
"Kamu memang tidak berubah. Tetap punya prinsip yang tidak mau menyusahkan orang lain dan mandiri. Usaha tidak akan menghianati hasil. Semangat terus..!" Ucap Rival menatap Jelita dengan penuh semangat. Jelita tersenyum dan mengangguk.
"Kamu kenapa sendirian kesini? kenapa tidak mengajak istri dan anak-anak?" tanya Jelita, masih mencari sosok manusia disekitar Rival. Siapa tahu Rival tidak sendiri.
Sesaat Rival masih memandang ke arah Jelita, tapi setelah Jelita menanyakan keberadaan istrinya. Dia langsung merasa tidak tenang was-was dan penuh kekhawatiran. Kemudian Rival membuang pandangannya ke arah Danau yang luas. Berharap suasana hatinya yang buruk akan lebih baik lagi dengan melihat hamparan Danau yang indah.
"Kata Ibu, kamu menikah dengan gadis dari keluarga kaya, setelah bercerai dengan istri pertamamu." Ucapan Jelita membuat Rival bengong. Berarti masih banyak orang kampung yang tidak mengetahui bahwa Rival lah yang keluarga kaya, bukan istrinya.
"Apa lagi yang kamu dengar tentang Aku dari orang tuamu atau orang kampung?" tanya Rival ingin mengetahui sejauh mana mantannya itu mengetahui tentang dirinya.
"Gak banyak, Aku hanya tahu garis besarnya saja. Katanya kamu menikah dengan gadis dari keluarga kaya. Setelah bercerai dengan istri pertamamu. Seperti kataku tadi." Jawab Jelita, sangat penasaran dengan kehidupan Rival.
"Ooohh..!" Rival agak malas membahas masalah rumah tangganya. Sepertinya arah pembicaraan mereka menjurus kesitu.
"Sudah punya anak berapa?" tanya Jelita. "Pasti anak-anak mu sudah besar juga ya?" Jelita menatap mata Rival yang juga kini juga menatapnya dengan tatapan tidak semangat.
"Dua." Jawabnya singkat. Jelita membulatkan bibirnya.
"Sudah kelas berapa?" tanya Jelita.
Rival menoleh ke arah Jelita. Dia tersenyum, "Belum sekolah. Baru brojol." Dia akhirnya tertawa kecil. Sedangkan Jelita menampilkan ekspresi bingung.
"Masak umur 37 tahun anak baru brojol." Tanya Jelita dengan bimbang.
"Apa kamu baru menikah?" Jelita tidak percaya, kalau Rival baru memiliki Bayi.
"Iya, habis gak laku-laku. Kamu aja gak mau sama Aku." Ucap Rival tersenyum dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Jelita tertawa kecil. "Kamu terlalu milih kali. Masak seganteng ini. Sudah lanjut usia baru kawin." Ucapnya masih tertawa.
"Milih? apa yang mau dipilih. Emang kenyataannya gak laku-laku. Kamu aja nikahnya sama orang lain." Ucap Rival terseyum kecut.
"Kamu tahu kan, Aku dipaksa nikah. Kita juga kan sudah berusaha dulu, agar bisa bersama. Tapi nyatanya gak jodoh." Jelita menghela napas. Merapikan hijabnya yang tersingkap bagian dada, karena tiupan angin.
Rival tersenyum. "Kalau sekarang mau nikah gak samaku?" ucap Rival mengedipkan matanya. Dia menggoda mantannya itu.
Jelita menautkan alisnya, menatap Rival dengan ekspresi bingungnya.
"Aku mau dijadikan simpanan gitu?" tanya Jelita, mengikuti alur pembicaraan Rival.
"Emang kamu mau?" Rival masih menggoda Jelita.
"Ogah." Jawab Jelita ketus.
__ADS_1
"Ehhmmmm.. Aku sudah kaya sekarang. Masak kamu gak mau?" Rival masih terus menggoda mantannya itu.
"Jangan bermain-main dengan kata-kata. Apalagi mempermainkan perasaan wanita. Kamu ya suka kali godain orang." Jelita kesal. Dia menepuk bahu Rival. Mereka pun tertawa bersama.
"Kamu lama menikah, tapi sudah dua kali menikah. Hebat kamu." Ucap Jelita.
Rival mengerutkan kening, heran dengan ucapan Jelita. "Hebat apanya?" tanya nya masih bingung.
"Hebat sudah dua kali menikah." Ucap Jelita.
"Apa itu sebuah prestasi, sehingga kamu bilang itu hebat?" tanya Rival tidak terima pujian Jelita.
Rival malah merasa itu sebuah kegagalan bukan kesuksesan.
"Laki-laki kan begitu, suka nya punya istri lebih dari satu." Ucap Jelita dengan ekspresi wajah berkabut. Senyuman dan tawa kecil yang sedari tadi ditampilkannya, berubah sudah jadi kesedihan.
"Tidak semua, tapi kalau takdirnya harus punya banyak istri. Ya mau gimana lagi. Ya seperti kata orang-orang. Seorang suami itu adalah Imam. Sebaik-baik nya imam yang banyak makmumnya." Ucap Rival dengan tersenyum, yang membuat Jelita jengah.
"Kamu dasar. Laki-laki emang pandai ngeles." Jelita kembali menimpuk pundak Rival. Yang membuat Rival memegangi pundaknya.
"Kamu ya, dari dulu kebiasaannya gak berubah. Suka main pukul." Ucap Rival pura-pura merasakan sakit di pundaknya.
