
"Walaikumsalam...!" jawab penghuni rumah itu secara bersamaan.
"Ternyata Sekar sudah datang." Ucap Rival dengan semangatnya, Dia beranjak dari tempat duduknya, berjalan cepat menuju ruang tamu, menyambut Adiknya yang hendak memeluknya.
Mely pun bangkit dari tempat duduknya, Dia terharu melihat keakraban dan penuh kasih sayang yang ditampilkan oleh Sekar dan suaminya itu.
"Mila," Rival pun kembali memeluk Adiknya itu.
Kemudian merangkul adik iparnya, suaminya Mila. "Mana si kembar?" ucap Rival dengan masih menampilkan ekspresi wajah yang begitu bahagia nya.
"Tulang...tulang....kami datang." Ucap putranya Mila yang kembar tapi berbeda. Dimana wajah kedua putranya itu memang tidak mirip sama sekali. Kulitnya juga berbeda yang namanya Farhan kulitnya putih, tinggi dan wajahnya tampan. Sedangkan yang namanya Fahrin kulitnya hitam, dan berperawakan pendek, serta wajahnya menggemaskan karena lain dari yang lain. Ditambah kepalanya peyang.
"Waaaahhh... Bere tulang sudah semakin besar." Rival pun memeluk putra kembar adiknya itu.
"Tulang juga semakin tampan, kayak Aku." Celoteh Fahrin, yang berkulit hitam dan kepalanya peyang itu. Dia pun bergaya sok kegantengan dan mengelus-elus dagunya.
Tingkah Fahrin yang lucu, membuat semua penghuni rumah itu tertawa bersama. Karena melihat wajahnya si Fahrin saja orang sudah ingin tertawa, apalagi kalau Dia sudah berbicara. Jadilah perut orang bisa kram dibuatnya. Karena, kelamaan tertawa.
Mely hanya diam dan tersenyum melihat hangatnya kebersamaan Rival dengan keluarganya. Sampai-sampai Dia terlupakan.
"Tulang, cewek cantik ini siapa?" Fahrin yang anaknya ramai itu tidak bisa untuk menahan dirinya untuk bertanya, melihat keberadaan Mely di rumah itu.
Semua mata pun akhirnya tertuju kepada Mely yang masih berdiri di belakang Rival dan dekat dengan Ibu mertuanya. Mely membalas tatapan semua mata kepadanya dengan tersenyum. Sekaligus menahan rasa grogi dan sedikit canggung.
Rival meraih tangan Mely, agar lebih dekat dengannya. "Ini Nantulang kalian." Ucap Rival menatap kedua keponakannya itu dengan hangatnya.
"Ayo beri Salim." Titah Rival. Dengan cepat si kembar menyalami Mely dan memperkenalkan namanya masing-masing.
"Fahran...!
"Fahrin.! ucapnya menatap lekat wajah Mely yang tersenyum kepadanya.
"Berarti Nantulang ini istrinya Tulang ya?" ucap Fahrin, masih menilik ke arah Mely.
__ADS_1
"Iya, Nantulang kalian. Namanya Nantulang Mely." Ucap Rival terseyum, merangkul istrinya itu dengan sayangnya.
"Nantulang yang baru ya Tulang. Jadi Nantulang ku ada dua ya? satu Nantulang Rili dan satu lagi Nantulang Mely." Ucapan Polos nya Fahrin, membuat semua orang terkejut. Karena semuanya jadi mengingat Rili. Dimana wanita itu tidak disukai ibunya Rival dan Adiknya Mila.
Sedangkan wajahnya Mely langsung berkabut dan cemberut, mendengar nama Rili disebut keponakan nya itu.
Rival terdiam, karena jikalau Dia mendengar nama Rili. Dia akan merasa tidak tenang. Karena Dia tidak bisa melupakan mantan istrinya itu.
"Nantulang Rili tidak ikut ya Tulang?" suara Fahrin, Kembali membuat suasana ruang tengah itu mendadak mencekam. Semuanya membisu, terkecuali Fahrin.
"Padahal Aku sangat merindukan Nantulang Rili, Dia baik banget. Sering ngasih uang kepada kami. Iya kan Fahran?" Fahrin terus saja mengoceh, yang membuat Mely merasa terasing. Karena Fahrin memuji-muji mantan istri, Suaminya itu.
Tiba-tiba saja, Rival melepas rangkulan nya, Dia jadi gagap, tidak tahu bagaimana cara menjelaskan kepada Fahrin yang masih berusia tujuh tahun itu. Bahwa Dia dan Rili sudah bercerai.
"Ini anak banyak pertanyaan, bawa mereka dulu potong rambut Bang." Titah Mila kepada Amrin suaminya itu. Yang berdiri mematung disebelahnya.
"Mana ada buka tukang pangkas, ini saja masih pukul tujuh pagi." Jawab Fahran. Dia tidak suka rambutnya dipotong.
