Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Melepas Rindu.


__ADS_3

"Ooohhh... tidak...!" ucapnya sambil berlari menuju ranjang, untuk menutupi tubuh Rili yang polos dengan selimut.


"Pak Dokter, masuklah." Ucap Yasir, Dia kemudian mengambil bajunya dalam lemari.


Dia memakai kaos polo putih.


"Saya periksa ya pak," Ucap Dokter dan hendak membuka selimut Rili.


"Jangan dibuka, Dia belum berpakaian." Ucap Yasir. Dia berdiri disamping Dokter yang duduk dikursi sebelah ranjang.


"Bagaimana saya mau memeriksa denyut nadi, paru-paru serta bagian perut. Kalau pasiennya ditutupi selimut." Ucap Dokter Fadli dengan bingungnya. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.


Yasir diam. "Bagaimana Tuan?" tanya Dokter.


"Apanya yang bagaimana Dok?" jawab Yasir lebih bingung lagi. Dia nampak sedang memegangi hidung serta dagunya.


"Tuan keluarkan dulu tangan Ibu ini dari dalam selimut." Ucap Dokter Fadli.


"Oohh... iya," Yasir mendekati Rili yang terbaring di tepat tidur, Dia menelusup kan tangan kanannya untuk meraih lengan Rili, tangan kiri Yasir menahan selimut. Dengan pelan Yasir mengeluarkan tangan Rili sebelah kiri. Yasir juga menurunkan selimut Rili sampai dada. Jangan tanya, tubuh Yasir bergetar melakukannya.


"Huuffttt... Ok Dok, Beres!" Ucap Yasir dengan napas berat. Dia seperti sedang melakukan lari cepat saja.


Dokter Fadli dibuat heran, melihat tingkah Yasir, saat mengeluarkan lengan Rili. Karena, Yasir nampak kesusahan dan kelelahan melakukan tugas segampang itu. Dokter Fadli memperhatikan luka Rili diwajahnya. "Tuan , ini istri anda atau bukan?" tanya Dokter Fadli.


"Emang kenapa? kamu banyak pertanyaan. Cepat periksa Dia. Kamu saya beri upah, untuk mengobati. Bukan, untuk menginterogasi." Sifat sombong Yasir akhirnya keluar.


Dokter Fadli akhirnya diam. Dia memeriksa denyut nadi, suhu tubuh dan kondisi paru-paru Rili.


"Ibu ini demam, suhunya 38 derajat Celcius. Dia juga sedang flu. Tekanan darah normal 110/70 mmHg. Tidak ada yang serius.


"Apa kepalanya perlu dirontgen? Aku takut tulang tengkoraknya ada yang retak." Ucap Yasir. Dia memandangi wajah Rili dengan mata berkaca-kaca.


"Sudah saya periksa, tidak ada tuan. Hanya mungkin karena benturan ke benda keras. Makanya ototnya sedikit cidera." Ucap Dokter.


"Kenapa Dokter menginfusnya? Apa kondisinya parah, sampai diinfus?" tanya Yasir dengan paniknya. Saat Dia melihat dokter memasang infus dipergelangan tangan kiri Rili.


"Ibu ini dehidrasi. Sebaiknya diinfus Tuan.Tapi, satu botol saja. Nanti, kalau sudah habis satu botol. Tuan lepas saja selang infusnya." Ucap Dokter.


"Apa sebaiknya Pak Dokter, menunggunya sampai sadar. Aku kurang mengerti cara melepas infus." Yasir sangat mengkhawatirkan Rili. Jadi, Dia ingin Dokter tetap mengawasinya sampai sadar.


Dokter menghela napas, Dia merasa Yasir terlalu berlebihan. "Kalau mau dijaga sampai sadar, sebaiknya kita pakai jasa perawat. Tapi, ini sudah tengah malam tuan. Jadi, susah menghubungi perawat. Saya sudah cek kondisi Ibu ini, tidak ada yang serius. Usahakan tubuh Ibu ini hangat. Agar cepat sadar." Ucap Dokter Fadli.


Kemudian Dokter memeriksa kaki Rili yang kena tusuk bambu. Dia membersihkannya dengan alkohol lalu memperbannya. Dokter juga memperban kening dan pelipis Rili.


"Ok Tuan, tidak ada yang perlu dikhawatirkan


Satu jam lagi Ibu ini pasti sadar. Cara melepaskan infusnya, gampang tuan. Tinggal dilepas aja. Terus bekas jarumnya di lap pakai alkohol menggunakan kain kasa saja." Ucap Dokter Fadli, Dia pun berpamitan kepada Yasir.


