Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Persiapkan Dirimu


__ADS_3

"Enak banget.!" Ucapnya tersenyum kepada Istrinya yang masih mematung sambil memegang wadah garam.


"Tapi, kurang garam dikit dek!" ucap Rival. Dia mengambil garam dari tangan istrinya, kemudian menambahkan garam ke masakan Rili.


Rival mengaduk pelan gulai ikan gembung Asam padeh yang masih di dalam panci. Kemudian Rival menuangkan gulai tersebut ke mangkuk yang terbuat dari kaca yang baru diambilnya dari rak piring.


Rili masih dalam keadaan berdiri, Dia hanya menonton suaminya yang sibuk menata makanan di atas meja. Rili merasa canggung dengan suaminya, sehingga Dia tidak tahu harus berbuat apa.


"Sudah siap, mari kita santap. Abang lapar banget ini!" ucap Rival sambil menuntun Rili untuk duduk di kursi kayu meja makan tersebut.


Kini Rival nampak mengambilkan nasi dan lauk yang sudah dimasak Rili kedalam piringnya dan juga piring Rili.


Rival nampak sangat lahap menyantap masakan Rili, sedangkan Rili belum juga memasukkan sebutir nasipun ke mulutnya. Entah kenapa Dia seolah menjadi wanita kaku sekarang kalau didekat Rival.


"Kenapa belum dimakan dek?" tanya Rival sambil melihat istrinya yang duduk disebelah kanannya.


"Aku tidak lapar." Ucap Rili berbohong.


krukkkk...krukkkk... terdengar suara dari perut Rili, yang membuat Rili refleks memegang perutnya.


"Cacing adek aja udah demo tuch, minta makan." Ucap Rival. Dia nampak mengambil nasi dan lauk dari piring Rili dengan jemarinya dan menyodorkannya ke mulut Rili.


"Aaahhhhkkkk..... buka mulutnya dek!" ucap Rival dengan berniat menyuapi Rili.


"Aaakkkkk..." ucap Rival lagi dan akhirnya Rilipun membuka mulutnya. Kini suapan pertama lolos masuk ke mulut Rili.


"Istri Abang gemesin dech! kalau mau disuapin, bilang aja dek. Gak usah malu-malu gitu!" ucap Rival dan melanjutkan menyuapi Rili kembali.


"Siapa juga yang mau minta disuapin? hadeuuhh... ini cowok bener-bener gak peka. Udah dicuekin, tapi tetap aja Sok akrab." gumam Rili dalam hati.


Setelah selesai makan, Rili memberesi meja makan dan kemudian mencuci piring kotor di belakang rumah, dimana di belakang rumah Rival terdapat tempat untuk mencuci piring yang airnya diangkut dari kamar mandi umum.


Rival nampak mengangakati air dari kamar mandi umum untuk dipindahkan ke tong penampungan air yang ada di rumah Rival.


🌸🌸🌸


Setelah mandi dan sholat ashar Rili kembali ke kamarnya. Saat mencuci piring tadi, Rival mengajak Rili JJS. Rili pun mengiyakannya.


Rili mengambil handponenya yang tergeletak di atas tempat tidur. Dia mencari kontak mamanya dan menghubunginya.


Tut....tut...tut...


Panggilan pun tersambung


"Assalamualaikum mama!" ucap Rili dengan mata berkaca-kaca. Baru pisah dua hari, Rili sudah sangat merindukan mamanya.

__ADS_1


"Walaikumsalam nak, Bagaimana kabarmu nak?" ucap mama Rili dengan sedikit isakan.


"Rili Alhamdulillah dalam keadaan baik bu. Ibu dan Ayah bagaimana kabarnya?" tanya Rili.


"Ibu dan Ayah juga dalam keadaan sehat. Mana Ibu mertuamu nak? Ibu ingin mengobrol dengan besan Ibu. Karena waktu lamaran waktu itu, Ibu mertuamu tidak ikut. Jadi, ibu ingin saling menyapa." Ucap mama Rili dengan begitu senangnya. Karena telah dihubungi putrinya.


Deg.....


Jantung Rili berdetak keras, saat Ibunya menanyakan ibu mertuanya. Entah kenapa setiap mendengar ibu mertuanya disebutkan Maka, Rili akan sedikit ketakutan.


"Ibu mertua lagi pergi ke kota Bu." Jawab Rili dengan sedikit isakan. Hatinya tiba-tiba ngilu karena sikap ibu mertuanya kembali terlintas dipikirannya.


Ceklek...


Pintu kamar terbuka. Rival nampak masuk ke kamar mereka dan ikut duduk disisi ranjang disebelah kiri Rili.


Rili dengan cepat memutar wajahnya, untuk melap air matanya. Dia tidak mau kalau Rival melihatnya menangis. Tapi, ternyata Rival sudah terlanjur melihat kalau Rili sedang menangis.


"Apa Ibu sedang menelpon?" tanya Rival sedikit berbisik ditelinga Rili, yang membuat Rili kegelian.


Rili menganggukkan kepalanya.


"Abang ingin berbicara dengan ibu, bolehkah dek?" tanya Rival.


