
Di dalam sebuah kamar rawat inap, nampak dua manusia yang tidak ada status sedang dalam mode hening. Mama Maryam untuk kedua kalinya bertemu dengan pria yang merenggut kesuciannya 22 tahun yang lalu, pria itu yang tak lain adalah Firman. Ayah Biologis Mely.
"Kamu dari dulu sampai sekarang tetap cantik." Ucap Pak Firman, yang membuat Mama Maryam menoleh ke arah pria yang nampak duduk bersila diatas ranjang.
Mama Mely tersenyum kecut, mendapat pujian dari Pak Firman.
"Kamu yang membuat hidupku menderita." Ketus Mama Maryam dengan mata berkaca-kaca. Langsung mengatakan apa yang bercokol dihatinya selama ini.
Pak Firman menatap Mama Maryam dengan bingung. Itu jelas terlihat dari ekspresi wajahnya. Di mana kedua alisnya bertemu.
"Kenapa jadi terbalik, kamu yang membuat hidupku jadi menderita. Bukannya kamu bahagia dan menikah dengan Duda kaya raya dan menjadi orang sombong. Bahkan kamu tidak pernah menginjakkan kakimu lebih dari dua puluh tahun di kota ini." Ucap Pak Firman sedikit kesal. Sepertinya banyak kesalahpahaman yang terjadi diantara mereka.
"Kamu, dasar bandit. Tetap saja tidak berubah. Sudah tua juga." Cebik Mama Maryam, Dia menatap kesal Pak Firman.
"Maaf, kalau gara-gara diriku kamu menderita. Tapi saya lagi lebih menderita." Ucap Pak Firman dengan sedih. Mama Maryam menatapnya tidak percaya.
"Sudah berapa anakmu?" tanya Mama Maryam masih menatap lekat sahabatnya itu.
"Satu." Jawab Pak Firman singkat.
"Kamu jadi menikah dengannya?" tanya Mama Maryam, masih setia menatap lekat mata Pak Firman.
Pak Firman menggelang. "Jadi orang mana istrimu?" tanya Mama Maryam lagi.
"Gak punya istri. Gak laku-laku. Maklum lah penjahat miskin. Mana ada yang mau." Jawabnya dengan tertawa getir.
Mama Maryam menggeleng, tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Kalau gak punya istri kenapa ngakunya punya anak satu?" tanya Mama Maryam bingung.
"Mely kan anakku." Jawabnya tegas.
Mama Maryam diam.
"Mana Pak Ali? Aku ingin berterima kasih padanya. Sudah memberi kebahagiaan kepadamu dan putriku." Ucapnya, menahan tangan Mama Maryam yang hendak bangkit dari duduknya dan ingin meninggalkan ruangan itu.
"Beliau sudah tiada lima hari yang lalu." Jawab Mama Maryam dengan menitikkan air mata. Pak Ali adalah sosok pria yang sangat baik dan bertanggung jawab. Kalau Dia tidak bertemu dengan Pak Ali dulu. Mungkin hidupnya sudah menderita.
"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un... " Ucap Pak Firman dengan merasa sedih. "Padahal saya ingin berterima kasih langsung kepada beliau. Dia menebusku agar bisa keluar dari penjara. Tapi, beliau tidak mau bertemu dengan ku.
Mama Maryam menoleh ke arah Firman masih dengan mata berkaca-kaca. Karena teringat
Pak Ali.
"Aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi, setelah sekian lama." Ucap Pak Firman, masih menahan tangan Mama Maryam dan menuntunnya untuk duduk lagi di kursi dekat bed nya.
__ADS_1
Mama Maryam diam, Dia sedang mencari topik pembicaraan lain, jangan mengungkit mengenai masa lalu mereka.
"Hari ini kami akan pulang ke kota M." Ucapnya mengalihkan pandangannya, Karena terus ditatap oleh Pak Firman.
