
Mendengar suara Yasir yang sedang marah tersebut. Membuat Rili mengurungkan niatnya untuk bertanya kepada Yasir, mengenai foto-fotonya yang diambil Yasir sekitar 3 bulan yang lalu. Rili yang sedang berdiri dibalik pintu akhirnya meninggalkan ruangan kerja Yasir.
Dengan sedikit pincang Dia berjalan menuju kamar yang ditempatinya. Dia berjalan menuju nakas tempat Yasir meletakkan Paper bag, yang dibawah Yasir tadi. Dia memeriksa isi kelima paper bag itu.
Isi paper bag itu. 5 gaun untuk santai, 2 gaun mewah dan 3 piyama, pakaian dalam wanita, dan perawatan untuk wanita. Mulai dari sabun, pembersih kewanitaan, facial foam. parfum, hand body, bedak, lipstik, pembalut.
Rili geleng-geleng kepala melihat belanjaan Yasir. "Dia tidak berubah. Selalu perhatian dan tahu menyenangkan hati wanita." Gumam Rili dalam hati.
"Koperku dimana ya? walau katanya basah. Aku harus mengeluarkan pakaianku dan mencucinya." Gumam Rili. Dia pun melangkahkan kakinya ke kamar mandi.
Setelah selesai mandi dengan air hangat. Rili merasa badannya sudah lebih enakan. Dia keluar dari kamar mandi, dengan sudah berpakaian lengkap. Dia membersihkan kening dan pelipisnya kembali, kemudian memasang perbannya.
Dia melihat pantulan dirinya dicermin, dengan mata berkaca-kaca. "Luka-luka ini hadiah dari Bou. Wanita yang ku anggap sebagai Ibuku. Tapi, Dia sangat membenciku." Rili melap air matanya yang jatuh dipipinya.
Rili keluar dari kamar dan berjalan menuju lantai satu, Dia ingin mencari kopernya. Ternyata kopernya tidak ditemukan dimana pun. " Ini rumah besar sekali, tapi kenapa tidak ada pembantunya." Gumam Rili dalam hati. Dia pun berjalan keluar Rumah. Dia melihat tukang kebun sedang merapikan tanaman yang tumbuh subur di taman depan rumah.
Rili mendatangi Pos satpam. "Pak," ucap Rili , mengejutkan Pak Satpam yang sedang bertelpon ria.
"A...da.. aaapa... Nyonya?" Jawab Pak satpam dengan gugupnya. Dia pun langsung berdiri dengan wajah ketakutan, seperti penjahat yang sedang dipergoki saja.
"Jangan panggil nyonya. Saya bukan nyonya di rumah ini." Ucap Rili dengan bingung. Kenapa Dia dipanggil nyonya oleh pak satpam.
"Pak, apa Bapak pernah melihat koper warna ungu milik saya?" Rili memperhatikan Pak Satpam yang ternyata bernama Lokot, yang sedang mencerna ucapan Rili.
"Oohh... itu, kemarin Tuan menyuruh saya menurunkannya, tapi tadi pagi, Tuan membawa koper itu lagi keluar. Saya tidak tahu mau dibawa kemana Nyonya." Ucap Lokot, dengan tersenyum canggung.
"Kenapa Bapak memanggil saya dengan sebutan Nyonya lagi." Ucap Rili dengan sedikit kesal. Tapi, Dia penasaran.
"Tuan bilang. Nyonya Istrinya. Dan saya disuruh Tuan menjaga Nyonya dengan ketat.
"Aaappaa...?" Mata Rili hendak keluar mendengar pernyataan Pak Satpam.
Rili tidak habis pikir dengan sikap Yasir. "Menghilang tanpa kabar, terus muncul tanpa tak terduga. Seperti jelangkung saja." Gumam Rili dalam hati.
Rili merasa blank, kenapa Yasir mengatakan kepada Pak Satpam Dia istrinya.
Untuk menenangkan dirinya yang bingung itu. Rili berjalan menuju taman samping Rumah Yasir yang luas. Dia mendudukkan tubuhnya di Ayunan besi. Dia perlu menenangkan diri, agar saat bertanya kepada Yasir. Dia mendapatkan jawaban yang tepat dan masuk akal.
Setelah merasa tenang. Rili berjalan menuju ruangan Yasir. Entah kenapa, semakin dekat menuju ruangan Yasir. Hatinya menjadi was-was. Jantungnya juga berdegup kencang. Tiba-tiba Dia merasa ketakutan. Dia merasa tidak sanggup mendengar kebenaran dari Yasir. Yang tentunya setiap jawaban dari Yasir, pasti akan dirasa menyakitkan.
