Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Mimpiku


__ADS_3

"Bang.....Bang.....!"


"Kak.... Kak..... Kak Rili.....!" Terdengar suara memanggil nama Rili dari balik pintu kamar.


"Kak Rili .... Kak Rili....!" Suara itu Sayup-sayup kembali di dengar oleh Rili.


Ternyata wanita itu belum sepenuhnya tersadar, matanya terpejam dan Dia masih merasa sedang bermimpi.


"Kak....kak Rili....!"


Akhirnya Rili benar-benar tersadar, Dia merasa tubuhnya seperti ditimpah dan dadanya seperti diisap-isap dan direma*s-remas.


Perlahan Rili membuka matanya, betapa terkejutnya Dia mendapati Rival kini sudah berada di atas tubuhnya dengan tidak sadar karena keasyikan menikmati kehangatan buah dadanya yang sintal itu.


"Mimpiku? aku kan sedang bermimpi bercumbu dengan Abang Yasir? kenapa Abang Rival yang mencumbuku?" gumam Rili dalam hati.


Rili yang terkejut dengan aksi Rival terhadap tubuhnya, membuat Rili tercengang. Tubuhnya kaku, hanya matanya yang berkedip-kedip melihat aksi Rival yang masih asik mengis*ap buah da*danya sebelah kanan dan tangan kirinya dengan rakus meremas-remas buah dada Rili sebelah kiri.


Tok.....Tok...Tok....


"Kak,.... kak Rili.....!" terdengar suara perempuan lagi dari luar kamar yang tidak lain adalah Sekar.


Mendengar namanya dipanggil, membuat Rili refleks menggerakkan tubuhnya.


"Iya...a. dek!" Rili menjawab dengan sedikit gugup dan kemudian mendorong bahu Rival dengan kedua tangannya. Tapi, Rival tidak bergeming. Rival tidak menggubris tindakan Rili yang mendorong tubuhnya, Dia terhanyut dalam kehangatan gunung kembar milik Rili dan terus melanjutkan aksinya.


"Kak Rili, Abang Rival ada bersama kakak gak?" ucap Sekar dari luar kamar.


Rili yang mendengar pertanyaan Sekar, dibuat terkejut. Rili kembali berusaha lepas dari Kungkungan Rival, Dia berontak dan kemudian mendorong sekuat tenaga bahu Rival. Sehingga Rival hampir terjungkal kebelakang, tapi Rival menahan tubuhnya, sehingga kini tubuh Rival masih berada di atas tubuh Rili dalam keadaan berjongkok, dimana kedua lututnya dibuat sebagai penopang tubuh kekarnya dan kedua paha Rili masih dihapit oleh paha Rival yang dalam keadaaan berjongkok tersebut.


Rili tidak habis pikir, melihat suaminya itu seperti tidak sadarkan diri saja, suara Sekar yang keras tidak didengarnya.


"Aaaapaaa... yang Abang lakukan?" tanya Rili dengan suara yang bergetar dan pelan. Rili masih dalam posisi telentang, jantungnya berdetak sangat cepat sehingga Dia juga nampak susah menarik napas.


Rival diam saja, dengan detakan jantung yang tidak beraturan juga, Dia masih terus saja menatap wajah istrinya itu dengan gemes. Menurut Rival ekspresi wajah Rili saat ini sangat lucu. Karena Rili nampak menahan emosi dan nampak malu-malu. Wajah Rili memerah dan mengeluarkan keringat dari dahinya.


"Kak, Kalau Abang Rival bersama kak, tolong bilangin untuk mengantar Aku ke terminal." Ucap Sekar dari luar kamar.


"Iya.. Dek, Abang Rival lagi tidur. Ini kak lagi membangunkannya." Ucap Rili kuat sambil menggerak-gerakkan badannya, agar Rival turun dari tubuhnya.


Rival yang sedang duduk seperti jongkok di atas tubuh Rili tersebut, malah tidak mau turun dari tubuh Rili. Karena Dia sangat menyukai pemandangan kedua buah dada Rili yang sedikit bergoyang-goyang karena Rili menggerak-gerakkan tubuhnya.


Awalnya Rili tidak sadar, kalau saat ini kedua buah dadanya tidak tertutupi sehelai benangpun. Dia tersadar karena mata Rival tidak lepas dari kedua buah dadanya itu.


Sehingga Rili menutup buah dadanya dengan bajunya yang kancingnya sudah terlepas, dan Rili mendorong keras tubuh Rival dengan kedua tangannya.


