
Sayup-sayup terdengar Tarhim yang merdu dari mesjid pertanda adzan subuh akan dikumandangkan. Udara segar dan Semilir angin menambah semangat untuk bangun dari mimpi.
Rili terbangun dan bergegas memasuki kamar mandi untuk mandi dan berwudhu. Rili akan menunaikan sholat shubuh. Walau sedang libur kerja, setiap bangun diwaktu shubuh Rili tidak pernah meninggalkan kebiasaannya mandi sebelum waktu shubuh.
Mandi sebelum shubuh sangat banyak manfaatnya buat kesehatan, karena pada waktu shubuh kandungan air banyak mengandung senyawa trioksigen (O3). Yang bisa menghilangkan setres, membuat awet muda dan membuat kerja organ tubuh lebih optimal.
Setelah menunaikan sholat shubuh Rili bergegas menuju dapur. Dia hendak meminta penjelasan dari mamanya tentang pernyataan Rival tadi malam yang membuatnya susah tidur.
Sesampainya di dapur, mama Rili tidak ada di ruangan tersebut. Padahal seperti biasanya setelah sholat shubuh mama Rili pasti menyiapkan teh manis dan sarapan untuk Suami dan putri semata wayangnya. Walau kadang Rili ikut membantu mamanya di dapur.
Rili yang tidak melihat ibunya di dapur, berniat menemui mamanya di kamar tidur mamanya tersebut. Rili hendak mengetuk pintu kamar mamanya. Niatnya itu terhenti, disaat Rili mendengar mamanya sedang berbicara sendiri dikamar. Tidak mungkin berbicara dengan ayah, karena ayah selalu berjamaah di mesjid.
Rili menguping pembicaraan mamanya dari luar. Betapa terkejutnya Dia bahwa lawan bicara mamanya tersebut adalah Rival dari sambungan udara.
Rili tetap diam dan bersandar di dinding kamar mamanya tersebut. Dia tidak menyangka bahwa Rival akan menelpon mamanya sepagi ini. Rili yang sedang tidak fokus, karena Dia mengingat setiap kata dari Rival dibuat terkejut oleh mamanya yang tiba-tiba memeluknya.
Mama Rili melepas pelukannya dari putrinya tersebut dan menuntun Rili untuk duduk disisi ranjang orang tua nya tersebut.
"Mama, senang sekali nak!" akhirnya kamu mau menerima lamaran nak Rival." Ucap mamanya dengan sangat bahagia, walau Rili melihat kedua mata mamanya tersebut berkaca-kaca.
"Tadi mama baru bicara dengan nak Rival, mereka akan datang Minggu depan untuk melamar kamu dan langsung acara serah-serahan dengan membawa orang tuanya dan sanak familinya juga." Ucap mamanya dengan memegang kedua bahu putrinya tersebut.
Duarr...... Rili yang mendengar ucapan mamanya dibuat sangat terkejut. Dia stunned tak bisa bergerak, tubuhnya kaku duduk di atas tempat tidur orang tuanya. Dia juga merasa tubuhnya menjadi lemas karena terkejut dengan kejadian yang mendadak ini. Jantungnya berdebar sangat keras, pelipis dan telapak tangannya mengeluarkan keringatan. Tubuhnya tidak siap mendengar ucapan mamanya.
Mama Rili yang melihat perubahan bahasa tubuhnya tersebut. Dibuat khawatir.
"Kamu kenapa nak? kamu sehat-sehat sajakan?" tanya mama Rili dengan tetap menatap mamanya.
Rili tidak menjawab pertanyaan mamanya. Dia hanya diam. Dia tidak fokus lagi. Dia ingin membantah semuanya. Bahwa Dia tidak ada niat menghubungi no Rival, tapi Dia takut mengatakannya kepada mamanya. Karena Rili melihat mamanya sangat bahagia setelah berbicara dengan Rival.
__ADS_1
Tapi, Rili ingin tahu apa yang dikatakan mamanya kepada Rival sebulan yang lalu saat Rival datang bersilaturahmi ke rumah mereka.
"Ma, dari awal kan sudah Rili katakan bahwa Rili tidak bisa menikah dengan Abang Rival. Tapi, kenapa semalam disaat saya berbicara dengan Abang Rival. Dia mengatakan bahwa mama memberi waktu sebulan berfikir buatku untuk menerima Dia? padahal jelas Rili bilang sama mama tidak mau ma?" tanya Rili dengan menumpahkan air matanya yang sudah dari tadi ditahannya.
