
Dengan perasaan kacau balau, serta sesak di dada. Rival masih berfikir logis. Benarkah yang ditulis Ibunya tersebut. Dari cerita Rili, surat Ibunya itu ada benarnya. Karena, Rili sendiri mengakui. Kalau, dihatinya ada orang lain. Bukan Rival suaminya.
Rival bangkit dari ranjangnya. Dia merenggangkan otot-ototnya yang kaku. Walau pikiran kalut, setelah sholat shubuh Dia masih bisa tertidur. Sehingga otaknya sudah beristirahat. Dia mandi di kamar mandi umum. Setelah siap dengan pakaian untuk sholat. Dia pun mengumandangkan azan untuk sholat Dzuhur.
Adzan yang dikumandangkan Rival kali ini sangat menyentuh. Suaranya yang merdu dan syahdu. Ditambah dirinya yang sedang melankolis. Membuat orang yang mendengar Adzan yang dikumandangkan Rival, merinding. Karena, suaranya masuk ke kalbu.
Setelah Sholat Dia pun berdoa. Meminta petunjuk dan ketenangan hati. Semua masalah yang datang, ada hikmahnya. Tentu Allah, selalu memberi yang terbaik untuk ummatnya.
Setelah sholat, Rival langsung berjalan kaki menuju rumah Mila Adiknya.
"Assalamualaikum...!"
"Walaikumsalam..." Jawab Mila, sambil mendayung mesin jahitnya.
Rival langsung masuk. Dan mendudukkan tubuhnya dilantai ruangan tamu Mila. Rival bersandar di tembok rumah Mila yang belum diplester tersebut.
"Abang sudah makan?" Mila bicara sambil menggunting pola kain yang dibentangkan di lantai dekat Rival.
"Belum." Jawab Rival dengan tatapan kosong memandangi langit-langit rumah Mila yang belum di asbes itu. Sehingga. Rangka-rangka atap rumah jelas terlihat.
Mila berjalan menuju dapur. Dia menghidangkan makanan untuk saudaranya itu.
"Ayo dimakan bang?" Mila menghidangkan. Sambal ikan teri campur tempe, tahu dan kacang tanah. Beserta pauknya. Sayur bening.
"Iya. Terimakasih dek." Rival pun makan tanpa suara.
"Benarkah Ibu menyusul Ayah ke kampung?" tanya Rival. Setelah Dia selesai makan. Mila pun akhirnya menghentikan aksi menggunting kain yang hendak dijahitnya.
Mila diam. Dia bingung harus berkata apa. Dia tidak tahu, kalau Ibunya dan Rayati sampai menganiaya Rili. Dia mengetahuinya, setelah Ibunya masuk tahanan. Dan tadi pagi, Dia juga menjenguk Ibunya. Ibunya berpesan, agar jangan menceritakan kepada Rival. Bahwa Ibunya lah yang mengusir Rili dari rumah. Bukan lari dengan selingkuhannya.
"Kalau Abang mu datang. Tolong bilang sama Rival, agar membebaskan Ibu. Tapi, kamu jangan bilang. Ibu yang usir Rili. Karena, Ibu sudah membuat surat kepada Abang mu Rival. Kalau Rili lari dengan selingkuhannya." Ucap Mamanya Rival kepada Mila, tadi pagi.
"Jadi, Aku harus bilang apa kepada Abang Rival Bu. Kalau Dia menanyakan Ibu dan keberadaan kakak ipar?" ujar Mila dengan panik dan takut. Seumur-umur. Dia belum pernah berurusan dengan polisi.
__ADS_1
"Kamu karang aja cerita. Ibu dan Rayati memergoki Rili dengan selingkuhannya. Terus Ibu dan Rayati dijebloskan ke penjara." Mila melamun mengingat ucapan Ibunya tadi pagi.
"Itu punggung tangan Abang kenapa?" Mila mengalihkan pembicaraan.
"Ibu menulis surat, Dia mengatakan kakak iparmu melarikan diri dengan pria lain. Sungguh, Abang tidak percaya itu." Ucap Rival. Tatapannya masih kosong. Dia mengabaikan pertanyaan Mila.
"Titip rumah ya, Abang akan ke kota S. Mencari Kakak iparmu."
"Untuk apa Abang cari, Kata Ibu, Kak ipar memang selingkuh. Ada fotonya juga. Aku juga lihat foto itu bang." Mila mulai memanas-manasi Rival.
"Dia mungkin, sudah lari jauh dengan selingkuhannya. Tidak mungkin wanita gatal itu lari ke kotanya." Ucap Mila dengan kesal. Dia pun menghentakkan gunting yang dipegangnya.
