Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 kritis


__ADS_3

Sesampainya di Rumah Sakit, Ibu Durjanna langsung dibawa ke ruang IGD. Dokter yang piket malam itu langsung memeriksa Ibu Durjanna dengan serius. Sepertinya benturan kepala bagian belakang Ibu Durjanna sangat keras, sehingga tulang otak belakang retak. Begitu juga dengan tulang pinggulnya juga ikut patah. Ibu Durjanna kritis dan kemungkinan selamat nihil.


Suami, anak-anaknya tampak resah dan begitu mengkhawatirkan wanita tua yang sangat membenci Rili itu. Mereka duduk dengan tidak tenang, di kursi Stainles panjang yang ada di koridor ruangan IGD itu. Hingga Dokter pun keluar dari ruang IGD.


Mila langsung berdiri berjalan cepat menghampiri Dokter dengan air mata yang masih membasahi pipinya yang penuh dengan flek hitam.


"Bagaimana dengan kondisi Ibu kami Dok?" tanyanya dengan tubuh bergetar. Dia takut sekali kehilangan Ibunya itu. Karena Ibunya lah tempat mengadunya.


Dokter menghela napas kasar. Rival pun ikut menghampiri Dokter. Yang disusul oleh Firman dan Sekar. Sedangkan Si Amrin dan Ayah mereka tetap memilih duduk di tempat duduknya, dengan harap-harap cemas menunggu info dari Dokter.


"Maaf kami hanya bisa melakukan yang terbaik untuk pasien. Ibu kalian tidak bisa kita selamatkan. Pasien terlalu banyak kehabisan darah. Ditambah usia Ibu kalian yang sudah lanjut, membuat tulang pinggulnya juga patah saat terjatuh." Dokter menatap satu persatu anak-anak Ibu Durjanna yang mengelilingi nya.


"Jadi Ibu kami sudah meninggal?" tanya Sekar, kembali menangis tersedu-sedu.


"Ibu kalian belum meninggal, kritis. Beliau selalu menyebut nama Ri..Li Rili." Ucap Dokter, mencoba mengingat-ingat nama yang disebutkan oleh Ibu Durjanna. " Apa Adek namanya Rili?" Dokter bertanya mencoba kepada Mila. Dengan ekspresi sedih Mila menggelengkan kepala nya berulang kali.


Rival tertegun, apakah Ibu nya itu sudah menyadari kesalahannya. Sehingga Dia ingin bertemu dengan Rili. Tapi, Rival sungguh tidak berani lagi mempertemukannya dengan Rili. Dia takut, kondisi Rili kembali lemah. Dia tidak mau menyusahkan wanita itu lagi.


"Sebaiknya yang bernama Rili dipertemukan dengan Ibu kalian. Sepertinya Dia hanya menunggu orang yang bernama Rili. Kalau tidak dipertemukan, Ibu kalian akan semakin tersiksa menunggu ajalnya datang." Ucapan Dokter membuat mereka terkejut, terutama Mila. Dia yang lebih mengetahui bagaimana Ibunya itu berlaku tidak baik kepada Rili. Karena Rili mau menikah dengan Rival saat itu.


"Iya Dok." Jawab Rival sedih.


"Baiklah, kita pindahkan dulu Ibu kalian ke ruang rawat. Semoga dengan bertemunya Ibu kalian dengan wanita yang bernama Rili. Membawa suatu keajaiban." Ucap Dokter penuh keyakinan, memberi sugesti kepada keluarga Ibu Durjanna, agar tidak sedih dan frustasi.


"Iya Dok," Jawab Rival.


Ibu Durjanna yang lemah itu dibawa ke ruang rawat inap, Semua anggota keluarganya mengikutinya.

__ADS_1


Rival berjalan dengan tidak fokus, Dia sampai tidak menyadari kalau dirinya menabrak orang yang lalu lalang di koridor rumah sakit itu. Sehingga Dia banyak mendapat umpatan. Terlalu banyak masalah yang datang secara beruntun. Dalam satu hari, yang seharusnya masalah itu sudah selesai. Karena masalah diawal hanyalah antara dirinya dan Mely, kini merembes kepada Rili.


Dia kembali mendudukkan tubuhnya di bangku panjang yang ada di lorong rumah sakit itu. Sedangkan adik-adik nya sudah menemani Ibu Durjanna di ruang rawat inap.


Rival menghela napas panjang, mengusap wajahnya kasar. Bagaimana caranya Dia akan bicara kepada Rili, agar mau menemui Ibu angkatnya itu.


Saat berfikir keras itu, ponsel yang ada disaku celananya bergetar, dan mengejutkannya. Ada nama Mama Maryam yang memanggil.


Rival pun menerima panggilan telepon itu.


"Assalamualaikum Ma." Ucapnya sedih. Menutup matanya dan menyandarkan kepalanya di kursi.


