
Setelah selesai mandi, Mely berniat menyuapi Rival. Tapi, Rival menolaknya. Dia mengatakan bisa makan sendiri. Akhirnya mereka makan bersama dalam mode pesawat.
"Adek mau periksa kandungan, setelah itu akan ke supermarket. Apa Abang ingin sesuatu?" ucapnya menatap datar suaminya, yang belum mau menatapnya. Bahkan Mely tidak mau memanggil Rival lagi dengan sebutan Mas.
Perlakuan kasar Rival yang refleks, membuat hati Mely begitu sakit. Dia benar-benar merasa tidak diinginkan. Walau memang sejak awal Rival tidak menyukainya.
"Tidak ada." Jawab Rival yang kini duduk di atas bednya, masih setia menatap keluar jendela.
"Aku pergi dulu." Ucap MeLy, yang diikuti oleh pembantunya Winda.
Mely pun mendaftarkan diri, untuk periksa kehamilannya. Karena Dia datangnya pagi sekali. Bahkan Dokter nya belum datang. Sehingga Dia dapat urutan yang pertama.
Selama menunggu di bangku antrian panjang Stainles itu. Mely merenung, wajahnya yang cantik kini merengut. Matanya kini terasa panas, menahan air mata yang hendak tertumpah.
Dia Meratapi perjalanan kisah cintanya dengan suaminya itu. Perjumpaan tidak sengaja di Bus,
membawa babak baru dalam perjalanan hidupnya. Hingga Dia jatuh cinta kepada suaminya, pria matang itu. Sikapnya yang sabar dan penyayang membuat hati Mely merasakan debaran untuk pertama kalinya.
Tapi, disaat Dia hamil begini. Kenapa sifat sabar dan penyayang itu seolah hilang dari karakter Suaminya itu dalam hitungan hari. Apa sebenarnya yang terjadi. Jikalau suaminya tidak sembuh dan menjadi orang gila. Bagaimana Dia akan menjalani biduk rumah tangganya.
Pikiran-pikiran negatif terus saja memenuhi pikirannya. Dia merasa kepalanya jadi sakit. Dia pun memijat-mijat pelipis dan keningnya.
"Non, kenapa? wajah Non pucat?" tanya Winda ART mereka yang duduk di sebelahl nya menemani nya check up.
"Iya Winda, kepalaku rasanya sakit banget." Ucapnya masih memijat-mijat dahi dan pelipisnya. Winda menatap khawatir majikannya itu. Tapi, Dia tidak tahu harus berbuat apa. Karena Winda merasa canggung kepada majikannya itu.
"Ibu Mely...!" terdengar suara perawat memanggil Mely untuk masuk ke ruang pemeriksaan.
Perawat mempersilahkan Mely naik ke bed. Memintanya berbaring dan Mely pun melakukan semua perintah perawat itu.
__ADS_1
Selama Dokter Obgyn itu menggerak-gerakkan transducer, di atas perut Mely. Dia tidak fokus sama sekali. Dia masih kepikiran suaminya yang berubah drastis. Mely hanya tersenyum menanggapi ucapan Dokter. Bahkan Dia tidak mendengar apa yang diucapkan Dokter.
"Sudah selesai Bu Mely." Ucap Perawat, menyadarkan Mely yang melamun. Perawat pun memberikan tisu kepada Mely. Guna Melap gely yang ada di atas permukaan kulit perutnya.
"Kandungan ibu baik-baik saja. Air ketuban cukup." Ucap Dokter kepada Mely yang kini duduk dihadapan Dokter berjenis kelamin laki-laki itu.
"Oohh Syukurlah Dok, tadi saya terjatuh dan terduduk di lantai." Ucap nya sedih, mengingat kejadian saat Rival mendorong nya, sehingga terjatuh.
"Oh iya Bu Mely. Tapi kandungan ibu sangat kuat. Lain kali lebih hati-hati lagi ya Bu." Ucap Dokter tersenyum, memberikan hasil USG dan diagnosanya serta resep obat.
*
*
*
Di atas bed, seorang pria yang nampak merenung, dikejutkan dengan suara ponsel yang berada di atas nakas. Pria itu menggerakkan tubuhnya untuk meraih ponselnya yang berdering itu.
"Walaikumsalam... Pak Rival, hasil test DNA anda sudah keluar, sudah bisa dijemput hari ini juga." Ucap Seorang pria petugas medis.