"Habis kamu suka godain, dari dulu gak berubah." Jawab Jelita, membuang pandangannya ke arah Danau.
"Iya, apalagi kalau sudah libur sekolah dan kita pulang kampung. Tidak ada namanya liburan. Tapi kerja keras, melebihi romusha setiap hari." Ucap Jelita, masih memandangi hamparan Danau yang luas itu.
"Kita sudah lama tidak berjumpa, tapi terasa masih kompak ya?" Jelita menatap Rival dari samping.
"Iya, kan bagus tetap kompak." Jawab Rival.
"Iya sih." Jelita mengubah posisinya menghadap dagangannya.
"Sepi pembeli hari ini." Ucapnya menghela napas dalam.
Rival menoleh kepada Jelita. "Aku borong semua gorenganmu." Ucapnya memperhatikan gorengan Jelita yang masih banyak di nampan.
"Kenapa tidak jualan di pasar?" tanya Rival.
"Aku jualaan juga di pasar. Tapi, pas hari pasar saja. Kalau hari biasa. Aku jualan kesini. Atau keliling kampung." Jelas Jelita, menyodorkan jenis kue namanya panggelong kepada Rival.
"Enak banget panggelong ini. Gula arennya asli ya?" tanya Rival, menikmati panggelong. Olahan ubi yang diparut. Dibentuk bulat-bulat atau lonjong. Kemudian di goreng dan dilumuri dengan gula aren yang diencerkan.
"Iya, itukan kue kesukaan mu juga." Jawab Jelita. Dia juga ikut menikmati dagangannya.
__ADS_1
"Apa istrimu benar-benar baru melahirkan?" Jelita kembali bertanya, Dia tidak percaya, kalau Rival benar-benar baru berumah tangga.
"Iya, Dia baru melahirkann. Jadi tidak bisa ikut kesini." Jawab Rival dengan datar. Ekspresi kesal dan malas jelas terlihat di wajahnya yang membuat Jelita penasaran.
Biasanya seorang pria wajahnya akan berbinar- binar disaat menceritakan istrinya telah melahirkan anak untuknya. Tapi, kenapa Rival seolah tidak senang.
"Sudah berapa Minggu istrimu melahirkan?" tanya Jelita penasaran. Masih menatap Rival yang fokus memandang Danau dihadapannya.
"Baru satu Minggu. Makanya Dia tidak bisa ikut." Jawab Rival masih dengan ekspresi datar.
"Pasti rasanya membahagiakan punya anak?" tanya Jelita, masih mengintrogasi Rival.
"Iya, rasanya begitu membahagiakan. Apalagi anak saya kembar." Kali ini wajah Rival nampak bahagia menceritakan bahwa Dia punya anak kembar. Bibirnya melengkung membentuk senyuman indah.
"Kembar?" tanya Jelita dengan tercengang.
Rival mengangguk. "Kan tadi sudah saya katakan punya dua anak."
"Ku pikir tidak kembar." Jawab Jelita cepat
"Istrimu hebat, bisa melahirkan anak kembar. Sudah bisa ku bayangkan gimana rasanya mengandung bayi kembar. Tentunya itu sangat sulit sekali. Jangankan kembar, mengandung anak satu saja, sakitnya minta ampun. Apalagi diawal-awal kehamilan." Jelas Jelita, Dia mengingat moment dimana saat Dia hamil anaknya. Yang mengalami morning sick parah.
Rival menatap Jelita dengan perasaaan kacau. Memperhatikan dengan seksama wanita itu saat bercerita.
"Saat hamil, melahirkan dan masa-masa setelah melahirkan. Kehadiran suami begitu berarti. Rasanya akan membahagiakan, apabila suami selalu siaga dan membuat hati istri bahagia. Aku bersyukur bisa merasakan itu, saat itu suami saya benar-benar sayang dan memperhatikan betul keadaan saya." Jelita menceritakan kisahnya, padahal Rival tidak bertanya.
"Oh ya, siapa nama istrimu yang sekarang?" Jelita mengalihkan topik pembicaraan. Dia malas melanjutkan kisahnya.
"Mely." Jawab Rival dengan ekspresi datar.
"Usianya berapa? apa seusia kita? kalau seusia kita. Biasanya sudah sedikit rawan untuk melahirkan?" ucap Jelita.
"Tidak, Dia jauh dibawah kita. Usianya sekarang 22 tahun." Jawab Rival, mencoba menenangkan perasaannya. Karena kalau membicarakan Mely. Suasana hatinya jadi kacau. Ada rasa kesal, rindu, khawatir bergabung jadi satu.
Jelita membulatkan bibirnya. "Waahh.. istrimu masih muda. Asyik dong dapat daun muda. Asyik tu, biasanya wanita yang masih muda gitu. Bawaannya manja." Ucap Jelita.
Rival mengangguk. Saat itu juga ponsel Rival berdering di lantai pondok yang tergeletak di sebelahnya. Tepatnya berada diantara Rival dan Jelita.
Rival menoleh, meraih ponselnya dan memperhatikan nama yang memanggil. Dia kembali menghela napas dalam, kembali meletakkan ponselnya di lantai pondok.
"Kenapa tidak diangkat?" tanya Jelita dengan herannya. Rival tidak mengangkat atau pun menolak panggilan. Malah dibiarkannya ponselnya itu berdering terus.
TBC
__ADS_1
Tinggalkan jejak dengan like coment dan vote ya say