
Acara tahlilan meninggalnya Pak Ali ketujuh hari pun sukses dilaksanakan. Rival yang mengambil alih membawakan membaca Suroh Yasin dan tahtim. Tahlil dan Doa dibawakan oleh Ustadz kondang di kota M yang sengaja diundangnya.
Rumah itu kembali sepi, setelah acara itu selesai. Hanya ada Keluarga inti nampak berkumpul di ruang keluarga. Sedangkan para ART sibuk membersihkan rumah dan pekarangan sekitar.
Rival yang tiduran berbaring di atas ambal berwarna merah bermotif bunga mawar itu. Mulai memecahkan keheningan di ruang keluarga itu.
"Gak disangka, bakal sebanyak itu tamu yang datang " Ucapnya dengan menarik napas legah. Dia pun mengubah posisinya menjadi tengkurap, dengan meletakkan bantal di bawah dadanya. Tubuhnya bertumpu pada kedua tangannya. Rival menatap semua anggota keluarganya yang ada dihadapannya satu persatu yang nampak lelah dan kantuk. Sehingga tidak ada yang merespon ucapannya dengan cepat.
"Iya, itu karena Ayahmu sangat baik. Jadi banyak orang yang menghormatinya." Ucap Mama Maryam, Dia sedang duduk bersandar di sofa yang ada di ruang itu.
"Sekar, tadi saat acara Ibu ikut kan?" tanyanya, dengan raut wajah sedih. Dia teringat percekcekonnya tadi dengan Ibu Durjanna.
"Sepertinya ikut Bang, soalnya tadi sebelum acara dimulai. Aku memeriksa kamar Ibu, tapi hanya membuka pintu kamar. Ibu tidak ada di dalam kamar. Berarti Ibu ikut dalam acara." Ucap Sekar.
"Tapi, Tante gak ada melihat Ibu kalian dari tadi?" ucap Mama Maryam. Dia menutup mulutnya dengan punggung tangannya, karena sudah mekantuk berat.
"Aku juga tidak melihat Ibu lagi dari tadi, setelah kita keluar dari kamar Ibu." Mila Ikut memberi pengakuan.
Penghuni ruang keluarga itu pun akhirnya saling pandang. Menampilkan ekspresi bingung dan khawatir. Rival yang merasa ada yang tidak beres. Langsung bangkit dari kegiatan malas-malasan.
Dia berjalan menuju kamar Ibu Durjanna. Yang diikuti oleh saudara angkatnya semua. Amrin dan Mila juga ikut mengekori Rival dengan penuh kecemasan. Hanya Mama Maryam, yang memilih berbaring di sofa. Dia kantuk dan sangat lelah sekali. Dia merasa tubuhnya seperti diremuk-remuk.
__ADS_1
Rival menekan handle pintu kamar, tempat Ibu Durjanna berada. Saat pintu itu terbuka. Ibu Durjanna sama sekali tidak nampak disitu. Sehingga Pikiran Rival langsung tertuju ke kamar mandi. Akhirnya mereka mencari Ibu Durjanna ke dalam k*amar m*Andi. Betapa terkejutnya mereka, melihat Ibu Durjanna. Sedang terbaring, dengan darah yang sebagian sudah mengental, keluar dari kepala belakangnya.
Ibu Durjanna nampak megap-megap, berusaha menghirup oksigen di sekitar nya, agar masih bernapas. Dengan mata yang mulai nampak buram, Dia menoleh ke arah anak-anak nya yang masih berdiri menatapnya. Yang sudah sangat memprihatikan itu. Dia sangat kecewa kepada anak-anaknya itu. Dia terjatuh sudah lebih dari tiga jam di tempat itu. Tapi satu pun tidak ada yang memeriksa keberadaan nya.
Ternyata, suami anak-anaknya dan menantunya, seolah ditutup pikirannya dan perhatiannya kepada Ibu Durjanna. Mereka tidak ada yang mengingat Ibu Durjanna.
Rival sungguh tidak tega melihat keadaan Ibunya itu. Baju gamis yang dikenakannya sudah naik sampai ke lutut. Songkok yang menutupi kepalanya sudah lepas. Sehingga rambut putihnya nampak acak-acakan dengan berlumuran darahnya.
"Bu-----!" teriak Rival, mendekati Ibunya angkatnya itu dengan mata berkaca-kaca. Sungguh keadaan Ibu Durjanna sangat mengenaskan.
