Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Wanita ingin dimengerti


__ADS_3

Setelah selesai sarapan, Rival melangkah ke taman belakang rumah mereka. Dia kembali duduk bersandar di Gazebo yang atapnya seperti rumah adat Batak Angkola itu.


Rival memantik korek api, menyalakan rokok dan menghisap dalam-dalam, dan menghembuskan asap membentuk bola-bola. Setelah habis setengah batang. Dia merogoh ponselnya dari kantong kemejanya.


Dia sangat penasaran untuk membaca pesan yang dikirimkan oleh istrinya itu. Karena Dia sama sekali belum membaca semua pesan yang masuk ke ponselnya mulai dari semalam.


Mas, sudah sampai di kampung? isi pesan pertama dari Mely. Dikirim sekitar pukul sembilan pagi.


Mas, Ibu jam berapa dimakamkan?" isi pesan kedua, dikirim satu jam kemudian.


Mas, kalau Ibu sudah dimakamkan, tolong hubungi Mely ya? isi pesan ketiga, dikirim sekitar pukul dua siang.


Mas, kenapa telponnya gak diangkat? isi pesan ke empat dikirim pukul dua siang juga.


Mas, kalau sudah ada waktu luang. Telpon balik.


Mas, angkat teleponnya.


Mas, Aku tahu Aku salah. Aku janji akan berubah sesuai keinginan Mas. Aku juga tidak ingin seperti ini. Tapi, Aku tidak bisa mengontrol perasaan gelisah ini. Aku tidak bisa memendam apa yang kurasakan. Aku sangat mencintaimu. Karena itulah Aku jadi cemburu buta. Tolong pahami Aku. isi pesan berikut nya. Rival sudah mulai malas untuk membuka dan membaca pesan yang dikirim istrinya itu yang jumlahnya sangat banyak. Tapi, Dia penasaran dengan isi SMS berikutnya. Sehingga Dia kembali membuka pesan itu.


Mas, walau Mas ingin kita merenung selama tiga hari ini. Aku mohon, kita agar tetap komunikasi. Rival membaca pesan setelah melangkahi dua puluh pesan yang tidak dibacanya.


Membaca pesan-pesan dari Mely membuat Rival semakin muak dengan istrinya itu. Kenapa istrinya itu, tidak bisa mengendalikan dirinya. Menuruti emosi, sehingga mengirimkan pesan yang banyak dan isinya pada ngaco semua.

__ADS_1


Baiklah, kalau Mas tidak mau komunikasi denganku. Aku pun tidak akan mengganggu Mas lagi. Mas memang suami tidak bertanggung jawab. Menelantarkan istrinya demi menjumpai mantan istri yang tidak mencintaimu. Kasihan sekali nasibmu. Isi pesan Mely yang dibaca Rival sudah urutan kelima puluh. Entah apa lagi isi pesan sebelumnya yang tidak dibukanya.


Rival sudah mulai terpancing amarahnya. Dia merasa sebagai suami tidak dihargai oleh Mely. Dia meletakkan ponselnya di lantai gazebo yang beralaskan ambal itu. Memandang lurus ke depan, memperhatikan kebun sayur orang kampung yang bisa membuat hatinya sedikit sejuk.


Matanya berkaca-kaca, Dia sungguh melankolis saat ini. Hatinya sakit, membaca pesan Mely yang selalu memojokkannya dari masa lalunya.


Rival mengusap wajahnya kasar, menghela napas dalam dan menghembuskannya pelan. Tangannya kembali meraih ponselnya yang tergeletak di atas ambal lembut itu. Dia ternyata penasaran dengan isi SMS Mely yang belum dibukanya.


Kalau Mas tidak membalas pesanku dan mengangkat telepon dariku. Maka, Aku tidak akan mau balikan sama Mas. Aku benci Mas, sangat benci. Sepertinya Mely mengirimkan pesan itu, sungguh dalam keadaan tertekan atau merasa malu. Karena tidak diopeni. Sehingga Dia menuliskan kata-kata yang membuatnya seolah tidak butuh dengan suaminya itu dan merasa benar.


Rival menggelengkan kepalanya, Kembali menarik napas kasar. Sungguh kelakuan isterinya itu membuatnya semakin muak saja. Tidak bisakah istrinya mengirimkan kata-kata yang enak dibaca? atau setidaknya tidak usah mengirimkan pesan yang membuat sakit hati membacanya.


Dia bukannya bersengaja tidak mengangkat telepon dan membalas pesan Istrinya itu. Dia memang sibuk dengan urusan untuk memakamkan Jenazah Ibu Durjanna. Dan Dia merasa sangat lelah, sehingga Dia lebih banyak mengistirahatkan tubuhnya.


