Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Bahagia itu kita sendiri yang buat


__ADS_3

"Apa Dia sama sekali tidak akan keluar dari kamarnya?" tanya Yusuf kepada Hendrik.


"Sepertinya begitu pak," jawab Hendrik, lalu kemudian memasukkan kue coklat ke dalam mulutnya. Dia sebenarnya lapar, karena belum sarapan.


"Kamukan sepupunya dan sering datang ke rumah ini kan?" tanya Yusuf.


"Iya, terus kenapa pak?" tanya Hendrik dengan malasnya. Perutnya lagi keroncongan, jadi Dia sedang malas untuk ngomong.


"Coba kamu temui Dia, apa Dia memang tidak mau melihat wajah tampanku ini?" ucap Yusuf narsis.


Hendrik yang sedang menyeruput teh nya, langsung menyemburkannya, Dia terkejut mendengar ucapan Yusuf yang narsis itu.


"Mana Dia mau bertemu denganmu pak Yusuf. Windi itu ilfeel samamu. Dia belum tahu rupanya karakter Windi." Gumam Hendrik Dalam hati.


Hendrikpun heran, kenapa dengan atasannya ini, seingat Dia sebulan yang lalu. Yusuf ini tidak suka melihat Windi dan Dia bersikap sedikit cuek dan kasar.


"Aku lapar Pak Yusuf, aku ke dapur dulu ya? aku mau suruh bik Siti buatin sarapan buat kita " Ucap Hendrik dan berlalu pergi menuju dapur.


Yusuf yang duduk sendiri di sofa ruang tamu itu sedang nampak berpikir keras. Sempat Windi benar ilfeel sama dia maka hidupnya akan menderita.


"Aku harus bisa membuatnya suka kepadaku, segala cara akan saya lakukan!" ucap Yusuf dalam hatinya.


Yusuf pun akhirnya keluar dari rumah itu berjalan pelan ke taman yang penuh dengan berbagai jenis bunga. Dia tidak menyangka Windi sangat menyukai bunga. Harusnya wanita yang menyukai bunga itu lembut dan malu-malu. Tapi, kenapa Windi bersikap jutek sama Dia. Yusuf sangat penasaran jadinya sama Windi.


Yusuf yang sedang melamun dikagetkan oleh Hendrik yang tiba-tiba memukul pelan punggung Yusuf dari belakang.


"Aaahhk... Kamu kagetin aja," ucap Yusuf kesal.


"Sarapan yuk Pak Yusuf?" ucap Hendrik.


"Ayokk, aku juga lapar." Jawab Yusuf.


Kini kedua pria tampan itu nampak memasuki ruang makan keluarga. Yusuf yang duduk dikursi meja makan tersebut, namapak celingak-celingukan. Matanya sedang mencari seseorang yang memang tujuannya datang ke rumah ini adalah untuk menemui wanita itu.


"Apa hanya kita berdua yang akan sarapan?" tanya Yusuf kepada Hendrik.


"Iya pak," jawab Hendrik. Dia kemudian mengambil nasi dan lauk untuk dirinya.


"Apa penghuni rumah ini tidak ada yang mau keluar? kenapa tidak beretika sekali." Ucap Yusuf geram.


"Om sama Tante lagi diluar kota pak, disini hanya ada Windi dan ART." Jawab Hendrik malas.


"Iya itu maksud saya, adik Windi itu kenapa tidak ikut gabung bersama kita sarapan?" tanya Yusuf, dengan sedikit lemas. Sepertinya Dia sudah tidak nafsu lagi untuk makan.


"Sarapannya minta dianterin ke kamar. Dia kurang sehat." Ucap Hendrik.


Yusuf yang mendengar Hendrik mengatakan bahwa Windi juga sakit, dibuat khawatir dan bertanya-tanya. Benarkah Dia sakit atau hanya pura-pura. Gumam Yusuf dalam hati.


"Ayo pak, dimakan sarapannya. Setelah sarapan kita pulang aja ya pak, ini hari libur kerja dan kami sekeluarga sebenarnya ada acara keluarga." Ucap Hendrik dan menghabiskan sarapannya. Sedangkan Yusuf baru memulai untuk sarapan.


"Kalau ada acara keluarga berarti adik Windi akan ikut di acara itu?" tanya Yusuf kepo.


"Tidak pak, Dia memang lagi kurang sehat. Oh ya, ada apa dengan bapak? kenapa Bapak tahu rumah ini? Bapak ada niat apa terhadap sepupu saya?" tanya Hendrik dengan melihat Yusuf yang sedang menyantap nasi goreng.


