Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2. Rival mendatangi Mely


__ADS_3

Mely baru saja selesai minum obatnya. Dia meminta tolong kepada Bi Ida, untuk mengambil ponselnya di atas meja dekat kulkas. Dia ingin melihat foto-foto anak kembarnya. Sudah tiga hari Dia tidak melihat anak-anaknya itu. Rasanya begitu rindu sekali.


Saat asyik menscrol ponselnya menatap sendu foto-foto anaknya. Saat itu juga Mely terkejut, melihat suaminya, dan yang lainnya masuk ke kamarnya.


Dengan cepat Dia menyeka air matanya yang jatuh, Dia sedih. karena merindukan anak-anaknya. Ditambah, suaminya juga selingkuh.


"Mama, Tante, kalian kesini lagi?" ucap Mely, melirik sekilas Rival yang masih duduk di kursi roda yang kali ini yang mendorongnya adalah Pak Irsan.


"Iya, kami jumpa dengan Nak Rival di koridor." Ucap Mama Maryam menampilkan ekspresi kesal, Tentu saja Dia kesal dengan Rival. Beraninya Rival datang menemui putrinya.


Bisa-bisa Mely jadi semakin sedih. Karena melihat Rival akan membuat dirinya teringat dengan video mesumnya Rival.


Kedua bola mata Rival tak pernah lepas menatap Mely, yang selalu membuang muka darinya. Rival sebenarnya sudah tidak sabar untuk menjelaskan semuanya. Tapi, kenapa momentnya selalu tidak mendukung. Seperti saat ini. Dia berusaha keras meyakinkan Perawat yang menjaganya, agar membolehkan dirinya berjumpa dengan Mely. Karena Dia tidak kena influenza saja, tapi penyakit tifus.


Dia ingin menjelaskan semuanya, sekaligus ingin mengetahui keadaan istrinya itu. Dia juga akan memberi tahu Mely. Kalau Dia kena tifus.


Tapi, sepertinya saat ini tidak tepat untuk membahas masalah mereka. Karena mereka kedatangan tamu.


"Nak Rival, kamu cepat sembuh dong. Istri baru melahirkan itu, butuh pendampingan suami dan suport. Kalau kamu sakit juga, sipa yang perhatiin istrimu." Ucap Tante Murni, memecah keheningan di ruangan itu.


"Iya Tante, ini juga Rival sudah semangat untuk sembuh." Jawabnya. Tatapannya tidak pernah lepas dari Mely.


"Tadi, Tante lama di rumah Mamamu. Tante terkejut mendengar cerita ART kalian si Sari. Katanya Mely saat melahirkan mengalami kendala. Yaitu plasenta lengket, dan tidak mau keluar. Kenapa bisa seperti itu?" tanya Tante Murni dengan sedihnya. Kini Dia sudah duduk di tepi bed nya Mely. Mengelus pelan lengan Mely yang duduk bersandar itu. Dia seolah ikut merasakan sakit yang dirasakan Mely saat melahirkan.


"Begitulah dulu rezekinya Dek. Tapi syukur Mely masih selamat." Ucap Maryam, ikut berdiri di sisi bed Mely. Mengelus lembut kepala putrinya itu.


"Plasenta lengket itu bisa diketahui saat melakukan USG. Apa Dokter kandunganmu tidak mengatakan hal itu?" tanya Tante Murni tidak percaya. Dokrer apa yang Mely kunjungi saat hamil, masak itu saja tidak diketahui Dokter Obgynnya.


Saat itu juga, air mata Mely bercucuran tidak ada hentinya. Dia teringat masa sulitnya selama hamil besar, saat pelariannya. Dia bahkan tidak pernah melakukan USG lagi, sejak bersama Ayah nya Firman. Dia hanya sebulan sekali sipeksi saat jadwal posyandu di desanya tinggal.


