Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Kamar kunti


__ADS_3

Tangan Rival mulai mengusap-usap punggung Mely dalam dekapannya. Dia pun menghadiahi puncak kepala Mely dengan ciuman bertubi-tubi.


Perlakuan Rival yang lembut itu membuat Mely merasa disayang. Dia pun terisak dalam dekapan Rival, yang membuat Rival bingung dan terheran-heran. Kenapa malah menangis? belum juga pecah perawan ya sudah menangis?


Rival mengendorkan dekapannya, Dia pun menoleh ke arah Mely yang tepat berada di hadapan dadanya tersebut.


"Adek kenapa menangis? Abang ada salah atau Adek merasa disakiti?" ucap Rival lembut, Dia pun melap air mata Mely dengan jemarinya.


Mely menggeleng, "Terus kenapa menangis?" Rival masih memperhatikan wajah Mely yang nampak sendu itu. Dia heran kenapa Mely tiba-tiba berubah menjadi melow begini. Biasanya juga ceria dan sedikit gesrek.


"Apa Abang akan mencintaiku?" Mely menatap lekat kedua bola mata Rival. Dia tidak sabar untuk menunggu jawaban suaminya itu.


"Kita sudah menikah, tentu itu akan kita rasakan?" jawab Rival seadanya. Dia juga belum tahu perasaannya kepada Mely. Tapi, sebagai sekarang suami Dia akan menjaga perasaan istrinya itu. Seperti hari ini. Mely ingin tidur bersama Dia mengikuti keinginan Mely.


"Berarti Abang belum cinta." Mely merasa kecewa dengan jawaban Rival. Dia merajuk dan membalikkan badannya, sehingga Dia kini memunggungi Rival.


Rival terkejut dengan sikap Mely. Dia pun akhirnya melepas dekapannya, berbaring disebelah Mely. Dengan menempatkan lengan kanannya di atas keningnya, sedangkan lengan kirinya berada diatas perutnya, dekat gulungan sarungnya.


Rival jadi tidak berani menyentuh Mely. Rival beranggapan, Mely mau disentuh, apabila Dia mengaku mencintai istrinya itu. Karena Dia masih belum bisa memastikan perasaannya. Maka Dia pun tidak menyentuh Mely lagi. Padahal Mely sangat berharap, Rival membujuk dan kembali menyentuhnya.


Lama mereka terdiam di atas ranjang. Yang sesekali Rival melihat ke arah Mely yang membelakanginya.


Akhirnya Mely geram sendiri, karena Rival menkacanginnnya. Dia pun menghela napas kasar dan berdecak. Duduk dengan cepat bersila menghadap Rival yang masih telentang dan menatap langit-langit kamar.


Gairah Rival langsung surut karena pertanyaan Mely yang menanyakan tentang perasaannya.


Buugghhh... Mely memukul dada Rival, sehingga Rival terkejut dan meringis kesakitan. Dia pun menoleh ke arah Mely yang cemberut duduk bersila disebelahnya dengan belahan dada yang menantang, serta paha yang tereskpos indah itu.


Mely kembali menangis. Dia kesal sekali dengan Rival yang tidak membujuknya. Sedangkan Rival dibuat bingung dengan sikap Mely. Rival takut salah sikap yang nantinya akan membuat Mely menangis lagi. Dia tidak mau membuat Mely sedih. Tapi, sikapnya itu malah membuat Mely sedih.


"Kenapa Aku dianggurin lagi. Kenapa sih Abang itu tidak mengerti inginku." Mely terisak, Rival pun akhirnya mendudukkan tubuhnya sejajar dengan Mely.


"Abang tidak anggurin. Abang tidak se percaya diri itu, untuk memiliki Adek. Abang juga bingung sekarang. Adek Mely sebenarnya perasaan bagaimana kepada Abang? bukannya di awal kita menikah di kantor polisi Adek tidak suka kepada Abang?" Rival menatap lekat wajah Mely.


