
Lelah mencari dan Mely tidak kunjung ketemu. Hari pun sudah hampir gelap, karena sudah dapat waktu magrib. Setelah menunaikan sholat Magrib di Mesjid sekitar Desa Tomok.
Akhirnya Pak Ali dan Rival melapor ke kantor Polisi. Sedangkan Istrinya dan Sari. Menunggu kabar di penginapan yang baru mereka sewa. Hotel mewah di kota Parapat yang mereka pesan tadi siang tidak jadi ditempati.
Kebetulan Pak Polisi yang berada di kantor Polisi tersebut, adalah tergolong abdi negara yang amanah. Sehingga Pak Polisi langsung tanggap dengan laporan Ayah dan Anak itu. Pak Polisi mewawancarai Rival, menanyakan kronologis kejadiannya.
Rival dengan detail menceritakan semuanya.
"Baiklah, dari penjelasan saudara bisa kami simpulkan ini adalah kasus pencurian dan pemerasan. Apa keluarga Bapak punya musuh?" Pak Polisi yang yang ramah itu, membuat Rival yakin istrinya akan diketemukan, karena Pak Polisinya sangat kooperatif.
"Kami tidak ada musuh." Jawab Pak Ali, dengan tenang. Dia tidak boleh setres, kalau tidak mau struk ringannya kambuh.
Pak Polisi mengangguk. Kemudian Dia berfikir.
"Tolong diingat-ingat lagi Pak. Saya yakin ini kasus ada menyangkut dendam." Ucap Pak Polisi dengan mengetuk-ngetuk mejanya dengan bolpoint.
Rival pun kembali berfikir, mengingat perjalanan hidupnya setelah mengenal Mely.
"Oh iya Pak, enam bulan yang lalu. Kami dikejar- kejar penjahat. Karena bukti kejahatan mereka berada di tas istri saya." Ucap Rival dengan antusias, setidaknya ada sedikit titik terang.
"Coba ceritakan lagi kejadian yang menimpa kalian enam bulan yang lalu." Ucap Pak Polisi, dengan mengubah posisi duduknya lebih tenang, di kursi kerjanya yang empuk.
Rival pun menceritakan semuanya, termasuk pelaku pembunuhan sudah dijebloskan ke penjara. Pak Polisi mengangguk.
"Ini kasus yang serius. Apa sudah ada yang menghubungi salah satu no keluarga kalian. Siapa tahu penjahat minta tebusan uang." Pak Polisi sangat tertarik dengan kasus ini.
Rival menggeleng, Dia sangat terkejut mendengar ucapan Pak Polisi yang mengatakan kasus ini serius. Berarti penjahat tidak ingin uang. Dia dendam dan akan melenyapkan Mely.
Saat ini kekhawatiran jelas terlihat di wajah Pak Ali dan Rival. Bagaimana pun bar bar nya Mely. Mely itu putrinya dan Rival sebagai suami merasa tidak berguna, karena tidak bisa menjaga dan membimbing istrinya.
__ADS_1
"Tenang Pak, malam ini kita akan bergerak mencarinya. Walau sistem tekhnologi disini sangat minim, kita tidak bisa mendeteksi keberadaan istri Bapak dari Ponselnya. Tapi, saya tahu semua seluk beluk penjahat disini. Semoga yang menculik istri Bapak, bukan penjahat dari luar kota." Ucap Pak Polisi yang kebetulan satu marga dengan Rival tersebut, tapi Dia jenis ke Marga Batak Toba, Yaitu marga Nainggolan. Pak Polisi itu merasa Pak Ali dan Rival seperti saudaranya. Dimana-mana kalau orang Batak martarombo (membahas asal usul), sehingga akan merasa jadi saudara
Pak Nainggolan dan aparat lainnya langsung bergerak cepat mencari Mely. Tentunya Pak Polisi sudah punya mata-mata untuk menanyai penjahat di daerahnya. Pak Nainggolan juga sudah mencurigai sekelompok orang yang terkenal suka berbuat kejahatan di Daerahnya.
🌿🌿🌿
Di tempat lain dan masih diwaktu yang sama.
Nampaklah seorang wanita yang tangan dan kakinya diikat, serta mulut dilakban. Dia adalah Mely, Dia terkapar dengan Keadaannya sungguh memprihatinkan. Karena ada luka bekas tonjokan di wajahnya.
Pasalnya saat Mely diseret dari tempat persembunyiannya saat Rival mencarinya. Dia berontak, sehingga penjahat yang namanya Ucok, meninju keras wajah Mely dan memukul tengkuknya. Mely pun pingsan, dengan mengendap-endap mereka berhasil memasukkan Mely ke mobilnya dan membawa Mely dari pusat pasar itu, menuju sebuah perbukitan.
"Kenapa Dia lama sekali sadarnya." Ucap penjahat yang bernama si Ucok, yang ternyata baru keluar dari penjara.
"Itu karena tadi kamu terlalu banyak membiusnya." Ucap Firman, teman Ucok yang terkenal kesadisannya di Pulau Samosir tersebut. Makanya Si Ucok meminta bantuan kepadanya.
Niatnya malam ini, mereka akan menghubungi keluarga Mely dan meminta tebusan uang. Si Ucok menyimpang dari perintah Bosnya yang mengatakan Mely dibinasakan langsung. Tapi si Ucok yang serakah itu, ingin memeras keluarga Mely duluan sebelum melenyapkannya.
"Mana cantik lagi, mulus juga." Ucok masih saja, memandangi Mely yang lagi pingsan, karena obat bius yang berlebihan itu.