"Walaikumsalam... Rival, sudah bagaimana keadaan Ibu Durjanna?" tanya Mama Maryam, Dia melirik Mely yang duduk bersandar di head board tempat tidur.


Mama Maryam memilih pulang ke rumah Rival, karena Dia sangat mengkhawatirkan Mely dan cucu kembarnya.


"Ibu sedang kritis Ma. Mohon doa nya." Ucapnya, Dia teringat kepada Mely dan anak-anaknya. Tapi, Dia masih kesal kepada istrinya itu. Sehingga Dia malas untuk menanyakannya keadaan Mely. Bisa-bisa kesabarannya akan habis, kalau mereka berkomunikasi dan Mely banyak pertanyaan.


"Semoga Kak Durjanna cepat sehat." Ucap Mama Maryam sedih, menoleh ke arah Mely yang menggoyang bahu Mama Maryam. Mely ingin bertanya. Apakah suaminya itu menanyakan dirinya, atau tidak.


"Iya Ma. Sudah ya Ma. Titip Mely dan anak-anak.' Ucapnya dengan perasaan tidak tenang dan takut.


Setelah selesai bertelepon, Rival kembali bersandar di bangku panjang itu. Bernapas dengan dalam, berharap perasaannya yang kacau bisa tenang.


Harusnya disaat-saat begini, Dia harus mendampingi anak dan istrinya. Tapi, itu tidak bisa dilakukan nya. Karena Ibu angkatnya sangat membutuhkannya sekarang.


"Bang.... Abang Rival---" Suara teriakan Sekar, membuyarkan lamunannya. Sekar nampak berlari ngos-ngosan menghampirinya. Rival bangkit dari duduknya, berusaha tenang dihadapan Sekar.

__ADS_1


"Ada apa? kenapa kamu berlari sambil menangis?" tanya Rival, setelah Sekar berada dihadapannya.


"Kak, kasihan Ibu. Dia nampak begitu tersiksa menuju sakratul maut nya. Aku sudah membisikkan kalimat Syahadat di telinga Ibu, tapi Ibu yang susah bernapas selalu melihat ke atas dan menyebut-nyebut nama Kak Rili." Ucap Sekar dengan sedih.


"Apa kakak sudah hubungi Kak Rili?" ucapnya masih panik.


Rival menggelang-gelengkan kepalanya. "Ayo telepon kakak itu Bang? minta datang kesini." Ucap Sekar yang nampak tidak tenang itu.


"Kenapa Abang jadi lambat pergerakan nya. Biasanya juga cepat." Sekar mulai kesal kepada Rival.


"Rili sedang tidak sehat Dek, kita tidak mungkin merepotkannya untuk datang kesini. Abang merasa tidak enak hati. Gara-gara Mely kakak iparmu dan Ibu Dia jadi pingsan dan masuk Rumah sakit." Rival kembali mendudukkan tubuhya di tempat duduknya yang semula.


Sekar yang nampak bingung dan sedih itu, akhirnya mendudukkan bokongnya juga disebelah Rival. Mereka berdua nampak berpikir, apa yang harus mereka lakukan.


"Aku akan mendatangi kak Rili, .emohon kepada nya dan juga Suaminya. Agar mau berjumpa dengan Ibu." Ucap Sekar, menoleh ke arah Rival.


"Di ruang apa Kak Rili dirawat bang?" tanyanya memegang lengan Rival dengan wajah memelas.


"Apa kamu yakin, akan meminta Rili berjumpa dengan Ibu. Kalau kondisi Rili makin parah bagaimana?" Rival mengeluarkan uneg-uneg nya.


"Yakin Bang. Kita harus usaha, Aku tidak tega eqmelihat keadaan Ibu. Sepertinya kalau Dia sudah bertemu dengan kak Rili. Ibu akan meninggal dengan tenang." Ucapnya menatap Rival yang masih bengong.


"Dimana kakak itu di rawat?" desak Sekar. Rival pun menyebutkan nomor kamar tempat Rili dirawat. Dengan berlari Sekar menuju kamar tempat Rili dirawat.


"Assalamualaikum....!" suara Sekar membangunkan Rili dan Yasir yang sedang tertidur pulas. Yasir yang tidur sambil memeluk Rili di bed, dibuat bingung dan heran. Siapa tamu yang datang tengah malam begini.


"Kak Rili... Ini Aku Sekar. Kak, kak Rili...!" suara Sekar, akhirnya membuat Rili tersadar sepenuhnya. Dia melirik Yasir yang masih Memeluknya.

__ADS_1


"Sayang, Sekar adiknya Abang Rival." Ucapnya pelan.


"Ada perlu apa Dia datang tengah malam begini?" tanya Yasir, menatap Rili lekat. Rili menggendik bahunya. "Mana Adek tahu, makanya cepetan buka sana sayang." Ucap Rili, beringsut dari dekapan suaminya itu. Sehingga Yasir pun turun dari bed, berjalan menuju pintu dengan malasnya.


__ADS_2