
Rili masih tidak percaya melihat pria yang sekarang ada dihadapannya. Kenapa pria ini muncul lagi. Rili mematung, dengan ekspresi wajah takut, was-was dan gelisah. Mulutnya terkadang menganga dan mengatup. Sedangkan sorot matanya tidak fokus. Hendak bicara, tapi tidak tahu harus bicara apa. Dia tidak tahu harus berbuat apa.
"Dek, apa kabar?" ucapan Rival membuatnya tersadar penuh. Bahwa memang mantan suaminya itu sedang berada dihadapannya.
Rili menyorot tubuh Rival dari atas sampai bawah. Pria itu benar-benar berubah.
"Dek, apa kabar?" Rival kembali melontarkan pertanyaan yang sama. Disaat Dia menyadari bahwa Rili masih terkejut dengan kehadirannya.
"Baa..ik." Rili mengalihkan pandangannya ke arah pagar rumah. Dia tidak mau menatap mantan suaminya itu.
"Apakah tamu hanya berdiri di depan pintu?" tanya Rival dengan terseyum, Dia menoleh ke arah Rili yang tidak mau menatapnya.
Dia berubah, Dia berubah menjadi wanita yang dingin. Aku tidak direspon. Gumam Rival dalam hati.
"Ayah dan Ibu ada Dek?"
"Tidak ada." Menjawab masih tetap melihat ke arah pagar.
Melihat dirinya tidak direspon, Rival langsung masuk ke dalam rumah. Dia mendudukkan bokongnya di sofa ruang tamu itu.
Rili terkejut dan tidak bisa menghalangi Rival, agar tidak masuk ke dalam rumah. Dia kalah cepat.
Rival yang sudah mendudukkan bokongnya di sofa empuk itu. Menyoroti ruang tamu rumah mantan istrinya itu. Dia pernah tinggal di rumah itu lebih dari seminggu.
Rival melihat ada perubahan di ruang tamu. Sofa empuk berwarna hitam dan mewah serta lemari hias kaca yang megah bertengger disisi dinding ruang tamu tersebut.
Kemudian kedua bola mata Rival bergerak ke arah Rili yang mematung di dekat meja tamu. Dia juga melihat banyak perubahan di dalam dirinya Rili. Selain semakin cantik Rili menjadi dingin.
"Maaf, belum diperbolehkan masuk. Abang sudah duduk disini." Ucapnya dengan tersenyum. Raut wajah Rival sangat aneh menurut Rili.
Dia melihat ekspresi wajah Rival seperti menyesal, tapi ada kepuasan didalamnya.
Rili tidak merespon ucapan Rival. Dia hanya diam dan masih berdiri.
"Koq yang punya rumah berdiri terus. Abang tahu Adek tidak suka dengan kedatangan Abang kan?"
Sudah tahu malah balik banyak lagi.
"Abang minta maaf!"
__ADS_1
"Maaf untuk apa?" jawab Rili cepat dan cuek. Dia bingung lihat sikap mantan suaminya itu. Seperti tidak terjadi apa-apa. Dia pun akhirnya mendudukkan tubuhnya di sofa yang berada dihadapan Rival, tapi menghadap pintu rumah.
"Abang salah, Akhirnya Abang sadar. Kehadiran Abang di dalam hidup Adek, hanya membawa kesedihan dan penderitaan." Rival menyetop ucapannya. Karena Dia melihat kedua mata Rili sudah berembun.
Rili diam, Dia sedang mencoba menenangkan dirinya yang sudah mulai emosional. Dia menoleh ke atas. Menghindari matanya yang berembun mengeluarkan cairan bening.
"Ini terima ya Dek!" Rival meletakkan sebuah amplop coklat di atas meja dengan tangan sedikit gemetar. Dia sangat takut sikapnya kali ini, salah diartikan Rili dan Rili menjadi marah.
"Apa itu?" tanya Rili dengan menatap tajam ke amplop coklat yang tergeletak di atas meja.
