
Mendengar perintah Yasir yang tidak masuk akal itu, membuat Pilot menghela napas dalam. Dia tidak mungkin membahayakan banyak nyawa, dengan melewati awan cumulonimbus yang berbahaya itu. Dengan cepat Dia memutar balik dan menghindari awan cumulonimbus.
Apalagi saat ini posisi jet yang ditumpangi Yasir sudah dekat dengan lintasan pendaratan. Awan cumulonimbus bisa jadi ancaman bagi proses penerbangan jika berada pada lintasan pendaratan pesawat. Karena awan jenis ini bisa memicu terbentuknya wind shear dan microburst.
"Maaf tuan saya tidak bisa menjalankan perintah anda. Karena saya yang lebih tahu, mana keputusan yang tepat. Percayakan kepada saya." Ucap Pilot dengan tegas.
Pilot yang tidak mendengarkan perintah Yasir, membuat Yasir berang. "Kamu tidak bisa diandalkan. Saya pernah baca mengenai bahaya awan cumulonimbus. Pilot yang tangguh harus bisa menghindari awan itu tanpa harus balik arah, atau mengubah rute. Kamu tinggal perhatikan saja arah anginnya." Ucap Yasir, pilot yang mendengarkan Omelan Yasir, menggerutu dalam hati. (Dasar sok tahu).
"Bos sudahlah, kita kan balik arahnya tidak jauh-jauh amat Bos. Sekarang kita tinggal berdoa saja. Agar cuaca kembali kondusif, sehingga perjalanan bisa dilanjutkan kembali dari Bandara Polonia." Ucap Jef, dengan melihat ke arah Yasir di sebelah kanannya.
Yasir tidak menanggapi ucapan asistennya, yang diinginkannya saat ini adalah, agar cepat sampai ke kota S. Sungguh Dia tidak sabar lagi untuk bertemu dengan Rili. Kalau balik arah dan memutar ke bandar Polonia, tentu waktu mereka transit lagi akan memakan waktu.
Yasir pun menghela napas kasar, menyandarkan punggung dan kepalanya dijok kabin, tangan kanannya memijat-mijat keningnya yang terasa sakit. Dia pun mencoba Rilekskan tubuhnya.
"Tuan, silahkan diminum kopinya." Tawar pramugari cantik dengan senyum mengembang. Sungguh, Dia sangat tertarik melihat Yasir yang tampan dan sedikit galak itu.
Yasir melirik Pramugari tersebut dari ujung rambut sampai kaki, yang membuat pramugari tersebut salah tingkah. Dia berfikir Yasir tertarik kepadanya. Sehingga Dia lebih menundukkan kepalanya. Belahan dada Pramugari yang bersanggul Croissant itu sangat jelas terlihat.
"Saya sedang tidak ingin minum kopi." Jawab Yasir garang, matanya melotot dan tangannya mengibas. Memerintahkan pramugari pergi dari hadapannya
"Baik tuan." Pramugari tersebut mundur teratur. Dengan wajah pucat pasi.
"Asisten Jef, saya perintahkan kamu mengganti kostum Pramugari dengan kebaya rok panjang berwarna lime. Nanti saat melanjutkan penerbangan ke Kota S, saya tidak mau melihat Pramugari yang rok nya di atas lutut." Ucap Yasir dengan intonasi tinggi, sehingga semua penumpang pesawat jet milik Yasir mendengarnya. Tentunya Pramugari yang tadi menawarkan makanan dan minuman kepada Yasir, dibuat was-was dan tidak tenang. Dia sangat takut kena pecat.
🌄🌄🌄🌄
Di Kota S, nampak Rili sedang bersiap-siap berangkat kerja. Hari ini adalah hari terakhir acara pelatihan UKM yang diadakan di Hotel milik Yasir.
__ADS_1
"Ma, Aku pamit ya!" ujar Rili, Dia pun menyalami punggung tangan mamanya yang sedang duduk di teras rumah sambil menggendong Valri. Rili memcium gemas pipi tembem Valri.
"Hati-hati ya, setelah acara cepat pulang. Nanti sore, kita jenguk adik iparmu di rumah sakit." Ucap Mama Rili.
"Iya Mama." Rili pun berjalan menuju motornya yang sedang nangkring dihalaman rumah dan memacunya menuju Hotel Yasir.
"Dek Rili, habis acara nanti. Semua tim tidak diperbolehkan langsung pulang. Karena, kita mengadakan acara bakar-bakar ikan di tepi pantai." Ucap Ruslan dengan tersenyum, saat mereka sama-sama Sampai di parkiran Hotel.
Rili tidak langsung menjawab ucapan Ruslan, tapi Dia ikut tersenyum membalas senyuman Ruslan. Dia sedang memikirkan ajakan Mamanya untuk menjenguk adik iparnya yang sedang di rawat di Rumah sakit.
