotel yang mereka tempati. Hamparan Danau yang luas berwarna biru, nampak sangat indah dengan pantulan cahaya matahari berwarna jingga.
"Yachay... "
"Eeemmmm..!" ucapnya sambil menciumi leher Rili yang membuat Rili kegelian.
"Kenapa ya Mely kabur dari rumah?" ucapnya sambil mengangkat-angkat bahunya. Memberi kode agar suaminya itu menghentikan perbuatannya mencium leher Rili. Bahkan saat ini Yasir tidak sekedar mencium leher yang putih dan halus itu, tapi sudah menyedotnya.
"Sudah dong, ini sudah mau magrib. Nikmati pemandangan di depan kita." Ucap Rili lembut, sambil menggerak-gerakkan bahunya, agar Yasir menghentikan aksi mesumnya itu, walau sebenarnya Dia menyukai perlakuan suaminya itu. Tapi, saat ini Dia ingin membahas MeLy.
"Dengar gak sih, Adek ngomong?" ketus Rili. Yang hanya dijawab oleh deheman Yasir.
"Kira-kira alasan Mely kabur apa ya? kasihan sekali hidupnya. Dalam keadaan hamil besar tanpa ditemani suami dan harus bekerja keras juga." Ucapnya dengan sedih dan menangis. Sontak Yasir menghentikan aksinya, menyedot leher istrinya itu.
Kini Yasir membalik tubuh Rili sehingga mereka berhadap-hadapan dan bersitatap.
"Kenapa lagi istriku yang baik ini, sampai menangis membahas masalahnya Abang Rival. Mana Abang tahu, masalah mereka." Yasir menyeka air mata Rili dengan jemarinya.
Dia tidak akan tahan melihatnya Jikalau Rili menangis. Dia pasti ikut sedih.
"Dari kemarin Adek selalu memikirkan Abang Rival. Apa Adek masih ada rasa sama Abang itu? misal, Adek menyesal berpisah dengannya. Secara Abang Rival sekarang orang kaya." Ucap Yasir memainkan dugaannya. Dia juga bosan mendengar, setiap waktu luang dalam kebersamaan mereka Rili pasti menanyakan tentang Mely atau rival.
Rili melototkan matanya, Dia kesal dengan ucapan suaminya itu. Dia mencoba melepas tangan Yasir yang melingkar di perutnya.
"Lepas... !" Ucap Rili ketus, Dia tidak mau di peluk Yasir.
"Koq jadi marah?" tanya Yasir dengan wajah dibuat selucu-lucunya. Agar Rili tidak jadi marah.
"Ya marah lah, Adek itu tidak pernah menyesal diceraikan oleh Abang Rival. Walau Dia kaya. Emangnya Aku mata duitan. Awas.... Minggir.... Jangan peluk-peluk Aku...!" protes Rili berontak karena Yasir memeluknya erat.
"Waduh.... marah beneran. Bisa-bisa gak dikasih jatah ini entar malam." Ucap Yasir yang membuat Rili tambah kesal. Kenapa diotak suaminya itu-itu terus.
__ADS_1
Dasar laki-laki yang dipikirkannya hanya mesum terus.