
"Iya saya Mely. Ini dengan siapa?" tanya wanita di telpon yang bernama Mely.
Rival sangat senang mendengar nomor yang ditelponnya adalah wanita yang bernama Mely, suaranya juga mirip. Dia menetralkan rasa groginya. Rasanya seperti orang baru pacaran saja.
"Dek, sayang, ini Abang. Akhirnya Aku mendapat nomormu juga. Ini nomor ponselnya Sekar. Ponsel Abang hilang." Ucap Rival dengan semangatnya, tidak memberi kesempatan kepada wanita yang bernama Mely untuk bicara.
"Abang minta maaf ya! besok lusa Abang sudah pulang. Si kembar sehat kan? kamu sehat juga kan sayang?" Rival bicara tiada henti, sampai Dia tersadar, kalau lawan bicaranya hanya diam saja.
"Halo, sayang---!" ucap Rival dengan bingungnya, kenapa istrinya itu mendadak diam.
"Ya Hallo, baiklah saya akan tunggu kamu sayang. Tapi, di tempat biasa ya. Siapkan tarifnya seperti biasa. Ok!" jawaban wanita lawan bicaranya bicara, membuat Rival tersadar. Sepertinya wanita ini bukan Mely istrinya.
"Maaf ini Mely kan?" tanya Rival ingin meyakinkan dirinya. Kalau itu benar Mely.
"Iya saya Mely." Jawab wanita itu. Kali ini gaya bicaranya sudah centil.
"Ini Mely Anisah Ajib kan?" tanya Rival lagi, masih menampilkan ekspresi bingung, melihat Sekar yang dihadapan nya juga bingung.
"Iya, saya Mely. Mely yang bisa diajak ajib-ajib. Kamu kalau mau boking gak usah banyak gaya. Kamu sanggup bayar gak?" ucap wanita itu mulai kesal. Rival pun langsung mematikan ponselnya.
"Salah sambung lagi?" tanya Sekar, meraih ponselnya dari Abangnya itu. Rival mengangguk. Sambil mengusap wajahnya kasar.
"Tanya saja kepada supir Abang, no kak Mely." Ucap Sekar, Rival pun dibuat melongo dengan ucapan adiknya itu.
Benar juga, kenapa dari tadi Dia tidak kepikiran kesitu?
Rival pun bangkit dari duduknya. Mengetuk pintu kamar supir Mama Maryam itu. Lama Rival mengetuk pintu kamar itu, tapi sang supir tak kunjung membukanya juga.
Akhirnya Rival menekan handle pintu kamar itu, ternyata tidak dikunci. Rival masuk ke kamar itu dengan penuh harap. Dia memperhatikan supir Mama Maryam itu, yang tidur terlentang dengan mulut menganga. Sepertinya supir itu sudah tidur pulas.
"Pak, Pak Rudy, bangun Pak--!" Rival menggoyang lengan Pak Rudi. Tapi, tanda-tanda Pak Rudi akan bangun tidak ada juga. Malah Pak Rudi, mengubah posisinya menjadi miring ke kanan, sehingga Rival bisa melihat jelas wajah Pak Rudi.
Rival kembali menggoyang tubuh Pak Rudi. Kali ini dengan tenaga yang lebih kuat dari goyangan pertama.
"Pak, Pak Rudi--!" Rival juga teriak, agar Pak Rudi terbangun.
"Apa, apa yang terjadi. Gempa----!" Pak Rudi loncat dari tempat tidur hendak berlari keluar kamar. Tapi, Rival sudah menahan tubuh Pak Rudy dengan menarik kerah bajunya dari belakang.
"Tolong, tolong lepasin Aku hantu." Ucapnya dengan ketakutan. Dia sungguh tidak melihat keberadaan Rival di kamar itu. Rival jadi geram dibuat nya.
"Pak, Pak-- ini aaku Rival." Ucapnya dengan intonasi suara tinggi.
Pak Rudi membalikkan badannya. Dia sudah sadar sepenuhnya.
__ADS_1
"Maaf tuan, ada apa tuan?" tanyanya rumah dan sungkan. Pak Budi sampai menundukkan kepalanya.
