Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Ikhlas


__ADS_3

Pria yang berteriak itu kini nampak sudah memasuki ruangan tersebut dan Dia duduk bersimpuh di depan pak KUA. Lalu berucap.


"Udah saah....?" tanyanya dengan napas yang ngos-ngosan.


Pak KUA yang merasa kedatangan pria itu akan membuat kerusuhan, sehingga pak KUA tidak menanggapi pria yang berteriak itu yang tak lain adalah Yusuf.


"Bagaimana saksi?" ucap pak KUA.


"SAAAHHH....!"


"Barakallahu laka wa baraka alaika wa jama’a bainakuma fi khoiir." Ucap orang-orang disana secara bersamaan.


Nampak wajah bahagia di wajah Rival, walau ada sedikit insiden aneh yang terjadi setelah Rival mengucap kabul. Sebenarnya hatinya bertanya-tanya, kenapa ada pria yang berteriak dengan kata tunggu. Tetapi pria itu tidak banyak bicara. Malah pria itu nampak aneh dimata Rival.


Rival tidak mengetahui kalau Rili pingsan. Karena Rili duduk dibelakang Rival. Dan Tante Mirna pun berusaha menutupi kejadian kalau Rili sedang pingsan. Tante Mirna memeluk Rili dan menutupkan selendang lebih condong ke depan sehingga wajahnya sedikit tertutup, jadi hanya sebagian orang saja yang melihat kalau Rili pingsan. Tante Mirna merogoh minyak kayu putih yang kebetulan selalu dibawahnya di dalam tasnya.


Tante Mirna mendekatkan minyak kayu putih tersebut ke hidung Rili. Dia berdoa dalam hati agar Rili cepat sadar.


Selama acara Doa berlangsung, Tante Mirna tak henti-hentinya berusaha membangunkan Rili. Ternyata usahanya berhasil. Rili sadar, walau matanya nampak sayu dan badannya masih lemas.


"Tante," ucap Rili dan melihat tantenya dengan memutar lehernya ke kanan. Tante Mirna tersenyum.


Kemudian Rili memutar tubuhnya, Dia sedang mencari sosok Yasir. Dia beranggapan mimpinya semalam benar terjadi. Sehingga anggapan itu membuat dirinya syok dan pingsan.


Dia memutar tubuhnya yang sedang duduk itu ke Kanaan dan ke kiri dan juga menoleh ke belakang. Tapi, Yasir tidak Dia temukan disitu. Rili hanya melihat Yusuf yang sedang ikut duduk diruangan tersebut dengan menundukkan kepalanya. Air mata kini nampak jatuh dipipi putihnya.


Yusuf yang kedatangannya tidak diacuhkan akhirnya keluar dari ruangan tersebut dan Dia berpapasan dengan Windi di pintu masuk ke rumah Rili.


Yusuf mengajak Windi pergi dari acara itu, dan Windi pun menurut.


Kini nampak Pak Penghulu menyiapkan berkas dokumen yang akan ditanda tangani.


Pak penghulu meminta Rili untuk duduk disebelah kanan Rival. Dan Tante Mirna menuntun Rili untuk duduk di sebelah kanan Rival.


Kini Rival dan Rili sedang menandatangi dokumen pernikahan dan buku nikah. Yang dilanjut dengan serah terima mas kawin.


Acara tukar cincin pun menjadi moment yang kaku buat kedua mempelai. Rival melihat wajah Rili dengan tersenyum tulus disaat Dia memakaikan cincin ke jari manisnya Rili.


Sedangkan Rili memberikan senyuman palsu, Rival mengetahui kalau senyum Rili itu tidak tulus, karena senyum Rili membentuk kerutan pada sudut bibirnya.


Pak penghulu meminta Rili agar menyalami tangan suaminya dan mencium punggung tangan suaminya.


Rival yang sadar, kalau Rili kurang senang dengan pernikahan ini, tidak berani untuk mencium kening Rili yang kini sudah sah menjadi istrinya tersebut.


Kali ini cameraman meminta mereka melakukan pemotretan dengan memegang buku nikah masing-masing.


Cameraman juga bisa membaca situasi. Dia yakin pernikahan ini pasti ada unsur perjodohan, karena sikap kedua mempelai tidak nampak mesra.


Acara akad nikah telah selesai, maka akan lanjut acara resepsi pernikahan dimana acara itu dihibur keybord dan biduan setempat.


Saat kedua mempelai masuk ke kamar pengantin untuk di rias dan berganti kostum. Kini Windi ikut masuk juga ke kamar itu.


Rili yang melihat Windi masuk ke kamar, dibuat senang dan bertanya-tanya.

__ADS_1


Windi memeluk Rili dan mengucapkan selamat atas pernikahannya.


"Aku senang banget kamu cepat datang? apa acara di rumahmu sudah selesai?" tanya Rili.


Windi tidak menjawab, Dia malah melihat ke arah Rival yang duduk di sisi ranjang dengan tersenyum.


"Aku tidak mungkin menceritakan keadaan Yasir kepada Rili. Dia sudah sah menjadi istri Abang Rival. Gumam Rili dalam hatinya.


Setelah Windi melepas pelukannya dari Rili, kini Rili nampak duduk di kursi untuk di rias. Rili juga akan ganti kostum.


Mengetahui Rili akan mengganti kostum. Maka, Rival keluar dari kamar itu. Dengan alasan ada saudara yang ingin menemuinya. Padahal itu hanya alasan semata. Dia tahu Rili malu padanya. Maka Dia ingin memberi kenyamanan kepada Rili.


