Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Intropeksi diri masing-masing


__ADS_3

"Kenapa jadi begini Ma. Kenapa Mas Rival marah kepadaku?" ucapnya sambil terisak, dalam pelukan Mama Maryam. Mama Maryam hanya bisa mengelus pelan lengan putrinya itu. Untuk memberi rasa aman dan tentram. Dia tahu betul karakter putrinya yang keras kepala itu dan tak mau disalahkan. Terlalu childist memang.


"Kenapa kamu mempermasalahkan Rili mantan istrinya. Apa pernah Rili menganggu kalian?" tanya Mama Maryam menatap putrinya yang memeluknya dalam keadaan terduduk di atas ranjang.


Mely menggeleng beberapa kali dengan raut wajah sedih.


"Sayang, jangan memperbesar masalah. Jangan menuruti keinginan hati, tanpa berpikir panjang akibatnya. Dan tolong, kalau berbicara itu di filter dulu. Pantas gak, kalau Aku mengatakannya? Tidak semua yang ada dihati kita, harus diucapkan.


"Seharusnya masalah ini sudah selesai, dan gak perlu diperpanjang lagi. Karena masalah ini udah lewat beberapa waktu yang lalu. Tapi, kamu terlalu jujur sama perasaan sendiri, malah bikin segala sesuatunya jadi gak enak lagi.


"Kadang kita memang salah jika mengungkapkan semuanya. Kadang kita salah jika harus terlalu jujur. Karena tidak semua orang bisa menerima kejujuran itu. Kesalahpahaman bisa saja terjadi yang bisa berakibat dengan munculnya masalah baru.


"Apa sih susahnya menjalankan segala sesuatu tanpa harus ‘berbicara’ lagi? Hanya jalani saja, tidak ada yang perlu dijelaskan, karena memang tidak butuh penjelasan.


"Masalah emang selalu ada. Setiap pribadi pasti punya kisah masa lalu. Ada yang bisa dilewati dengan enak, agak pahit, sampai yang berdarah-darah. Kadang bikin mules kalo inget hal yang gak enak itu. Dan pastinya itu dialami oleh Rival dan Rili mantan istrinya. Mereka juga gak pingin semua yang gak enak di masa lalu itu kembali lagi terungkit. Dengan kamu yang selalu membahas perasaan Rival kepada Rili, mantan istrinya." Ucap Mama Maryam dengan mata berkaca-kaca.


Dia juga dulu punya masa lalu yang pahit. Tapi, berkat pertolongan Pak Ali. Dia bisa move on. Dan sekarang, lukanya terkuak lagi dengan kemunculan Firman. Ayahnya Mely.


"Segala sesuatu bisa kita buat menjadi lebih sederhana, dengan menyimpan setiap perkara yang tidak perlu diungkapkan di dalam hati saja. Setidaknya jika harus diungkapkan, tunggu sampai waktunya benar-benar tepat. (Pikir 52 x)" Mama Maryam memberi penjelasan yang begitu panjang yang membuat Mely semakin pusing mendengarnya. Ditambah Dia melihat Mamanya itu menahan tangis.


"Ma, Aku butuh orang untuk mengerti yang ku rasakan. Kenapa Mama Malah memarahiku." Ucapnya menangis.


Saat ini Dia butuh orang untuk mengerti gejolak jiwanya. Bukannya menyalahkannya yang terlalu menanya detail perasaan Rival ke mantan istri nya.


"Mama buat Aku semakin down saja. Bukannya ngertiin Mely. Malah menyudutkan." Jawabnya lagi, melepas pelukannya dari Mama Maryam.


Mama Maryam pusing jadinya, melihat putrinya yang tidak bisa dibilangin itu. Dia hanya pingin dimengerti, dan jangan disakiti hatinya. Tapi, sikap Dia sudah menyakiti banyak orang.


"Kenapa kamu keras kepala dan tidak bisa dibilangin. Mau bukti apa lagi, yang harus ditinjukkan Rival. Bahwa Dia mencintaimu. Kamu minta dipertemukan dengan Rili. Dia pun berusaha agar Rili datang. Aahh... sudahlah, terserah kamu lak Nak." Mama Maryam, turun dari ranjang dengan kesal.


"Pikirkan, intropeksi diri. Kalau kamu masih ingin keluargamu utuh. Jangan kamu bahas lagi perasan Rival ke mantan istrinya atau sebaliknya. Itu tidak ada gunanya. Kalau kau yang merasa tidak dicintai. Lakukan hal yang bisa menarik perhatian suamimu agar bisa mencintaimu.


"Dewasalah dan jangan merasa jadi korban saja." Ucap Mama Maryam sambil menatap putrinya yang tertunduk. Dia masih berdiri disisi ranjang.


"Apa kamu dengar kata Mama?" Mama Maryam bertanya dengan suara sedikit keras, agar putrinya menanggapinya. Bukannya menunduk terus dengan menangis.


