Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Menemukan foto mirip dirinya sewaktu kecil


__ADS_3

Hari ini rumah kediaman orang tuanya Rival sangat ramai. Saudara jauh berdatangan, karena Rival akan mengadakan acara kecil-kecilan yang berketepatan malam inilah jadwal wiridan setiap minggunya yang diikuti Ayahnya dilaksanakan di rumah mereka.


Sebelum acara pengajian atau di tempat Rival disebut juga acara wiridan diadakan di malam hari. Siangnya Rival melakukan acara berbagi rezeki kepada anak yatim dan kaum duafa, serta semua penduduk kampung selama satu hari ini, bebas makan di rumah orang tuanya Rival.


Suara-suara sumbang banyak didengar oleh Mely yang membahas dirinya, walau sebagian ada juga yang membahas mantan istrinya Rival.


"Rival bagus banget nasibnya ya? dua kali menikah, bini nya cakep-cakep semua. Mana hatinya baik juga." Ucap saudara jauh Ibunya Rival. Yang berjenis kelamin wanita itu. Mereka kini lagi menggosip di halaman belakang sambil memasak untuk makanan satu kampung.


"Padahal dulu Rival tidak laku-laku. Sudah hampir kena cap perjaka tua." Timpal Ini satunya lagi. Acara masak-memasak memang akan semakin seru, jika diselingi menggosip, mengupas pribadi orang lain. Sehingga Ibu-ibu lebih banyak mengupas hidup orang, dibanding mengupas bawang dihadapan mereka.


"Eehhmmm... ini ada cemilan, teman saat memasak." Ucap Mely dengan tersenyum ramah. Menganggap angin lalu, ucapan Ibu-ibu yang membahas dirinya, suaminya dan mantan istri Suaminya. Mely pun meletakkan wadah makanan ringan, berupa keripik pisang dan kacang Archis di hadapan ibu-ibu yang sedang memasak itu.


"Terimakasih Dek, semoga bayi nya sehat sampai lahir kelak." Jawab salah satu Ibu yang berbadan gemuk, yang berusia sekitar empat puluh tahun itu.


"Aamiinn.... Terimakasih..!" Mely terseyumgum dan meninggalkan kumpulan Ibu-ibu yang bertanggung jawab memasak hidangan untuk acara di rumah mereka.


*


*


*


Malam harinya setelah acara pengajian dan makan bersama selesai. Semua anggota keluarga nampak kelelahan.


Mila sekeluarga menginap di rumah Ibu mereka, karena besok pagi masih banyak pekerjaan beres-beres dan bersih-bersih yang harus dilakukannya.


"Apa Adek lelah?" tanya Rival, memperhatikan Mely yang duduk di atas tempat tidur, bersandar di dinding rumah mereka.


"Iya, kaki Adek pegal. Apalagi jemari kaki Adek." Jawabnya lesu, sambil menggerakkan lehernya, sehingga terdengar suara kreek..krek..


"Adek berbaring ya, biar Mas pijat." Ucap Rival lembut, Dia pun sebenarnya sangat lelah. Tapi, Dia tidak tega melihat istrinya yang mengeluhkan badannya pegal.


Mely pun membaringkan tubuhnya. Rival pun mulai memijat kaki Mely terlebih dahulu dengan mengunakan minyak kayu putih. Pijatan Rival sungguh sangat enak. Karena Rival memijat dengan lembut. Tapi sangat terasa di tubuh Mely.


Melihat istrinya sudah terlelap. Rival pun menghadiahi kecupan di kening, kemudian turun ke perut istrinya itu. Mulut Rival komat-kamit membacakan Suroh Yusuf sambil menciumi perut Mely yang masih datar itu dengan sayangnya dan penuh haru. Dia Sampai menitikkan air mata.


Sungguh dibalik berpisahnya dirinya dengan Rili yang menurutnya sangat menyedihkan. Ada hikmah kebahagiaan yang dirasakannya sekarang. Dia akan menjadi seorang Ayah. Dia akan mendapatkan dua anak sekaligus.