Yasir menarik kursi santai empuknya ke sebelah sisi ranjang Rili. Dengan mata berkaca-kaca, tangan kanannya bergerak dengan refleks menyentuh luka di kening, dan pelipis Rili. Tubuh Yasir bergetar, menahan sakit dan sesak di dadanya. Sungguh, Dia tidak sanggup melihat Rili wanita yang sangat dicintainya begitu menderita.


Dia ingin melepas Bra Rili. Tapi, Dia tidak sanggup melakukannya. Yang bisa dilakukannya saat ini hanya berdoa agar Bra Rili yang masih menempel ditubuh Rili, tidak memberi efek buruk untuk kesehatan Rili. Kalau Dia mencoba lagi untuk melepas Bra Rili. Dia tidak bisa menjamin dirinya tidak tergoda.


Mata Yasir tak pernah lepas dari wajah Rili. Dia sangat merindukan wajah ini, senyumnya yang begitu polos. Matanya yang penuh dengan kejujuran.


Mengetahui Rili menderita, keinginannya untuk memiliki Rili tidak bisa ditawar lagi. Walau janda sekalipun, Dia tetap mencintai Rili. Karena cintanya begitu tulus.


Dia menyanggupi permintaan orang tua Rili untuk mundur, karena orang tua Rili mengatakan bahwa Rili bahagia, menikah dengan pria yang dicintainya. Kalau akhirnya seperti ini, Dia tidak akan pernah lagi melepas Rili. Dia juga akan membuat perhitungan kepada Suami Rili. Dia akan membawa masalah ini ke jalur hukum.


Kalau benar menikah dengan pria yang dicintainya, kenapa tadi siang Dia melihat Rili begitu memprihatinkan. Rili merangkak dengan tubuh penuh lumpur, untuk menghindarinya. Kelakuan Rili yang merangkak itu, menambah sakit dan sesak di dada Yasir. Malam Ini, Dia menemukan Rili terkapar di tengah jalan dibawah guyuran hujan dengan luka diwajah.


Yasir menarik napas dalam-dalam. Dengan lembut membelai puncak kepala Rili, tangan kirinya bergerak, mengelus tangan Rili yang diinfus. Matanya tak pernah lepas memandangi wajah Rili, wanita yang sangat dirindukannya.


Kejadian tadi siang terlintas lagi dipikiran Yasir. "Dia merangkak dan menunduk, agar Aku tidak melihatnya." Gumam Yasir dalam hati. Yasir menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tidak habis pikir, nasib Rili begitu menyedihkan.


Yasir geram, Dia mengepal tangan kanannya, yang diletakkannya dipinggir tempat tidur.


"Brengsek! besok pagi akan ku seret Dia kepenjara. Suami macam apa yang tega menelantarkan, menyiksa dan mengusir istrinya sendiri ditengah malam dibawah hujan yang begitu deras." Ucap Yasir dengan penuh amarah, wajahnya nampak menyeramkan dengan mata begitu tajam.

__ADS_1


Dia begitu emosi, mana kebahagiaan yang dikatakan orang tua Rili? Apa mereka tidak tahu kalau putrinya begitu menderita.


Tangan kanan Yasir kembali bergerak, Dia mengelus-elus rambut Rili. Yasir juga merapikan rambut Rili sebelah pelipis yang sudah diperban Dokter. Matanya tak pernah lepas dari wajah Rili.


"Benarkah kamu tidak mencintaiku lagi? sehingga kamu tidak sabar untuk menungguku. Kamu tahu, begitu Ibu mengatakan bahwa kamu sudah menikah. Hatiku sangat hancur saat itu. Rasanya Aku tidak ingin hidup lagi.


"Bahkan, rasa putus asa itu datang lagi, disaat kawanan perampok ingin menghabisi nyawa Abang. Saat itu Abang pasrah. Mungkin, sudah saatnya rasa sakit dihati ini lenyap, dengan lenyapnya Abang dari muka bumi ini. Tapi, Tuhan berkehendak lain. Dia mungkin masih ingin Abang melihatmu. Mungkin Tuhan ingin kita bersama. Abang tidak akan melepaskannya lagi." Ucap Yasir. Dia mengecup puncak kepala Rili.


"Jangan pergi, Aku masih ingin .., Abang Yasir...!" Ucap Rili dengan mata tertutup. Tangan kirinya yang diinfus nampak bergerak.