Mama Rili diam saja, Dia juga bingung bagaimana cara menjelaskannya.
"Kenapa diam ma?" tanya Rili masih menangis sambil menggoyang lengan mamanya yang duduk disebelahnya.
"Mama tidak bilang kamu menerimanya. Mama hanya bilang. Kalau kamu menelpon Dia, berarti kamu sudah menerimanya." Jawab mama Rili dengan melihat putrinya tersebut.
"Apa kamu menghubunginya?" tanya mama Rili sambil menggoyang tangan Rili.
"Rili tidak sengaja menghubunginya ma. Tadi Rili ingin menghubungi no ponsel Abang Yasir, tapi entah bagaimana ceritanya malah Rili menghubungi no ponsel Abang Rival dan Rili langsung mematikannya. Tapi, Abang itu langsung menelpon Rili dan mengatakan bahwa Rili sudah menerima Dia." Ucap Rili dengan masih menangis. Dia kemudian memeluk mamanya dan menyandarkan kepalanya di bahu mamanya tersebut.
"Bagaimana ini ma? Rili tidak mau ma, Rili belum siap menikah!" rengeknya dalam pelukan mamanya.
Mama Rili melepas pelukan putrinya dan menatap lekat wajah putrinya tersebut.
Rili bergegas dari tempat duduknya dan berlari kecil mengejar mamanya yang berjalan menuju dapur.
Rili menggapai tangan kanan mamanya.
"Ma, Rili tidak mencintainya. Bagaimana kehidupan kami nantinya ma." Ucapnya sambil berdiri memegang tangan mamanya.
"Mama juga menikah dengan ayahmu tidak saling mencintai, tapi mama dan ayah rukun-rukun saja, bahkan kamu dan adikmu lahir juga." Ucap mamanya kesal dan menepis tangan putrinya itu dan melanjutkan langkahnya menuju dapur.
Rili tetap mengekori mamanya menuju dapur.
"Itukan cerita mama dan ayah, bedalah dengan Rili ma." Rengeknya lagi.
__ADS_1
"Mama tidak mau lagi berdebat, siapa suruh kamu menelpon Nak Rival. Tidak ada lagi penolakan! udah jangan ganggu mama. Mama mau siapin sarapan." Ucap mamanya.
Rili masih terus mengoceh sambil menangis di kursi meja makan mereka yang sederhana, tapi mamanya diam saja, tidak meladeni ucapan putrinya itu. Merasa di cuekin, akhirnya Rili masuk ke dalam kamarnya. Niat untuk membantu mamanya memasak di pagi hari akhirnya diurungkannya.
Sesampainya di kamar nya Dia melempar tubuhnya ke ranjang empuknya dengan telungkup dan langsung menyambar guling untuk dibuat sebagai sandaran wajahnya yang menangis.
Dia merutuki kebodohannya karena salah sambung tersebut. Dia merasa kepalanya mulai sakit karena kelamaan menangis ditambah tadi malam dia kurang tidur.
"Aku pusing sekali, aku butuh seseorang untuk membicarakan semua ini." Ucapnya.
Akhirnya masih terbilang pagi yaitu sekitar pukul 05.45 Wib. Rili menghubungi no ponsel Windi.
Tut.....Tut....Tut..... Sampai tiga kali panggilan Windi tidak mengangkat juga. Rili kembali menghubungi no Windi. Dan akhirnya panggilannya tersambung.
"Windi, aku datang ke rumahmu ya? ucap Rili masih dengan suara sedih dengan isakan kecil.
"Mau ngapain? aku lagi kurang sehat ini. Kepalaku pusing" Ucapnya malas.
"Aku akan menikah!" ucap rili dengan suara tangisan yang kuat.
"Apa...?" Windi yang terkejut mendengar ucapan sahabatnya tersebut, mendadak sakit kepalanya hilang.
"Iya," ucap Rili.
"Baguslah !" jawab Windi
"Akhirnya..!"
Bersambung.
__ADS_1
Mohon beri like, coment, vote, rate dan jadikan novel ini sebagai favorit.
Terima kasih.