
"Koq akun yang Abang maksud, tidak ada." Ucapnya bingung dan penasaran. Dia masih terus mengotak-atik ponselnya, mencari akun yang dimaksud oleh Rival.
"Sini Ponsel Adek." Rival menjulurkan tangannya, menunggu Mely memberikan ponselnya itu. Mely pun memberikan ponselnya kepada suaminya itu.
Rival menscrol ponsel Mely, Dia pun menemukan Akun nya. Dia langsung Men add FB Mely.
"Ini." Rival memberikan kembali ponselnya istrinya itu.
Pesanan mereka pun datang. Tentunya pelayan wanita yang mengantar pesanan mereka itu, terpana dengan kharisma yang dimiliki oleh Rival. Sehingga pelayan itu tebar-tebar pesona.
Mely pun dibuat geram dengan tingkah pelayan itu. "Sayang, coba ambil fotoku!" pinta Mely dengan terseyum, kepada Rival yang duduk dihadapannya. "Pakai ponsel Abang." Ucapnya lagi, mulai bergaya centil, tapi masih duduk dilesehan. Dia sengaja meminta Rival meminta dirinya difoto, agar pelayan itu cepat enyah dari hadapan mereka.
Mendengar ucapan Mely yang sok manja. Pelayan itu pun dengan cepat menyajikan pesanan mereka. Rival juga mengambil foto Mely dengan banyak fose.
Mely yang sudah merasa adanya perubahan sikap suaminya itu, karena Dia tadi menyinggung mantan istrinya. Akhirnya memutuskan mencairkan suasana, dengan dirinya yang bersikap sok manja.
Mely sesekali minta disuapi oleh suaminya itu. Rival pun melakukan permintaan Mely.
"Sebenarnya tadi, selain Abang ingin ajak Adek makan siang bersama. Abang juga ingin keliling kampus Adek." Ucap Rival, setelah selesai menyantap makan siangnya.
Mely memperhatikan seksama Rival. "Untuk apa kelilingi kampus?" tanya Mely heran.
__ADS_1
"Eehhmmm... Kalau Abang kuliah, cocok gak ya?" ucapnya dengan menggaruk kepalanya. Dia merasa terlalu tua untuk kuliah ambil gelar S-1.
Mely berfikir dan menatap intens suaminya itu. Kalau suaminya itu kuliah, otomatis pergaulannya akan semakin banyak. Tentu Rival akan semakin banyak teman. Baik pria atau wanita. Mely tidak mau itu terjadi. Suaminya itu terlalu tampan dan ramah. Dia tidak mau ada orang lain dekat-dekat dengan Rival
"Abang untuk apa kuliah. Abang itu sudah pintar. Tidak perlu kuliah lagi." Ucap Mely tegas. Dia pun berpindah tempat duduk kesebelah suaminya itu.
"Pintar dari mana? Abang saja hanya tamat setingkat SMA." Ucap Rival menatap Mely disebelahnya yang bergelayut manja di lengan Rival dan memasrahkan kepalanya di bahu suaminya itu.
"Abang itu sudah pintar. Tidak perlu belajar lagi." Ucap Mely mengulang pernyataan tadi.
"Jadi, Abang tidak boleh kuliah. Padahal Abang pingin. Abang ingin mencari kampus, yang bisa kuliahnya sore atau malam, Jadi Abang bisa kuliahnya setelah pulang kerja." Tegas Rival. Meraih jemari Mely yang ada di atas pahanya. Pasalnya jari Mely itu sudah mulai nakal. Mengelus-elus paha Rival.
"Sebenarnya boleh dan itu adalah hal yang sangat bagus. Tapi, kalau Abang kuliah nanti, jangan melirik-lirik cewek ya. Adek tidak mau." Jawabnya ketus. Kening Rival menyergit, istrinya itu terlalu fosesif. Bahkan mantan yang tidak pernah bertemu dengan nya dicemburui.
"Kalau Abang kuliah Setelah pulang kerja. Pasti sampai rumah sudah capek, atau bahkan Abang pulang, Adek sudah tidur. Aduuhh.... Gak mau aahh.. Abang tidak usah kuliah ya?" bujuk Mely manja. Dia tidak mau waktu Rival habis untuk kerja dan kuliah, sehingga Dia terabaikan.
Astaga Mely, pemikiran mu katrok kali. Masak orang yang mau menambah ilmu dilarang.