"Dek, Dek Rili.... Apa kamu sudah sadar?" Ucap Yasir, Dia mendekatkan wajahnya ke wajah Rili. Tangannya mengelus lembut pipi Rili. Rili tidak menjawab. Air mata nampak merembes dipipi putihnya yang pucat. Tapi, bibir Rili sedikit tersenyum.


"Dek, ini Abang. Abang berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu lagi." Ucap Yasir masih terus membelai dan mengusap lembut pipi Rili. Dia pun akhirnya meraih tangan kanan Rili yang diletakkan di atas perut Rili. Dia menggenggam erat, serta mengelus-elus punggung tangan Rili.


Mata Rili yang tertutup nampak bergerak-gerak. Yasir sangat senang melihatnya. Itu tandanya Rili sudah sadarkan Rili. Dia kembali mencium puncak kepala Rili.


"Dek, ini Abang. Abang Yasir!" ucapnya sambil mengelus-elus tangan kanan Rili.


Rili membuka matanya perlahan, Kepalanya bergerak ke arah Yasir. Rili tersenyum. Rili kembali memutar kepalanya lurus kedepan.


"Dek, Syukurlah kamu sudah sadar." Ucap Yasir dengan mata berkaca-kaca. Hatinya begitu bahagia melihat Rili yang tersenyum kepadanya.


Enam bulan memendam rindu, ingin rasanya Yasir memeluk tubuh Rili, untuk menghilangkan rasa dahaga rindu yang berkarat dihatinya. Tapi, itu tentu saja tidak bisa dilakukannya.


Rili masih saja tersenyum menatap wajah Yasir yang sedang berada dihadapannya. "Kenapa dirimu selalu hadir dimimpiku? bahkan saat ini, setelah bermimpi. Aku melihatmu lagi. Ya Tuhan, ini sangat menyiksa." Gumam Rili. Dia kembali memutar kepalanya, menutup matanya kembali.


"Dek,... Dek....!" Yasir mencoba membangunkan Rili dengan memegang bahu Rili yang polos itu.


"Kenapa Aku mendengar suaranya dengan begitu jelas?" Gumam Rili dalam hati. Dia masih menutup matanya. Ternyata wanita itu belum sadar sepenuhnya.


"Dek, Dek Rili.... bangunlah. Ini Abang Yasir. Ini Abang. Abang tidak akan pergi lagi. Ayok.. bangun!" Ucap Yasir sambil terus mengelus bahu Rili.


Rili kembali membuka matanya. Dia memutar kepalanya ke arah suara yang didengarnya. Dia melihat Yasir dengan tatapan sendu. Tangan kirinya yang diinfus bergerak untuk menyentuh wajah Yasir. Dia menampar wajah Yasir.


Yasir Diam saja, mendapat tamparan dari Rili. Dia yakin, Rili belum sepenuhnya sadar.


"Tangan yang mana sakit dek? Apakah tangan ini?" Ucap Yasir, sambil memegang tangan Rili yang diinfus.


Rili mengangguk. "Abang lepas saja infusnya. Cairannya juga sudah habis." Yasir dengan terampil Membasahi plester yang melekat pada kulit Rili dengan kapas alkohol, Melepas plester dan kassa dari kulit Rili. Kemudian Yasir Menekan tempat tusukan jarum infus dengan kapas alkohol dan mencabut infus pelan-pelan. Yasir mensterilkan lengan Rili dengan menekan kapas alkohol dengan plester.


Yasir berbohong kepada Dokter, dengan mengatakan tidak bisa melepas infus. Itu alasannya saja. Dia tidak ingin Dokter pergi sebelum Rili sadar. Yasir begitu mengkhawatirkan keadaan Rili.


Setelah Yasir melepas infus dari pergelangan tangan Rili. Rili kembali menangis, Air matanya keluar bercucuran dengan derasnya. Suara isakan menyita perhatian Yasir.


Dengan refleks, Yasir meraih tubuh Rili. Mereka pun akhirnya berpelukan. Rili menangis dibahu Yasir begitu lama. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir keduanya. Mereka hanyut melepas kerinduan yang membuncah dalam kehangatan pelukan.


Rili merasakan denyut jantung Yasir berdegup sangat kencang dan keras. Yang akhirnya membuatnya tersadar. Bahwa akal sehatnya sudah hilang, karena memendam rindu kepada pria yang tidak seharusnya dipeluknya.


Deg... deg... deg... Rili mulai tidak tenang.