Mendengar ucapan Mila, Rival makin kalut.
Menjumpai Adik sendiri, bukannya memberi masukan. Malah memperburuk suasana hatinya. Dia pun akhirnya bangkit dari tempat duduknya dan pergi dari rumah Mila.
Sesampai di rumah, Dia pun menelpon mertuanya, Ibunya Rili. Panggilan pertama langsung terhubung.
"Walaikumsalam nak, Apa kabar kalian disana? kenapa no ponsel Rili dari kemarin tidak aktif?" Ibunya Rili mencecar Rival dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.
"Ooohh ... itu, Ponsel Rili terjatuh dan rusak Bu. Makanya Rival nelpon Ibu. Ibu dan Ayah apa kabarnya?" tanya Rival dengan intonasi suara yang dibuat bahagia, padahal hatinya sedang resah dan gelisah.
"Ibu dan Ayah dalam keadaan baik-baik saja nak. Ibu ingin bicara dengan Rili. Bisakan nak?"
"Bisa Bu, tapi Rili lagi ke kamar mandi." Rival berbohong.
"Ibu dan Ayah masih dikampung. Kalau cuti Rili habis. Baru Ibu dan Ayah pulang ke rumah."
"Iya Bu. Bu, ada yang ingin saya tanyakan? Ibu jangan tersinggung ya, sebelum Rili menikah denganku, Apa Dia masih punya hubungan dengan pria yang belum selesai. Maksudku, Rili masih berstatus kekasih orang lain?" tanya Rival dengan sedikit gugup.
"Kee...na.paaa Nak Rival bicara seperti itu?" Ibu Rili sudah mulai panik. Hatinya menduga-duga. Bahwa Yasir, tidak menepati janjinya untuk menjauhi Rili.
"Tidak apa-apa Bu. Hanya ingin bertanya." Ucap Rival. Dia mendekatkan ponselnya ke Indra penglihatannya. Yang ternyata ada panggilan dari Adiknya Mila.
__ADS_1
"Bu, nanti saya telepon balik ya, Assalamualaikum...!" Rival mematikan sambungan dengan Mertuanya dan langsung mengangkat panggilan telepon dari Mila.
"Abang sekarang dimana?" tanya Mila dengan suara ketakutan. Pasalnya, Mila mendapat kabar. Bahwa. Ibunya Siang ini akan disidang. Karena bukti sudah sangat kuat. Dan keluarga tersangka tidak ada yang keberatan.
"Abang masih di rumah, sebentar lagi akan ke kota S. Abang akan mencari kakak iparmu."
"Tunggu Mila di rumah. Ada yang harus Mila katakan mengenai Ibu." Mila langsung mematikan ponselnya. Dia berlari cepat menuju rumah mereka.
Ceklek....
Mila langsung masuk dan mendapati Rival sedang duduk di lantai papan diatas tikar. Di ruang tamu.
"Bang, sebenarnya Ibu ditahan. Ibu dipenjara." Ucap Mila, dengan napas tersengal-sengal. Dia kecapekan karena berlari terlalu kencang dari rumahnya.
"Apa maksudmu?" Rival mengubah posisi duduknya menjadi lebih tegap.
"Rili dan selingkuhannya memenjarakan Ibu. Karena Ibu memergoki mereka selingkuh. Jadi, Ibu dan Maura sekarang sedang mendekam di penjara. Kalau kita tidak menjamin kebebasannya. Maka Ibu akan dihukum berat.
"Eehhh.... salah. Selingkuhan Rili itu orang kaya. Jadi, bagaimana pun cara dan usaha yang akan kita lakukan, Ibu tidak akan bisa bebas dari penjara. Abang tahu sendiri, orang kaya bisa melakukan segala cara." Ucap Mila. Dia tetap mengkambing hitamkan Rili.
Inilah orang bodoh, yang selalu. Memainkan pikirannya sendiri. Dia tidak tahu, polisi tidak bodoh. Dan ternyata, kejahatan Ibu Rival dan Rayati bertambah. Karena, Mereka membawa lari tas Rili yang berisi uang 5 juta dan kartu-kartu Rili lainnya.
Ya, setelah Rili menanyakan Tas nya kepada Yasir. Maka Yasir bertindak cepat. Memerintahkan anak buahnya. Menambah kasus kejahatan Mertua Rili dan Rayati dengan pelaporan perampokan.
"Ayo Bang, kita ke kantor polisi. Tolong, bebaskan Ibu!"
Bersambung
Mohon beri like, coment positif. Rate bintang 5 dan jadikan novel ini sebagai favorit.
Jangan lupa VOTE nya kak!
Terima kasih.
__ADS_1