
"Assalamualaikum....!" Terdengar suara Yasir mengucap salam dari balik pintu kamar.
Rival yang sudah selesai mandi, berniat keluar cari sarapan. Benar kata Mama Maryam, sebaiknya mereka pulang saja ke kota M. Disana banyak ART yang akan membantu mereka mengurus sikembar dan Mely.
"Walaikumsalam...." Jawab Rival membuka pintu kamar.
"Yasir, Rili. Saya pikir kalian sudah pulang. Karena semalam kalian menghilang begitu saja." Ucap Rival dan mempersilahkan pasangan yang paling romantis se-noveltoon itu masuk.
Yasir meletakkan makanan untuk sarapan mereka di atas meja dekat lemari pakaian. Sedangkan Rili menghampiri Mely yang sudah nampak segar, karena baru selesai dimandikan oleh Rival dan dipakaikan baju.
"Bagaimana kabarnya Dek Mely..?" tanya Rili dengan tersenyum.
"Baik Kak Rili." Jawab Mely sungkan dan pesimis. Dia memang merasa jadi rendah diri. Dia tidak ada apa-apanya dibanding Rili. Suaminya saja sangat mencintai Rili. Entahlah, kehadiran Rili di kamar ini membuat hatinya sedikit terusik. Pasalnya Dia akan mengingat kejadian dimana suaminya tega meninggalkannya demi untuk menjumpai wanita dihadapannya.
"Kamu hebat, bisa melahirkan bayi kembar." Ucap Rili dengan masih menyunggingkan senyumnya dan mengelus lengan Mely dengan lembut.
"Iya kak, terimakasih." Jawabnya seadanya.
"Eehhmmm... kamu itu harusnya memanggil Rili dengan sebutan Adek. Kan Aku ini Adiknya Abang Rival." Celoteh Yasir, Dia langsung memeluk Rili dari belakang dan menempatkan lehernya diceruk lehernya Rili.
Sontak Rili berontak, Dia malu dihadapan manusia yang ada di ruangan ini. Dasar ya Suaminya itu terlalu mengumbar kemesraan.
"Eehhmmm baiklah, ayok sarapan...!" Yasir melepas pelukannya dan menarik lengan istrinya itu untuk duduk di sofa.
Rili dan Mama Maryam pun mulai menyiapkan semuanya untuk mereka sarapan. Setelah itu Mama Maryam akan pergi menjenguk Pak Firman.
"Yasir, Terimakasih ya sarapannya. Kamu memang hebat, selalu muncul saat dibutuhkan." Ucap Rival menatap pasangan itu yang sedang makan sarapannya di sofa.
Saat ini Rival sedang menyuapi Mely. Saat Rival menatap ke arah Yasir dan Rili. Mely memperhatikan bahwa suaminya itu berlama-lama menatap Rili yang sedang makan disuapi oleh Yasir. Saat itu juga hatinya sedih. Dia menyimpulkan bahwa suaminya itu tidak akan pernah bisa melupakan mantan istrinya, dan Dia tidak akan pernah dicintai.
Mely langsung melap air matanya yang hendak jatuh itu dengan jemarinya. Semua orang pasti bahagia dan senang apabila dicintai. Dan Mely adalah wanita yang tidak akan pernah dicintai seseorang. Termasuk Rival suaminya.
__ADS_1
"Kamu kenapa sayang?" tanya Rival lembut, menatap wajah Mely yang matanya nampak merah.
"Tidak apa-apa. Kangen Ayah." Jawabnya dengan lemah. Dia memang merindukan Pak Ali. Dari Dia melahirkan, Mely tidak pernah mendengar Mama dan Suaminya menyinggung Pak Ali. Bahkan bertelepon pun tidak.
Yasir dan Rili yang ikut mendengar ucapan Mely jadi ikut sedih. Sedangkan Mama Maryam, setelah menyiapkan makanan bersama Rili. Meminta izin, untuk membesuk Pak Firman. Dia belum ada sama sekali menjenguk pria yang menanam benih di Rahimnya itu, sejak mereka di rumah sakit ini.
"Aaahkk lagi," Rival kembali menyodorkan nasi dan lauk ke mulut Mely. Tidak ada orang yang menanggapi ucapan Mely yang mengungkit Pak Ali.
Setelah selesai sarapan, Rival memberikan obat kepada Mely.
"Abang Rival, kami permisi dulu." Ucap Yasir disaat Rival hendak sarapan.
"Cepat sekali, kita disinilah dulu." Ucap Rival, meletakkan nasi kotaknya kembali diatas meja. Dia menatap pasangan itu dengan tersenyum. Dia merasa berhutang Budi kepada Yasir. Karena Yasir Dia bisa menemukan Istrinya.
"Kamu harus cepat pulang Bang. Rili juga masih ingin ke Tomok." Terang Yasir dan melirik istrinya yang disebelahnya dengan tersenyum.