Air mata itu tak hentinya menetes, menganak sungai. Tapi, tidak ada suara tangisan dan raungan yang keluar dari mulutnya Mely. Hanya terdengar suara tarikan ingus yang dilakukannya berkali-kali. Karena saat menangis. Ingusnya pun jadi diproduksi berlebih.

__ADS_1


Mama Mely menatap tajam Rival yang masih diposisi nya duduk di kursi roda, dan tidak berdaya di ruangan itu. Sungguh saat ini, jikalau Mely menangis. Dia akan mengutuk pria itu. Mama Mely melihat Rival penuh kebencian dan dendam. Menyesal Dia dulunya mendukung putrinya dengan pria munafik itu.


"Sudah sayang, maaf kalau Tante membuat mu jadi sedih. Tante tidak ada maksud apa-apa. Cuman Tante jadi kesal kepada Dokter obgynmu. Harusnya kalau ada kelainan. Kamu bisa di operasi. agar kamu tidak merasakan sakit luar biasa. Bahkan rahimmu jadi infeksi begini. Kita bisa menuntut Dokter tempat kamu memeriksa kandunganmu selama ini. Kamu rutin kan sayang cek kandungan mu?" tanya Tante Mirna penasaran nya. Dia yang tidak tahu masalah yang terjadi. Malah nyerocos terus, mengungkap ilmu yang diketahuinya tentang wanita hamil.


"Iya Tante, semua sudah terjadi. Mungkin nasibku begini." Ucapnya sedih, air mata terus saja menetes membasahi pipinya. Mama Maryam membantu Mely melapnya dengan tisu.


Rival yang tidak berdaya itu, tidak tahan melihat dan mendengar ocehan Tante nya. Hatinya sakit, karena terus menelantarkan istrinya.


Dia malah lebih mengkhawatirkan Rili, yang sudah menjadi istri orang. Daripada Istrinya sendiri. Dia memang suami jahat.


Bahkan saat Rili pingsan saat berjumpa dengan Ibu Durjanna. Lagi- lagi Rival menyalahkan Mely. Dan meninggalkannya pulang kampung. Dengan begitu kesal kepada Mely. padahal Mely sudah meminta maaf dan ingin berubah. Tapi Rival tidak mendengarkan Mely.


Mely memang salah, karena sifatnya yang ekstrovet tidak bisa menahan apa yang dirasakannya. sehingga Dia salah ucap. Tapi, tidak seharusnya Rival langsung memvonisnya jahat dan mencelakai Rili. Padahal kan Rili yang trauma dengan Ibu Durjanna.


Yang membuat lebih kesal lagi. Dia memilih pulang kampung. Meninggalkan istrinya yang baru melahirkan dan butuh perawatan, dengan alasan mengebumikan Ibu Durjanna. Mesti kali berlama-lama di kampung, bisa sajakan, Dia sehari aja disana dan kembali ke rumah. Karena istrinya masih dalam penyembuhan pasca melahirkan yang penuh dramatis.


Dia asyik ingin menenangkan dirinya sendiri. Tanpa mau tahu, perasaan istrinya Mely yang sakit luar biasa ditinggalkan. Tubuh dan hatinya terasa sakit.


"Tente jadi ikutan sedih." Ucap Tante Murni. Kini Dia mendekati suaminya yang masih berdiri dibelakang Rival masih memegang tiang kursi rodanya Rival.


"Pak Rival, sudah saatnya Bapak kembali ke ruangan Bapak. Karena Dokter akan datang mengecek kondisi Bapak lagi." Ucap Perawat tegas. Pasal nya ini sudah menunjukkan pukul delapan malam. Perawat takut, Dia kena marah karena membawa pasien keluar kamar


Apalagi pasien, dalam keadaan serius.


Penyakit Rival parah, tifusnya tergolong parah. Awalnya kata Dokter hanya diserang virus influenza. Ternyata Dia diserang bakteri Salmonella tifosa. Bakteri yang sering ada di air. Mungkin saat dikampung Rival terjangkit virus itu.


