Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Haruskah Aku memaksanya ikut denganku!


__ADS_3

"Walaikum salam...!" Kedua wanita itu menjawab salam Rival, dengan sedikit gugup.


Rival masuk ke dalam rumah dengan terseyum. Sedangkan Rili, merasa takut. Dia sampai susah menelan ludahnya sendiri. Dia merasa, Rival mendengar semuanya. Sedangkan Windi, tersenyum kecut. Dan memandangi Rival yang ikut nimbrung, di sofa yang berbeda.


"Ini Windi kan?" Rival menjulurkan tangan kanannya. Windi pun akhirnya menjabat tangan Rival, sambil mengangguk.


"Abang tadi, pulang sholat Jumat. Beli gorengan. Ayo dimakan Dek Windi." Ucap Rival, setelah Dia meletakkan gorengan yang masih dibungkus dalam plastik warna putih.


Windi dan Rili diam saja dan saling pandang.


"Kalian menangis?" Rival menilik, wajah kedua wanita yang tadinya sangat antusias mengeluarkan pendapat dan uneg-unegnya. Tiba, melihat Rival. Semuanya pada diam. Sungguh pesona Rival, sangat mematikan. Tapi, Windi yang punya sifat prontal. Tidak bisa, menahan kekesalannya.


"Iya, kami menangis. Aku, tidak tahan melihat sahabatku menderita. Aku sudah mengetahui semuanya." Ucap Windi, dengan sedikit gugup, saat Dia melihat ke arah Rival. Tapi, Dia bisa mengendalikan emosinya. Bagaimana Dia tidak gugup. Dia sudah mencoba ikut campur dalam urusan rumah tangga orang lain.


"Aku yakin, Abang pria baik dan Abang pasti bijak mengambil keputusan, Jangan karena, keegoisan. Banyak hati yang tersakiti."


"Dia istriku, Aku akan membahagiakannya dan membuatnya mencintaiku. Seperti, Dia mencintai pria yang bernama Yasir Kurnia." Rival langsung memotong ucapan Windi. Dia harus tegas, kepada Windi. Agar, Windi tahu batasannya.


"Membahagiakan? Ini namanya membahagiakan?" Windi, menunjuk ke wajah Rili yang babak belur. "Baru menikah dua Minggu, istri sudah teraniaya. Maaf, kalau Aku lancang Bang Rival. Tapi, menurutku kalau Kamu ingin melihat Rili bahagia. Lepaskanlah Dia." Ucap Windi tegas, matanya menatap garang ke arah Rival.


"Windi.... Jaga omongan mu!" hardik Rili. Dia menatap tajam kepada Windi.


"Kalau mau membahagiakan, wujudkan keinginan Dia. Abang kan sudah tahu, Siapa yang bisa membahagiakan Rili." Windi bergerak dari tempat duduknya. Dia pun pergi meninggalkan rumah Rili. Dia langsung masuk ke mobilnya, dan me gacuhkam Rili yang memanggil-manggil namanya.


Dia ingin mendapat kabar kebahagiaan dari sahabatnya tersebut. Makanya, saat melihat jendela rumah Rili, terbuka. Dia langsung datang bertamu. Padahal, Dia ada urusan penting dengan Yusuf, tunangannya.


Biasanya pengantin baru, wajahnya selalu tersipu malu dan bersemu merah. Ini Dia, sangat tersiksa mendengar cerita Rili, wajahnya juga, terluka dan lebam.

__ADS_1


"Aku harus menjumpai Abang Yasir. Aku akan memaksanya, untuk membawa lari Rili. Dasar Rili oon. Ada yang kaya dan begitu mencintainya. Malah memilih pria miskin dan dari keluarga monster. Abang Rival baik, sholeh. Aku tidak tega menyakitinya. Ucapan macam apa itu? Kalau Aku jadi kamu Rili. Aku udah smackdown itu Mak lampir dan Pelakor psikopat." Windi, menyetir sambil mengomel-ngomel. Sungguh hatinya begitu panas dan kesal kepada Rili sahabatnya yang menurutnya sangat bodoh.


Rili masuk ke ruang tamu, setelah Dia berteriak-teriak memanggil Windi, yang pergi meninggalkan rumahnya dengan kesal.


Dia tidak mendapati suaminya, di ruang tamu itu lagi. Ternyata, Rival berada di dapur. Nampak sibuk menata makanan di meja makan, yang beralaskan motif bunga print anti air.


"Duduk Dek, kita makan." Rival menuntun Rili duduk di kursi kayu. Dia menyendok nasi putih hangat ke piring Rili, serta lauk ikan tuna yang digulai dan juga sayur tumis toge. Rival juga menyendok makanan ke piringnya.


