Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Dejavu


__ADS_3

tet.... tet... tet....Ciiiiitt.........brakkk....!


"Aawwwwwuu......Tidak...!" Rili berteriak karena terkejut, sepedanya terjatuh tepat dihadapan mobil. Nyaris Dia tertabrak. Jarak Dia dan mobil Yasir hanya 2 cm.


"Mati....mati orang gilanya!" ucap Maura, tubuhnya condong ke depan karena Yasir ngerem mendadak. Syukur Dia pakai seat belt.


Dug....dug... dug.... Jantung Yasir berdetak sangat cepat. Rili pun merasakan hal yang sama. Yang membuat Dia lama terdiam dibawa badan sepeda yang menimpanya.


Yasir yang mendengar teriakan seorang wanita yang suaranya sangat Dia kenal, dibuat diam ditempat. "Aku pasti gila, karena memikirkannya sepanjang hari. Orang gila pun ku sangka Rili." Gumam Yasir dalam hati.


Dug...dug...dug... Jantung Yasir kembali berdetak dengan cepat dan keras.


"Bang Yasir, apa orang gilanya beneran mati, kenapa tidak ada lagi suaranya, atau suara gerakan tubuhnya.


"Bentar, Abang turun dulu." Ucap Yasir. Dia pun membuka pintu mobil. Degupan jantungnya begitu cepat yang membuat Dia heran dengan tubuhnya. Padahal kata Dokter Dia sudah pulih total, tapi kenapa jantungnya ini seolah bermasalah. Dia berusaha menenangkan diri, dengan menarik napas saat berjalan menghampiri orang gila yang dimaksud Maura.


Tak...tak...tak.... Rili melihat langkah seorang laki-laki bersepatu formal dengan celana goyang warna hitam mendekat kepadanya. Dia masih duduk bersimpuh dijalan dengan pandangan mata tertunduk.


"Bu, Ibu baik-baik saja kan?"


Duarr..... Jantung Rili rasanya mau copot dari tempatnya. "I..ni..ini.... Suara Abang Yasir." Gumam Rili dalam hati. Dia masih duduk tertunduk. Lumpur yang lengket di rambut, pakaian dan sebagian tubuhnya sudah mengering. Sehingga Rambut panjangnya menjadi kaku, karena lumpur yang sudah mulai kering tersebut.


"Maaf ya Bu, mari saya bantu berdiri." Ucap Yasir. Setelah Dia sudah memindahkan sepeda Rili yang menimpah tubuhnya, kepinggir jalan.


Rili diam saja, masih dalam keadaan seperti merangkak, tapi menunduk. Mata Rili langsung mengeluarkan cairan bening. Dia tidak berani menjawab ucapan Yasir. "Dia benar Abang Yasir, pria yang sangat kucintai." Gumam Rili. Air mata terus saja merambat keluar dari mata indahnya yang kini hanya nampak bola matanya saja.


"Sayang, Ayo bantu Ibu itu berdiri. Mungkin kaki Ibu ini terkilir. Sehingga Ibu ini diam saja dan menunduk seperti itu." Ucap Maura. Dia juga ikut turun dari mobil menyamperin Yasir.


Duarr.....kembali Rili merasa tubuhnya seperti disambar petir. Ternyata Yasir sedang bersama istrinya. Rili melirik sekilas Maura yang ada disebelah kirinya. Ya benar. Ini wanita yang menggandeng Yasir saat siaran langsung yang ditontonnya sekitar tiga bulan yang lalu saat acara ulang tahun perusahaan.

__ADS_1


Dengan berurai air mata, Rili merangkak sambil menundukkan kepalanya di jalan berbatu kerikil tajam, tekanan dari kerikil yang tajam menancap di telapak tangan dan lututnya. Dia menahan rasa sakit itu, ditambah rasa sakit jarinya yang melepuh kena minyak panas tadi pagi. Wajahnya tidak jelas nampak Yasir, karena ditutupi rambut Rili yang kaku itu.


Rili merangkak menuju sepedanya yang sudah diparkirkan Yasir dipinggir jalan.


Hati Yasir sangat sakit melihat pemandangan didepan matanya itu. Ada seorang wanita berjalan merangkak seperti binatang.


"Sayang, Bang Yasir. Bantuin Ibu itu Sepertinya Dia cidera." Ucap Maura dengan bergidik ngeri dan jijik melihat penampilan orang gila yang Dia maksud.


Yasir berjalan hendak berkomunikasi dengan Rili. Rili memberi kode penolakan dengan tangannya. Kini Rili sudah berdiri dan membelakangi Yasir. Usahanya untuk menghindar dari Yasir dengan berjalan merangkak dan menunduk ternyata berhasil.


Dia sangat malu dengan keadaan dirinya sekarang. Dia memang yang tidak pantas untuk Yasir. Dia wanita miskin, mana mungkin pria seperti Yasir mencintainya. Dia tidak berani menatap Yasir, apalagi mengaku dan mengatakan bahwa Dia Rili, wanita yang dicampakkan dan meninggalkannya tanpa sepatah katapun.