"Firman, Amrin cepat kalian ambil kunci mobil." Titah Rival, melingkarkan tangan kanannya di pinggang Ibu Durjanna dan juga menempatkan tangan kirinya di bawah paha. Dia pun langsung membopong Ibu Durjanna menuju mobil yang sudah di parkir.
"Ibu.... Ibu...!" Sekar menangis mengekori saudara-saudara yang sudah membopong Ibu Durjanna. Sedangkan Mila memapah Ayahnya.
"Ayah ingin ikut ke Rumah Sakit." Sungguh Dia mengkhawatirkan Istrinya itu. Walau Istri nya punya sikap yang tidak baik. Tapi, wanita itu, rela menderita menjadi istrinya. Mengarungi bahtera rumah tangga dalam suka dan duka. Walau kebanyakan dukanya.
"Ayah masih sakit, disini saja ya Ayah. Si kembar juga masih disini. Ayah Aku antar ke kamar mereka ya?" Mila membujuk Ayahnya.
"Tidak, Ayah ingin ikut." Rengek Ayah angkatnya Rival. Akhirnya dibutuhkan dua mobil untuk mengangkut semua anggota keluarga nya sampai ke rumah sakit. Tidak ada yang mau tinggal. Kecuali si kembar.
Sepanjang perjalanan Ibu Durjanna yang sudah tidak jelas bicara itu. Selalu mengigau, memohon maaf kepada Allah dan menyebut-nyebut nama Rili.
__ADS_1
Sekar sangat sedih melihat kondisi Ibu Durjanna ya g sudah nampak sangat kritis itu. Gamis yang dikenakannya sudah berlumuran darah, karena kepala Ibunya ditempatkan di atas pahanya sebagai bantalan. Sedangkan kakao Ibu Durjanna dipangku oleh Mila.
Ibu Durjanna yang nampak kesusahan menarik napas itu dengan mata melotot melihat ke atas. Seolah Ibu Durjanna sedang melihat makhluk yang sangat mengerikan. Membuat Sekar semakin kasihan kepada Ibunya itu.
"Bu, istighfar Bu. Bu, apa Ibu melihat sesuatu?" tanya nya dengan suara bergetar, air mata Sekar terus saja tumpah ruah, begitu juga dengan Mila yang menangis dengan histeris, yang membuat Penumpang mobil itu merasa terganggu.
Mila tidak mau kehilangan Ibunya itu. Karena hubungan Ini dan anak itu sangat erat, karena mereka mempunyai karakter yang sama. Sedangkan Firman dan Sekar, lebih dominan mengambil sifat dari ayahnya yang kalem dan sabar.
"Kak Mila, apa tidak bisa tangisan mu lebih dikencangkan lagi?" ucap Firman menyindir kakak nya yang seperti kesurupan itu. Apa gunanya menangis terlalu berlebihan, membuat emosi saja.
Mila tidak memperdulikan ucapan Firman, Dia terus saja meratapi nasib Ibunya yang nampak sekarat itu.
"Rii---li.. Rili...?!" Ibu Durjanna kembali memanggil-manggil nama Rili dengan suara lemah dan tersendat-sendat, air mata terus mengalir membasahi pipi keriputnya.
"Rili--- Bo---u minta maaf..!" ucapnya masih dengan suara lemah dan terbata-bata. Ternyata Ibu Durjanna seolah melihat Rili dihadapannya. Padahal Rili tidak ada di dalam mobil tersebut.
"Ibu--- Bu, ini Aku Sekar dan kak Mila. Kak Rili tidak ada disini Bu." Sekar semakin kasihan melihat Ibunya itu.
"Bang, rumah sakitnya kenapa jauh sekali. Kita ke rumah sakit yang lebih dekat saja. Darah Ibu semakin banyak saja keluar dari kepala belakang Ibu Bang Firman." Ucap Sekar, menunjukkan tangannya yang lebih darah kepada Mila dan Rival.
"Sabar Dek, sebentar lagi sudah sampai koq." Ucap Rival dengan tenang. Dia tidak boleh panik. Agar suasana di dalam mobil tenang.
__ADS_1
"Abang Rival, Aku tidak mau Ibu pergi dalam keadaan begini. Apa kata orang kampung, kalau Ibu pulang ke kampung sudah menjadi Almarhumah." Ucap Mila masih menangis.
Rival dan yang lainnya tidak berkomentar. Mereka semua berdoa dalam hati, agar Ibu Durjanna bisa selamat.