Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Tetap tidak mendapat jawaban


__ADS_3

Yusuf yang mendengar ucapan Rili mendadak tidak tenang. Perkataan Ayah Yasir Kembali terngiang dipikirannya. Ayah Yasir meminta kepada Yusuf, untuk menjaga privasi Yasir. Yusuf lama terdiam, otaknya sedang berfikir keras untuk mencari jawaban yang tepat dan tidak menyakiti hati wanita yang menanyai Bosnya Yasir.


Sebenarnya Yusuf adalah asisten baru Yasir. Dia bekerja dengan Yasir baru hitungan empat bulan, setelah Yasir pergi dari kota S dan fokus menyelesaikan Masalah perusahaan Ayahnya yang di kota P.


Yusuf adalah teman Yasir sewaktu kuliah menempuh S-1. Yusuf mau bekerja dengan Yasir karena Yusuf sedang menghindari perjodohan dari keluarganya. Tapi, akhirnya Dia luluh, Dia akan bertemu dengan wanita yang akan dijodohkan dengannya dalam waktu sebulan ini.


Yusuf pernah mendengar nama Rili dari Yasir dan Dia juga mengetahui tentang kisah Yasir dan Rili, tapi Dia belum pernah melihat Rili. Makanya saat di loby Hotel dia bersikap biasa saja saat Rili terjatuh dihadapannya.


"Pak, Pak! apa Bapak mendengar ucapan saya?" ucap Rili dengan tetap melihat ke arah Yusuf. Suara Rili membuyarkan lamunan Yusuf.


Windi yang entah kenapa kesal melihat Yusuf akhirnya buka suara.


"Sepertinya Dia memang budeg," ucap Windi kesal. "Tadi saja saya memanggilnya sebanyak tiga kali, tapi Dia tidak didengarnya." Ucap Windi.


"Windi, jaga ucapanmu!" jawab Rili.


"Pak, pak Yusuf!" ucap Rili dengan melihat ke arah Yusuf yang nampak sedang tidak tenang.


Yusuf yang mendengar ucapan Windi barusan dibuat kesal. "Gara-gara wanita bar-bar ini schedule saya berantakan hari ini." Umpat Yusuf dalam hatinya.


"Begini dek Rili, kami hanya sebagai bawahan tidak bisa sembarangan menyebar privasi atasan kami." Ucap Yusup dengan sedikit merasa bersalah. Dia mengetahui semua tentang Yasir. Tapi, Dia tidak mau menceritakan semua yang diketahuinya. Yusuf ingin biarlah semuanya diketahui Rili dari Yasir sendiri.


"Baiklah, kalau Pak Yusuf tidak mau memberi informasi tentang Abang Yasir. Saya tidak memaksa. Saya hanya pingin tahu kabar Dia." Ucap Rili sedih.


"Begini nih ciri-ciri wanita lemah." Ucap Windi kesal. Orang yang diharapkannya bisa memberi titik terang tentang Yasir malah tidak bisa diandalkan.


"Pak Yusuf, yang terhormat. Mungkin kami berdua ini tidak penting buat bapak, tapi informasi yang Bapak ketahui tentang Abang Yasir, sangat berarti buat teman saya ini. Jadi mohon ceritakan sama teman saya ini. Karena,Teman saya ini pingin kepastian."


"Kepastian apa?" ucap Yusuf heran sembari bergerak mengubah posisi duduknya.

__ADS_1


"Begini, Abang Yasir menjalin hubungan dengan sahabat saya ini. Setelah Abang Yasir mendapatkan hati sahabat saya ini Dia meninggalkannya begitu saja, tanpa ada kata putus. Hilang kontak dan yang paling menyedihkan. Ternyata Abang Yasir datang ke kota ini sebulan sekali, tetapi Dia tidak memberi kabar atau menjumpai Rili." Ucap Windi dengan sedikit emosi.


Yusuf cukup terkejut dengan penjelasan Windi, setahu Dia Yasir sangat mencintai Rili dan memang sejak perayaan ulang tahun perusahaan semuanya menjadi hancur. Bahkan keberadaan Yasirpun disembunyikan dari publik. Jika ada yang bertanya tentang Yasir. Jawabannya hanya satu. Yasir sedang berada di luar negeri.


"Dan lebih menyakitkan lagi, Dua Minggu yang lalu dengan mata kepala kami sendiri, kami melihat Yasir bersama wanita di acara itu! wanita itu siapanya Abang Yasir?" ucap Windi dengan semangat sampai tangannya ikut bergerak disaat bicara.


"Kalian ya para pria tidak punya perasaan!" ucap Windi kesal, Dia berdiri dari duduknya dan berkacak pinggang di hadapan Yusuf.


Yusuf tidak tahu harus berbuat apa. Pesan Ayah Yasir, jangan membicarakan privasi Yasir, karena bisa menghancurkan semuanya. Perkataan Ayah Yasir yang mengatakan hancur semuanya itulah yang membuat Yusuf tidak mau salah berucap. Karena Suatu saat Yusuf akan mengetahui apa yang sedang terjadi. Itu pesan Ayah Yasir terhadap Yusuf.