"Ayo makan sayang!" Perintah Rival, Dia menyendok nasi Rili, dan menyodorkannya ke mulut Rili.


"A...aku bisa makan sendiri bang." Jawab Rili dengan gugup. Satu suapan lolos ke mulutnya. Pasangan suami istri itu, makan dengan hening.


Rili sangat heran melihat sifat Rival hari ini. Ucapan Windi, tidak dipermasalahkannya. Seolah persiteruan yang baru terjadi, dianggap angin lalu. Akhirnya Rili menghabiskan nasinya, tanpa bersuara.


Sedangkan Rival, sedang berusaha menenangkan dirinya. Hati siapa yang tidak sakit. Apabila mengingat ucapan Windi, yang tidak disaring itu. Wajah Rival, nampak bahagia, sikapnya juga biasa saja terhadap Rili, seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi, hatinya sangat terluka. Tidak mungkin, Dia akan membahas masalah yang sama. Toh, Rili sudah memilihnya dihadapan Yasir.


Pria bodoh mana yang akan memberikan istrinya sendiri, Kepada Pria lain. Dia juga sudah sangat lama ingin berumah tangga.


Entahlah, Rival juga sangat merasa bersalah kepada Rili. Setiap melihat wajah Rili, Dia pasti teringat Ibunya. Dia sungguh tidak habis pikir, seorang Ibu tega menganiaya menantu sendiri.


"Dek," Ucap Rival, dibalik pintu kamar. Setelah makan siang, Rili langsung masuk ke dalam kamar. Sungguh kepalanya sangat sakit.


Rili menggerakkan tubuhnya, Dia pun duduk di ranjang.


"Iya bang." Jawab Rili, dengan lemas. Rival pun mendekat ke arah Rili. Dia meletakkan punggung tangan kanannya di kening Rili.


"Adek demam?" Rival masih memeriksa suhu tubuh Rili, di kening Rili dengan punggung tangannya.

__ADS_1


"Iya bang." Jawabnya dengan lemas. Mulutnya pun terasa pahit. "Sepertinya Aku panas dalam juga."


"Ya udah. Kita berobat ya?"


"Tidak usah bang. Istirahat sebentar juga Adek akan kembali pulih." Rili kembali membaringkan tubuhnya.


"Kita harus berobat." Rival menyibakkan selimut Rili. Dia pun memaksa Rili untuk bangun. Akhirnya Rili pun tidak bisa membantah perintah Rival.


"Jaket Adek mana?" tanya Rival, setelah Rili, duduk di sofa ruang tamu. "Dilemari yang dikamar bang."


Rival dengan cepat mengambil jaket Rili dan memakaikannya. Dia pun menuntun keluar dari rumah. Rival melajukan motornya menuju klinik tempat Rili pernah berobat, saat Rival menabraknya.


Saat, Dilampu merah. Sepasang mata sedang memperhatikan sepasang suami istri tersebut. Sedang duduk di atas motor. Rili yang diboceng mengangkang Terlihat lemas.


Sepasang mata yang berkaca-kaca itu adalah milik Yasir. Wajah Rili yang pucat itu, sangat menyayat hatinya. Detakan jantung tak berirama kembali, menyerang Yasir. Yasir pun mencoba merilekskan Tubuhnya, dengan menarik napas sedalam-dalamnya, dan membuangnya pelan. Dia terus melakukan itu, sembari menatap Rili yang tidak pakai helm.


Dia ingin membuka kaca mobilnya, saat Rili memutar kepalanya menghadap ke arah mobil Yasir, yang dibatasi oleh pengendera motor lain. Tapi, belum sempat Yasir membuka kaca mobilnya, lampu hijau pun menyala. Dengan cepat motor yang membawa Rili melaju.


Yasir pun akhirnya mengikuti motor yang dikendarai oleh Rival. Hati Yasir kembali sakit. Mengetahui bahwa wanita yang sangat dicintainya itu, dibawa Rival ke klinik.


"Apa yang harus kulakukan? Aku sungguh, tidak tahan melihat keadaannya yang lemah itu. Apakah Aku harus memaksanya ikut denganku. Tapi, akan terjadi pertengkaran lagi." Gumam Yasir dalam hati. Dengan mata berkaca-kaca, Dia melihat Rival, menuntun Rili berjalan menuju klinik.


Kencengin votenya dong kakak-kakak cantik. 🤗😍😘


Jangan lupa like, coment dan Favorit.


Terimakasih

__ADS_1


__ADS_2