Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Minta bantuan.


__ADS_3

Setelah menunggu sekitar 30 menit di dalam mobil mewahnya. Yasir melihat Rili dan Rival keluar dari klinik. Dan berjalan ke arah motor, yang terparkir di depan klinik.


Yasir, melihat Rival sangat lembut dan begitu sayangnya, memperlakukan Rili, saat hendak menaiki motor. Rival bahkan meminta Rili menaiki motor bebek milik Rili, dimana mesinnya belum dinyalakan. Setelah Rili duduk diboncengan. Maka, Rival pun menaiki motor, dan melajukannya dengan pelan.


Yasir membuntuti pasangan suami istri itu. Tentunya dengan mobil lain miliknya Yasir, Sehingga Rival tidak akan mengenalinya.


Flashback on


Setelah sholat Jumat. Yasir, bertolak dari kota G, kampungnya Rival. Dia Memacu Mobil mewah Merk Mitsubishi Lancer Evolution yang berwarna silver, menuju Kota S. Yusuf menghubunginya, karena ada hal penting yang harus dibicarakan. Sekalian Yasir, akan memantau Hotelnya dikota tersebut.


Sepanjang perjalanan menuju rumah Rili, Yasir yang membuntuti motor yang dikendarai Rival. Otaknya berfikir keras, sambil menyetir. Kepala Yasir, rasanya sangat sakit. Terlalu banyak yang dipikirkannya, keputusan apa yang harus diambilnya. Akankah Dia menerima tawaran menjalankan bisnis keluarga Di Australia? Apakah Rili akan memilihnya kembali. Tapi, melihat perlakuan Rival, kepada Rili hari ini, membuat nyalinya ciut. Akankah Dia menelan pil pahit, ditolak Rili, untuk kedua kalinya.


Flashback off


"Abang Rival memang sangat baik. Rili tidak salah pilih. Haruskah Aku mengikhlaskannya?" Ucap Yasir lirih, di dalam mobilnya. Setelah Dia melihat Rival dan Rili memasuki gerbang pagar rumah Rili dengan motor. Dia tidak berani keluar dari mobilnya, untuk menjumpai pasangan suami istri itu. Dia sangat mengkhawatirkan Rili, akan pingsan lagi. Karena, melihat kemunculannya.


Yasir pun melajukan mobilnya menuju Hotel. Dia memarkirkan Mobilnya di tempat parkir khusus untuk mobilnya. Dengan langkah lebar, Dia masuk ke ruangannya, yang didampingi oleh Hendrik.


"Apa Yusuf, sudah datang?" tanya Yasir kepada Hendrik, Setelah Dia mendudukkan bokongnya di kursi meja kerja empuknya.


"Sudah Bos." Jawab Hendrik dengan sopan, seraya menundukkan kepalanya.


"Baiklah. Bawa laporan yang harus saya tanda tangani." Ucap Yasir, Dia meraih ponselnya, yang diletakkannya diatas meja kerjanya. Dia menscrol ponselnya dan mencari kontak Yusuf.


Hendrik pergi meninggalkan ruangan kerja Yasir. Sedangkan Yasir, melakukan panggilan kepada Yusuf.


"Assalamualaikum Yasir," ucap Yusuf


"Walaikumsalam. Aku masih atasanmu. Sopan sedikitlah, panggil Bos atau tuan gitu?" ucap Yasir, dengan sedikit seloroh.


"Mulai sekarang, kamu bukan Bos ku lagi."


"Ok, cepat ke ruangan ku!" terdengar suara Yasir dengan intonasi keras." Yasir langsung memutuskan panggilan telepon.


Sementara Yusuf, yang berada di restoran Hotel tersebut. Terpaksa pamit kepada Windi, untuk menemui Yasir, di ruang kerjanya.

__ADS_1


"Apa Abang Yasir, disini?" Ucap Windi kepada Yusuf. Sambil memainkan sedotan minumannya.


"Iya, Abang jumpai Bos Yasir dulu ya?" Yusuf hendak beranjak dari duduknya.


"Aku ikut, ada hal yang ingin Aku katakan kepada Abang Yasir." Windi, menahan lengan Yusuf, yang hendak meninggalkannya.


"Jangan, sepertinya si Yasir sedang kesal."


"Aku tahu yang membuat Dia kesal. Makanya Aku ikut ke ruangannya."


"Jangan sayang, nanti Abang hubungi. Kalau Dia ingin bertemu denganmu." Yusuf melepaskan tangan Windi yang menahan lengannya.


"Jangan panggil Aku sayang!" Ucap Windi dengan galaknya. Matanya melotot menatap Yusuf.


"Ya ampyun, bisa lepas siksa kuburku, karena, akan memperistrikan wanita galak ini. Malaikat Munkar nakir pun, tidak akan menyiksaku lagi. Karena, selama di dunia, sudah disiksa olehnya." Gumam Yusuf, dalam hati. Dia tersenyum kepada Windi. Tapi, hatinya sangat dongkol.