Rival pun jadi ikut melirik Rili dengan senyuman yang mengembang dibibir. Lagi-lagi Mely mengartikan tatapan Rival kepada Rili adalah tatapan yang penuh dengan percikan api cinta. Dia cembur, hatinya sakit, melihat suaminya yang begitu dalam menatap mantan istrinya itu.
"Iya Bang, sama-sama. Aku berharap kita jadi besan kelak." Ucap Yasir seloroh. Mereka pun tertawa dan berpelukan.
"Semoga, Ibu dan Ayah tidak bisa bersatu. Setidaknya anak-anak kita berjodoh ya nantinya." Ucap Rival polos, seolah menyayangkan dirinya tidak berjodoh dengan Rili. Lagi-lagi ucapan Rival, membuat hati Mely sakit.
Yasir tertawa, "Iya Bang semoga." Jawabnya, mereka pun mengurai pelukannya.
"Hai baby cantik dan tampan. Tante dan Om pamit ya.!" Rili mengajak anak kembar Rival bicara, ternyata anak kembar itu sudah terbangun tapi masih anteng, tidak ada yang menangis.
Yasir mendekat kepada Rili. "Mana mereka mengerti yang kamu ucapkan sayang." Ucap Yasir, menuntun Rili untuk pergi dari kamar itu.
"Assalamualaikum... kami pamit, sampai bertemu lagi Abang Rival." Ucap Yasir dan menutup pintu itu.
"Walaikumsalam...!" Jawab keduanya. Rival pun Kembali melanjutkan sarapannya.
__ADS_1
Mely menatap lekat Rival yang lagi sarapan.
"Adek mau ini?" Rival berjalan menuju Mely sambil membawa makanannya. Dia menyendok pergedel. Menawarkannya kepada Mely.
Mely menggeleng. "Kalau ini masih mau?" Rival kembali menyendok telor bulat. Mely menggeleng. "Aku sudah kenyang." Jawabnya dingin dan membuang pandangannya ke arah luar jendela.
"Tadi Adek makannya tadi sedikit, Adek harus banyak makan biar ASI-nya cepat keluar." Ucap Rival meraih dagu Mely agar menatapnya.
Tiba-tiba saja putri mereka menangis. Rival berjalan dengan cepat dan meletakkan makanya di atas meja. Kemudian Dia menghampiri bayinya dan menggendongnya.
"Bentar sayang, princes Ayah yang cantik, seperti Mamanya cantiknya." Ucap Rival terseyum melirik Mely yang wajahnya sudah berubah warna, bak tomat matang, Karena dipuji.
"Dek, apa Dia disusui dulu? siapa tahu sudah ada ASI nya." Ucap Rival yang kini berdiri, disisi bed Mely berbaring.
Mely mengangguk dan menjulurkan tangannya untuk meraih putrinya itu. Saat itu juga Mely kesusahan mengeluarkan buah dadanya. Karena putrinya sedang digendongnya. Dia yang baru pertama kali melahirkan. Kurang paham dalam memperlakukan bayinya. sehingga Dia ingin kembali meletakkan bayinya disebelahnya dan berniat membuka kancing bajunya.
"Biar Abang saja yang buka." Tawar Rival tersenyum, matanya fokus ke dada Mely. Yang membuat Mely malu bukan main. Empat bulan berpisah, rasanya gimana gitu. Ada rasa malu dan canggung dan menginginkan untuk disentuh suaminya itu, bergabung menjadi satu.
"Tidak usah, Adek bisa koq." Jawabnya mulai menepis tangan Rival yang sudah beraksi membuka kancing baju Mely.
"Bilang bisa, tapi anaknya diletakkan." Masih berusaha mengambil alih membuka kancing baju Mely.
"Princess, lihat ni Mama malu sama Ayah." Ucap Rival tertawa kecil.
"Apaan sih?" Mely kembali menepis tangan Rival.
"Sudah sayang, jangan ngambek lagi dong." Rival sudah melepas kancing baju Mely. Kini nampaklah dua gundukan yang semakin besar saja ukurannya. Karena Mely masih menggunakan bra lamanya. Jadinya gundukan itu tidak tertutupi semua oleh Bra yang dikenakan Mely.
Sehingga Rival gelagapan menatap pemandangan indah dihadapannya. Kenapa jadi menggoda begini? apa karena sudah lama tidak melihat dan menyentuhnya. Walau tadi pagi di kamar mandi Dia melihat gundukan yang menantang ini. Tapi kenapa sekarang jadi lebih menarik, dan sangat ingin disentuh.
Dengan cepat tangan Rival bergerak, mengeluarkan satu gundukan kenyal dan hangat itu. Refleks Dia meremasnya. Mely masih diam dan menggigit bibir bawahnya. Kemudian Dia ingin lebih, saat bibirnya Rival hendak melahap puncak gundukan itu. Dia merasa kepalanya berputar tujuh keliling. Mely menimpuknya.
__ADS_1