Rili hendak masuk ke ruang kerja Yasir tersebut. Namun, langkahnya terhenti disaat, Dia mendengar suara seorang Wanita, yang diyakini oleh Rili adalah istrinya Yasir.
"Abang, kenapa tidak datang ke rumah bibi? Ibu ingin bertemu dengan Abang. Ayah juga tadi, nungguin Abang. Kata Ayah, semalam kalian janjian mau ke kota PSP pagi ini. Tapi, Abang tidak datang." Rili mengintip dan mendengar ucapan Wanita yang diyakini Rili sebagai istri Yasir. Rili sedang menguping pembicaraan keduanya dari balik pintu.
"Abang lagi sibuk. Jangan gangguin Abang dulu. Kamu keluar dulu sana. Abang mau periksa laporan." Ucap Yasir. Dia nampak menyingkirkan lengan Maura yang hendak memeluk Yasir dari belakang. Saat Yasir berdiri di depan lemari tempat dokumen.
Mata Rili membulat melihat pemandangan di depannya. Dia yang sedang berdiri di balik pintu ruangan Yasir, merasa kepalanya sedikit pusing. Entah kenapa ada rasa cemburu dihatinya melihat Yasir disentuh wanita yang dianggap Rili adalah istri Yasir.
"Ya Allah.... Kenapa dengan diriku, yang egois ini. Aku juga sudah memiliki pasangan. Tapi, kenapa Aku bisa cemburu melihat Abang Yasir dengan istrinya. Ampun dosaku Ya Allah." Gumam Rili dalam hati. Dia masih berdiri di dinding balik pintu ruangan kerja Yasir dengan mata berkaca-kaca.
"Abang Yasir kenapa, sikapnya seperti tidak senang terhadap istrinya? Sebaiknya Aku pergi saja dari Rumah ini. Aku tidak mau nantinya dianggap sebagai perusak rumah tangganya. Aku memang yang bodoh selalu memikirkan suami orang, padahal Aku juga sudah punya suami. Tapi, Aku harus pergi kemana? " Gumam Rili dalam hati. Dia pun berbalik badan dengan sangat gugupnya, karena takut ketahuan menguping.
Pranggg.... takkkk...
Terdengar suara guci pecah, karena disenggol Rili.
"Siapa itu?" Ucap Yasir. Dia pun keluar dari kamarnya. Pecahan guci tergeletak dilantai. Dia melihat seperti bayangan Rili berjalan menuruni tangga.
Yasir dengan cepat berjalan ke kamar yang ditempati Rili. Dia ingin memastikan bahwa yang dilihatnya menuruni tangga bukan Rili. Tapi, ternyata Rili tidak ada di kamarnya.
Yasir kemudian berlari turun kelantai dasar yang disusul oleh Maura. Di Pos Satpam. Rili nampak sedang memohon-mohon, agar pintu pagar dibuka. Tapi, Pak satpam tidak mengabulkan permintaannya. Karena, Dia menjalankan perintah Yasir.
"Rili....!" Yasir berteriak saat Dia sudah kelaur dari rumah dan sedang berada di depan pintu utama.
__ADS_1
Rili memutar lehernya, Dia melihat Yasir, yang dibelakangnya ada Maura.
"Kamu mau kemana?" tanya Yasir dengan khawatirnya. Dia sangat takut jikalau Rili melarikan diri darinya.
Melihat Yasir dan Maura berjalan semakin dekat. Ketakutan menyerang Rili. Apalagi tatapan Maura begitu tajam melihatnya. Dia merasa Maura akan memakannya saat itu juga.
Takkk..tak...tak... Suara hels Maura terdengar jelas ditelinga Rili. Yasir dan Maura semakin dekat. "Kaaammmu...? Diiaa kenapa ada disini bang?" tanya Maura dengan suara lantang. Wajahnya nampak begitu terkejut.
Ekspresi Maura yang melihat Rili tersebut, disalahartikan Rili. Dia merasa akan diserang. Tiba-tiba kejadian di malam naas yang dilakukan Bounya melintas dipikirannya. Otaknya mengatakan Dia akan diserang oleh istri Yasir.
Rili yang masih berdiri mematung dengan keringat yang sudah bercucuran di keningnya, Wajah pucat serta kaki yang terasa tidak berdaya. Akhirnya ambruk. Sebelum Dia ambruk dilantai halaman rumah. Lengan kokoh Yasir berhasil menopangnya. Yasir dengan cepat membawa Rili ke kamarnya, yang diikuti oleh Maura dari belakang.
Dengan napas yang tersengal-sengal, Yasir membaringkan Rili. Dia meminta kepada Maura untuk mengambilkan minyak kayu putih dilaci lemari didekat tempat tidurnya.
