
Melihat putrinya pingsan, Mama Maryam panik. Dengan cepat turun dari Bed, berlari keluar kamar, menuju meja piket untuk memanggil perawat.
Padahal tanpa keluar kamarpun perawat bisa dipanggil dengan bel yang ada dekat bed. Mama Maryam yang panik itu, sampai hilang akal.
Perawat pun datang untuk memeriksa Mely. Karena melihat keadaan Mely cukup serius. Perawat memanggil Dokter.
"Bagaimana Dok, keadaan anak saya?" tanya Firman setelah Dokter memeriksa keadaan Mely. Tentunya dibantu oleh perawat.
"Tekanan darahnya tinggi 140/90mmhg. Ini sangat berbahaya. Diagnosa sementara ibu ini mengalami postpartum preeklampsia." Ucap Dokter, masih menatap Mely yang pingsan.
"Penyakit apa itu Dok?" tanya Mama Maryam panik. Dia pun mendekati putrinya membelai kepalanya. Mely masih pingsan.
"postpartum preeklampsia itu penyakit tekanan darah tinggi pasca melahirkan." Terang Dokter ramah. Masih setia menunggu pertanyaan keluarga pasien berikutnya.
"Apakah itu membahayakan Dok?" Tanya Mama Maryam lagi. Raut wajah cemas dan takut jelas terlihat di wajahnya.
"Berbahaya, tapi syukurlah sudah cepat ditangani. Kalau telat ditangani, bisa saja Ibu ini, kena stroke bahkan koma. Ditambah Ibu ini, masih pendarahan.
Mendengar stroke dan koma membuat Mama Maryam sedih. Dia langsung menangis memeluk putrinya yang terbaring tak berdaya itu.
"Sayang, kenapa kamu jadi kena darah tinggi." Mama Maryam masih menangis, Dia sudah tidak memeluk Mely. Karena Dokter melarangnya. Mely harus dibuat dalam keadaan rileks, agar tidak defresi.
"Kasus ini memang jarang terjadi. Biasanya Tekanan darah tinggi terjadi saat sedang hamil. Tapi, Ibu Ini Dia mengalami darah tinggi setelah melahirkan. Bisa saja sebenarnya Ibu ini telah mengalami darah tinggi saat hamil, tanpa gejala. Harusnya Ibu ini tahu, saat Dia periksa kandungannya." Jelas Dokter, menatap Mely dengan kasihan. Sudah pendarahan, kena darah tinggi lagi. Semoga tidak ada penyakit lainnya besok.
"Baiklah Bu dan Bapak. Kami tinggal dulu. Ada hal penting, cepat panggil kami." Ucap Dokter dan perawat. Mereka keluar dari ruangan kamar inap itu.
"Sudah, kamu istirahat lah. Biar Aku yang jagain Mely. Kamu juga harus banyak istrirahat dan tenangkan pikiran. Agar cepat sembuh." Ucap Firman dengan sedih, Dia menarik tubuh Maryam, agar tidak memeluk Mely lagi. Bisa-bisa Mely sesak napas karena kelakuan Maryam yang menimpah tubuhnya. Apalagi Mely sengaja diberi obat penenang oleh Dokter ke infusnya. Agar wanita itu bisa istirahat total.
"Kurang ajar si Rival itu. Penampilannya saja yang nampak alim dan polos. Tapi, kelakuannya seperti binatang. Teganya Dia berselingkuh, padahal istrinya baru melahirkan. Aku tidak akan memaafkannya. Lebih baik Mely bercerai darinya. Sejak menikah dengan Rival. Air mata tak pernah absen dari hidup Mely.
__ADS_1
"Iya, iya sudahlah. Kalau Dia datang, Aku akan membuat perhitungan dengannya." Ucap Firman menuntun Maryam berjalan ke bed nya.
Dengan bujukan Firman dan memberi pengertian, akhirnya Mama Maryam, bisa tenang. Dia pun tertidur.
"Bibi tidur saja di Bed. Biar Aku yang jaga Mely." Ucap Firman kepada Bi Ida, yang masih berdiri di sisi bed tempat Mely berbaring.
Akhirnya Bi Ida pun istirahat, Sedangkam Firman memilih duduk di sofa. Setelah menyelimuti tubuhnya Mely.
Kata Dokter, Mely akan tertidur pulas hingga sepuluh jam. Jadi, Mely tidak perlu dijagain. Sehingga Pak Firman pun akhirnya tertidur di sofa. Dia sangat kantuk sekali. Karena sudah Dua malam Dia hanya tidur ayam.