"Kamu jangan macam-macam Ucok. Aku mau membantumu menculiknya. Karena katamu, hanya ingin memeras keluarganya dan membunuhnya. Aku tidak suka ada tindak asusila, kamu lakukan disini." Ucap Firman memperingati Ucok yang mesum itu dengan mata melotot.
"Kamu jadi penjahat koq munafik." Ucap Ucok, tersenyum Devil. Dia mengangkat bibirnya sebelah kiri dan malah menantang Firman dengan melotot, kemudian Dia mendekati Mely yang terbaring di jerami dan membelai pipi Mely yang halus.
"Hentikan Ucok, aksi kita ini tidak akan berhasil, kalau kamu memanfaatkan keadaan." Firman menarik lengan Ucok, agar menjauh dari tubuh Mely yang terkapar dan tidak berdaya. Sebenarnya Mely sudah mulai sadar, disaat Si Ucok menyentuh pipi nya. Tapi Mely yang banyak akal itu masih pura-pura pingsan. Dia melakukan itu, karena mendengar persiteruan diantara kedua penjahat itu.
"Kamu apa-apaan sih, ini bonus namanya. Lihat tubuhnya indah sekali. Aku yakin ini wanita suka olah raga. Dia wanita yang menantang." Ucap Ucok, Dia kembali berjalan ke arah Mely yang sempat dijauhkan oleh Firman. Dia tidak tahan, melihat p*aha Mely yang mulus yang Terekspose itu. Karena dres yang dikenakan Mely tersingkap.
Mely sengaja memakai dres, Dia ingin nampak feminim di mata Rival. Si Ucok yang lagi Horni itu, mengelus pelan p*aha Mely sambil memegangi ular kobranya yang masih tertutupi karung itu. Yang membuat Mely berontak dalam hati. Dia ingin sekali menerjang Si Ucok sekuatnya. Tapi, Dia tidak boleh gegabah. Dia harus bisa lepas dari penjahat ini.
__ADS_1
Firman kesal, Dia menarik kembali tubuh Ucok dan menyeretnya keluar dari gubuk tempat mereka menyekap Mely.
Aduh mulut dan cekcok pun terjadi di luar gubuk. Mely mengambil kesempatan ini untuk lolos. Dia berusaha bangun dan duduk. Berusaha sekuat tenaga menggerak-gerakkan tangannya yang diikat Tali tambang yang ukurannya seperti Tali jemuran itu. Mely terus saja berusaha melepaskan tali yang mengikat tangannya.
Keringat sudah bercucuran di kening dan dari pelipis Mely. Dia sungguh ketakutan. Dia mencoba tenang, untuk menstabilkan debaran jantungnya yang cepat. Pencahayaan gubuk yang remang-remang karena hanya diterangi oleh satu buah lampu cemprong, membuat Mely kesulitan untuk menyoroti gubuk, mencari pintu keluar untuk kabur, selain dari pintu depan gubuk.
Mely masih berusaha melepas tali yang mengikatnya. Berharap kedua penjahat itu tetap bertengkar di luar gubuk. Dengan jelas Mely mendengar perdebatan penjahat itu. Yang ternyata satu penjahat yang bernama Firman menentang keinginan mesum Si Ucok.
Bughhh....Bughhh.. Bughh... Kedua penjahat itu masih saja berduel.
"Aku menyesal menyewa mu Firman dalam aksi ini. Kenapa kamu munafik. Aku juga tahu sepak terjangmu. Bukannya dulu, kamu juga pernah menodai gadis di kampung ini. Kenapa kamu sekarang melarangku..!" teriak Ucok dalam kendali Firman. Saat ini Firman membekuk Ucok, dengan menarik kedua tangannya ke punggung, hingga Si Ucok terduduk dengan bertumpu kepada lututnya.
"Kalau kamu tidak tahu ceritanya, jangan banyak cakap. Kamu batalkan niatmu itu, kita lanjutkan misi kita. Bagaimana?" ucap Firman dengan tegas, sambil menarik kembali tangan Ucok ke belakang, yang membuat Dia mengaduh kesakitan.
Ucok memaki Firman. Dia merasa menyesal menyewa jasa Firman untuk melancarkan aksinya itu.
"Berengsek kamu Firman." Ucap Ucok setelah Firman melepaskan tangan Ucok. Dengan kesalnya si Ucok meludahi wajah Firman, yang membuat Firman berang. Keduanya pun kembali bertarung.
Mely sangat senang melihat kedua penjahat itu bertengkar. Ini jelas kesempatan buatnya untuk bisa lari.
"Bren*gsek kau Firman." Ucok melancarkan tinjunya membabi buta kepada Firman, yang kali ini permainan dikuasai oleh Si Ucok. Firman tak berdaya dibawah tubuh Si Ucok yang tegap dan besar itu, yang menduduki perutnya. Wajah firman sudah babak belur di hantam kepalan tangan Si Ucok.
Jelas Firman kalah tenaga karena usia Firman sekarang yang sudah 40 tahun, kalah muda dengan penjahat yang bernama si Ucok.
"Kamu tidak akan bisa menghalangi ku untuk menikmati keindahan tubuh wanita itu." Ucapnya keras yang bisa didengar oleh Mely.
Tubuh Mely bergetar karena ketakutan. Dia tidak mau dinodai. Mely merasa jiwanya sangat terancam sekarang.
Dia terus saja, menggerak-gerakkan tangannya sambil berdoa dalam hati. Berharap Tali itu bisa melonggar, dan tangannya bisa lepas dari ikatan. Dia tidak mau tubuh yang menjijikkan itu menjamah tubuhnya.
__ADS_1
TBC
Mohon beri like, coment positif dan Vote.