"Ambilkan ponselmu!" titah Rival, Dia pun duduk di kursi dekat jendela.
Pak Rudi mengambil ponselnya dari atas meja dekat jendela.
"Ini Pak." Dia menyodorkan ponselnya kepada Rival.
"Aku hanya ingin meminta no ponsel Mely istriku. Kamu catatkan disini." Ucap Rival menyodorkan bolpoin dan selembar kertas.
Pak Rudi ragi untuk mengambil ballpoint dan kertas itu. Pasalnya Dia tidak ada nomor ponselnya Mely.
"Ayo ambil." Rival memaksa, merasa kesal dengan sikap Pak Rudi yang nampak lambat.
"Maaf tuan, saya tidak ada menyimpan nomor ponselnya Nona Mely." Ucapnya ketakutan.
"Tuliskan nomor ponsel Mama." Titah Rival lagi.
Pak Rudy menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
"Maaf tuan, no ponsel nyonya besar saya juga tidak simpan." Ucap Pak Rudy dengan menguap Dia tidak bisa membuang rasa kantuknya.
Rival melototkan matanya. Bisa-bisanya Supir keluarga mereka ini tidak menyimpan satupun nomor majikannya.
"Apa gunanya ponselmu itu Pak Rudi. No ponsel Mama pun tidak kamu simpan." Ucap Rival frustasi. Kenapa semuanya jadi serba susah begini.
"Ya sudahlah." Rival pun meninggalkan kamar itu. Berjalan ke ruang keluarga berharap Sekar masih ada disitu. Tapi, ternyata Sekar sudah masuk ke kamarnya. Bahkan Ayahnya juga sudah tidak ada di ruang keluarga itu. Hanya suara Firman yang terdengar samar-samar dari kamarnya yang dekat dengan ruang keluarga. Kebetulan Firman tidak menutup rapat pintunya. Firman sedang bertelepon dan terdengar suara Firman seperti berdebat saat bertelepon.
Dengan kesalnya, Rival berjalan menuju dapur. Hatinya tiba-tiba saja tidak tenang. Dia kepikiran dengan istrinya itu. Besok pagi-pagi sekali Dia akan ke kota S, meninjau usaha barunya dan mengevaluasi nya. Tentunya Dia akan menyempatkan diri ke GraPARI untuk mengurus SIMcard nya.
Karena melamun, gelas yang ada ditangan Rival yang berisi air minum terlepas dari tangannya. Menimpa jempol kakinya. Kemudian memantul lagi ke lantai dan pecah.
Dia mengaduh kesakitan. Pasalnya gelas yang jatuh ke jempol kakinya itu, lumayan terasa sakit.
Dengan beristighfar, Dia menggerak-gerakkan kakinya, berharap sakit di jempolnya berkurang.
Dengan sedikit terpincang, Rival berjalan untuk mengambil sapu dan serokan. Dia akan membersihkan pecahan gelas kaca berwarna putih itu.
Saat itu juga, bayangan Mely yang kesakitan saat melahirkan, terlintas dipikirannya. Dadanya terasa sesak mengingat kejadian itu. Betapa tidak putus asanya istrinya itu berjuang untuk melahirkan anak kembarnya.
"Maafkan Abang sayang. Abang sadar, Abang yang banyak salah. Setelah sampai di rumah, Abang janji akan lebih sabar menghadapi mu." Ucapnya bicara sendiri dengan mata berkaca-kaca. Dia terharu dengan pengorbanan Mely yang menahan sakitnya, sejak mengandung sampai melahirkan.
🌑🌑🌒
__ADS_1
"Nyonya, nyonya---- Nyonya besar---!" Febri berteriak menggedor-gedor pintu kamar Mama Maryam. Tapi, tak kunjung bangun juga.
"Nyonya---- Nyonya Maryam---!" Febri terus saja menggedor-gedor pintu kamar itu, dengan berteriak dan paniknya. Sehingga penghuni rumah yang mendengarnya, terbangun dan mendatangi asal suara.
Termasuk Firman yang tinggal di kamar belakang dekat dapur pun mendengar teriakan Febri yang panik itu. Dia yang hendak meninggalkan rumah itu, sedang mengunci kamar dan ingin pergi. Tampak tas ranselnya sudah disandang di punggung nya.