❤️❤️❤️
Tepat pukul empat pagi, Rival sudah sampai dikediamannya. Mereka ngebut dan tidak pernah berhenti, sehingga perjalanan yang harusnya ditempuh 7-8 jam. Kini hanya memakan waktu enam jam saja.
Dengan berlari, serta mencoba meredam perasaan was-was dan harap-harap cemas. Rival menekan bel rumah. Karena kunci cadangan yang ada padanya sudah hilang. Kunci itu disimpannya di dompet yang dicuri Rayati.
Tak kunjung ada yang membuka pintu, membuat Satpam memberi kunci serap kepada Rival. Pintupun terbuka, disaat yang sama para ART terbangun. Mereka hanya bisa melongo melihat tuannya masuk ke kamar.
Saat berada di ambang pintu. Dia menyoroti seluruh sudut di kamar itu.
Deg
Jantungnya berdetak cepat disaat dirinya melihat ranjang mereka kosong, tidak ada manusia yang tidur di atasnya.
Dia hanya melihat empat manusia di kamar itu. Yaitu kedua Babysitter dan anaknya yang tidur lelap di atas ambal lembut dekat box bayi si kembar.
Dia sudah tidak sabar untuk menggendong dan menciumi anak kembarnya. Tapi, Dia lebih tak sabar lagi, untuk mencium Ibu dari anak-anaknya.
Dengan langkah lebar, Rival melewati box bayi yang berisi kedua anaknya yang masih tidur dengan pulasnya. Dia menuju kamar mandi, Dia beranggapan istrinya itu, di kamar mandi.
__ADS_1
Ceklek...
Rival menekan handle pintu kamar mandi, menyoroti setiap sudut ruangan itu. Berharap matanya menangkup bayangan Mely. Tapi nyata nya Dia tidak melihat keberadaan Mely di kamar mandi itu.
Merasa tidak puas dengan apa yang dilihatnya. Rival pun memeriksa Sampai ke Bathup. Tapi lagi-lagi Mely tidak berada di dalam kamar mandi itu.
Rival semakin panik saja. Kemana istrinya. Kenapa tidak ada di kamar ini. Rival yang penasaran itu, memutuskan masuk ke ruang ganti.
Capek sudah Dia mencari Mely di ruang ganti itu. Tapi, tidak ada juga penampakan Istrinya itu. Rival yang panik mencari Mely di ruang ganti. Malah membuat keributan dengan menjatuhkan barang-barang di ruang ganti itu.
Sehingga tidur nyenyak Febri dan Ririn terganggu. Febri heran dan terkejut kenapa pintu kamar terbuka, seingatnya tadi sebelum tidur Dia menguncinya. Mendengar suara gaduh di ruang ganti. Febri yang berpikiran buruk itu, mengambil sebuah stik yang ada di sudut kamar itu.
"Sepertinya pencuri." Ucap Ririn, yang diangguki oleh Febri. Dengan mengendap-endap, mereka masuk ke ruang ganti.
Mereka melihat sosok pria berjaket kulit coklat sedang berdiri membelakanginya mereka, menghadap lemari besar.
Menyakini itu pencuri, dengan pelan Febri berjalan, sehingga sebuah pukulan benda tumpul pun, mengenai punggung Rival.
Rival berbalik badan, dan langsung menangkis pukulan kedua. Yang terlanjur melayang. Mereka tidak tahu kalau majikannya sudah pulang.
"Apa yang kamu lakukan Febri. Kamu ingin membunuhku?" tanya Rival, dengan penuh kesal serta menahan sakit di punggungnya.
"Ma---Maaf tuan,. saya kira tuan pencuri." Ucap Febri membela dirinya, agar tidak dimarahi oleh Rival. Dia dan Ririn mengatupkan kedua tangannya. Meminta maaf kepada Rival.
"Sudahlah, kamu wajar bersikap seperti itu. Mana Mely, kenapa Dia tidak ada disini?" tanya Rival, menyambar buah lengkeng di atas meja riasnya Mely. Dia tiba-tiba saja lapar luar biasa.
Menunggu jawaban yang lama dari mulut Febri, membuat Rival semakin penasaran saja. Dia melotot kepada Febri. Berharap Febri secepatnya bercerita.
Rival kemudian mengganggu anak kembarnya yang tidur pulas. Dia menciumi dengan gemes. Sehingga si Raynan terbangun.
__ADS_1
TBC
kantuk berat, besok disambung. Yuk coment positif.