Rival diam sejenak, Dia kurang suka dengan sikap Mely yang fosesif dan kurang mendukung perkembangan dirinya.
"Ayah memberi tanggung jawab yang besar buat Abang. Kalau Abang tidak mau belajar. Takutnya Abang tidak bisa memajukan perusahaan. Apa Adek mau perusahaan Ayah tidak ada kemajuan? kalau perusahaan kita berkembang, yang menikmati nantinya kan Adek juga." Ucap Rival mengelus pelan kepala Mely yang bersandar di bahunya.
__ADS_1
"Aku sudah bosan hidup mewah, pingin hidup sederhana saja. Tinggal di pedesaan dengan udara yang sejuk, bebas dari Carbon dioksida. Setiap hari mandi di sungai yang bersih dan airnya dingin...bbrrrrr....!" ucap Mely dengan sangat antusiasnya.
Mata Rival mengerjap-ngerjap, Dia tidak percaya istrinya itu bicara seperti itu. Banyak orang ingin hidup mewah dan berlomba-lomba ingin hidup di kota. Lah, istrinya ini malah ingin kebalikannya. Dasar Mely aneh.
"Aku suka suasana alam dan kebebasan. Makanya Aku sering Hiking, Trekking, berkemah, naik gunung." Ucap Mely masih sangat antusias. Wajahnya kini tidak bersandar di bahu Rival, Dia sekarang sudah berdiri dan turun dari lesehan. Berjalan sambil menghirup udara segar di warung sawah tersebut, sambil memandangi padi yang menguning.
Rival pun mengekori istrinya tersebut. Mereka berdua berdiri sambil menatap pemandangan padi yang sudah menguning di hadapan mereka.
"Kalau Abang dari dulu ingin jadi orang sukses dengan kerja keras Abang sendiri. Sedari kecil, Abang sudah mencari uang dengan mengambil ikan dari sungai. Baik dijala, dibubuh atau pun ditembak. Karena memang hanya itu yang Abang bisa cara cari uang saat kecil.
"Setelah tamat MA (Madrasah Aliyah) Abang merantau, sudah tidak terkira lagi berapa banyak kota besar yang Abang jalani untuk mengais rezeki, bahkan Abang jadi TKI ke Arab Saudi. Tapi, mungkin karena nasibnya tetap jadi orang miskin. Ya Abang tidak sukses. Bahkan Abang telat nikah." Ucapnya tersenyum kecut. Mata Rival jadi berkabut, mengingat kisah hidupnya yang sangat sulit, walau Dia sudah bekerja semaksimal mungkin.
"Tapi sekarang kan Abang sudah punya segalanya. Dua kali menikah lagi. Bahkan harta Abang banyak banget sekarang. Abang itu seorang Milioner." Ucap Mely menatap Rival disebelahnya.
"Itu bukan harta dari kerja keras, lagian Abang belum menerima harta yang diwariskan Ayah. Mana mungkin Abang menerimanya. Ada kamu pewarisnya." Ucap Rival, Dia berbalik dan meraih bahu Mely.
"Adek jangan salah paham ya sama Abang. Jangan pernah beranggapan Abang mau menerima warisan itu." Rival menatap lekat kedua bola mata Mely. Rival juga merasa tidak enak hati kepada istrinya itu.
"Adek juga gak butuh harta itu. Yang hanya kuinginkan hanya kamu. Tolong jangan kecewakan Aku suatu saat nanti. Aku sangat takut kehilangan Abang." Ucap Mely dengan menitikkan air mata, Dia pun melingkarkan lengannya dipinggang suaminya itu. Kemudian Rival merangkulnya.
Ucapan Mely membuatnya sangat takut. Sepertinya istrinya itu terlalu memujanya. Padahal Dia masih ada rasa kepada mantan istrinya. Rival sangat membenci rasa yang tidak bisa hilang itu. Dia sangat ingin melupakan mantan istrinya itu. Tapi, entah kenapa sampai saat ini Dia selalu kepikiran Rili.
__ADS_1
"Sudah pernah Abang bilang, jangan terlalu mencintai makhluk ciptaanNYA. Karena disaat itu kita lakukan, Sang Pencipta akan menguji kita dengan kecintaan kita yang berlebihan itu." Ucap Rival, menatap Mely dalam rangkulannya.
Rival hanya bisa menasehati orang. Padahal Dia juga melakukan hal sama. Dia terlalu mencintai Rily, sehingga Allah menguji nya.