"Haloo..?" Ruslan melambai-lambai tangan kanannya di depan wajah Rili, karena Dia berusaha membuyarkan lamunan Rili.
"Oohh Iya Bang." Ucapnya.
Merekapun sama berjalan memasuki Hotel.
Ruslan tersenyum menanggapi celotehan Ibu Rita, sedangkan Rili menanggapinya biasa saja.
Ruslan adalah, pegawai baru yang di tempatkan di tempat Rili bekerja. Dia sudah tiga bulan bekerja di tempat Rili bekerja.
Disaat pertama kali melihat Rili, Ruslan sudah suka terhadap Rili. Setelah Dia mengetahui status Rili pun, rasa sukanya tidak berkurang. Jadi tiga bulan terakhir ini, Ruslan PDKT.
🍁🍁🍁
Di Bandara Polonia, Yasir dan Jef nampak duduk berhadapan di sebuah ruangan VIP. Yasir nampak sedang menjelaskan tujuan mereka ke Kota S.
Jef menganggukkan kepalanya, pertanda Dia mengerti maksud dari perintah Bosnya.
__ADS_1
Selama bekerja satu tahun bersama Yasir. Jef baru mengetahui bahwa Bos nya itu adalah tipe setia. Dia sempat beranggapan Bosnya punya kelainan. Karena, begitu banyak wanita yang mendekati Bosnya. Tapi, satupun tidak ada yang Yasir sukai.
"Syukur Alhamdulillah, ternyata Bos masih normal." Ucap Jef dengan menengadahkan kedua tangannya. Kemudian mengusapkan ke wajahnya dengan tersenyum.
"Apa maksud ucapanmu itu?" Yasir memandang sinis Jef, yang tersenyum kepadanya.
"Tidak ada Bos. Aku sangat senang dengan tugas yang Bos kasih kali ini. Walau ini hari Minggu, tenang saja Bos. Pak Penghulu akan saya dapatkan nanti di Kota S. Walau baru kali ini aku akan menginjakkan kaki di sana." Ucap Jef dengan semangat. Dia pun menepuk-nepuk pahanya dengan kedua tangannya tiga kali dan bertepuk tangan, yang membuat Yasir tercengang melihat ekspresi Jef yang nampak bahagia itu.
"Cepat kamu hubungi pilotnya, kapan kita take off? ini sudah pukul 12 siang. Sudah 4 jam kita disini." ucap Yasir kesal. Dia pun berdiri dari tempat duduknya berjalan menuju jendela ruangan private tersebut. Dia menyibak jendela, menatap ke luar yang cuaca nampak sudah cerah.
"Bos, kita baru bisa take off sekitar pukul 2 siang. Sebaiknya kita ISOMA dulu ya Bos!" Seru Jef. Ya, Jef orangnya selalu mengerjakan rukun Islam kedua tersebut.
Ucapan Jef, membuat Yasir diam. Sebenarnya Dia sangat kesal, perkiraan Dia akan sampai pukul 8 pagi di kota S. Tapi, ternyata harus mundur 6 jam.
Tepat pukul 3 sore Yasir sudah sampai di Bandar udara Ferdinand Lumbantobing. Dia dan Jef sudah melewati pintu kedatangan dan langsung disambut oleh karyawan pihak Hotel yang ditugaskan menjemput mereka.
"Pak supir, kita tidak langsung ke Hotel. Kita ke alamat Nona Rili dulu." Ucap Jef kepada supir yang membawa mereka. Jef pun menyebutkan alamat Rili.
Saat Jef menyebutkan alamat Rili, Pak Supir pun bingung. Sungguh Dia tidak mengetahui alamat yang disebutkan Jef.
"Maaf tuan alamatnya itu saya tidak tahu dimana!" serunya dengan gemetar. Dia takut kena marah.
"Aku akan memberi petunjuk jalannya nanti." Ucap Yasir dengan tenang. Ya, galaknya tiba-tiba hilang. Yang ada sekarang, Dia sedang berusaha menstabilkan jantungnya yang berdegup kencang dan tak berirama itu. Dia nervouse, pikirannya kacau, setelah satu tahun berpisah tidak ada komunukasi sama sekali. Membuatnya was-was dan penuh harap.
Semoga pertemuannya kali ini dengan Rili tidak ada rintangan. Sungguh, Dia tidak akan melepaskan Rili bareng satu detikpun. Dia akan bersama Rili selalu. Dia akan menikahi Rili malam hari ini juga. Kalau orang tua Rili masih menentang untuk menikahi Rili hari ini juga. Maka Dia tidak akan tinggal diam. Segala upaya akan diusahakannya. Rili harus jadi miliknya hari ini dan seterusnya.
"Dek, Abang datang...!" Yasir berteriak dalam hati. Walau hatinya was-was, harap-harap cemas Jangan-jangan Rili sudah menikah dengan pria lain.
__ADS_1