"Kenapa bahas itu lagi. Kemarin kan sudah Mely bilang, sejak Abang marahin Mely. Mely jadi sering kepikiran Abang. Tiga bulan Mely menyimpan rasa ini. Abang simpulkan saja sendiri bagaimana." Mely masih terisak. Rival tidak tega melihatnya. Dia pun memeluk Mely.

__ADS_1


"Mulai malam ini, kita jangan bahas perasaan lagi. Kita dekat begini, itu sudah cukup sebagai alasan kita akan serius menjalani biduk rumah tangga. Kalau Adek ingin kita hubungannya layaknya pasangan suami istri. Ayo kita lakukan." Ucap Rival, Dia mengelus punggung Mely yang mulus dalam dekapannya.


"Emangnya Abang tidak ingin? kenapa ngomongnya seolah Adek saja yang menginginkannya." Ucapan Mely membuat Rival sadar. Bahwa Dia salah bicara.


"Kalau Abang tidak mau, ngapain kita sekarang berpelukan." Ucap Rival gemes. Dia melepas pelukannya dan menatap wajah Mely yang sembab itu. Dia merangkum wajah Mely dengan terseyum. Kalau polos begini, wajah Mely sangat cantik, semakin diperhatikan semakin menarik saja. Apalagi, kalau Mely tersenyum, menampakkan lesung pipinya yang hanya ada disebelah pipi kirinya.


Keduanya saling pandang, seolah sudah tidak sabar untuk saling memberi kehangatan. Dan Mely yang memang sudah tidak sabar itu langsung melum*at bibir Rival. Rival pun membalasnya dengan lembut dan penuh dengan perasaan. Sikap Rival saat membalas ciuman Mely, membuat Mely menitikkan air mata. Sungguh perlakuan Rival membuat Mely BAPER.


Lama keduanya saling ******* dan saling bertukar Saliva, yang membuat darah Mely berdesir hebat dan bermuara dibawah pusatnya. Dia sampai gemetar saat darahnya berdesir.


Rival melepas ciuman mereka yang sangat mendebarkan itu. Jujur saja, ini pertama kalinya buat Rival melakukan ciuman seintim itu. Saat bersama Rili, Dia tidak mendapatkan itu. Hanya saat Rili bermimpi, Rili membalas ciuman dari Rival. Sejak itu, Dia tidak pernah mendapatkan sentuhan apapun dari istrinya itu. Dan sekarang wanita kecil yang ada dihadapannya ini seolah memberi apa yang tidak didapatkannya dipernikahannya yang pertama.


"Kenapa dilepas? Abang tidak menyukainya?" ucap Mely dengan sendunya, sambil menatap lekat wajah Rival. Rival tersenyum, pria mana yang menolak untuk dicium.


"Kenapa mulai lagi sensitifnya. Abang suka, ini pertama kali wanita mencium bibir Abang, sampai Abang susah bernafas." Ucap Rival dengan polosnya yang membuat Mely mengerutkan keningnya. Bukannya suaminya ini Duda. Kenapa mengaku, baru kali ini dicium wanita? Mely dibuat bingung dengan pernyataan Rival. Tapi, Dia tidak mau membahasnya.


"Kita sholat dulu ya Dek!" Rival mengusap lembut pipi Mely dan mencium keningnya. Mely sangat senang mendapat perlakuan mesra itu dari Rival, tapi Dia kembali bingung. Sholat apalagi, bukannya tadi sudah sholat Isya?


"Ayok..!" Rival Menarik lengan Mely mengajaknya turun dari ranjang.


"Kita harus sholat Sunnah dua rakaat sebelum kita melakukan itu. Itu salah satu adab sebelum kita melakukannya agar terhindar dari godaan setan nantinya." Rival masih tersenyum, membujuk Mely untuk menuruti keinginannya sholat dulu.


"Mana konsentrasi lagi nanti sayang, udah pingin banget ini malah disuruh sholat." Mely masih enggan turun dari ranjangnya. Rival Pun dengan cepat menggendong Mely, masuk ke kamar mandi untuk berwudhu. Yang terlebih dahulu, Rival buang hadast kecilnya. Tentunya Rival menaikkan sedikit sarungnya dan berjongkok kemudian mengeluarkan air seninya itu.