Rival melap air matanya yang tidak terasa sudah membasahi pipinya. Dia kemudian menutup tubuh polos istrinya itu dengan selimut. Dan meninggalkan istrinya yang tidur terlelap, bergabung dengan keluarga besarnya. di balai-balai halaman rumah mereka.


"Jadi kalian pulang besok?" tanya Ibunya Rival, menatap sendu putranya itu. Dia menyesal telah pernah berkata tidak pantas kepada putra nya itu saat dipenjara.

__ADS_1


"Iya Bu. Pak Ali sudah menghubungi. Banyak kerjaan yang harus Rival selesaikan. Sedangkan Pak Ali masih di Negara Australia." Ucapnya, mulai membaringkan tubuhnya di dekat Adiknya Firman. Berbantalkan lengangnya, memandang indahnya langit dengan bintang kerlap-kerlip dan ditemani oleh cahaya bulan yang tinggal setengah.


"Abang, Aku ikut ke kota ya. Boleh kan Aku kerja di tempat Abang Bekerja sekarang!?" ucap Firman, mengubah posisinya kini miring ke arah Abangnya itu dengan berpangku insang.


"Boleh, tapi kalau mau kerja di tempat Abang, harus ikut seleksi juga." Jawabnya sambil menguap. Rival sudah sangat mekantuk.


"Kalau Abang pergi, yang menggunakan mobil itu siapa?" tanya Sekar. Dia sibuk mengayam tempat dodol.


"Kan ada Amrin." Jawab Firman cepat. Dia kesal dengan Adiknya yang seolah melarangnya ikut dengan Abang mereka Rival ke Ibunkota Sumatera Utara itu.


Rival melirik Sekar. Ada benar nya juga apa yang dikatakan Sekar.


"Kalau mau bekerja. Kamu buat lamaran cabang di sini saja." Ucap Rival.


"Memangnya ada cabang perusahaan Abang di kota kecil kita ini?" Firman nampak antusias, setidaknya Dia bisa bekerja disini dan tidak berpisah dengan kekasihnya.


"Ada baru di buka enam bulan lalu. Waktu Pak Ali datang ke rumah kita ini. Disitu baru diresmikan perusahaan nya. Sekarang lagi banyak merekrut karyawan." Ucap Rival lagi terus menguap.


"Ayah mana?" tanya Rival, dari habis acara Dia tidak melihat Ayahnya.


"Di Mesjid, lagi tidur." Jawab Sekar, yang kini sudah menyelesaikan anyaman nya.


"Ayah kan selalu begitu Bang. Sembuh dikit aja sudah pasti tidur di Mesjid. Katanya tidur di Mesjid Adem." Jawab Sekar.


Akhirnya mereka mendengar suara mendengkur. Yang ternyata ibu Mereka sudah tertidur pulas terlentang di balai-balai


"Bangun kan Ibu Sekar. Ayo kita masuk. Abang sudah sangat kantuk." Ucap Rival kembali menguap.


Sekar membangun kan Ibu mereka. Rival dan Ibunya sama-sama masuk ke dalam rumah. Yang diikuti Sekar dan Firman.


🌻🌻🌻


Keesokan harinya, tepat pukul 10 pagi. Rival dan Mely berpamitan untuk pulang ke Kota M. Suasana haru tercipta disaat Ibunya Rival begitu tidak teganya berpisah dengan Rival. Mely sampai terheran-heran melihat tingkah Ibunya Rival.


Ibunya Rival bersikap seperti itu, bukannya tidak ada alasannya. Dia seperti itu. Karena Dia sudah sadar dan intropeksi diri. Betapa tidak adilnya Dia kepada Rival. Sejak kecil Dia sudah memperdaya Rival. Memporsir tenaga Rival untuk menghasilkan uang.


Bahkan Rival telat menikah, karena ulah Ibunya sendiri. Dia tidak mau Rival mempunyai istri. Karena jika itu terjadi. Dia takut Rival tidak memberinya uang lagi.


"Maafkan Ibu ya Nak." Ucapnya tersedu-sedu, sambil memeluk Rival.