"Hanya sedikit uang." Rival tidak sanggup melanjutkan ucapannya.
"Uang? uang untuk apa?" Dahi Rili mengkerut, bibir sebelah kirinya naik ke atas. Dia mulai terpancing.
"Sejak Abang meninggalkan Adek dan semasa Iddah, Abang seharusnya masih menafkahi Adek. Tapi, waktu itu Abang tidak bisa melakukannya. Dan sekarang A..bang ingin menunaikan kewajiba..n i...tu." Ucap Rival dengan gugup dan raut wajah takut. Dia tahu sikap Dia ini akan membuat Rili marah. Tapi, Dia tiba-tiba kasihan melihat Rili. selama menikah dengannya hidup Rili menderita dan Dia tiba-tiba meninggalkan Rili dan menceraikannya.
Hanya memberi uang yang dirasanya bisa saat ini. Seandainya Dia belum menikah. Dia pasti mau rujuk kembali kepada Rili. Karena memang Dia belum bisa melupakannya Rili seutuhnya. Semoga dengan memberi uang kepada Rili. Rili senang, Dia pun tidak merasa bersalah lagi.
"Apa yang tidak kulakukan kepadamu Abang Riva? teganya kau menilai harga diriku dengan uang." Air mata yang sudah bersusah payah ditahan agar tidak tumpah, akhirnya tumpah ruah. Akhirnya Rili menatap tajam ke arah mantan suaminya itu.
"Kalau Aku ingin uang, tidak mungkin Aku mau menikah denganmu dulu. Kalau Aku mau uang, Aku akan memilih Abang Yasir saat Dia memaksaku ikut dengannya. Tapi, Aku memilihmu. Aku mengorbankan cintaku. Karena katamu, kamu akan membuatku jatuh cinta seperti Aku mencintai Abang Yasir.
Tubuhnya bergetar, Dia merasa jantungnya saat ini gagal beroperasi. Rasanya sangat sesak, sehingga Dia merasa kehabisan oksigen.
"Alasanmu menggugatku juga sangat menjijikkan. Kamu membuat alasan bahwa dirimu impoten, tidak bisa berhubungan badan denganku. Kamu tidak bisa membahagiakanku. Sehingga pengadilan dengan cepat memutuskan pernikahan kita.
"Iya...iya benar, Aku tidak pernah hadir di sidang itu. Untuk apa Aku hadir? untuk mempermalukan diriku sendiri. Pak hakim akan menanyakan. Apakah suami Ibu benar tidak mampu memberi nafkah bathin? Terus Aku akan menjawab, Iya pak hakim. Kalau pak hakim tidak percaya. Boleh visum saya. Saya masih perawan. Begitukan? begitukan tujuanmu Abang Rival....?" Rili menangis histeris, Dia sudah tidak bisa mengontrol emosinya lagi. Dia melorotkan tubuhnya terduduk di lantai bersandarkan badan sofa.
"Alasanmu untuk menggugatku sangat keren. Kamu jahat Abang Rival. Aku memilihmu, Aku berharap dengan kebaikan dan kesabaranmu, akhirnya Aku bisa menerimamu, sehingga kita hidup bahagia. Tapi, kamu mempermainkanku. Kau meninggalkanku. Aku meninggalkan pria yang sangat ku cintai dan memilihmu. Tapi, kamu malah memberi hukuman yang berat untukku.
"Aku trauma, Aku tidak mau lagi mengenal pria. Itu semua karena kamu." Rili menatap tajam Rival, Dia menangis sambil memegangi dadanya yang sangat ngilu itu. Ingin rasanya Dia mengeluarkan rasa sakit itu dari tubuhnya. Dia sudah tidak sanggup lagi merasakan sakit yang sama.
Rival hanya bisa mematung melihat Rili yang begitu histerisnya meluapkan kekesalan terhadap dirinya. Rival menangis, Dia pikir dengan menceraikan Rili. Rili bahagia bersama Yasir.