"Baiklah." Jawabnya dengan hati berdebar, karena rasa takut yang melandanya. Rival menarik napas dalam sampai berulang-ulang kali. Guna menenangkan dirinya.
Dia turun dari Bed nya. Berjalan lemas menuju kamar mandi. Dia ingin mencuci Kembali wajahnya yang sudah terasa panas. Karena melawan gejolak dihatinya yang tidak karuan itu.
"Bagaimana pun hasilnya, Aku harus tenang. Aku tidak mau gila gara-gara masalah ini. Aku juga harus mengatakan nya kepada Mely. Semoga Dia tidak terpukul seperti yang ku alami." Gumamnya dalam hati. Sambil berjalan meninggalkan ruangan menuju tempat pengambilan hasil test DNA.
Setelah hasil Test DNA berada ditangannya. Dengan tidak sabarannya Rival merobek amplop besar warna coklat itu.
Dia membaca hasil test itu dengan mencoba tenang. Karena Dia memang sudah memprediksi hasilnya. Dia tidak boleh gila, dengan rumitnya masalah hidupnya yang tidak pernah usai.
__ADS_1
Rival berjalan menuju ruang rawat inap nya. Saat Dia membuka pintu kamar itu. Mely istrinya sedang menangis di atas bed nya.
Mengetahui Rival ada di ambang pintu. Mely pun berlari menghampiri suami nya itu. Dia pun langsung memeluk Rival yang tanpa ekspresi itu. Dia begitu ketakutan, mengetahui Rival tidak ada di kamar itu. Dia beranggapan Rival melarikan diri, dan akan menjadi orang gila dijalanan. Sungguh, Mely terlalu berpikiran buruk.
"Abang kemana saja? apa Abang sudah sehat, sehingga pergi meninggalkan ruangan ini." Ucapnya terisak Dia memasrahkan kepalanya di dada Rival yang bidang. Walau tidak mendapatkan balasan pelukan dari suaminya itu. Mely tetap memeluk Rival dengan erat. Tidak perlu membalas pelukan nya. Dibiarkan memeluknya saja, Mely sudah lega.
"Mengambil ini." Ucapnya menunjukkan amplop coklat itu kehadapan Mely.
"Amplop, untuk apa amplop itu?" tanya Mely heran, mengurai pelukannya, melap sendiri air mata yang membasahi pipinya yang nampak pucat.
"Diamplop ini ada hasil yang akan menjadi keputusan tentang hubungan kita." Ucap Rival dengan perasaan kacau. Melepas tangan Mely yang masih memegang lengannya. Dia pun berjalan ke sofa yang ada di ruang inap itu yang diikuti oleh Mely.
Keduanya duduk bersebelahan di sofa yang sama. "Ini bacalah!" Rival memberikan amplop itu kepada Mely.
"Ini apa?" Mely masih bingung dan heran, Dia melihat amplop itu ditangannya dengan mata berkaca-kaca.
"Apa Dia akan menceraikan ku?" gumam Mely dalam hati. Menatap amplop itu dengan mata berkaca-kaca.
"Bukalah, Adek baca baik-baik. Setelah itu kita bicarakan langkah selanjutnya. Mau dibawa kemana biduk rumah tangga kita ini." Ucap Rival menghela napas dalam. Berusaha menenangkan dirinya dan bersandar di sofa.
Dengan penasaran nya dan tangan gemetar, Mely mulai membuka amplop berwarna coklat itu. Mely melirik ke arah Rival yang duduk disebelahnya, sebelum mulai membaca isi amplop tersebut.
Dia pun membaca hasil test DNA itu. Sesaat Mely bingung dan tercengang. Dia tidak mengerti kenapa suaminya itu melakukan test DNA.
"Maksudnya ini apa?" ucapnya menatap lekat Suaminya itu.
"Baca sekali lagi." Ucap Rival yang kini juga membalas tatapan istrinya itu.
Mely kembali membaca lembaran putih yang sudah ditoreh tinta itu. Untuk kali ini. Otak Mely bisa sinkron, sehingga Dia bisa mengerti maksud dari lembaran yang bacanya.
__ADS_1
"A...pppaaaa i...ni... Iiiii..ni maaksuudddnya apa?" ucapnya lagi dengan tidak percayanya dengan apa yang dibacanya.