Dasar suami tidak bertanggung jawab, menelantarkan anak dan istrinya. Pantesan istri pertamamu tidak bahagia denganmu.


Tidak usah menunggu sampai tiga hari. Sekarang ku putuskan. Aku tidak mau kembali kepadamu. Dan jangan pernah untuk mengambil anak-anak ku. Aku yang merasakan suka duka mengandung mereka. Kamu tidak tahu, betapa sakitnya hatiku sejak menjadi istrimu. Pria plin plan. Umur mu saja yang sudah tua, tapi pemikiran mu seperti anak TK. Jangan pernah kembali ke rumah ini. Lagi-lagi Rival harus mengelus dadanya, saat membaca pesan dari istri labilnya itu.


Kenapa istrinya itu, tega menuliskan kata-kata penuh dengan umpatan emosi yang tidak dipikirkan efeknya saat dibaca suaminya. Kata-kata yang disusun jadi kalimat itu, membuat sesak dada membacanya.


Rival tidak mau lagi membaca SMS Mely yang masih banyak yang belum dibukanya. Dia memilih untuk mendelete semua pesan Mely, baik yang sudah dibaca maupun yang belum dibaca. Tidak ada gunanya membaca pesan yang isinya penuh dengan kebencian itu.


Keputusan apa yang harus diambilnya. Haruskah Dia berpisah dengan Mely? atau tetap bertahan demi anak-anaknya, menerima sifat negatif istrinya itu yang tidak sabaran dan egois itu. Entahlah, Rival sangat pusing dibuat masalah ini. Masalahnya tidaklah berat, tapi tidak pernah ada ujung penyelesaiannya.

__ADS_1


Rival kembali meletakkan ponselnya, di atas ambal empuk itu. Dia membaringkan tubuhnya dengan terlentang. Dimana kedua tangannya yang bertaut, kini sudah menjadi bantalnya.


Dia menatap langit-langit Gazebo dengan perasaan kacau. Hatinya juga sakit. Isi SMS Mely, membuat hatinya resah dan gelisah. Dia sungguh malas untuk memikirkan Mely. Tiba-tiba saja, Dia merasa muak dengan istrinya itu. Kenapa Dia bisa menikah dengan wanita seperti itu?


Katanya jodoh adalah cerminan dirimu sendiri. Apakah Aku seburuk itu? sehingga berjodoh dengan Mely. Wanita bar bar yang seenaknya sendiri. Rival mulai pusing memikirkannya. Dia mencoba untuk memejamkan matanya. Dia ingin tidur, malas memikirkan Mely, wanita yang sudah melahirkan anak kembar untuknya.


"Bang, Bang Rival..." Rival mendegar suara laki-laki membangunkannya. Menggoyang lengannya dengan kuat. Berharap Rival terbangun. Benar saja usaha Firman membuahkan hasil. Rival bangun menatap Lekat dirinya.


Rival menggerakkan dagunya, memberi isyarat bertanya siapa tamu yang datang.


Belum juga Firman menyebut nama tamu yang datang. Ternyata tamu itu sudah berada dibelakang Firman, yang masih bisa dilihat oleh Rival. Mata Rival melotot sempurna melihat Rayati ada dihadapannya. Dengan ekspresi wajah tersenyum simpul.


Wanita yang pernah menjadi partner kerjanya dan Wanita yang menganiaya Rili. Wanita bar-bar yang tidak punya hati dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kemauannya.


"Bang, kak Rayati ingin bertemu." Ucap Firman dengan polosnya. Tidak menyadari bahwa Rayati ada dibelakangnya.


"Iya, Apa kabar Abang Rival." Rayati nyelonong dari balik tubuh Firman. Yang membuat Firman terkejut. Dia memegangi dadanya yang terasa berdenyut keras dan cepat itu.


Rival tidak menjawab sapaan Rayati. Dia malas melihat wanita bar-bar itu.


"Bang, Aku tinggal ya." Firman pamit, menoleh ke arah Rayati kembali di sebelahnya dengan tersenyum.


"Iya." Jawab Rival malas.

__ADS_1


Rayati yang tidak tahu malu itu, langsung duduk disebelah kirinya Rival. Tanpa menunggu dipersilahkan untuk duduk. Sungguh wanita yang tidak punya tata Krama.


"Abang apa kabarnya?" Rayati kembali bertanya kepada Rival dengan raut wajah yang masih ketakutan. Tapi Dia memberanikan diri untuk menemui pria yang sangat dicintainya itu.


__ADS_2