Mely menunduk, ingin melihat apa yang dilakukan suaminya itu. Tapi, Rival menghentikan langkah Mely, saat Mely hendak sampai dihadapannya.


"Abang ngapain?" tanya Mely dengan polosnya.


"Pipis." Jawab Rival singkat.


"Pipis kenapa jongkok. Bukannya pria itu pipis seperti lagi menyemprot rumput ya? serrrrrr ...." Mely mempraktekkan tangannya seolah sedang menyemprot.


Rival tertawa, "Ambilkan Abang air." Ucap Rival dengan menahan tawanya. Mely pun mengambil air satu gayung. Memang kamar mandi dikamar Rival tidak semewah kamar mandi di kamar Mely. Masih ada bak penampung air di dalam kamar itu.


Rival Berdehem kemudian membersihkan benda pusakanya. Tingkah Rival itu membuat Mely penasaran sekaligus heran.

__ADS_1


"Pria itu bagusnya saat pipis jongkok. Biar urinenya keluar semua. Insyaallah bebas dari penyakit batu ginjal dan prostat." Rival kini menyalakan kran air yang ada di kamar mandi itu, Dia pun berwudhu dan mengangkat kain sarungnya sampai paha. Mely sampai menelan ludah melihat paha Rival yang putih, berbulu dan terbentuk sempurna itu.


"Aduhhhh..... kenapa suamiku ini begitu menggoda." Ucap Mely, Dia pun memeluk Rival dari belakang. Yang membuat Rival menghentikan aksinya berwudhu.


"Kalau Aku tarik sarung ini. Pasti pemandangan dibalik sarung ini sangat fantastis. Tapi, sudah sempat terlihat sedikit." Ucap Mely dengan cekikan dan masih menyandarkan kepalanya di punggung Rival.


Rival geleng-geleng kepala, dengan tingkah istri kecilnya ini. Dia pun meraih tangan Mely yang memeluk erat perutnya dan berbalik. Mely mendongak sambil tersenyum.


"Kalau Adek begini. Kita kapan sholatnya."


"Kita tidak usah sholat, kita disini saja bermesraan." Ucap Mely tertawa kecil yang membuat Rival menjepit hidung Mely.


"Sudah Adek berwudhu dulu, cuci bersih itunya. Ini sudah larut malam. Jam berapa lagi kita nanti siapnya." Rival menampilkan ekspresi serius. Yang membuat Mely menurut.


"Ya, kita lemburlah sampai selesai acaranya mainnya." Mely menjawab santai. Rival kembali menggeleng melihat sikap istrinya yang blak-blakan.


Rival kembali berwudhu, Mely juga demikian. Dia bahkan melepas CD nya dan menempatkannya di tempat kain kotor Rival yang ada di kamar mandi itu.


"Apa bagus, Adek sholatnya bajunya sexy begini?" ucap Mely saat mereka keluar dari kamar mandi.


"Ya udah, Adek pakai kaos Abang." Rival mengambil kaosnya dari lemari. Mely langsung memakainya. Mereka pun berjalan menuju ruang sholat yang tidak jauh dari kamar Rival.


"Adek mengertikan niatnya." Ucap Rival, Dia menatap Mely dengan senangnya yang nampak cantik dalam balutan mukena itu. Mely mengangguk. Akhirnya pun mereka sholat Sunnah sebelum belah duren.


Sholat pun selesai. Rival Melepas mukena Mely, Dia mencium kening Mely. Mely terseyum malu-malu. Rival menggendongnya ke kamar Mely. Mely sampai heran, kenapa Rival malah membopongnya ke kamarnya.


"Kenapa kita kesini Bang?" ucap Mely dengan malu saat Rival membaringkan tubuh Mely di atas ranjangnya.


"Biar Adek nyaman aja. Tempat tidur Abang sempit. Terus bau laki-laki lagi. Di kamar Adek wangi. Wangi Kunti." Rival tertawa. Mely merajuk.


TBC.


Mampir juga ke Novelku yang berjudul


Dipaksa menikahi Pariban

__ADS_1


__ADS_2