"Maaf ya Rili, kadonya menyusul ya! Aku lupa membawanya." Ucap Windi dan mendaratkan bokongnya di ranjang Rili.


"Tidak apa-apa, yang penting kamu datang. Oh ya, tadi aku lihat Yusuf disini. Dia tahu dari mana rumahku? dan siapa yang mengundangnya?" tanya Rili dengan sedikit bingung.


"Aku yang membawanya kesini. Dia pria yang dijodohkan denganku.!" ucap Windi dengan tidak semangat.


"Apa?"


"Iya,"


"Aku tidak percaya ini, dunia koq sempit banget ya?" tanya Rili. Dia sedikit heboh saat di rias. Sehingga tukang rias makhluk jadi-jadian itu menyuruhnya jangan lasak.


"Windi, Bolehkah aku minta tolong?" tanya Rili.


"Minta tolong apa?"


"Jangan lupa cincin dan gelang pemberian Yasir, kamu kembalikan ya? toh Yusuf juga akan menjadi suamimu. Dan nantinya jangan bahas diriku kepada Abang Yasir." Ucap Rili dengan menitikkan air mata.


"Suami? Aku tidak mau menikah dengannya." Ucap Windi cepat.


"Kenapa?" tanya Rili bingung.


"Gak usah dibahas, ini hari bahagiamu. Jangan membahas diriku." Ucap Windi sambil berjalan ke arah Rili yang sudah selesai di rias dan berganti kostum.


"Baiklah, kalau kamu tidak mau cerita sekarang." Jawab Rili sambil melihat sahabatnya tersebut yang sedang berdiri disebelah kanannya.


"Kak, pengantin Abang ganteng tadi pergi kemana? Dia juga harus ganti kostum." Ucap si bencong.


"Coba Hubungi suaminya kak, biar cepat orang kak duduk di pelaminan karena para tamu sudah pada datang loh." Ucap si bencong.


"Iya." Jawab Rili datar. Entah kenapa Dia malas menghubungi Rival.


Rili melirik ke arah Windi. Dia bermaksud meminta Windi untuk menghubungi Abang Rival.


"Biar saya saja yang mencarinya, sekalian aku pamit pulang ya Rili. Soalnya mama barusan kirimin aku pesan." Ucap Windi.


"Ok." Jawab Rili.


Kini Windi mencari-cari sosok Rival yang ternyata sedang duduk bersebelahan dengan Yusuf.


" Abang Rival, disuruh masuk ke kamar." Ucap Windi dengan tersenyum.

__ADS_1


"Baiklah," Ucap Rival dengan tersenyum pula.


"Ku tinggal ya bro," ucap Rival sambil menepuk bahu Yusuf pelan.


Kini Windi duduk di bangku plastik tempat duduk Rival tadi


"Abang nampak akrab dengan Abang Rival?" tanya Windi.


"Biasa aja, memang begitu hukum alamnya. Sesama pria tampan pasti cepat conectnya." Ucap Yusuf becanda.


"Ehmmm... PD amat sich!" jawab Windi.


"Kalian tadi bahas apa?" tanya Windi.


"Tidak bahas apa-apa, dari cara Dia ngomong. Dia curiga Abang ini manatan pacarnya Rili." Ucap Yusuf.


"Terus abang jawab apa?


"Tidak Abang jawab, karena Dia tidak menanyakan Abang. Dia hanya menanyakan kenapa aku tiba-tiba berteriak mengeluarkan kata tunggu."


"Terus abang jawab apa?"


"Belum ku jawab, kamu udah datang." Ucap Yusuf dan kini menoleh ke arah Windi.


"Ibu menelpon, kita disuruh pulang." Ucap Yusuf.


"Baiklah, tapi sebelum Sampai di rumah. Aku kasih jawaban sekarang aja. Aku tidak mau meneruskan perjodohan ini." Ucap Windi tegas.


"Koq gitu? bukannya tadi janjiannya kalau Abang cerita tentang Yasir, kamu mau menerima perjodohan ini?" tanya Yusuf.


"Iya, kalau pernikahannya bisa gagal. Ini tadi, Abang masuk ke dalam saat ijab kabul tidak bisa menggagalkannya." Ucap Windi kesal.


"Tadi saat Abang masuk, acara ijabnya sudah selesai!" jawab Yusuf kesal.


"Bukannya tadi kita sampai masih setengah 10. Aku sengaja ngebut biar cepat sampai."


"Tadi acaranya dipercepat menjadi pukul 09.00 Wib. Bodoh sekali tadi Abang kamu buat, harus lari-lari dari parkiran menuju rumah Rili. Abang lakuin itu semua, agar bisa menangkan hatimu." Ucap Yusuf


"Tapi gagal maning!" ucap Windi.


"Coba kamu posisikan dirimu dengan posisi Rival. Tiba-tiba ada yang membuat kacau di acara akad nikahmu? Apa kamu tega? Abang tadi refleks ikutin semua ide gilamu. Hanya karena ingin kamu terima perjodohan ini. Tapi, sekarang terserah kamu saja. Kamu pikir hatiku tidak sakit mendengar ucapanmu dan sikapmu yang suka-suka mu saja!" ucap Yusuf tegas.


Mana kunci mobilmu, kita pulang saja dan biarkan aku yang menyetir." Ucap Yusuf dengan masih sedikit kesal.


Kini Rili dan Rival sedang duduk di kursi pelaminan.


Bersambung...


Mohon beri like, coment,vote dan rate bintang 5.


Maaf kalau ceritanya tidak sesuai dengan keinginan kakak yang cantik-cantik.


part kali ini kurang greget, Karena author lelah sekali dan ngantuk berat. maaf kalau banyak typo.

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2