"Iya Ma." Jawabnya lemas.


"Kalau Rival pulang, tutup mulutmu mengenai masalah ini. Jangan lagi banyak cerita, yang akhirnya jadi ngaur." Ucap Mama Maryam kesal


Dia meninggalkan kamar itu. Menarik napas dalam setelah mengunci pintu kamar Mely.


"Aku harus bertanya dengan detail kepada Ibu angkatnya Rival itu." Ucap Mama Maryam. Naik ke lantai dua. Karena kamar tamu di lantai dua.

__ADS_1


Tok...tok...tok...


"Saya Ibunya Mely. Apa saya bisa masuk?" ucap Mama Maryam dengan ramah. Walau hatinya kesal. Wajah Ibu angkatnya Rival, sungguh wajah menyebalkan. Dari penilaian pertama saja, bisa disimpulkan kalau orangnya menyebalkan.


Mila membuka pintu, Mama Maryam langsung masuk ke kamar. Ternyata Ibu Durjanna sedang duduk di atas tempat tidur.


"Apa kakak capek?" Mama Maryam berbasi-basi. Dia juga ikut di atas ranjang itu. Mereka berhadap-hadapan.


Ibu Durjana melipat kakinya yang tadi lagi beeseloncor.


"Iya Dek, capek. Perjalanan jauh. Asam uratku kambuh." Ucapnya, kembali meluruskan kakinya. Menunjukkan kakinya yang sedikit bengkak.


"Kalau begitu saya panggilkan Dokter biar diperiksa." Mama Maryam langsung menelpon Dokter pribadi mereka.


"Kenapa Rili ada disini?" tanya Ibu Durjanna, sungguh Dia penasaran sekali.


Mama Maryam terseyum, Dia tidak perlu basa-basi lagi untuk memulai membahas Rili. Ibu Durjanna sudah memulai membahasnya.


"Rili, bukannya Dia pernah jadi menantu di keluarga kalian?" tanya Mama Maryam, mulai menampakkan sikap tidak senang kepada Ibu Durjanna. Emang wanita tua dihadapannya menyebalkan. Satu kampung juga memusuhi nya. Rival saja telat nikah dan tidak laku-laku. Karena ulahnya. Ibu Durjanna takut, kalau Rival menikah, maka setoran uang kepadanya berkurang. Karena Rival dibuatnya sumber uang.


"Dia itu wanita pembawa sial dan wanita gatal. Dia selingkuhin anakku Rival." Ibu Durjanna mulai menghasut. Mila saat ini memilih duduk di kursi yang ada di dekat tempat tidur. Belum berani ikut bicara.


"Ooohh...!" Mama Maryam, mau lihat karakter Ibu angkatnya Rival ini.


"Dari awal Aku sudah tidak suka Rival menikah dengannya."


"Kenapa Adek bicara seperti itu. Kamu mau menyalahkan saya? kalau Rival tidak kami tolong, saat terdampar di sungai. Mana bisa kalian melihatnya sekaang." Ini Durjanna, mencari nilai plus nya.


"Eehhmmmm..." Mama Maryam menghela napas kasar. Dia langsung bisa menyimpulkan bahwa mertua putrinya ini, punya hati yang kotor dan pemikiran yang katrok.


"Rival kan sudah membalas Budi kepada kalian. Rumah dibangun besar, dikasih mobil dikasih uang bulanan. Jadi kakak harus bersyukur, jangan lagi mengungkit-ungkit kebaikan yang kakak lakukan karena membesarkan Rival.


"Kita besanan, Aku tidak suka melihat orang yang cara berpikirnya picik. Di dunia ini ada hukum sebab akibat. Tadi Aku dengar kakak dipenjara, gara-gara Rili. Aku juga dengar cerita itu dari Rival. Jangan salahkan Rili Kenapa kakak, dipenjara. Tentu kakak dipenjara karena kakak melakukan pelanggaran hukum.


"Tolong, jangan buat keributan di rumah ini. Kita sedang berkabung, Mely baru melahirkan. Ku mohon, beri Rival kebahagiaan." Ucap Mama Maryam mengatupkan kedua tangan nya kepada Ibu Durjanna.


Air matanya menetes, mengingat cerita Rival yang kehidupannya sangat sulit dan keras, sewaktu tinggal bersama Ibu Durjanna. Rival tidak mengeluh, Dia hanya bercerita proses hidup yang dijalaninya.


"Kenapa kamu...!" Ibu Durjanna masih ingin membela diri. Tapi keburu ditahan putrinya. Sehingga Dia mengurungkan niatnya untuk bicara.


Mama Maryam menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tidak habis pikir wanita tua dihadapannya ini tidak bisa diajak bicara. Ya mungkin karakternya sudah begitu. Sepertinya tidak bisa dirubah lagi.