"Nanti juga kamu akan tahu sendiri. Tidak saatnya menjelaskannya samamu." Ucap Yusuf datar dan kemudian memasukkan nasi goreng ke mulutnya.


"Kalau bapak ingin dekatin Windi, saya sarankan. Batalkan saja niat bapak itu." Ucap Hendrik.


"Kenapa begitu?" tanya Yusuf.


"Karena Dia tidak suka sama bapak, dan Dia sepertinya akan dijodohkan." Ucap Hendrik.


"Benarkah Dia tidak menyukaiku? dari mana kamu tahu?" tanya Yusuf.

__ADS_1


"Ya, dari Windi sendiri. Kejadian sebulan lalu di koridor Hotel, membuat Dia ilfeel parah sama bapak." Ucap Hendrik.


"Benarkah?"


"Iya," jawab Hendrik.


Mendengar ucapan Hendrik, ada sedikit rasa bersalah dihatinya terhadap Windi. Dia ingin meminta maaf. Tapi, dia urungkan. Gengsinya terlalu tinggi.


"Ayok, temenin aku ke kamar Windi!" ajak Yusuf.


"Gak usah pak, Dia tidak akan mau menemui Bapak. Mending kita pulang aja." Ucap Hendrik. Kemudian Dia berjalan menuju ruang tamu. Hendrik nampak memantik sebatang rokok. Sudah kebiasaan Hendrik mengisap rokok sehabis makan.


"Mau pak?" ucap Hendrik menawarkan sebungkus rokok kepada Yusuf.


"Tidak, saya tidak merokok." Jawabnya.


"Kita langsung pulang aja ya pak," ucap Hendrik.


"Baiklah," jawab Yusuf. Akhirnya merekapun meninggalkan kediaman Rili.


Sepanjang perjalanan menuju Hotel, di dalam mobil tidak ada percakapan antara keduanya. Hanya ada suara musik lagu lawas yang terdengar.


"Sebegitu bencinya Dia samaku, sehingga menemuiku pun Dia tidak mau. Gumam Yusuf Dalam hati.


Hendrik sebenarnya penasaran, dengan maksud Yusuf mendatangi Rumah Windi, tapi Dia tidak mau membahasnya, karena tadi disaat Hendrik bertanya. Jawaban Yusuf pun seolah tidak ingin membahasnya.


Setelah sampai di Hotel X milik Yasir, Hendrikpun cabut dengan menggunakan mobilnya. Sedangkan Yusuf memasuki kamarnya.


🍁🍁🍁


Pukul 11.00 Wib di kediaman Rili. Dia sedang mencari ibunya. Karena biasanya mamanya jam segitu pasti di dapur atau dibelakang rumah. Tapi, wanita yang melahirkannya itu tidak nampak batang hidungnya. Dan Ayahnya pun ternyata tidak ada di rumah.


Akhirnya Rili menelpon no ponsel mamanya.


"Assalamualaikum.. Mama dan ayah di mana?" tanya Rili dari handponenya.


"Sedang apa ma?" tanya Rili.


"Membahas pernikahanmu dengan nak Rival." Jawab mamanya cepat.


Deg..... jantung Rili dag dig dug. Entah kenapa setiap mendengar kata pernikahan dan nama Rival, Rili menjadi takut. Sungguh tubuhnya tidak bisa menerima nama itu disebutkan.


"Mama matikan dulu ya, nanti kita bahas lagi." Ucap mama Rili dan langsung mematikan panggilan tersebut.


Kini Rili nampak memacu motornya ke arah rumah Windi.


Setelah sampai di depan Rumah sahabatnya itu, Rili nampak memarkirkan motornya di tempat parkir yang disediakan di rumah itu. Dia langsung masuk menuju kamar Windi, setelah tadi Rili sempat bertemu dengan ART windi.


Ceklek.... Rili membuka pintu kamar Windi dan langsung masuk ke dalam kamar dan mendudukkan tubuhnya disisi ranjang Windi.


Sedang Windi berbaring di ranjang spring bed nya yang empuk memiringkan tubuhnya menghadap Rili yang duduk disebelah kanannya.


Rili mendaratkan punggung tangannya di dahi sahabatnya tersebut. "Apa kamu sakit? Badanmu sedikit hangat." Ucap Rili kepada sahabatnya itu.


"Iya, kepalaku juga rasanya mau pecah." Ucap Windi dengan lemasnya sambil masih tetap peluk gulingnya. "Ditambah Sedikit syok karena kedatangan seseorang." Ucap Windi.


"Siapa yang datang sehingga kamu bisa shock segala?" tanya Rili bingung.


"Asisten Abang Yasir." Ucap Windi.


"Pak Yusuf?" tanya Rili.


