
Suara adzan yang merdu dan mendayu-dayu, membangunkan Mely dari mimpi indahnya. Dengan mata yang masih terpejam, tangannya meraba-raba tempat tidur. Dia mencari keberadaan suaminya itu. Karena semalaman ini Rival selalu mendekapnya seperti induk ayam yang memberi kehangatan kepada anaknya dalam balutan sayapnya.
"Apa yang Adzan itu Abang Rival?" gumamnya, sambil berusaha mengumpulkan nyawa untuk bangkit dari tempat tidur.
"Dingin banget sih." Ucapnya kembali membaringkan tubuhnya, meringkuk dibalik sebalik. Sungguh sangat malas rasanya untuk beranjak dari tempat tidur yang tergolong tidak empuk itu.
Ingin rasanya Mely kembali tidur, tapi suara imam di Mesjid dan suara kokok ayam mengganggu konsentrasinya. Sehingga Dia tidak bisa lagi memejamkan matanya.
Sepuluh menit kemudian. Rival masuk ke kamar mereka mendapati istrinya masih berada di atas ranjang, meringkuk dibalik selimut.
Dengan pelan Rival naik ke atas ranjang itu. Yang pergerakannya dirasakan oleh Mely. Tapi, Dia berpura-pura tidur. Dia sangat menyukai cara Rival membangunkan.
"Sayang, bangun... Sholat dulu." Rival menarik selimut yang menutupi tubuh Mely sampai perutnya. Yang sembunyi dibalik selimut, masih pura-pura tidur.
"Sayang, Sayang....!?" Rival mulai membelai puncak kepala Mely dan mengelus pelan pipi Mely, yang membuat Mely tidak tahan, untuk tidak membuka mata.
"Lima menit lagi ya?!" pintanya membuka sebelah matanya. Sungguh Mely masih merasa sangat kantuk sekali. Rasanya matanya seperti ditimpah batu yang sangat besar.
"Ini sudah hampir jam enam pagi, sebentar lagi waktu sholat shubuh habis sayang. Bangun Yuk...!" Rival berusaha mengangkat tubuh Mely bagian atas. Tapi Mely langsung menjatuhkan tubuhnya lagi. Sehingga kini punggungnya bersandar di dada bidangnya Rival.
"Kenapa sampai di kampung jadi pemalas begini? biasanya juga Adek Selalu cepat bangun dan langsung olah raga. Ini kenapa mau tidur saja." Ucap Rival, Dia terus saja berusaha membangunkan istrinya itu.
"Habis Disini dingin banget. Dinginnya AC kalah." Ucapnya, mendongak melihat wajah Suaminya yang kesal.
"Iya, lagi musim dingin disini. Cepatlah bangun, kita mandi di sungai. Setelah itu kita cari jamur. Tapi, sebelum nya Adek sholat dulu." cap Rival, Dia beranjak dari tempat tidur. Menarik lengan istrinya itu agar turun dari tempat tidur mereka.
Mely pun dengan malasnya berjalan menuju kamar mandi umum. Sesampainya di kamar mandi tersebut. Kehadirannya membuat penghuni kamar mandi bertanya-tanya. Sehingga bisik-bisik pun didengarnya.
__ADS_1
"Ise do anak boru i, jeges hian. (Siapa gadis itu, cantik sekali)." Mely mendengar ucapan Ibu paruh baya kepada Ibu lainnya di kamar mandi umum tersebut, dimana MeLy tidak tahu apa arti ucapan mereka. Mely pun hanya tersenyum kepada ibu-ibu yang ada di kamar mandi umum tersebut.
"Inda hu boto. Pette da aso hu sapai jolo (Aku tidak tahu, tunggu Aku tanya dulu)." Jawab Ibu satu lagi yang usianya lebih muda.
"Halak dia deho Dek? (Orang mana Dek?)" tanya salah satu Ibu muda yang lagi mandi kembang kepada Mely, sedangkan Mely sedang ingin berwudhu.
Kening Mely menyergit, tapi Dia tersenyum kepada Ibu yang mengajaknya bicara. Sungguh Dia tidak mengerti bahasa yang di ucapkan Ibu itu.
"Maaf ya, kak nanya apa ya?" ucap Mely ramah, menatap Ibu-Ibu yang mengajaknya bicara.
"Inda mangarti Ia bahasatta. Pakai Bahasa Indonesia ma Hita sapai jolo.( Dia tidak mengerti bahasa kita. Pakai bahasa Indonesia saja kita nanyainnya). " Ucap Ibu paruh baya itu.