Mama Maryam menatap Mila, kemudian mengalihkan pandangannya ke Ibu Durjanna. Dia bisa menilai karakter Ibu dan anak ini sama. Semoga di acara memperingati meninggalnya Pak Ali di rumahnya. Tidak ada keributan dibuat mereka.

__ADS_1


Di Rumah Sakit.


Yasir menggenggam erat jari jemari Rili, menciuminya, matanya nampak berkabut, sepertinya kabut dimatanya akan menitikkan air mata kesedihan. Sungguh Ia sangat lemah jika itu menyangkut Rili.


"Apa-apaan sih Yachay, dari tadi ciumin jariku terus, habis jari kening, perut. Gak capek apa?" tanya Rili lemas dan berusaha untuk tenang dan tersenyum. Dia membalas tatapan Yasir yang sangat mengkhawatirkannya itu.


Yasir masih terdiam, Dia kembali menciumi jari jemari Rili.


"Syukur Alhamdulillah, Adek baik-baik saja koq. Jadi, jangan berlebihan gitu dong khawatirnya." Rili mulai banyak cerita, sedangkan Yasir masih syok, karena air ketuban nya Rili merembes.


Setelah diperiksa, keadaan anak mereka baik-baik saja dan jumlah air ketuban yang tersisa masih tergolong cukup untuk perkembangan janin. Sedangkan kondisi Rili memang sedang mengalami tekanan darah rendah dan anemia.


"Apa yang terjadi di kamar Mely, kenapa Adek bisa pingsan? Sampai-sampai air ketuban Adek merembes. Tahu gak sih Richay, Abang itu sudah sangat takut sekali. Tidak bisa Abang bayangkan kalau kamu dan anak kita dalam keadaan bahaya." Ucap Yasir sedih, kembali mengecup jari jemari Rili.


Rili mengalihkan pandangannya, kini Dia menatap langit-langit kamar rawat inap itu. Perbuatan Ibu Durjanna kembali melintas dipikirannya. Hatinya kembali sakit, dadanya terasa sesak. Orang yang tidak ingin dilihat nya, ternyata muncul diwaktu yang tidak tepat.


Dia sudah memaafkan mantan Ibu mertuanya itu. Sedikit pun tidak ada dendam dihati Rili. Tapi, kejadian yang menimpanya selama di kampung, sangat membekas dan membuatnya trauma.


"Ada yang sakit sayang? kenapa menangis, apa perut Adek sakit lagi?" Yasir langsung panik, bangkit dari duduknya. Memeriksa perut Rili dan menyibak selimut yang menutupi bagian bawahnya Rili. Dia langsung memeriksa bagian itu, memastikan tidak ada cairan.


Sungguh, perbuatan Yasir membuatnya malu. Walau mereka sudah menikah, tapi Jikalau Yasir ingin melihat bagian bawahnya Rili pasti malu. Bahkan jikalau pun mereka berhubungan, terkadang Rili malu disaat Yasir bermain-main dibagian inti bawahnya.


"Apa-apaan sih Yachay..? jangan dibuka...!" aduh wajah Rili berubah bersemu merah. Entahlah, Dia bahagia sekali Yasir menyukai semua yang ada pada dirinya. Dia merasa disayang dan dipuja.


"Abang ingin memeriksanya. Syukurlah tidak ada air lagi yang keluar." Ucapnya menutup tubuh istrinya itu kembali dengan kain.


"Coba ceritakan apa yang terjadi di kamar MeLy. Apa Mely marah-marah kepada Adek?" Yasir Kembali mengulang pertanyaannya. Karena Rili tidak mau menjawab nya.


"Janji dulu, jikalau Adek cerita, Abang tidak akan marah?" tanya Rili mendekatkan jari kelingkingnya. Yasir pun menautkan jari kelingking mereka. "Abang janji sayang, tidak akan marah." Yasir tersenyum kembali mencium jari jemari Rili.


Rili menghela napas dalam, Dia harus tenang dan bijak dalam menceritakan nya.


"Lamanya untuk menceritakan nya? Apa Adek dimarahi Ibu angkatnya Abang Rival? wanita tua yang di kamar itu Ibu angkatnya Abang Rival yang di kampung kan? Apa Dia yang membuat Adek seperti ini?" Yasir mulai tidak tenang, mencecar Rili dengan banyak pertanyaan.


Rili kesusahan menelan ludahnya, Dia takut melihat kemarahan suaminya itu. Yang akhirnya akan menambah masalah lagi.


"Kenapa diam sayang?" Yasir yang melihat ketakutan istrinya, akhirnya kembali mencoba untuk tenang. Dia tidak boleh membuat perasaan istrinya tertekan.


"Iya, Dia Bou. Dia Bou...Dia Bou...." Rili menitikkan air mata.


TBC


Mampir juga ke novel ku yang tak kalah seru kak.

__ADS_1


❤️ Dipaksa menikahi Pariban


❤️Pengantin Pengganti


__ADS_2