Rival menggerakkan roda nya ke arah Mely. Tapi dengan cepat Perawat mendorongnya, hingga kini Rival sudah berada di dekat bed nya Mely.


Dia menatap lekat Mely. "Mas, balik ke kamar dulu. Moga Adek cepat sembuh. Agar kita berkumpul lagi di rumah dengan sikembar." Ucapnya lirih dengan mata berkaca-kaca. Tapi, wajahnya menampilkan senyuman kepada istrinya itu.


Mau tak mau Mely harus melihat ke arah suaminya Rival. "Iya Mas, kita harus sama-sama sembuh." Jawabnya, berusaha bersikap biasa saja. Agar paman dan BiBinya tidak curiga. Tapi, raut wajah yang Mely tampilkan adalah raut wajah sedih.

__ADS_1


Rival tidak ingin kembali ke kamarnya. Dia masih ingin bersama keluarga besarnya. Dia masih merindukan istrinya itu.


Perawat ingin mendorong kursi roda Rival. Tapi, Rival menahannya. "Sebentar lagi sus." Ucapnya tegas. Sehingga semua mata tertuju kepadanya.


"Tidak bisa berlama-lama Pak. Jam delapan Dokter akan datang ke ruangan Bapak." Jawab perawat tegas dan penuh penekanan


Dia tidak mau, gara-gara Rival Dia dapat SP.


Mau tak mau Rivalpun menurut. Dia merasa sangat enggan pergi dari ruangan itu. Dia merasa, sepertinya ini akan menjadi moment terakhir untuknya melihat Mely.


"Mas sangat mencintaimu." Ucapnya pelan, tali masih bisa didengar penghuni ruangan itu.


Saat mendengar itu, hati Mely terasa sakit. Suaminya itu manis sekali mulutnya. Pandai berbohong. Kalau cinta, kenapa malah menjumpai istri orang lain. Bahkan Mely memohon untuk ikut.


"Astaga-- kalian sweet banget sih sayang." ucap Tante Murni. Dia melihat interaksi Rival dan Mely seperti tontonan serial tv drama saja.


Mely hanya tersenyum, tidak menanggapi ucapan Rival dan Tante Murni. Rival pun dibawah keluar menuju ruangannya.


Tepat pukul sembilan malam, Keluarga Pak Irsan pamit pulang. Mama e menawarkan menginap di rumahnya. Tapi, Tante Mirna menolak. Katanya tidak asyik menginap di rumah orang yang penghuni nya saja sedang di rumah sakit.


Setelah kepergian Pak Irsan, Firman masuk. Dia tersenyum kepada Maryam dan putrinya. Menghampiri Ibu dan anak itu yang sedang berbicara.


"Kata Dokter, Aku sudah bisa pulang besok pagi Ma, Ayah." Ucap Mely senang.


"Iya sayang," Jawab Firman mengelus kepala putrinya itu.


"Aku sangat merindukan si kembar." Ucapnya lagi. Dengan sendunya.


"Iya, sama." Jawab Mama Maryam.


"Mas Rival---!" ucapan Mely terhenti, disaat Mama Maryam menyela ucapannya.

__ADS_1


"Jangan pikirkan Dia. Kamu saja tidak pernah dipikirkannya. Kamu fokus saja kepada kesehatanmu." Ucap Mama Maryam. Dia pun menghampiri Bi Ida. Meminta Bi Ida, memberesi barang-barang mereka. Agar besok, cepat selesai beres-beres dan keluar dari rumah sakit.


"Iya sayang, Ayah mengerti perasaanmu. Semuanya akan membaik. Yang penting sekarang kamu istirahat ya putriku sayang." Ucap Firman dengan sayangnya. Dia bahagia sekali, Tuhan masih memberinya kesempatan untuk berkumpul dengan putrinya itu. Dan berharap, Maryam membuka hati kepadanya.


__ADS_2