"Iya," jawab Windi malas. Entah kenapa kalau dengar nama pria itu, darahnya mau mendidih saja.

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak hubungi aku tadi kalau Dia kesini?" tanya Rili dengan sedikit heboh dan kecewa.


"Emang kamu ada urusan apa sama Dia?" tanya Windi masih tetap dalam posisi tiduran.


"Aku ingin menanyakan tentang Abang Yasir. Siapa tahu sebulan terakhir ini ada perkembangan." Ucap Rili dengan sedih.


"Kenapa diotakmu itu, isinya Yasir terus. Udahlah Rili, jangan tambah pikiranmu dengan selalu mencari informasi tentang Dia. Kalau Dia mencintaimu. Dia tidak akan menghilang begitu saja. Bahkan kalian sudah lima bulan tidak ada komunikasi." Ucap Windi kesal. Kemudian Dia mendudukkan tubuhnya dan meraih air mineral di atas nakas yang ada di samping tempat tidurnya lalu meneguknya.


Rili diam saja, setiap mengingat Yasir. Pasti raut wajah wanita itu akan sedih.


"Udah, jangan menangis lagi." Ucap Windi sembari mengusap pelan punggung sahabatnya itu dan turun dari ranjang.


"Mana flashdiskmu biar ku print laporannya," Ucap Windi dan Dia menerima flashdisk dari Rili. "Kamu itu harus punya printer sendiri. Kalau kamu tidak punya uang. Kamu jual aja tuh perhiasan yang diberikan Yasir padamu. Jangankan beli printer. kalau kamu jual perhiasan yang diberinya kamu bisa bangun rumah." Ucap Windi sambil memprint tugas Rili.


Rili hanya diam saja. Sungguh Dia juga sangat ingin melupakan Yasir, tapi begitu susah.


"Jangan ingat Yasir lagi, buka hatimu kepada Abang Rival? Kapan acara lamarannya?" tanya Windi.


"Aku tidak ingin menikah dengannya, tapi karena kecerobohanku akhirnya mama memaksaku." Ucap Rili dan berputar badan menghadap Windi yang sekarang sedang duduk dikursi meja riasnya.


"Koq bisa? gimana ceritanya?" tanya Windi dengan semangatnya. Dia sangat penasaran kenapa Rili akhirnya akan menikah dengan Rival.


Rili menceritakan semuanya mulai dari perkataan mamanya kepada Rival dan Dia yang salah sambung saat menelpon.


"Hahahaha.... "Windi ketawa dengan lepasnya.


"Begitulah jalannya kalian berjodoh." Ucap Windi dan langsung memeluk sahabatnya itu.


"Aku sangat bahagia dengarnya, moga tidak ada halangan lagi. Orang tuamu saja begitu senang kamu dengan Rival. Berarti Dia memang pria baik." Ucap Windi dan mengurai pelukannya dari Rili.


"Benarkah aku akan bahagia?" tanya Rili.


"Bahagia itu kita sendiri yang ciptakan. Jangan harapkan orang lain bisa membahagiakan kita. Kunci agar bisa bahagia adalah bersyukur. Bersyukurlah kamu ada pria Sholeh, tampan walau tidak kaya bersedia menikahimu." Ucap Windi sambil memegang jemari tangan sahabatnya itu guna memberi kekuatan dan dukungan moril.


Tiba-tiba ponsel Rili berdering. Dia melihat ponselnya. "Mama menelpon," ucap Rili.


"Angkatlah cepat." Jawab Windi.


"Assalamualaikum ma," ucap Rili.


"Walaikumsalam... Kamu di mana nak?" tanya mama Rili.


"Aku di rumah Windi ma?"


"Kalau sudah selesai urusanmu pulang cepat ya nak, ada yang mau dibicarakan." Ucap mama Rili dari sambungan telpon.


"Iya ma, ini aku mau pulang."


"Iya, mama dan ayah menunggu di rumah." ucap mama Rili dan panggilan teleponpun berakhir.


"Aku pulang dulu ya, terima kasih udah ngeprint tugasku." Ucap Rili senang.


"Iya, sama-sama. Moga cepat menikah." Ucap Windi bercanda.


"Kamu suka kali godain orang." Jawab Rili dan berjalan keluar dari kamar Windi.


Windi pun ikut keluar kamarnya, dia lapar pingin sarapan.


🍁🍁🍁


Sesampainya di rumah mereka, Rili sangat terkejut melihat ada orang lain di ruang tamu mereka selain orang tuanya.


Bersambung.

__ADS_1


Mohon beri like, coment,rate dan vote. Agar author lebih semangat lagi menulisnya.


Terima kasih


__ADS_2