"Nyonya_---!" suara teriakan Febri, Akhirnya membuat Mama Maryam terbangun.
Dia memegangi kepalanya yang tiba-tiba saja terasa pusing ditambah tubuhnya sakit semua. Dia demam tinggi, mungkin karena kelamaan main hujan dengan si Firman.😊
Ternyata Paracetamol yang dikonsumsinya sebelum tidur, tidak memberikan efek sembuh.
"Nyonya--- tolong bangunlah, Non Mely," Ucapan Febri terhenti disaat Mama Maryam membuka pintu kamar. Dia sedang mengikat jubah tidurnya yang berwarna Lilac.
"Ada apa Feb? kenapa teriak-teriak sih? kamu tidak tahu jam berapa ini?" ucap Mama Maryam dengan kesal, sambil menutup mulutnya dengan tangannya karena menguap.
"Itu, itu nyonya, Non Mely." Ucapan Febri Kembali terhenti. Disaat para ART yang jumlahnya lima serta Firman sudah berada di belakang Febri.
Sesaat kedua mata Firman dan Mama Maryam beradu pandang, disaat itu juga. Mama Maryam melihat Firman sedang menyandang tas ransel di punggungnya.
"Apa Dia akan pergi dari rumah ini?" Mama Maryam membathin. "Baguslah, setidaknya hatiku akan tenang. Jika tidak melihat wajahnya lagi." Mama Maryam kembali membathin. Membuang pandangannya, dan menatap Febri yang panik.
"Nyonya, Ayo ke kamar non Mely. Ayo cepat!" Febri seolah tidak bisa menceritakan keadaan Mely. Dia panik, sehingga saat ini yang bisa dilakukannya adalah dengan menarik lengan Mama Maryam dengan kuat. Yang membuat Mama Maryam mengadu kesakitan. Ditambah Dia juga sedang sakit. Mungkin diserang virus influensa.
"Lepas Febri, Saya bisa berjalan sendiri." Ucap Mama Maryam, menghempaskan tangan Febri yang menggerek tangannya.
"Iya Nyonya, maaf." Febri berlari, yang diikuti oleh para ART ke dalam kamarnya Mely. Sedangkan Mama Maryam berjalan lemas, Dia pun merasa tidak bertenaga.
Firman yang berada dibelakang Mama Maryam, melihat keadaan Mama Maryam seperti tidak sehat. Tapi, Dia tidak berani menanyakannya. Sehingga dia hanya bisa mengawasi Mama Maryam dari belakang.
Mama Maryam tidak bisa berjalan cepat, Dia merasa kepalanya sakit luar biasa. Pandangannya pun mulai kabur. Tubuhnya terasa sakit semua. Saat itu juga Firman mensejajarkan langkahnya dengan Mama Maryam.
"Kamu kenapa?" tanyanya mencoba memegang tangan Mama Maryam. Tapi, Mama Maryam menepisnya. Dia kesal kepada Firman.
"Ayo saya papah, sepertinya kamu sedang sakit " Firman langsung merangkul Maryam. Benar saja, tubuh Mama Maryam yang panas langsung bisa dirasakannya.
"Awas, menjauhlah. Ini gara-gara kamu." Ucap Mama Maryam, berontak dari rangkulan Firman.
"Iya, saya minta maaf. Saya akan menjauh dari hidup kamu selamanya. Bahkan, saya pun tidak akan berani lagi menjumpai Mely putri kita dan mengakuinya anak. Saya tidak pantas disebut orang tua." Ucap Firman dengan menahan sakit didadanya. Matanya sudah panas, Karena menahan air matanya.
Mama Maryam hanya diam, Dia tidak punya tenaga lagi untuk berdebat. Badannya sakit semua, begitu juga dengan kepala nya. Bahkan Dia tidak sanggup lagi berjalan.
Mama Maryam pingsan di pelukan Firman.
__ADS_1
Firman langsung membopong tubuh langsingnya Mama Maryam ke dalam kamarnya Mely. Dia membaringkan nya di sofa yang ada di kamar itu.
Saat itu juga Febri dan para ART berusaha menyadarkan Mely yang pingsan karena pendarahan.