
Mely yang tidak mendengar jawaban dari Rival akhirnya melepas pelukannya. Tiba-tiba Dia merasa malu dan pesimis.
"Aku mandi dulu." Ucap Mely dengan berjalan cepat menuju kamar mandi. Sedangkan Rival masih mematung di tempat. Dia merasa kejadian ini seperti Dejavu. Disaat dirinya meminta kepada Rili untuk mencintainya.
Mengingat kisahnya dengan Rili yang akhirnya kandas, membuat dadanya menjadi sesak. Sungguh, Dia masih mempunyai rasa kepada istrinya itu. Tak terasa butiran air mata lolos dari sudut matanya.
Rival tahu betul bagaimana perasaan Mely saat ini. Dia juga pernah merasakan itu. Merasakan cintanya tidak terbalas. Dengan menghela napas dalam Rival keluar dari kamar Mely. Mungkin akan lebih baik, Dia berada di kamarnya saja. Karena Dia masih belum bisa bersikap layaknya suami kepada Mely. Tapi, kalau Mely memaksa maka, Dia akan menuruti keinginan Mely.
Sedangkan Mely yang berada di kamar mandi. Membungkam mulutnya yang menangis itu. Dia tidak mau Rival mendengar isakannya. Dia beranggapan Rival masih di dalam kamarnya. Dia terduduk lemah bersandar di dinding kamar mandi. Dia benci dengan dirinya. Kenapa Dia bisa menyukai Rival. Apakah karena Dia mencium Rival saat di Bus?
Padahal Dia selama ini sangat susah jatuh cinta. "Apa Aku harus berjuang sendiri. Jelas dari bahasa tubuhnya Dia tidak menyukaiku. Jangankan untuk dicintai, menyukaiku pun tidak ada harapan." Gumamnya dalam hati. Dia pun melepas semua pakaiannya. Berendam dalam bathup yang sudah diisinya dengan air hangat.
Mely memainkan busa, sambil berfikir keras. Bagaimana cara mendapatkan hati Rival. Sungguh, Mely baru kali ini merasakan begitu sukanya kepada pria. Apakah Dia puber? tapi, koq telat.
"Baiklah, salah satu cara untuk menyenangkan pria adalah dengan membuat perutnya kenyang. Melayani dengan baik di ranjang dan menuruti kata suami. Itu kan kata ustazah saat mengikuti pengajian dengan Mama kemarin.
"Aku akan coba mengenyangkan perutnya dulu dengan masakanku. Kalau melayaninya di ranjang, Aku sih mau. Tapi, Aku yakin Dia pasti belum siap. Yang nantinya Dia ilfeel pula samaku." Ucapnya sambil tersenyum. Mely pun dengan cepat menyelesaikan acara mandinya.
Kini Mely nampak duduk di kursi meja riasnya. Dia mengambil ponselnya yang tergeletak di meja riasnya. Dia kepikiran kembali mencari info di internet mengenai cara menyenangkan hati suami.
Dia pun mulai mensearching info di google. Cara menyenangkan hati suami. Di barisan pertama ada link berisi 6 Sunnah yang Dijalani Istri Rasullah untuk Membahagiakan Suami. Mely pun membuka link tersebut muncullah tulisan enam cara tersebut.
Rajin berhias
Memiliki aroma tubuh yang wangi
Mentaati perintah suami
4.Tidak membuka rahasia pasangan
Berbau mulut segar
__ADS_1
Tidak banyak mendebat.
Dengan serius Dia membaca penjelasan setiap point dalam tulisan tersebut. "Point 2-6 Aku pasti bisa. Tapi, point satu ini Aku pasti tidak bisa. Aku tidak suka berhias." Gumamnya dalam hati. Nyalinya langsung ciut.
Mely menyemprot parfum yang banyak ke tubuhnya, agar wangi semerbak sepanjang malam. Dia pun keluar kamarnya berjalan cepat menuju kamar Rival. Dia mengetuk pintu kamar Rival dan mengucap salam dengan tutur bahasa yang lembut.
Suara Mely yang mendayu itu membuat Rival sontak terkejut saat memeriksa laporan yang masuk ke emailnya. Rival nampak duduk di ranjangnya sedang mengotak-atik laptopnya. Dengan perasaan sedikit berdebar. Rival menjawab salam Mely.
Entah kenapa mulai dari tadi pagi, Rival merasa sedikit grogi apabila berdekatan dengan Mely. Apa mungkin Dia mulai suka, atau hormon kelaki-lakiannya yang meronta-ronta, karena mendapat sentuhan dari lawan jenisnya. Entahlah, Rival belum bisa mengartikan perasaannya Sekarang kepada istrinya itu.
Mely berjalan pelan menuju tempat Rival yang sedang pura-pura sibuk dengan laptopnya, Dia tidak melihat ke arah Mely sama sekali yang datang menghampirinya. Melihat Rival seolah cuek kepadanya. Akhirnya Mely hanya berdiri di sebelah Rival, tepatnya disisi tempat tidur. Tanpa ada suara.
