
Setelah berbelanja keperluan anak dan istrinya. Rival kemudian masuk ke sebuah Distro yang menjual khusus pakaian laki-laki. Dia juga akan membelikan pakaian untuknya.
Rival meraih ponselnya yang tergeletak di atas dashboard mobil. Dia ingin menghubungi Yasir dan menanyakan kemana pasangan suami istri itu perginya. Tapi, niatnya itu urung dilakukanya. Entah kenapa saat ini Dia malas berkomunikasi dengan manusia.
Rival menghela napas kasar, Dia menyandarkan tubuhnya di kursi mobilnya. Sikap Mely yang seolah masih membencinya, terekam lagi di pikirannya. Dia kesal bukan main kepada dirinya sendiri. Yang tidak pandai dalam bersikap dan mengambil keputusan. Rasanya semua sikap dan keputusannya selalu salah.
Lama berpikir dan meratapi jalan hidupnya yang tak pernah mulus. Malah membuat otaknya semakin mumet. Dia ingin segera pulang ke rumah sakit. Tapi, Dia takut salah bersikap lagi nanti. Yang akan membuat Mely marah lagi kepadanya.
Rival melajukan mobilnya menyusuri pinggir Danau Toba. Dia pun berhenti disebuah kedai yang lumayan bagus dan besar. Kedai itu buka 24 jam.
Rival memilih untuk duduk di sebuah kursi yang terdapat dipojokan kedai tersebut. Yang dihadapan Rival membentang luas Danau Toba. Yang menyuguhkan pemandangan indah diterangi cahaya bulan purnama dan gemerlap suasana Tepi Danau Toba menambah pemandangan yang sangat eksotik di Danau Toba.
Malam ini sangat dingin, Rival memasukkan tangannya ke saku jaketnya. Karena Dia sebenarnya tidak tahan dengan dinginnya angin malam.
Pesanan Rival pun datang yaitu Bandrek veteran. Dia juga membeli sebungkus rokok. Pikirannya yang mumet dan dinginnya angin malam membuat dirinya tergiur untuk menyesap rokok, yang katanya bisa membuat pikiran tenang, disaat mengisapnya.
Entahlah, Rival tahu merokok itu bisa merusak kesehatan, sehingga Dia sudah lama berhenti dari kebiasaan merokoknya. Tapi, malam ini Dia tergiur untuk mencobanya.
🌿🌿🌿
Di rumah sakit, kedua anak kembar itu pun kembali menangis kencang. Mely yang baru saja terlelap, terbangun karena suara tangisan anaknya. Sedangkan Mama Maryam masih tertidur pulas. Mungkin Mama Maryam terlalu capek, sehingga tangisan cucu nya yang keras tidak membangunkannya.
Akhirnya perawat yang dimintai Rival menjaga anak dan istrinya. Menggendong anak kembar yang selalu bangun bersamaan itu. Ada dua perawat yang menjaga Mely dan anaknya.
Bahkan perawat berebut ingin menjaga Mely dan anak kembarnya. Karena sudah merasakan loyalnya Rival kepada uang. Belum juga bekerja Rival sudah memberikan uang empat ratus ribu. Apalagi kalau mereka benar-benar bagus dalam menjaga anak dan istrinya maka uang tip pasti akan tambah.
"Ibu Kembali tidur saja, biar kami saja yang memberi susu dan menjaga si kembar." Ucap salah satu perawat yang masih gadis kepada Mely yang berusaha untuk duduk, Karena mendengar anaknya menangis.
Mely tersenyum kepada kedua perawat itu. Kemudian matanya beralih ke jam dinding yang bertengger di dinding kamar itu. Ternyata sudah pukul satu malam. Dan Mely tidak melihat keberadaan Rival di kamar itu.
Mengetahui kenyataan Rival tidak ada di kamar itu. Membuat hatinya sedih. Benarkah suami nya itu akan meninggalkannya lagi. Karena percekcokan di dalam kamar mandi tadi? kalau benar begitu adanya. Sedikit sekali rasa pedulinya dan tanggung jawabnya. Mely membathin dan langsung menyeka air matanya.
__ADS_1
"Sus, biar Aku susui dulu putriku." Ucap Mely dengan menjulurkan tangan nya. Walau ASI-nya belum keluar. Dia ingin menstimulusnya, agar ASI nya cepat keluar.
Dengan tersenyum perawat itu memberikan bayi yang berjenis kelamin perempuan itu kepada Mely. Dia pun mulai mengeluarkan pay*udaranya dan berusaha menyusui bayi cantiknya itu. Tapi, bayi perempuannya itu malah menangis dan nampak kesal. Karena Dia tidak bisa menghisap pu*ting Mely yang memang kecil.
Mely terus saja, mengarahkan putingnya yang hanya sebesar biji jagung itu ke mulut bayinya. Tapi, bayinya tidak bisa mengisapnya. Pu*ting Mely terlalu kecil dan datar.
"Bagaimana Bu, apa si Adek bayi tidak bisa mengisapnya?" tanya perawat itu dengan ramah.
"Iya Sus, padahal Abangnya bisa mengisapnya." Ucap Mely dengan sedih, dan terus berusaha mendekatkan p*utingnya ke mulut bayinya.