Bruggghhhh..... Rival jungkir balik dan terjatuh dilantai dan kepalanya membentur dinding kamar.


"Auuuwww...!" ucap Rival, Dia berakting meringis kesakitan. Rival terduduk dilantai papan dengan bersandar di dinding kamar memegangi kepalanya yang terbentur itu.


"Kak, bang Rival.....Apa yang terjadi di dalam? kenapa ada suara seperti barang jatuh?" tanya Sekar dengan heboh dari luar kamar.


"Tidak terjadi apa-apa, koper kakakmu jatuh dari atas lemari." jawab Rival. Dengan masih keadaan terduduk.


Sebenarnya Rival baik-baik saja saat terjungkir balik itu, tapi Dia mendramatisir keadaan seolah-olah kepalanya yang terbentur itu sangat parah, Dia ingin cari perhatian terhadap istrinya.


Harapan untuk diperhatikan pupus sudah, Rili bahkan tidak memperdulikannya.


Rili mengubah posisi tubuhnya menjadi bersandar dikepala ranjang dengan perasaan yang kacau, jantungnya juga berdetak sangat kencang. Seperti ingin lepas dari tempatnya.


Hening..... Suasana kamar seperti mau kiamat saja.


Rival merasa sangat malu dengan penolakan dan sikap cuek Rili, sedangkan Rili merasa ketakutan. Dia takut Rival akan meminta hak nya sebagai suami. Rili masih belum siap untuk melakukannya dengan Rival. Dia merasa canggung.


Rival berdiri, dan kemudian merangkak di atas tempat tidur. Dia mendekati Rili dan duduk menghadap Rili.


"Kenapa adek begitu ketakutan? apa Abang ini tidak boleh menyentuh istri Abang?" tanya Rival dengan suara yang pelan dan tatapan mata yang begitu mendamba.

__ADS_1


Rili diam saja, Dia malah mengambil bantal disampingnya dan memeluknya.


Melihat Rili yang diam saja, membuat Rival sadar bahwa istrinya itu belum siap disentuh olehnya.


" Maafkan Abang ya!" ucap Rival. Tangannya nampak bergerak untuk mengeyampingkan rambut Rili yang menutupi sebagian wajahnya. Karena rambutnya sudah acak-acakan. Rili nampak membuang muka, sehingga niat rival untuk mengeyampingkan rambut Rili tersebut diurungkannya.


Dengan perasaan kacau, serta rambut yang juga acak-acakan Rival keluar dari kamar. Dia mendapati adeknya tersebut berada tepat di depan pintu kamar.


"Anterin Sekar bang ke terminal!" ucap Sekar dan melihat penampilan abangnya memang seperti orang bangun tidur.


"Iya, Abang mandi dan sholat Dzuhur dulu." Ucap Rival dengan suara sedikit kesal. Gimana tidak kesal, gara-gara adiknya itu Dia gagal belah duren disiang bolong. Udah malam pertama dilewatinya tidur di Mesjid kemarin.


"Aku mau masuk ke dalam," ucap Sekar.


"Jangan, jangan ganggu Kakak ipar mu dulu." Ucap Rival sedikit gugup dan langsung merentangkan kedua tangannya guna menghalau adiknya tersebut untuk masuk ke dalam kamar.


"Aku mau ajakin kakak ipar makan siang koq bang!" ucap Sekar ketus dan menepis tangan abangnya itu dan kemudian masuk ke kamar.


"Kak, makan yok!" ajak Sekar pada Rili yang nampak sedang merapikan tempat tidur.


"Iya dek," jawab Rili dengan sedikit tersenyum. Syukur Rili dengan cepat mengancingkan Bra nya dan bajunya dan kemudian merapikan rambutnya.


"Kak sholat dulu ya dek, tidak apa-apa koq kalau kalian makan duluan. Nanti kak makan bersama Abang Rival aja." Ucap Rili basa-basi.


kini mereka bertiga sudah berada di ruang tengah.


Rival nampak ke dapur mengambil handuknya yang tergantung di jemuran tali yang terdapat di sudut dapur. Sedangkan Rili langsung menuju Kamar mandi umum untuk berwudhu.


Setelah melaksanakan sholat Dzuhur sendirian di mesjid. Kini Rili nampak berjalan menuju dapur. Dia tidak mau lagi di dalam kamar, Dia akan sangat malu apabila berada bersama Rival dikamar mereka.