"Bolehkah Aku ikut dengan kalian. Saya janji tidak akan menyusahkan. Saya akan bekerja di rumah kalian. Terserah mau jadi apa. Tukang kebun atau supir." Ucapnya dengan tidak tahu malu. Dia harus mengesampingkan ego nya. agar bisa bersama putri dan cucunya.
"Di rumah sudah banyak tukang kebun dan supir. Kami sedang tidak buka lowongan pekerjaan." Jawab Mama Maryam ketus.
"Kenapa kamu jadi tidak punya harga diri gitu. mau menumpang di rumah orang." Ucap Mama Maryam. Yang membuat Pak Firman tersinggung.
"Aku tidak punya tujuan hidup lagi. Setelah bertemu dengan kalian. Aku, Aku ingin melanjutkan hidup dengan bisa bersama dengan anak dan cucuku. Kalau untuk bisa bersamamu jelas tidak mungkin. Karena kamu tidak pernah mencintaiku." Ucap Pak Firman dengan mata berkaca-kaca, untuk kali ini Dia tidak bisa menahan semua yang mengganjal dihatinya. Lebih baik diungkapkan, toh Dia sudah membuang waktu berpuluh-puluh tahun dengan sia-sia. Karena tidak tertarik untuk menikah.
"Sudahlah, Aku kesini bukan untuk membahas masa lalu. Aku tidak bisa menjanjikan Abang bisa ikut dengan kami atau tidak. Karena masih ada Rival yang berhak menentukan. Aku pamit dulu." Ucap Mama Maryam dan langsung pergi dari kamar itu dengan berlari.
Sesampainya di kamar Mely, Mama Maryam melihat Rival yang dibantu dua orang perawat menyusun semua barang-barang mereka.
Rival menoleh ke arah Mama Maryam yang masih berdiri diambang pintu.
"Ma, kita pulang hari ini. Semuanya sudah beres. Kita tinggal berangkat." Ucap Rival.
"Oohh iya, baguslah." Jawabnya dengan raut wajah bingung. Mama Maryam memikirkan Pak Firman.
"Aku meminta satu perawat ikut ke rumah. Karena tidak mungkin bisa Mama sendiri yang momong si kembar." Ucap Rival lagi.
"Aku ke kamar Pak Firman dulu. Kalau Dia mau Aku akan mengajaknya untuk ikut bersama kita." Ucap Rival dan langsung keluar dari kamar menuju kamar Pak Firman dirawat. Mama Maryam hanya bisa melongo melihat kepergian Rival.
Kalau Firman satu rumah dengannya, bagaimana Dia akan bersikap?
Sepuluh menit kemudian, Rival masuk ke kamar rawat inap nya Mely. "Kita berangkat sekarang sayang." Ucap Rival menghampiri MeLy. Saat masuk ke kamar itu. Rival sudah meminta dua perawat pria untuk membawa barang-barang mereka yang kebanyakan adalah perlengkapan si kecil. Sedangkan baju Mely dan Pak Firman sudah Rival singkirkan untuk disumbangkan kepada siapa yang membutuhkannya. Mely tidak tahu itu. Rival melakukan itu. Agar barang-barang jangan banyak muatan di dalam mobil
Lagian Baju Mely masih banyak di rumah mereka.
Rival merasa semuanya serba salah, meminta supir pun datang ke Danau Toba untuk membawa mobil lagi, untuk apa? toh Mely dan anak-anaknya harus dalam satu mobil. Tentunya butuh dua orang untuk menjaga anak dan istrinya, selama perjalanan yang akan ditempuh 4 jam perjalanan.
Mama Maryam terkejut, saat melihat Pak Firman sudah duduk di bangku barisan pertama samping pak supir. Ternyata Rival benar-benar mengajaknya.
Mely dan Mama Maryam akan duduk di bangku barisan kedua. Dimana Mama Maryam bertanggung jawab mengurus putranya Rival dan satu perawat wanita akan, duduk di bangku barisan ketiga dengan menggendong putrinya Rival.
