
Yasir menahan dirinya untuk tidak tertawa. Sungguh tingkah istrinya yang berusaha menggodanya, menggelitik hatinya. Istrinya itu tidak cocok sebagai wanita penggoda. Tingkah Rili bukannya menaikkan birahi Yasir, tapi menaikkan gelak tawa.
Yasir hanya melirik sekilas istrinya itu, yang sedang berusaha menggoda nya. Dia kembali pura-pura sibuk menatap ponselnya. Tapi sesekali Dia kembali melirik-lirik Rili yang kini jemarinya dengan gemai gemulai menyisir tubuhnya sampai wajahnya, Rili menampilkan ekspresi wajah begitu menggoda. Dengan tatapan mata siap menerkam mangsa.
Dia sedang menunggu, sampai kapan istrinya itu, bertahan untuk menggodanya.
Yasir melepas jas warna hitam yang dikenakannya, meletakkannya di Sofa yang didudukinya. Begitu juga dengan dasinya. Kemudian Yasir kembali sibuk dengan ponselnya.
Rili mulai kesal, kini tatapannya sudah tidak bersahabat lagi. Kenapa suaminya itu tidak merespon nya? apa ada masalah dengan pekerjaan? Rili membathin.
Rili tidak menyerah, Dia berusaha terus menggoda Yasir. Dia mendekat kepada suaminya itu dengan berlenggak lenggok, mulai melepas lingerie nya. Tangan nakalnya menyentuh pipi Yasir. Yang membuat Yasir terkejut dengan tingkah istrinya.
Dengan gerak cepat Rili memundurkan langkahnya. Berharap Yasir mengejarnya. Tapi, Yasir tetap tidak bergeming.
Kali ini matanya mengikuti pergerakan Istrinya yang yang tubuhnya hanya ditutupi Gstring dibagian bawahnya. Rili seolah tidak memperdulikan lagi, perutnya yang nampak membuncit dan buah dadanya yang semakin besar dan padat.
Rili sedang berdiri menyandarkan tubuhnya yang sexy di dinding kamar yang masih bisa dilihat oleh mata Yasir. Dia membuat aksi merayap dan lingerie yang dikenakannya sudah terlepas dan hanya menyisakan Gstring itu.
"Astaghfirullah...!" ucap Yasir, Dia mengusap wajahnya, dan mengucek kedua kelopak matanya. Dia ingin memperjelas penglihatannya. Benarkah wanita yang dihadapannya ini adalah istrinya Rili yang lugu, tapi menghanyutkan itu.
Yasir menghampiri istrinya itu. Meraih cepat kepelukannya. Yang seperti merayap di dinding kamar Mereka. Rili hanya pasrah dipelukan Yasir. Dia yang kepalang tanggung dengan aksinya. Terus saja melakukan aksi menggoda itu. Mengharap suaminya merespon dan menanggapi aksinya.
"Apa-apaan ini?" ucap Yasir dengan ekspresi wajah tidak suka. Menatap wajah Rili dalam dekapannya. Cara Rili menggodanya terlalu lebay. Yasir tidak suka cara Rili menggodanya seperti penari striptis.
"Abang jahat." Ucapnya dengan mata berkaca-kaca semakin memeluk tubuh Yasir dengan terisak. Dia malu dengan kelakuannya, yang ternyata tidak disukai Yasir.
Yasir memberi jarak, Dia ingin melihat dengan jelas wajah istrinya itu, yang kini nampak memerah karena menahan malu, dengan ekspresi wajah cemberut.
__ADS_1
"Jahat? Abang berbuat kesalahan apa? kenapa Adek mengatakan Abang jahat?" tanya Yasir dengan bingungnya. Kemudian mengeratkan pelukannya. Mengelus lembut punggung Rili yang mulus itu.
Rili menangis, entahlah sekarang Dia gampang tersinggung. Perasaannya sangat sensitif. Mungkin karena Dia sedang hamil.
"Kenapa mengabaikan Adek. Harusnya tadi di depan pintu. Abang itu langsung memeluk dan memberi ci*uman. Ini malah nyelonong masuk dan sibuk dengan ponselnya." Ucap Rili dengan menangis. Menepis tangan kanan Yasir yang mulai menjamah bukit kembarnya yang tidak tertutup sehelai kain itu.
"Ini koq semakin besar dan padat ya Dek, kenyal banget. Enak banget dipeganginya." Ucapnya mengalihkan topik pembicaraan. Dia masih ingin menggoda istrinya itu.