"Iya Bu, tidak ada yang harus dimaafkan. Rival yang seharusnya meminta maaf. Karena belum bisa bahagia kan Ibu, Ayah dan saudara/i ku semua." Ucapnya mengelus pelan punggung Ibunya. Mengurai pelukan itu, dan kini Dia memeluk Ayahnya.

__ADS_1


"Bahagiakan istrimu." Ucap Ayahnya. Rival hanya mengangguk kan kepalanya. Kemudian Rival memeluk semua saudara nya itu.


Sebenarnya hati Rival sedih, dan sangat terharu. Ternyata Dia masih bisa pulang kampung. Membalas semua jasa orang tua yang telah membesarkan.


Rival memberi sejumlah uang yang banyak kepada Ayahnya. Untuk membangun rumah mereka.


"Sedih banget tahu Mas. Mau pisah dengan mereka." Ucap Mely dalam rangkulan Suami nya itu.


"Iya, Adek bobo ya?" Rival tidak ingin Mely terlalu capek dalam perjalanan yang memakan waktu 8-9 jam itu. Dia pun menstel bangku untuk Mely bisa tidur dengan nyaman.


Benar saja, sepanjang perjalanan Mely lebih banyak tidur. Sedangkan Rival, sibuk dengan ponselnya. Membalas email dan menjawab telpon Ayahnya. Pasalnya Besok pagi Rival akan menangani tender besar.


*


*


*


Tepat pukul tujuh malam, mereka sampai di rumah. Mely masih tertidur. Sepertinya istrinya itu lelah sekali. Mungkin selama lima hari di kampung. Rasa lelahnya baru terasa sekarang.


Setelah Rival membopong tubuh istrinya itu masuk ke kamar dan membaringkan Mely yang tidak terbangun itu. Walau Rival sudah menggendongnya. Rival kini membersihkan dirinya ke dalam kamar mandi dan berganti pakaian.


Dia harus ke rumah Ayahnya, mengambil dokumen yang dimaksud kan Ayahnya di ruang kerjanya. Karena dokumen itu sangat dibutuhkan esok hari saat pertemuan dengan relasi bisnis.


Rival mencium kening Mely, kemudian mengelus lembut perut datar istrinya itu yang membuat Mely terbangun.


"Mau kemana?" ucap Mely dengan masih menutup mata. Rasanya kedua kelopak mata nya berat seperti ditimpah batu besar. Dia sangat susah membuka kedua matanya itu.


"Mau ke rumah Ayah sebentar. Ada dokumen yang harus Abang pelajari malam ini. Dokumen itu bahan presentasi Abang besok dengan calon relasi bisnis kita." Ucap Rival lembut, mengelus puncak kepala Mely dengan sayangnya.


"Baiklah, cepat pulang." Ucap Mely mencoba membuka kedua bola matanya.


"Iya sayang." Rival memeluk Mely sekilas dan mencium keningnya kembali. " Adek tidur saja ya. Biar anak kita sehat." Ucapnya dengan terseyum. Rival pun bangkit dari duduknya, berjalan keluar dari kamar mereka menuju halaman depan. Pak supir sudah menantinya.


Sesampainya di rumah Pak Ali, Rival langsung bergegas ke ruang kerja Pak Ali. Ini kali kedua Dia memasuki ruangan itu. Saat pertama kali masuk ke ruang kerja Pak Ali, Dia hanya sebentar waktu itu. Hanya duduk di sofa, menunggu Pak Ali keluar dari ruangan.


Dia berjalan menuju lemari tempat File disimpan. Dia pun mulai mencari deretan File yang diurutkan berdasarkan judul filenya.


Lama Rival mencarinya, tapi tidak kunjung ketemu dokumen yang dicarinya. Dia pun mulai mencarinya ke meja kerja Pak Ali. Membuka satu persatu laci yang ada di bagian bawah meja kerja yang besar, luas dan megah serta kokoh itu.


Hingga matanya tertarik untuk melihat sebuah foto anak kecil bersama Pak Ali sewaktu muda. Foto itu mirip dirinya sewaktu kecil. Dan foto anak kecil itu memakai kalung seperti kalungnya.

__ADS_1


__ADS_2