Rival yang mempunyai perasaan yang peka itu, akhirnya Dia menyudahi tingkahnya yang pura-pura cuek itu. Dia menoleh kepada istrinya itu dengan terseyum.
"Ada apa Dek?" tanya Rival basa-basi yang membuat Mely semakin pesimis. Pertanyaan Rival, diartikannya bahwa Rival tidak ingin diganggu.
Rival tersenyum dan Mely pun ikut tersenyum. Rival pun menonaktifkan laptopnya. Dia turun dari ranjangnya berjalan menuju meja yang ada di sudut kamarnya. Dia meletakkan laptopnya di meja itu. Mely hanya memperhatikan gerak-gerik Rival. Yang kini berjalan ke arahnya.
Pasangan suami istri itu kini saling pandang, tentunya Rival sedang berusaha menetralkan debaran jantungnya.
"Adek masih mau di sini?" ucap Rival memandang Mely yang masih berdiri.
"Emang kenapa?" jawabnya sendu.
"Abang mau ke dapur, kalau Adek mau disini. Abang keluar dulu." Ucapnya, Dia pun keluar dari kamarnya. Tentunya Mely mengekorinya.
Rival dan Mely kini sudah berada di ruang kitchen. Mely merasa heran kemana semua ART mereka.
"Kemana semua orang? kenapa sepi?" ucap Mely dengan bingungnya. Kini pun Dia mendudukkan bokongnya di kursi meja makan.
Padahal Dia tadi punya rencana untuk belajar memasak sama pembantu mereka, dan akan mengatakan bahwa makanan itu adalah masakannya.
__ADS_1
"Semua ART pulang kampung, saudara mereka ada yang meninggal." Ucap Rival, kini dia nampak memeriksa isi kulkas.
"Abang tahu darimana? tadi pagi masih ada semua?"
"Tadi Bang Udin yang bilang, semua ART pulang kampung tadi siang."
Mely membulatkan bibirnya, "Begini resiko punya ART banyak, tapi semua masih satu keluarga. Jadi kalau ada kemalangan atau hajatan. Semua ART pada pulang kampung." Ucap Mely dengan lesunya. Bagaimana Dia mau belajar masaknya. Dia pun berdecak kesal.
"Abang mau ngapain?" Ucap Mely, saat Dia melihat Rival mengambil beberapa potong daging ayam dari wadah yang ada di dalam kulkas.
"Mau masak, Abang lapar." Ucapnya Dia pun memakai celemek, mencuci daging ayam yang sudah dipotong-potong itu. Memasukkan ke dalam wajan, rival pun memasukkan lagi bumbu-bumbu seperti lengkuas, jahe, kunyit, bawang putih dan garam lalu mengukusnya.
Mely dibuat terkagum-kagum melihat aksi Rival yang berkutat dengan kompor dan peralatan masak itu. Hanya butuh setengah jam. Ayam goreng Kalasan dan sayur bayam bening sudah terhidang di depan Mely.
Tampilan ayam goreng Kalasan Rival sangat menarik, wangi lagi. Mely langsung merasa lapar.
"Kita makan sekarang aja yuk bang, sepertinya enak nih masih hangat." Ucap Mely dengan antusias. Dia sampai membasahi bibirnya dengan lidahnya. Karena sudah tidak sabar untuk melahap masakan Rival.
"Kalau seperti ini ceritanya, ngapain Aku belajar masak. Toh Dia pintar masak." Gumamnya dalam hati. Kini mereka sudah makan dengan posisi berhadap-hadapan dalam hening. Walau Mely selalu mencuri-curi pandang kepada Rival.
Rival sangat menyukai ayam goreng Kalasan apalagi kalau sambalnya pakai sambal belacan extra pedas. Tapi, Rival tidak mau memasak sambal belacan. Dia takut Mely merasa bau. Sehingga Rival menggantinya dengan saos cabe dan tomat.
Acara makan pun selesai, suara adzan di Mesjid berkumandang. Rival memberesi piring kotor mereka dan mencucinya di wastafel. Sedangkan Mely hanya menyaksikan kegiatan Rival. Dia masih tercengang melihat Rival mengerjakan itu semua.
Setelah Rival mencuci piring Dia mengajak Mely sholat berjamaah. Mely pun dengan semangat mengiyakannya. Setidaknya nanti habis sholat. Dia akan mencium punggung tangan suaminya itu. Dia sering melihat di TV, pasangan suami istri setelah sholat, seorang istri akan mencium punggung tangan suaminya dan si suami akan mencium keningnya. Membayangkan akan dicium Mely bahagia sekali.
TBC
Mohon Beri like, coment positif dan Vote nya ya kak.
Mampir juga ke novel ku yang berjudul
Dipaksa menikahi Pariban
__ADS_1