Rili melihat Sekar makan sendirian di meja makan.


"Ibu dan ayah kemana dek?" tanya Rili, Dia mendudukkan bokongnya dikursi kayu yang sudah hampir rewot.


"Ibu, lagi pergi ke rumah kak Mila. Kalau ayah ke ladang kak." Ucap Sekar dan kemudian melanjutkan kegiatan makannya.


"Ayah sudah bawa bekal makan siang kak." Ucap Sekar dengan tersenyum.


"Kak, apa kaki kakak sudah sembuh?" tanya Sekar.


Rili yang mendapat pertanyaan adik iparnya itu, kemudian melihat kakinya sekilas.


"Udah jauh lebih dek, kak udah bisa berjalan walau masih ada sedikit rasa sakit. Kak gak menyangka bisa sembuh secepat ini." Jawab Rili dengan sedikit tersenyum.


"Syukurlah. Kak, terima kasih sudah mau menikah dengan Abang Rival. Aku sangat bahagia dan terharu akhirnya Aku bisa melihat kebahagiaan dari wajah Abang Rival." Ucap Sekar, matanya nampak berkaca-kaca.


Rili diam saja, Dia bingung harus menjawab apa terhadap adik iparnya tersebut. Tidak mungkinkan Rili mengatakan kalau Dia terpaksa menikah dengan Rival.


Sekar mengakhiri makan siangnya dan kemudian meneguk air putih dari gelas warna putih tersebut.


"Ayok, Abang sudah siap!" ucap Rival yang kini nampak berdiri disisi meja makan.


Rili yang tidak menyadari kedatangan Rival dibuat terkejut. Rili nampak memenangi dadanya yang tiba-tiba berdetak cepat dan keras. Jantungnya serasa mau copot. Entah kenapa sekarang setelah kejadian barusan di kamar. Setiap melihat Rival, jantung Rili Dag Dig dug. Rival seperti hantu saja yang membuat Rili tidak bisa tenang.


"Iya bang, kita tunggu ibu sebentar ya!" ucap Sekar dan langsung memberesi meja makan dan menaruh piring kotor ke ember plastik warna hitam.


Rili yang duduk di kursi kayu meja makan tersebut hanya diam saja. Wajahnya menunduk dan tidak berani melihat suaminya yang sekarang berada di sampingnya.


"Adek ikut aja ya!" ucap Rival dengan tersenyum melihat istrinya yang nampak kaku itu.


Rili akhirnya menoleh ke arah suaminya, Entah kenapa Dia melihat Rival sangat berbeda hari ini. Kebahagiaan memang nampak di wajah Rival yang tersenyum sangat manis. Penampilan Rival pun begitu menawan dimatanya.


Rival nampak memakai kaos polo lengan pendek warna hitam berkerah, dipadu dengan celana jeans warna biru. Penampilan Rival siang ini sungguh rupawan, rambutnya pun disisir rapi dan klimis.


Rili terpaku menatap penampilan Rival.


"Adek ikut aja ya? sekalian kita makan diluar aja!" ucap Rival yang membuat Rili tersadar dari tercengangnya menatap suaminya itu.

__ADS_1


"Kitakan naik motor bang, mana bisa bonceng tiga." ucap Sekar yang sudah siap untuk berangkat.


"Siapa bilang tidak bisa bonceng tiga, kalian kan kurus-kurus." jawab Rival dan kemudian menatap ke arah Rili. Pria itu sedang menunggu jawaban dari istrinya Rili.


Rili yang memang belum siap kalau banyak melakukan kontak pisik dengan Rival, akhirnya menolak tawaran suaminya itu.


"Saya disini saja, bonceng tiga itu melanggar rambu-rambu lalu lintas." ucap Rili tegas dan menatap ke luar jendela.


"Disini kampung dek, gak ada razia."Jawab Rival.


Ceklek....


Nampak Ibu Rival dan anak perempuannya yang bernama Mila masuk ke rumah dan menghampiri Sekar, Rival dan Rili.


"Nak, cepat antarkan adikmu!" ucap ibu Rival dan kemudian mengalihkan pandangannya ke arah menantunya yang tak lain adalah Rili.


"Nak Rili ini udah ibu belikan lauk. Kamu masak untuk makan malam. Kamu bisa memasakkan?" ucap ibu mertuanya dengan ketus dan menyodorkan ikan yang masih dibungkus plastik warna hitam.