"Maaf...! Abang tidak ada niat seperti itu. Abang sayang kamu dan sangat mencintaimu. Karena besarnya cinta Abang terhadapmu. Di awal Abang merasa sanggup menahan sakit ini. Abang cemburu kepada Yasir.
"Kamu begitu mencintainya, Abang merasa tidak pantas mendapatkan cintamu. Sesaat Abang egois. Ingin mempertahankan rumah tangga kita. Tapi, Abang yang manusia biasa ini. Cemburu, sangat cemburu saat melihatmu masuk ke dalam mobil Yasir dan kalian masuk ke dalam Hotel.
"Saat itu Abang sangat kesal kepada Adek. Kenapa Adek berjumpa dengannya, kalau mau berjumpa kenapa tidak memberi tahu Abang?" ucap Rival dengan mensejajarkan tubuhnya dihadapan Rili. Dia menekuk satu lututnya.
__ADS_1
Rili terkejut mendengar ucapan Rival. Dia melap air matanya dan berusaha tenang.
"Abang mendapat ujian yang berat hari itu. Hari itu Abang mengetahui fakta yang sangat menyakitkan. Abang ini anak pungut. Abang terpukul, Abang dengan cepat datang ke kota S. Untuk berjumpa dengan istri Abang. Abang ingin mendapat kekuatan dan ketenangan dari istri Abang. Karena kamulah satu-satunya milik Abang.
"Tapi, yang ku dapat adalah, rasa sakit. Abang tidak tahan melihatmu bersama Yasir. Abang membuntuti kalian ke Hotel. Usaha Abang untuk membututi kalian tidak membuahkan hasil. Karena kalian memasuki kamar Hotel.
"Saat itu hati Abang sangat panas dan sakit. Abang tidak tahu harus berbuat apa? Akhirnya Abang memutuskan pergi. Esok Malam itu juga Abang memutuskan pergi ke kota M. Tapi, diperjalanan Abang terjebak dengan seorang wanita. Di awal tidak ada niat Abang untuk menceraikan Adek. Abang hanya ingin menenangkan diri. Tapi.... Sudahlah....." Rival menggantung ucapannya. Dia berusaha menenangkan dirinya, walau matanya masih berkaca-kaca. Dia juga sudah mengubah posisi duduknya. Menjadi berseloncor dan bersandar di meja tamu.
"Abang melihat ku waktu itu?" Rival mengangguk.
"Kenapa tidak menegurku. Kami tidak ada melakukan apapun. Abang Yasir hanya ingin mengucapkan kata perpisahan." Rili sudah mulai tenang. Ternyata kesalahpahaman membuat mereka jadi berpisah.
"Saat itu Abang lagi kalut, Abang cemburu. Mana bisa lagi berfikir jernih." Rival memutar lehernya menatap Rili yang disebelah kirinya.
"Seandainya Abang, tidak gegabah mengambil keputusan dengan meninggalkan Adek. mungkin kita sudah bahagiakan?" Rival masih menatap Rili dengan lekat, pertanyaannya kepada Rili membuat Dia menertawakan dirinya sendiri.
Rili terkejut mendengar ucapan mantan suaminya itu. "Mana Adek tahu." Ucapnya Datar dan membuang wajahnya ke arah pintu.
Rili heran, suaminya kenapa belum sampai
"Sepertinya walau kita bersama, kita tidak akan bahagia." Ucap Rival, tertawa kecil. Rili diam saja.
"Kalau Abang bilang masih cinta dan sayang sama Adek, salah gak ya?" kalimat itu terlontar begitu saja dari mulut Rival, Dia menoleh ke arah Rili. Rili sangat terkejut, tercengang dan tidak percaya mendengar ucapan mantan suaminya itu.
"Eehhmmmmm...." Suara deheman yang sangat Rili kenal, sukses membuat jantungnya copot. Glek....
TBC.
Mohon like
coment positif
Rate 🌟 5
Favorit
dan
Vote ya kak
__ADS_1