Ucapan Fahrin yang polos, mengusik hatinya Mely. Dia harus siapkan mentalnya menerima kenyataan bahwa Di menikah dengan duda.
Akhirnya semua anggota keluarga kini berjalan menuju dapur mereka yang sempit, karena sudah dipenuhi oleh buah tangan nya Mely yang super banyak.
"Banyak banget makanannya Tulang. Apa tulang yang membeli ini semua?" ucap Fahrin, matanya tak berkedip melihat banyaknya makanan yang ada dihadapannya mulai dari kue kering, basah atau makanan ringan lainnya. Berupa kerupuk dan kacang.
Dia sangat senang sekali, ada begitu banyak makanan di rumah Ompungnya. Secara selama ini, mereka makan selalu dijatah. Tidak boleh tambah nasi dan lauknya pun dibatasi.
"Ini semua Nantulang mu yang beli." Jawab Rival, mulai duduk di lantai semen dan membuka beberapa kotak kue Bika. Dia pun memotong-motong nya, masih dalam kotak.
"Ayo, kamu mau makan yang mana duluan." Rival mendekatkan kue Bika kehadapan Fahran dan Fahrin.
"Jangan, makan kue dulu, kita makan dulu. Nanti perutmu sakit." Ucap Mila, Dia pun menjauhkan kedua putranya dari tumpukan makanan itu.
"Tidak akan sakit Mila, inikan kue." Jawab Rival, mulai memberikan satu kotak kue Bika kepada Fahrin dan Fahran.
__ADS_1
"Terimakasih Nantulang. Nantulang Mely sama baiknya dengan Nantulang Rili." Ucap Fahran, mulai memakan kue Bika.
"Fahran, sepertinya asyik kalau kita punya dua Nantulang. Nantulang lama dan Nantulang baru. Kita pasti terus-menerus merasa kenyang. Tidak seperti Mama, makanannya disimpan di lemari paling atas, tidak bisa kita mengambilnya." Celoteh Fahrin, melirik Mamanya yang kini melototkan matanya kepada kedua anaknya itu.
Bisa-bisanya kedua anaknya itu membeberkan sifat jeleknya dihadapan orang lain.
"Iya, Mama pelit." Ucap Fahran. Masih terus melanjutkan memakan kue bikanya.
"Gimana tidak pelit, kalian kalau lihat makanan seperti kesetanan saja." Ucap Ompung mereka.
Mely pun tersenyum melihat si kembar yang memakan kue itu. Seolah tidak pernah saja memakan makanan enak.
"Ayo dihabiskan, nanti sore kita jalan-jalan beli makanan yang banyak lagi." Ucap Mely.
"Uang Nantulang banyak ya?" tanya Fahrin. Dia pun berjalan ke meja makan, mengambil gelas yang ada di situ dan menuangkan air putih dari teko ke gelasnya, lalu meneguknya.
"Uang tulang mu yang banyak. Kalau Nantulang, tidak punya uang." Jawab Mely melirik suaminya dengan tatapan sendu. Perasaan Mely masih kacau, karena si Kembar selalu mengungkit-ungkit mantan istrinya Rival.
Rival mengetahui, kalau suasana hati Mely sedang tidak baik.
"Sekar, kamu mau masak apa?" tanya Rival.
"Mau goreng ikan yang dapat Ayah si kembar tadi malam Bang." Ucapnya mengambil ikan air tawar itu dari dalam kulkas yang sudah dibersihkannya, setelah Ayahnya si kembar pulang mengambil ikan. Dia membersihkan ikan tersebut, Sekar pun pergi ke rumah Mila. Dia membantu kakaknya menjahit. Dan Dia pun tidur di rumah Mila semalam.
"Ooohh... Dek, kita ke sungai yuk..!" ajak Rival kepada Mely. Dia tidak akan tahan mencium aroma dari ikan yang digoreng Adiknya itu, apalagi Rival melihat ikan yang akan digoreng Sekar adalah ikan gabus.
Mely yang sudah tidak semangat itu pun hanya mengangguk.
"Adek tunggu disini saja, biar Abang yang ke kamar ambil baju kita." Mely hanya mengangguk, menanggapi ucapan Suaminya itu. Rival pun meninggalkan ruang dapur tersebut.
"Fahran, Fahrin. Karena, kalian sudah menghabiskan satu kotak kue Bika. Maka tugas kalian sekarang. Mengantarkan Kue ini ke tetangga kita. Satu rumah kalian berikan satu kotak dan kerupuk ini juga." Ucap Mely, Dia pun memilah-milah kue yang akan dibagikan kepada tetangga mereka.
"Ok Nantulang yang cantik." Ucap Fahrin dengan bersemangat. Dia sampai berlari-lari tidak jelas di dapur itu dan hampir saja menabrak Mamanya Mila yang mau mengantar teh dan oke-oke Mely kepada Ayah, suaminya dan Firman yang duduk di balai-balai halaman rumah mereka
__ADS_1