Ya, Yasir sering menggunakan minyak kayu putih akhir-akhir ini. Jadi, stok minyak kayu putih selalu ada di kamarnya.
Yasir berusaha untuk menyadarkan Rili. Dia mendekatkan minyak kayu putih ke lubang hidung Rili. Dia juga memijat-mijat lembut lengan dan jari-jari Rili.
Yasir nampak begitu panik dan khawatir. Kecemasan terlihat jelas diwajahnya. Sedangkan Maura yang melihat tingkah Yasir, dibuat panas dan kesal. Dia juga cemburu. Dia mengipaskan-ngipaskan tangannya kewajahnya. Dia merasa kepanasan di ruangan yang ber AC tersebut.
"Sampai segitunya kepada istri orang. Berdosa kamu bang. Ini ada Aku yang masih perawan tingting dan sudah jelas mencintaimu, selalu kamu abaikan. Otakmu masih waraskan bang Yasir?" ucap Maura dengan nada tinggi. Sehingga membuat Rili sadar.
Dengan perlahan-lahan kedua mata Rili terbuka. Saat matanya terbuka penuh. Yang pertama dilihatnya adalah wajah Maura yang seperti ingin menerkamnya. Mata Maura yang besar itu, seperti ingin keluar dari tempatnya. Sedangkan mulut Maura, seperti ingin memakannya. Melihat Maura yang menakutkan itu, membuat Rili pingsan kembali.
"Dek,. dek Rili.... Bangun...! Sayang,... sayang... bangun!" Ucap Yasir sambil mengelus puncak kepala Rili. Tangan kirinya juga mengelus pelan lengan Rili sebelah kiri.
"Kenapa kamu ingin kabur. Kamu belum sembuh total." Ucap Yasir masih terus mengelus puncak kepala Rili. Yang membaut Maura semakin muak.
Huooeekkk... huooeekkk.... "Aku mau muntah disini. Ada pria yang menggilai istri orang." Ucap Maura. Dia pun pergi meninggalkan kamar itu dengan kesalnya.
Paakkkk.... Maura menutup pintu dengan keras.
Yasir kembali berusaha menyadarkan Rili. Dia kembali mendekatkan minyak kayu putih ke lubang hidung Rili, sambil memijat lengan Rili. Usahnya untuk menyadarkan Rili tak berhenti disitu saja. Dia juga memijat-mijat kaki Rili sekaligus memeriksa telapak kaki Rili yang kena bambu.
Yasir yang melihat tingkah Rili sangat aneh setelah sadar, Yasir dibuat tercengang.
"Adek sedang mencari apa? Ini Abang dek." Ucap Yasir. Dia berusaha membantu Rili untuk duduk dan menyandarkan tubuhnya di head board ranjangnya.
"Diiiiaa..... Dimana?" Ucap Rili sambil kepala bergerak ke kiri dan ke kanan.
"Siapa?" tanya Yasir dengan bingung.
"Waa..nita yang tadi bersama Abang." Jawab Rili dengan gugup. Dia menepis lengan Yasir yang berusaha mengelus puncak kepalanya.
"Jaaangan sentuh Aku....!" Ucap Rili dengan intonasi tinggi dan mata melotot kepada Yasir.
"Adek kenapa?" ucap Yasir. Pikiran negatif muncul diotaknya. "Apa Rili kesambet saat pingsan tadi?" gumam Yasir.
Rili menepis tangan Yasir yang menahannya untuk turun dari ranjang.
"Awasss... minggir.... minggir bang. Aku harus pergi dari sini." Ucap Rili dengan tersedu-sedu. Dia berhasil turun dari tempat tidur dan meninggalkan Yasir yang terduduk di kursi dengan tercengang.
"Jangan pergi...! jangan coba-coba keluar dari kamar ini!" Ucap Yasir dengan intonasi tinggi. Dadanya yang terasa sesak nampak naik turun, menahan emosinya.
Dia beranggapan Rili akan kembali kepada suami yang sudah tega menelantarkannya. Pikiran-pikiran negatif itu membuat Yasir geram.
"Aku harus pergi dari sini." Ucap Rili, Dia berbalik menghadap Yasir, air mata sudah membanjiri wajahnya.
Yasir bangkit dari tempat duduknya. Kakinya perlahan-lahan maju ke arah Rili. Tatapan mata Yasir kali ini sangat sulit untuk diartikan. Mata itu memancarkan cinta, kasih sayang, kerinduan sekaligus kekecewaan.