Perjalanan yang mereka tempuh lancar, bayi kembarnya tidak rewel. Bahkan tidur terus sepanjang perjalanan. Tapi, karena bayi kembar itu harus diberi nutrisi setiap dua jam Sekali. Maka disaat inilah Mama Maryam dan perawat tersebut jadi sibuk. Untuk membuat Susu untuk bayi kembar tersebut.
Sesampainya di rumahnya Rival. Para ART sudah menyambut mereka. Rival dengan cepat turun dari mobil, membuka handle pintu sebelah istri nya Mely. Dengan tersenyum Dia ia pun membopong Mely menuju kamar mereka, yang tidak ada perubahan sama sekali sejak Mely kabur. Warna cat dan posisi semua barang, masih sama ditempat semula.
Hanya yang tambah di kamar itu adalah adanya box bayi besar yang cukup untuk dua anak. Dan Mely melihat pintu baru di kamar itu.
Rival membaringkan Mely di atas ranjang empuk mereka. Dan menyempatkan bibirnya mendarat di kening Mely. Yang membuat Mely terkejut dan menghadiahi Rival dengan pukulan di lengannya.
__ADS_1
"Kenapa jadi kasar, tadi pagi kepala Mas di timpuk pakai mangkuk. Sekarang lengan Mas dipukul." Ucapnya pura-pura cemberut dan memegangi lengannya yang sebenarnya tidak sakit.
"Siapa yang izinin main nyosor." Ucap Mely melototkan matanya. "Mas itu belum Mely maafkan, sebelum Mas bisa meyakinkan MeLy. Kalau Mas tidak mencintai Kak Rili." Ucapnya dan langsung membuang pandangannya.
Rival tercengang. Dia lagi malas berdebat.
"Kalau Mas bisa buktikan, bisa megang-megang dong?" tanya nya dengan senyum mesum.
"Gak." Jawabnya ketus.
"Kenapa lagi ribut, baru juga sampai sudah marahan." Ucap Mama Maryam, Dia memasuki kamar dan menggendong cucunya yang berjenis kelamin laki-laki. Dan perawat mengekori nya, yang menggendong cucu perempuannya.
Bayi sikembar pun sudah diletakkan di atas Box bayi.
Rival memperhatikan perawat itu dalam memperlakukan anaknya. Perawat itu nampak baik dalam bekerja dan sepertinya menyukai anak-anak.
"Namamu siapa Dek?" tanya Rival dengan terseyum kepada perawat.
"Febri Bang." Jawabnya tersenyum.
"Mau bekerja disini membantu kami menjaga si kembar? kalau kamu mau ajak kawannya lagi juga boleh." Tawar Rival, tanpa meminta persetujuan Mely.
Perawat itu terdiam. Tapi Dia harus memastikan gajinya. Kalau gajinya di sini besar. Lebih baik kerja disini. Toh di Rumah sakit pun hanya sebagai TKS.
"Bagaimana?" tanya Rival lagi.
"Mas, sebaiknya tidak usah pakai jasa baby sitter lah. Mely bisa jaganya koq." Ucapnya.
"Jaga sikembar itu tidak mudah. Kamu butuh bantuan orang lain." Jawab Rival.
"Bagaimana mau gak?" tanya Rival lagi.
"Eeehhmmm.... Gajinya kira-kira berapa ya Bang?" tanya perawat itu ragu.
"Kamu mau nya berapa?" tanya Rival balik.
Benarkah saya ditanyain mau gaji berapa? ini amazing.
"Aku minta gaji tiga juta perbulan Makan dan tempat tinggal ditanggung majikan." Jawab nya penuh ketegasan.
"Ku gaji dengan lima juta per bulan. Kalau mau hari ini langsung bekerja. Tapi, kalau kerjanya tidak bagus. Maka akan saya pecat. Bagaimana?"
"Haa.....H lima juta sebulan itu banyak juga. untuk sekelas perawat seperti kami.
"Baiklah, Aku mau. Nanti malam kan ku kabari kawanku apa Dia mau bekerja disini." Jawabnya dengan tersenyum bahagia. Sepertinya Dewi Fortuna berpihak kepadanya.
__ADS_1