"P*uting susu Ibu seperti nya jarang dimainkan. Harusnya disaat Ibu hamil besar. Disaat mandi, Ibu harus merangsang putingnya. Agar tambah besar. Dengan cara menggesek atau Menarik-nariknya pelan. Atau minta bantuan kepada Bapak, agar putingnya dibesarin. Misalnya Bapak menyusu." Ucap perawat itu dengan seloroh dan tersenyum.
Mely melongok mendengar ucapan perawat yang masih gadis itu. Dia menatap satu persatu perawat itu, yang membuat perawat itu akhirnya sama-sama tertawa.
"Maaf ya Bu, hanya becanda." Ucapnya mengambil bayi perempuan itu dari Mely kemudian memberikan susu formula.
"Dasar kamu Santi, nampak kali sudah berpengalaman dalam hal menyusui anak yang sudah gede." Ucap Anna, meledek Santi.
"Eehhmmm.... Tidaklah yau... Aku tidak seperti itu." Jawabnya sebel dan mencibikkan bibirnya.
"Makanya saat kuliah kamu jangan sering bolos. Itu ada pelajarannya. Disaat Ibu hamil besar. Ibu hamil harus sering merangsang putingnya, baik dibersihkan dengan gosok gigi dengan pelan atau dipelintir-plintir. Agar saluran ASI-nya nantinya lancar." Jelas Santi sewot kepada temannya, yang sengaja menggodanya.
"Alahhh... ngaku aja dech..!" Anna balik menggoda.
"Kamu kali yang begituan." Ketus Santi kesal.
Saat kedua perawat itu berdebat tak jelas. Terdengar suara pintu dibuka, ternyata Rival yang masuk dengan membawa banyak barang belanjaan. Dia tersenyum kepada Mely yang menatap kedatangannya.
Momen ini Dia sempatkan untuk berkomunikasi dengan Mely. Sepertinya Mely tidak akan bersikap dingin dan kasar kepadanya secara ada orang lain di ruangan itu.
Rival meletakkan barang belanjaannya di lantai dekat meja nakas dekat lemari. Kemudian Dia tersenyum dan menghampiri Mely.
__ADS_1
Dengan cepat Rival mendaratkan ciuman di kening Mely. Kedua perawat yang masih gadis itu dibuat kesemsem melihat sikap Rival yang menurut mereka sangat romantis.
"So sweet banget sih.. " ucap mereka bersamaan dengan ekspresi wajah Mupeng.
"Adek lapar, Mas bawakan lagi sup untuk Adek." Ucap Rival membelai kepala Mely yang nampak seperti kucing yang memang ingin disayang. Tapi, masih nampak malu dan sok jual mahal.
Ya, di pinggir Danau Toba. Rumah makan banyak yang buka 24 jam.
"Tidak." Jawabnya singkat dan padat.
"Ibu, harus banyak makan biar ASI-nya cepat keluar." Jelas Santi, sok mengakrabkan diri.
Mely hanya diam mendengar ucapan perawat itu. "Baiklah kalau Adek tidak mau makannya." Ucap Rival lembut, Dia beranjak dari bed tempat Mely berbaring dan meletakkan sup itu di atas meja.
"Elluuu... elluuu... anak Ayah langsung tertidur setelah selesai minum susu." Ucap Rival mengelus-elus pipi putrinya yang masih dalam gendengon perawat Santi.
"Biar saya yang gendong Dek.!" Pinta Rival, menggendong anaknya dengan sayangnya sambil, menyanyikan sholawat nabi.
Mely merasa malu dan bingung harus bersikap apa. Dia yang mengira suaminya sudah pergi. Malah kembali dengan memberinya kecupan. Akhirnya Mely pun mencoba untuk berpura-pura tertidur. Dia masih canggung untuk berkomunikasi dengan suaminya itu. Ternyata Dia malah tidur beneran.
Bayi kembar itu pun akhirnya diletakkan di atas Box, karena sudah tertidur. Rival mendekati Mely. Dia melihat Mely sudah memejamkan Matanya. Dia pun menyelimuti istrinya itu sampai dada.
"Bang, kami keluar dulu. Kalau ada hal penting atau minta bantuan. Kami ada diluar, di tempat piket." Ucap Santi ramah.
"Oohhh iya, sekalian saja kalian bawa itu makanan." Rival menunjuk sup yang dibelinya.
Kedua perawat itu saling pandang. Mereka malu untuk mengambilnya. Akhirnya Rival pun menyodorkannya, ditambah dengan 1 plastik buah apel dan dua plastik buah jeruk.
Dengan senang hati perawat itu menerimanya.
"Terimakasih bang..!" ucapnya ramah, mereka pun meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1
Tinggallah Rival sendiri yang belum tidur di ruangan itu. Dia kembali mendekati Mely yang sudah tertidur pulas itu. Menghadiahi ciuman di kening MeLy. Kemudian Dia mendekati box bayi nya. Mengelus lembut bayi kembar nya yang masih dibedong itu.
Rival pun Akhirnya, merasa sangat lelah dan kantuk. Dia pun akhirnya merebahkan tubuhnya di sofa panjang. Karena bed untuk tamu, sudah ditempati Mama Maryam.