Tatapan mata Yasir itu, sukses membuat Rili kalang kabut. Yasir terus saja berjalan ke arahnya tanpa sepatah kata. Tapi, matanya berbicara.
Langkah Rili semakin mundur, karena Yasir terus saja berjalan ke arahnya. Melihat sikap Yasir seperti itu, membuat Rili tersadar. Ini sikap Yasir yang sama, disaat Yasir cemburu kepada Rili saat dikamar Hotel enam bulan yang lalu.
__ADS_1
Buugghh... punggung Rili mentok dipintu kamar yang masih terkunci.. Sedangkan Yasir sudah berada tepat dihadapannya. KeduaTangan Yasir mengunci tubuh Rili yang menempel dipintu kamar.
Tubuh Yasir menekan tubuh Rili, detakan jantung Yasir terdengar begitu keras oleh Rili. Begitu juga dengan detakan jantung Rili. Bahkan Rili sekarang merasa susah bernafas. Kini wajah Yasir mendekat ke wajah Rili. Rili membuang wajahnya kesamping disaat Dia merasa Yasir akan mencium bibirnya.
Sikap Rili yang menolaknya membuat Yasir frustasi. Tapi, Dia mencoba menahannya. "Aku tidak akan pernah melepaskanmu!" ucap Yasir di daun telinga Rili. Yasir pun akhirnya mencium dan menggigit pelan daun telinga Rili, yang membuat Rili merinding. Yasir kembali menciumi telinga Rili dan turun ke leher indah Rili. Yang membuat Rili sempat mematung. Tentu Dia sangat ingin disentuh pria yang dicintainya. Tapi, Dia adalah istri seseorang saat ini.
"Lepas..... lepas...kan Aku....!" Ucap Rili histeris sambil mendorong dengan sekuat tenaga tubuh Yasir. Sehingga tubuh Yasir menjauh dari tubuh Rili.
Rili merasa sudah sangat lelah dengan permainan Takdir ini. Dia terduduk, sambil menyandarkan tubuhnya dipintu. Dia berteriak dan menangis sekuat-kuatnya. Yang membuat Yasir sangat terkejut dengan sikap Rili.
Sambil menangis dengan sekencang-kencangnya. Rili menumpahkan segala gundah dihatinya.
"Tanpa sebab tanpa alasan yang jelas, tiba-tiba Abang menghilang. Apa katamu, hahhh... ? Kamu bilang, Abang hanya akan pergi 3 bulan. Abang akan selalu berkomunikasi denganmu. Abang sangat mencintaimu. Tidak bisa hidup tanpamu. Tapi, kenyataan aaaaapaaaaaa? Jangankan untuk SMS atau telpon. Ponsel Abang saja tidak bisa dihubungi. Apalagi untuk menemuiku.
"Setiap detik, setiap menit. Pagi, siang, malam bahkan tengah malam. Aku selalu menelponmu. Menelpon no orang yang sudah jelas memblokir no ku.
No yang anda tuju tidak dapat dihubungi. Mohon periksa kembali no tujuan anda.
"Ada 100 kali bahkan lebih, Aku selalu mendengar suara itu setiap hari. Disaat Aku mencoba menghubungi. Tapi, selalu kekecewaan yang ku dapat. Sakit....sakit.... disini sangat sakit." Ucap Rili dengan begitu histeris. Dia menampar-nampar dadanya yang terasa begitu sesak dan ngilu. Dia mencoba berdiri dengan susah payah.
"Jangan sentuh Aaku..!" Ucap Rili disaat Yasir berusaha memapahnya untuk berdiri. Yasir hanya diam saja, melihat kemarahan Rili. Hatinya juga sangat sakit melihat Rili yang histeris pada saat ini.
"Benih-benih harapan untuk bersanding denganmu pun sirna. Disaat Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, kamu bersanding dengan Dia, yang sekarang menjadi istrimu." Ucap Rili, Dia nampak mendekat ke Yasir. Dia memukul-mukul dada Yasir dengan begitu kuatnya.
Yasir bingung dengan ucapan Rili, yang mengatakan istri. Dia kemudian menahan kedua tangan Rili yang hendak memukul dadanya kembali.
"Apa maksud Adek? istri yang mana?" Ucap Yasir sambil menahan kedua tangan Rili dan menatap lekat mata Rili yang dipenuhi air mata.
Rili tertawa sambil menangis dengan histerisnya. "Begitu bodohnya Aku, mencintaimu. Hingga sekarang, Abang masih pura-pura bingung. Dan bertanya istri yang mana? Aku baru sadar, kenapa waktu itu Abang mengajakku menikah siri. Karena Abang itu sebenarnya sudah punya istri kan?" Rili melepaskan kedua tangannya dari genggaman Yasir. Yang membuat tangan Yasir mematung di udara.