Ponsel Yasir berdering dari saku celananya, Dia mengangkatnya. Saat Rili melihat Yasir lengah saat menelpon, Rili menaiki sepedanya dan mengayuhnya dengan cepat.


Setelah bertelepon, Yasir dan Maura menaiki mobil. Karena Maura memaksa Yasir untuk naik. Padahal saat Itu Yasir masih bingung dan linglung. Hatinya mengatakan Dia mengenal wanita yang tubuhnya penuh dengan lumpur itu. Tapi, logikanya menolak bahwa itu Rili wanita yang sangat dicintainya.


Bagaimana mungkin Rili dalam kondisi memprihatinkan seperti yang dilihatnya. Padahal, Ibu Rili mengatakan bahwa Rili menikah dengan pria baik, sholeh dan Rili sangat bahagia. Sampai Ibunya Rili memohon-mohon agar Yasir jangan pernah menghubungi Rili lagi. Karena kehadiran Yasir, akan mempengaruhi keharmonisan rumah tangga Rili.


Peristiwa 16 tahun yang lalu seperti Dejavu. Dimana Rili terduduk dengan keadaan begitu menyedihkan dihadapan pria yang sama yang tak lain adalah Yasir.


"Ayo bang jalan, ini sudah setengah tiga. Kamu bilang rapat jam dua." Ucap Maura. Dia heran melihat Yasir seperti orang yang linglung.


"Tadi, saat Askep (Asisten kepala) menelpon, rapat diundur menjadi jam 3 sore." Ucap Yasir sambil terus berpikir.


"Iya, kita jalan aja. Aku mau istirahat di Mes Abang ya? Aku capek sekali bang." Ucap Maura, Dia mengambil air mineral dari tempat minum di dalam mobil itu lalu meneguknya.


Yasir tidak menghiraukan ucapan Maura. Pikirannya sibuk menduga-duga bahwa wanita yang tadi adalah Rili. Akhirnya Dia sadar.


"Itu Rili... itu pasti Dia, Aku mengenal gerak gerik dan bahasa tubuhnya. Ooohhh siiitt....!" Ucap Yasir. Dia membuka kembali pintu mobilnya. Dan berlari kebelakang.

__ADS_1


Saat itu juga, Rili yang merasa Dirinya dikenali Yasir. Akhirnya membelok ke jalan tikus sebelah kiri. Jalan Masyarakat menuju keladang, tapi sangat kecil. Orang yang tidak mengetahui kampung itu. Pasti tidak tahu bahwa disitu ada jalan.


"Rili..... Rili.... Rili...Rili....! Aku tahu kamu itu Rili......!" Yasir mencoba berlari lebih jauh. Dia ingin mengejar Rili yang bersepeda. Dia sudah berlari 100 m. Tapi, Dia tidak menemukan Rili.


Yasir tidak tahu, bahwa Rili masih dibelakangnya sembunyi di kebun sawit warga. Dia bersembunyi disemak-semak yang lumayan lebat dikebun sawit yang tidak terurus itu. Sehingga tidak akan ada yang melihatnya.


"Tidak mungkin Dia bersepeda secepat itu. Ini jalan lurus. Dia kemana? Rili.... Rili....! Kamu dimana?" Ucap Yasir dengan begitu histerisnya. Dia nampak berlari maju dan mundur lagi. mencari keberadaan Rili disemak-semak pinggir jalan.


"Tubuh Rili bergetar mendengar suara Rival yang memanggil-manggilnya. Dadanya makin sesak. Dia menangis sambil menutup mulutnya, karena saat Yasir mencarinya disemak-semak. Rili berada disemak-semak tersebut.


Yasir, memajukan langkahnya menuju semak-semak yang nampak bergoyang.


"Rili....Rili.... Sayang...! Aku tahu kamu masih disekitar sini. Kamu itu Rili, keluarlah." Ucap Yasir dengan mata berkaca-kaca.


Meong....Meong.... Kucing hutan bermotif macam, keluar dari persembunyian Rili. Akhirnya Yasir pun mundur, Dia beranggapan semak-semak yang bergoyang tadi ada Rili di dalamnya, ternyata hanya seekor kucing hutan.


Dengan frustasinya Yasir berteriak di tengah jalan memanggil nama Rili...... Rili....!


Bersambung...


Sabar ya say. Besok Rili dan Yasir bertemu koq. 😍🤩😘


Mohon beri like, coment positif. Rate bintang 5 dan jadikan novel ini sebagai favorit.


Jangan lupa VOTE nya kak, biar lebih semangat lagi authornya.


Author juga ada group. Silahkan gabung ke group ya kak.


Kasih penilaian bintang 5 dong kakak2 cantik dan baik hati.

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2