"Iya, ini." Ucap Rili dan menyodorkan handponenya kepada suaminya itu.


Setelah panggilan telepon berakhir, Rival masuk ke kamar.


"Ini handponenya dek. Kata ibu Minggu depan Mereka akan pulang kampung, tapi akan pulang setelah cuti adek habis." Ucap Rival tersenyum.


"Apa adek udah siap? kalau sudah kita berangkat sekarang!" ucap Rival yang masih dalam posisi berdiri di dalam kamar mereka.


"Udah bang!" jawab Rili canggung.


Kini Rival nampak memasangkan Helm ke kepala Rili sambil terus menatap wajah istrinya itu, yang membuat Rili tersipu malu. Ingin rasanya Rival mencium kening istrinya sebelum memasangkan Helm untuk Rili. Tapi, Rival tahu Rili pasti mengelak.


Rili yang berada diboncengan, merasa sangat canggung. Dia duduk mengangkang dengan memberi jarak yang sedikit jauh dari suaminya itu. Sehingga tubuh keduanya yang berada di atas motor berjarak.


"Dek, duduknya jangan jauh kali dari Abang. Kalau adek duduknya jauh begitu, Abang susah bawa motornya. Geser sedikit kedepan dek!" ucap Rival sambil menatap wajah Rili yang kaku itu dari kaca spion.


"Ayo dek, geser lebih dekat ke Abang!" ucap Rival sedikit memerintah. Sehingga Rili nampak patuh dengan perkataan Rival.


Saat Rili menggeser tubuhnya lebih dekat ke suaminya itu, tiba-tiba rival ngerem mendadak. yang membuat dada Rili terbentur ke punggung Rival. Dia sengaja melakukan itu. Dia ingin menggoda istrinya yang kaku itu.


Rili hanya bisa mendumel diboncengan, Dia tahu suaminya itu sengaja melakukan itu.

__ADS_1


"Adek suka suasana danau gak?" tanya Rival sambil melihat Rili dari kaca spion.


"Suka bang," jawab Rili dengan melihat Rival dari kaca spion juga.


" Baiklah kita akan ke danau, setelah itu kita ke pasar malam ya dek?" tanya Rival.


"Iya bang," jawab Rili.


Kini nampak Rival memberhentikan motornya karena lampu merah. Sambil menunggu lampu hijau, Rival mengusap-usap dengkul Rili diboncengan yang membuat Rili grogi.


Perjalanan naik motor pun berlanjut setelah lampu hijau. Rival pun tidak banyak melakukan komunikasi lagi dengan Rili di atas motor menuju Danau. Dia tidak mau merusak mood Rili, karena Rili belum menyukainya.



Rival berhenti dipinggir Danau. Mereka menyewa sebuah pondok dipinggir danau.


Pasangan suami istri itu duduk bersebelahan yang bersandar di dinding pondok yang tidak tertutup sempurna itu, menghadap danau yang sore itu nampak begitu indah.


Sesaat suasana pondok hening, tetapi suasana hening itu tiba-tiba berubah menjadi kaku disaat Rival merebahkan kepalanya di paha Rili. Mata Rival yang berada dipangkuan istrinya itu menatap sendu wajah Rili. Seolah pemilik mata minta disayang-sayang.


Deg...Deg...Deg...


Detakan jantung Rili kembali tidak teratur. Entah kenapa setiap tindakan Rival bisa membuat Rili tidak tenang.


Rival seperti seekor kucing yang minta dimanjakan oleh majikannya. Dia mengendus-endus perut Rili. Yang membuat Rili ingin mencampakkan kepala Rival yang sok manja itu. Tapi, Rili tidak berani melakukan itu. Dia hanya diam saja.


Akhirnya Rival meraih tangan Rili dan meletakkannya dikepalanya. Dia menuntun tangan Rili untuk mengelus-elus kepalanya.


"Dek, Sejatinya pernikahan dilakukan karena adanya rasa cinta dan sayang di antara keduanya. Tapi, nyatanya dipernikahan kita tidak ada itu. Abang sangat bisa merasakan Kamu tidak mencintai Abang." Ucap Rival sambil menatap wajah Rili dengan lembut.


Rili tidak percaya suaminya bisa mengatakan itu dengan sangat tenang dan gamblang.


"Walau kamu belum mencintai Abang saat ini, Abang sangat berharap kamu tahu kewajibanmu sebagai istri itu apa. Abang mohon, jangan cuekin Abang!" ucap Rival sambil terus memandangi wajah istrinya itu.


"Salah satu tujuan menikah adalah untuk meneruskan keturunan, Abang menikah sudah lewat umur. Jadi mohon kerjasama nya dek nanti malam persiapkan dirimu, agar kita secepatnya mendapatkan keturunan!" ucap Rival dan tangannya bergerak untuk membelai pipi Rili.


Duarrr.....


Jantung Rili rasanya mau copot mendengar permintaan suaminya itu yang to the point.


 


Bersambung.


Mohon Beri like, coment positif, vote, rate bintang 5 dan jadikan novel ini sebagai favorit.

__ADS_1


Terima kasih.


 


__ADS_2