Kini Rili nampak terduduk di hadapan Yasir. Dia menangis dengan tersedu-tersedu. Tangannya nampak memukul-mukul lantai kamar Yasir yang mengkilap.
"Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Istrimu itu bergelayut manja di lengan Abang. Kalian memang sangat serasi. Sama-sama kaya. Yang prianya tampan dan yang wanitanya cantik.
"Sedangkan Aku, Aku wanita yang malang, miskin. Mana mungkin kamu mencintaiku. Tapi, bodohnya Aku sangat mencintaimu. Hinanya diriku, terbukti kemarin. Aaaa....kuu.... yang miskin ini, yang hina ini penuh dengan lumpur, tampil begitu menyedihkannya dihadapan kalian berdua......!" Rili pun menangis sejadi-jadinya. Dia juga berteriak... Dia nampak sangat frustasi sekali.
Yasir mensejajarkan tubuhnya dengan Rili. Dia hendak memeluk tubuh Rili yang terduduk dengan wajah menunduk itu. Mata Yasir berkaca-kaca, hatinya seperti dicabik-cabik mendengar ucapan Rili.
"Jangan sentuh Aku...! Aku sangat membencimu. Aku ingin hidup normal seperti wanita lainnya. Menikah, punya keluarga yang bahagia. Tapi, itu tidak bisa kudapatkan. Karena, kamu selalu menghantuiku." Ucap Rili, kini Dia menarik ulur ingusnya yang keluar.
"Kadang aku berfikir, apakah salahku hingga kamu pergi begitu saja? Apakah aku berbuat suatu hal yang sangat menyakiti hatimu, hingga kamu hilang karena terluka? Atau engkau telah mengetahui betapa banyaknya sifat burukku, hingga akhirnya kamu menjauhiku? Ataukah kamu telah menyadari bahwa diriku tak pantas denganmu? Entahlah! Semakin aku bertanya pada diriku sendiri, semakin aku tak temukan jawabannya. Semua itu karena kamu menghilang begitu saja." Rili memutar tubuhnya. Hingga Dia dan Yasir saling berhadapan dalam posisi terduduk.
"Jawab bang...! jawab Aku, bebaskan Aku dari penderitaan ini." Yasir meraih Rili dipelukannya. Kali ini Rili tidak berontak. Mungkin karena Dia sudah kehabisan tenaga. Jadi Dia memasrahkan tubuhnya didekapan Yasir.
Dug....dug....dug.... Rili merasakan degup jantung Yasir yang begitu keras. Yasir, mengecupi puncak kepala Rili dengan begitu sayangnya.
"Maafkan Abang! Tidak ada niat Abang untuk melupakanmu. Kamu menderita, Abang lebih menderita lagi. Sudah jangan menangis lagi ya? Adek istirahat dulu. Kalau adek sudah tenang, nanti kita bahas lagi ya!" Ucap Yasir Dia menggendong tubuh Rili dan membaringkannya di ranjang.
"Tunggu disini. Abang ambilkan makan siang dulu. Kalau kamu sudah tenang. Kita bicara lagi." Ucap Yasir Dia pun ingin melangkah kan kakinya hendak keluar.
"Sekarang, sekarang harus sekarang Abang jelaskan semuanya?" Ucap Rili lantang dari atas ranjang.
"Kamu harus makan dulu. Kalau kamu tidak mau makan. Abang tidak akan pernah mau membahasnya. Dan kamu tidak akan pernah ku izinkan keluar dari rumah ini. Apalagi kalau masih ada niatmu untuk kembali kepada suami berengsek mu itu." Ucap Yasir geram, membelakangi Rili.
"Dia baik, Dia pria sangat baik. Dia tidak brengsek. Suamiku pria baik. Dia tidak bisa dibandingkan dengan Abang. Yang lupa dengan janjinya." Ucap Rili dengan suara keras. Dia kini sudah duduk di atas tempat tidur.
Yasir yang mendengar ucapan Rili dibuat begitu geram. Tubuhnya bergetar, dadanya begitu sesak dan terasa panas. Tapi, amarahnya itu diredamnya. Dia tetap membelakangi Rili. Dia tidak mau menunjukkan wajahnya yang lemah itu. Yasir Kurnia meneteskam air mata. Dia pergi meninggalkan kamar dan menguncinya.
Bersambung
Mohon beri like, coment positif. Rate bintang 5 dan jadikan novel ini sebagai favorit.
Jangan lupa VOTE nya kak! Karena itu adalah amunisi untuk membuat semangat menulis.
__ADS_1
Terima kasih