Yusuf sangat bingung, ingin Dia menceritakan semua yang diketahuinya tentang Yasir, tapi Dia teringat pesan Ayah Yasir.


Kepala Yusuf rasanya pusing tujuh keliling, ditambah lagi Windi yang cara bicaranya blak-blakan membuat pria itu kesal, apalagi Windi mengatakan Dia tidak punya perasaan.


Aku harus pergi, bisa pecah kepalaku berhadapan dengan wanita ini, jangan sempat aku ketemu lagi dengannya.


"Maaf saya harus pergi, saya banyak pekerjaan. Sekali lagi saya tekankan! saya tidak punya hak menyebar privasi atasan saya." Ucap Yusuf dan berdiri dari sofa yang didudukinya.


Yusuf berkata seperti itu karena, Ayah Yasir sudah memperingatinya agar jangan membicarakan kehidupan pribadi Yasir.


Saat Yusuf hendak keluar dari ruangan tersebut. Rili memanggilnya lagi.


"Tolong jawab pertanyaanku.!" Ucap Rili dengan sedih.


"Abang Yasir saat ini berada di kota mana? kenapa Dia tidak datang? bukannya tiap bulan dia datang untuk memantau perkembangan Hotelnya ini?" tanya Rili.


Yusuf membalikkan badannya, lalu menatap Rili yang berdiri di dekat sofa. Dia tidak tega melihat wajah wanita yang dicintainya bosnya itu, karena wajah itu nampak sedih sekali dan mata Rili sudah berkaca-kaca.


"Bos Yasir sedang berada di luar Negeri, makanya hanya saya yang datang memantau perkembangan Hotel ini." Ucap Yusuf sambil hendak membalik badan. Tapi, sejurus kemudian. Terdengar suara Rili kembali.

__ADS_1


"Apakah wanita yang bersamanya saat perayaan ulang tahun perusahaan itu adalah istrinya?" tanya Rili, masih tetap dalam posisi berdiri di dekat sofa.


"Sekali lagi saya katakan, saya tidak punya hak membahas privasi atasan saya!" Ucap Yusuf sembari berjalan keluar ruangan disusul oleh Hendrik.


Hendrik memberi kode dengan tangannya agar Rili dan Windi jangan pulang dulu.


Tapi, Windi malah keluar dan berlari mengejar Yusuf. Kini Windi nampak sudah berada di hadapan Yusuf. Dia menghentikan langkah pria tampan itu.


"Ini, saya tidak mau mencuci pakaianmu!" ucapnya ketus sambil melemparkan dengan pelan paper bag itu tepat di dada Yusuf. Yusuf langsung menangkap paper bag itu sebelum jatuh ke lantai.


"Kalau sebuah informasi saja tidak bisa kami dapatkan darimu tuan, jangan harap saya mau jadi pelayanmu dengan mencuci pakaianmu itu. Enak saja mau menghukum orang." Ucap Windi sambil menunjuk-nunjuk Yusuf dengan jari kelingkingnya yang lentik.


Yusuf yang diperlakuakan seperti itu, hanya bisa menelan ludah dengan kasar. Dia merasa harga dirinya hilang di depan bawahannya Hendrik. Biasanya wanita yang melihatnya akan tebar pesona atau salah tingkah di depannya. Dan wanita yang bernama Windi ini membuat Dia merasa tertantang.


Hendrik yang melihat tingkah sepupunya itu hanya bisa memberi kode dari bahasa tubuh dan matanya, agar Windi bisa bersikap lebih anggun.


Windi berjalan meninggalkan kedua pria itu mematung dan akhirnya Yusuf berbalik dan melihat punggung wanita itu berjalan menuju ruangan Hendrik.


"Dengar, dengar wanita..... Wanita yang bernama Windi! Semoga suatu saat kamu bisa jadi pelayanku yang akan melayaniku setiap saat. Berdoalah semoga itu tidak terjadi." Ucap Yusuf dan berbalik badan melanjutkan langkahnya menuju parkiran mobilnya.


Windi sempat mematung mendengar ucapan Yusuf. Gimana mau menjadi pelayanmu. Mulai dari sekarang sampai seterusnya aku tidak akan ketemu denganmu lagi dan aku tidak mau lagi diajak Si Rili ke hotel ini untuk mencari keberadaan Yaisr.


"Jangan sebut namaku Yusuf. Apabila saya tidak bisa membuatmu akan menjadi pelayanku." Ucapnya dengan penuh keyakinan setelah dia mendudukkan tubuhnya di jok belakang mobil yang akan membawanya ke perkebunan sawit milik Yasir.


Bersambung.


Mohon beri like, coment, vote dan jadikan novel ini favorit jangan lupa beri penilaian bintang 5 ya say.


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2