"Adek orang mana? dan saudaranya siapa?" tanya Ibu satunya lagi yang lebih muda.
Mely tersenyum ramah. "Perkenalkan Bu, nama saya Mely, Orang Medan, istrinya Abang Rival." Jawab Mely ramah dan melanjutkan kegiatannya berwudhu.
Mely pun kembali mendengar bisik-bisik Ibu-ibu di kamar mandi tersebut.
Dengan perasaan yang sedikit kesal, Mely pun masuk ke dalam rumah. Mengabaikan Rival yang duduk di kursi plastik di beranda rumah mereka yang sedang tersenyum kepadanya.
Setelah sholat shubuh, Mely memilih bergabung dengan Rival dan Ibu mertuanya di dapur.
"Sini dekat ke tungku. Biar badan Adek hangat." Rival menggerakkan tangannya memanggil Mely. Dengan mencoba tersenyum, Mely pun mendekat kepada suaminya itu. Walau moodnya sedang tidak bagus. Dia harus bisa meredamnya.
"Sebentar lagi, kita cari jamur tanah ya Dek. Kita ngeteh dulu." Ucap Rival terseyum melihat ke arah Ibunya, kemudian mengalihkan pandangannya Kembali ke istrinya itu. Yang duduk di bangku pendek dekat mertuanya.
Pagi ini Rival melihat tatapan yang bersahabat dan penuh kasih di mata Ibunya itu. Sangat berbeda dengan tatapan mata ibunya saat Rili berada di rumah itu.
__ADS_1
Sejenak, Rival mengingat semua moment kebersamaan nya dengan Rili saat mereka sama-sama memasak setiap paginya. Dimana Rili yang selalu bersikap kaku dan canggung saat itu kepadanya. Tiba-tiba saja mata Rival berkaca-kaca, disaat kenangan yang menyakitkan melintas. Disaat mengetahui bahwa istrinya itu babak belur dibuat Ibunya.
"Abang kenapa?" tanya Mely yang melihat perubahan raut wajah suaminya itu.
"Tidak apa-apa, gara-gara asapnya mata Abang jadi berair." Rival ngeles, dengan cepat Dia melap air matanya.
"Bu, disini cuacanya sangat dingin ya?" ucap Mely, Dia tersenyum kepada Ibu mertuanya itu.
"Iya Parumaen, sudah seminggu setiap pagi cuacanya sangat dingin. Kalau siang cahaya mataharinya terik sekali." Ucapnya ramah. Mely yang duduk disebelahnya langsung merangkul Ibu mertuanya itu dan tersenyum kepada Rival. Yang matanya masih berkabut tebal.
"Apa itu Parumaen?" tanya Mely ramah, kini Dia menatap lembut Ibu mertuanya.
"Parumaen itu, sebutan untuk menantu perempuan. Seperti panggilan Ibu kepadamu. Dan nanti kamu panggil Bou kepada Ibu." Ucap Ibu Rival ramah.
"Oohh.... Iya Bou." Ucap Mely dengan sumringah. Dia mengulang-ulang menyebut panggilan Bou tersebut. Yang membuat Ibunya Rival tertawa. Dia merasa Mely sangat lucu.
Pemandangan yang ada dihadapan Rival sangat kontras dengan kejadian delapan bulan yang lalu, saat Rili menjadi menantu di rumah itu.
Apakah Ibunya itu benar-benar sudah berubah jadi lebih baik, setelah menjalani hukuman di penjara. Atau karena Mely adalah orang kaya, sehingga Ibunya bersikap baik. Entahlah, semoga Ibunya itu memang benar-benar sudah berubah.
"Abang, apa semua oleh-oleh sudah dikeluarkan dari mobil?" tanya Mely, menerima dengan senang hati, disaat Rival menghangatkan tangannya dengan tangan Rival yang baru saja di dekatkan ke tungku.
"Sudah, itu dipojokan." Jawab Rival matanya mengarah ke buah tangan yang sangat banyak yang dibawa oleh Mely. Kemudian Rival kembali mendekatkan kedua telapak tangannya ke dekat tungku. Setelah merasa tangannya hangat. Maka Dia akan menempelkan tangannya yang hangat itu ke tangan istrinya itu.
"Banyak banget kalian bawa oleh-oleh nya.". Ucap Ibunya Rival, menoleh ke pojokan yang sudah tersusun rapi oleh-oleh Mely yang sebentar lagi siap di bagikan.
"Assalamualaikum.....?" terdengar suara wanita yang intonasi suaranya sangat lembut.
__ADS_1
TBC.
Yang datang siapa ya?