" Iya Bu," jawab Rili, Dia meraih ikan tersebut dari ibu mertuanya lalu mengambil baskom kecil dari rak piring, kemudian Rili menyiangi ikan tersebut dibelakang rumah, karena disitu ada tong besar berisi air.


Saat Rili tengah sibuk menyiangi ikan gembung tersebut, Rili dikejutkan oleh suara Rival.


"Dek, Abang anterin adik Sekar dulu ya!" ucapnya dari balik pintu dapur.


"Iya," jawab Rili tanpa menoleh ke arah suaminya itu.


Kini Rival dan Sekar nampak berboncengan dengan motor bebek milik Rival. Sedangkan Ibu Rival dan anak perempuannya bernama Mila juga berboncengan dengan motor milik Mila. Mereka ingin ke kota, berbelanja keperluan Mila yang berprofesi sebagai tukang jahit.


Setelah Rili membersihkan ikan gembung tersebut, Rili meracik bumbu ikan Asam padeh. Dia memasukkan ikan dan bumbu yang sudah diraciknya tersebut ke dalam panci yang tergolong besar, karena hanya itulah panci yang dilihatnya tergantung di dinding kayu dapur tersebut


Kini Rili nampak memantik mancis ke tumpukan kayu bakar di dalam tungku tradisional di dapur tersebut. Awalnya Rili kesusahan untuk menyalakan apinya. Akhirnya Rili mengguyur banyak minyak tanah ke kayu bakar, sehingga api pun menyala.


Rili kemudian memasak air minum di dandang ditungku. Dan ditungku satu lagi Rili memasak ikan gembung Asam padeh



Sesekali Rili meniup api ditungku, agar menyala sempurna menggunakan bambu.


Memasak ditungku dan menjalani hidup yang susah, bukan sesuatu yang baru buat Rili. sewaktu kecil hingga SMA, Dia terbiasa memasak ditungku, karena mereka memang dulunya sangat miskin. Jadi, Dia tidak terlalu terkejut melihat kehidupan keluarga Rival yang sederhana ini, karena Dia pun berasal dari orang susah.


Rili nampak duduk di bangku kayu yang tidak berlengan di hadapan tungku tersebut, sesekali Dia mengecek masakannya apa sudah matang.


Tak terasa air mata mengalir di pipinya, Dia tidak menyangka akan berjodoh dengan Rival, pria yang tidak dicintainya dan mendapati ibu mertua yang sikapnya nampak tidak suka terhadapnya.


Ya begitulah kehidupan. Pada kenyataannya memang Orang kaya akan berjodoh dengan orang kaya. Walau mungkin sebagian ada juga yang berjodoh dengan status sosial yang berbeda. Tapi, itu biasanya hanya sekian persen.


Kemudian Rili berdiri, Dia hendak mengambil garam yang terletak di rak gantung dari kayu tempat bumbu-bumbu masakan itu.


Saat Rili berdiri, Tiba-tiba Rival memeluknya dari belakang yang membuatnya terkejut. Dug... dug... dug.. jantung Rili berdetak cepat, darahnya berdesir hebat. Dia nervouse. Syukur saja wadah garam yang masih dipegangnya tidak terjatuh.


Rival nampak menempatkan kepalanya di bahu Rili. Mendapat perlakuan seperti itu dari Rival, membuat Rili mematung di tempat. Dengan tetap detakan jantungnya tidak teratur.


Rival kemudian menggesekkan wajahnya dibahu putih Rili, Dia sangat menyukai wangi tubuh Rili.


Rili merasa risih dengan perlakuan Rival, sehingga Dia melepaskan tangan Rival dalam lilitan di pinggangnya. Rivalpun melepas tangannya. Dia sadar istrinya belum bisa menerimanya sepenuhnya.


Akhirnya Rival mencairkan suasana yang panas di dapur yang memang hawanya panas itu.


"Adek masak ikan Asam padeh, Ini gulai kesukaan Abang?" ucap Rival yang kini nampak mengambil kuah Ikan Asam Padeh tersebut dari panci dengan menggunakan sendok gulai berbahan stainless yang masih di atas tungku dan mencicipinya.


"Enak banget.!" Ucapnya tersenyum kepada Istrinya yang masih mematung sambil memegang wadah garam.


Bersambung.


Mohon beri like, coment, vote, rate bintang 5 dan jadikan ini sebagai favorit.


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2