"Tahu aakkk.. Awas...!" Rili berontak dari pelukan Yasir. Dia merasa kedinginan, karena hanya mengenakan Gstring.
Tapi, Yasir tidak mau melepaskan pelukannya. Tangan kanan nya malah turun ke bawah. Sedangkan tangan kirinya, menahan tubuh Rili yang berontak itu.
"Anak Ayah, kamu siap-siap ya sayang. Ayah akan datang bertamu?" ucapnya mengelus-elus perut istrinya yang buncit.
"Awass... lepas.... Abang apaan sih?" ucap Rili sambil berontak manja, yang membuat Yasir semakin gemes.
"Tidak akan Abang lepaskan, Adek harus tanggung jawab. Sekarang tugas Adek menidurkan Adik Abang yang sudah bangun dari tadi." Ucap Yasir langsung meraih tangan Rili dan menempatkannya di antara sela*ngkangannya.
Mata Rili membulat, merasa benda yang keras dan sudah tegak itu. Dia malu, tapi mau. Jujur Rili sangat suka memainkannya akhir-akhir ini.
Rili membalas tatapan Yasir yang mendamba itu, sehingga bibir keduanya pun bertemu. Entah siapa yang duluan yang memulai, tapi ciuman itu sudah membuat Rili kesusahan untuk bernapas. Sehingga Rili melepas pangutannya.
Yasir tersenyum, kapan istrinya itu akan lihai meraup oksigen, disaat mereka berciuman. Rili yang tadinya sudah merasakan kedinginan, kini sudah tergantikan dengan panas dingin disekujur tubuhnya.
Gimana tidak panas dingin. Disaat bibir keduanya saling berpangutan. Tangan kanan Yasir menyusuri lekuk tubuh istrinya. Mengusap lembut yang membuat Rili merasa geli.
Ciuman panas itu pun diulang lagi, kemudian Yasir mengarahkan tubuh Rili bergerak ke arah meja di sebelah mereka. Yasir pun mengangkat tubuh Rili ke atas meja tersebut. Lagi-lagi ciuman panas terjadi dengan durasi lama. Dimana lagi-lagi Rili yang menghentikan ciuman itu. Karena kehabisan oksigen.
__ADS_1
Kali ini Yasir tidak membiarkan Rili berlama-lama untuk bernapas. Dia sudah tidak sabar untuk mengulang pertukaran Saliva dan menggulung lidah satu sama lain.
"Apa Adek tidak menggoda?" tanya Rili, Setelah mendorong kepala Yasir dari wajahnya. Yasir masih ingin berciuman, tapi Rili ingin penjelasan.
"Kenapa bertanya seperti itu?" Yasir menatap Rili dengan bingung. Tapi, tangan nakalnya memainkan pucuk bukit kembarnya Rili yang sudah menegang dan keras itu.
"Habis, tadi Abang mengabaikanku." Ucap Rili, menatap Yasir kesal, tapi Dia menikmati, permainan Yasir yang memainkan bukit kembarnya.
Yasir tertawa sambil tersenyum, "Adek itu Selalu menggoda buat Abang. Tidak perlu berbuat seperti tadi. Abang lebih suka Adek biasa saja. Kalau mau pakai lingerie lagi. Pakai aja. Tidak usah bergaya seperti penari striptis. Abang jadi geli tahu." Ucap Yasir, mendekatkan Kembali bibirnya untuk melu*mat bibir kenyal nan ranum istrinya itu. Ciuman itu semakin nikmat dirasakan keduanya karena, mereka sudah sama-sama Rileks dan menginginkan lebih.
Dengan pelan Yasir membopong tubuh Rili yang sudah mulai berisi itu. Bobot tubuhnya sudah bertambah lima kg. Tapi, pertambahan bobot itu, malah membuat Rili nampak semakin sexy. Ditambah, kulit Rili semakin halus dan mulus sejak hamil.
Yasir membaringkan Rili di ranjang, menatap wajah istrinya yang nampak malu, berusaha meraih bantal untuk menutupi buah dadanya.
"Apasih? kenapa ditutup?" tanya Yasir yang berada di atas tubuh Rili, tapi tidak menimpanya. Dia bertumpu dengan kedua tangannya.
"Malu..!" jawab Rili, kini Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Malu?"
"Iya."
"Malu-maluin." Ucap Yasir dan langsung melepas Gstring istrinya itu. Permainan inti pun dimulai.
Tinggalkan jejak dengan like coment positif dan Vote.
Jangan lupa mampir ke novelku yang berjudul Dipaksa Menikahi Pariban.❤️
__ADS_1