"Ayo.... Tapi, kalau Si Yasir marah. Maka, apapun permintaanku, harus kamu turuti." Ucap Yusuf, memberi syarat.


"Ok! Tapi, kalau Abang Yasir, tidak marah. Maka, Abang harus mengabulkan keinginanku." tantang Windi.


"Emang, Apa permintaan Abang?" tanya Windi, saat keduanya melewati koridor Hotel, menuju ruangan Yasir.


Yusuf, menghentikan langkahanya. Dia memutar tubuhnya menghadap Windi yang disebelah kirinya. "Saat malam pertama nanti, tidak ada drama penolakan, atau Aku belum siap, dan alasan lainnya." Ucap Yusuf, dengan mengedipkan mata kirinya, nampak sudut bibirnya tertarik ke atas. Dia sengaja mengatakan itu, karena Dia bisa menilai Windi, ada gelagat-gelagat akan menunda-nunda kenikmatan surga duniawi itu.


Windi, syok mendengar permintaan Yusuf. Matanya melotot, Dia sampai susah, menelan ludahnya sendiri. Bagaimana mungkin, Dia bisa melakukan itu. Dia belum cinta kepada Yusuf. Yang ada Yusuf, sangat menyebalkan dimatanya.


"Itu permintaan pertama, permintaan kedua, kelanjutan dari permintaan pertama. Yaitu, saat kita melakukannya. Adek harus lebih aktif dari Abang. Setidaknya, harus ada aksi dan reaksi. Kamu paham!" ucap Yusuf, sambil menegaskannya dengan jari telunjuknya. Yusuf berbalik badan dan melanjutkan langkahnya.


"Dasar pria mesum." Windi menggerutu, Dia mengejar Yusuf yang berjalan dengan cepat.


"Tunggu, Abang belum tahu permintaanku apa?"


"Abang pasti bisa menyanggupi permintaan mu. Paling kamu minta, dibangunkan rumah, dihadiahi dengan perhiasan. Dan barang-barang mewah kan? Wanita kan sukanya itu. Ucap Yusuf, Dia terus berjalan, menuju ruangan Yasir.


"Abang pikir, Aku tidak punya itu semua. Aku anak orang kaya tahu. Permintaanku bukan itu." Windi masih mengoceh, disebelah Yusuf sambil berjalan.

__ADS_1


"kita sudah sampai, permintaanmu. Nanti saja kamu ungkapkan." Ucap Yusuf dengan terseyum. Dia pun langsung masuk ke ruangan Yasir, tanpa mengetuk pintu.


Ceklek...


Yusuf dan Windi, memasuki ruangan kerja Yasir, yang megah dan mewah tersebut. Nampak Yasir, duduk menyilangkan kaki di sofa tamu tersebut.


"Windi, kamu disini juga?" Yasir, sangat antusias melihat kedatangan Windi. Sedangkan Yusuf, yang melihat ekspresi Yasir, begitu senang dengan kedatangan Windi, Merasa jiwanya sedang terancam.


"Sepertinya, Aku akan berpuasa seumur hidupku." Gumam Yusuf. Dia pun ikut mendudukkan bokongnya di sofa yang diduduki oleh Yasir.


Windi yang sudah mendudukkan bokongnya di sofa lain, yang berhadapan dengan Yasir dan Yusuf. Akhirnya terseyum mengejek kepada Yusuf.


"Kali ini, kamu harus bantuin Abang!" Yasir, menatap penuh harap kepada Windi. Sedangkan Yusuf dikacangin oleh Yasir.


"Apa yang bisa saya bantu bang?" Windi, pura-pura tidak tahu, maksud perkataan Yasir. Padahal, Dia tahu. Yasir pasti minta bantu untuk mendapatkan Rili.


"Bantuin Abang, untuk membujuk Rili kembali kepada Abang!" Yasir memasang wajah memelas. Yusuf yang berada disebelah kanan Yasir, dibuat tercengang. Karena, tujuan dari pertemuan mereka, adalah untuk membahas pekerjaan. Tapi, karena kedatangan, Windi. Topik pun berubah, menjadi bahasan asmara.


Yasir, akan mencoba terakhir ini, yaitu dengan melibatkan Windi. Jika hasilnya, tidak sesuai dengan keinginannya. Mungkin sudah waktunya Dia menyerah. Mungkin Rili bukan jodohnya.


"Oowwhhh ... Abang, mau jadi pebinor?"


"Apa itu pebinor?" Yusuf ikut menimpali.


"Masak pebinor tidak tahu?" Windi, menatap kesal, kepada Yusuf. Yusuf dipandang kesal oleh Windi. Mengumpat dalam hati. "Dosa apa Aku Ya Allah... Koq punya tunangan galaknya Nauzubillah." Yusuf pun pergi dari ruangan itu. Tenggorokannya menjadi kering. Dia juga malas membahas, persoalan asmara.


Bersambung.


votenya dong kakak-kakak cantik. 🤗😍😘


Jangan lupa like, coment dan Favorit.


Like 200. up lagi jam makan siang kakak2 cantik 😁😂


Terimakasih

__ADS_1


__ADS_2