Matanya yang bengkak, hendak keluar dari tempatnya. Bagaimana mungkin Dia memeluk pria lain, padahal Dia adalah istri seseorang.


"Abang tidak akan meninggalkanmu lagi." Ucap Yasir sambil mengusap pelan punggung Rili yang tidak ditutupi sehelai benangpun. Selimut yang dipakainya hanya menutupi bagian tubuh depannnya.


Sentuhan lembut Yasir dipunggunnya, membuat Rili tersadar penuh. Rili mendorong kuat tubuh Yasir dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya menahan selimut yang hampir melorot dari dadanya.


Yasir akhirnya menyerah dan melepas pelukannya. Matanya terus saja menatap mata Rili. Yang membuat Rili memalingkan wajahnya.


"A..ku...Aku... Sudah menikah." Ucap Rili dengan memalingkan wajahnya. Air mata kembali lagi membanjiri pipinya.


"Lalu?" ucap Yasir dengan tenangnya sambil terus menatap wajah Rili.


Rili melap air matanya dengan jemarinya. "Aku ingin pulang." Ucap Rili. Dia hendak turun dari ranjang. Dia baru sadar. kalau Dia ternyata tidak memakai pakaian. Tangan kirinya meraba Bra-nya masih terkancing di tubuhnya.


Mengetahui tubuhnya tidak berpakaian, membuatnya jadi takut. Dia mulai panik dan bingung. Dia juga merasa perut bagian bawahnya sampai pangkal paha sakit dan kram.


"Maa....na pakaianku?"

__ADS_1


Yasir diam saja, Dia menikmati sikap Rili yang mulai panik.


"Siiiapa, yang membuka pakaianku?" tanya Rili gugup, tapi dengan mimik wajah garang.


"Abang."


"Apa?" Rili nampak makin panik. Dia mengubah posisi duduknya menjadi bersandar di head board.


"Apa Abang melihat semuanya?" ucap Rili dengan malu dan takut.


"Iya, sudah pernah melihat semua." Ucap Yasir santai, sambil tetap menikmati tingkah Rili yang polos itu.


"Mana pakaianku? Aaakuu, tidak nyaman seperti ini." Ucap Rili, Dia masih terus memegang kuat selimut yang menutupi sampai dadanya.


"Pakaian Adek sudah basah semua. Bahkan koper Adek kotor berlumpur." Ucap Yasir. Dia nampak berdiri dari sisi ranjang yang didudukinya berjalan menuju lemari pakaiannya


Yasir mengambil kaos polos miliknya berwarna putih serta training hitam, dari dalam lemarinya.


"Adek pakai ini. Setelah itu, Adek makan ya. Terus minum obat. Ini sudah jam satu malam. Abang juga sangat mengantuk." Ucap Yasir Bohong. Dia sengaja mengatakan mengantuk. Agar Rili bisa merasa tenang. Kalau Yasir menunjukkan perhatian dan kekhawatiranya. Maka Rili pasti menolak. Dia wanita baik. Mana mungkin Dia mau diperhatikan oleh pria yang bukan suaminya.


Yasir sadar, tadi Rili menangis dipelukannya. Itu sikap refleksnya karena begitu bahagia, karena mereka bertemu juga akhirnya. Dari situ Yasir yakin, bahwa Rili masih mencintainya.


Yasir keluar dari kamarnya. Sedangkan Rili akan memakai pakaian milik Yasir.


"Ini Bra, kenapa masih menempel di tubuhku. Sedangkan baju, celana piyama dan celana dalamku dilepasnya. ''Dasar aneh." Gumam Rili. Dia sangat malu dan sedikit kesal. Kenapa Yasir yang membuka pakaiannya.


Rili memakai kaos milik Yasir, setelah Dia melepas Bra nya yang masih basah.


Dia menurunkan selimutnya. Dia melihat bercak darah di seprei. Dia sangat terkejut melihat darah segar diseprei tersebut.


"Aaaakkkhhh........ Tidak.....!" Ucapnya histeris. Dia menangis dengan begitu kencangnya.


Yasir yang mendengar teriakan Rili dari balik pintu, bergegas masuk ke dalam kamar.


"Ada apa dek? kenapa teriak?" Ucap Yasir dengan paniknya.


"Apa yang Abang lakukan kepadaku? Kenapa Abang melakukan hal keji tersebut disaat Aku pingsan. Kenapa kamu tega menghancurkan hidupku?" Ucap Rili sambil memandang Yasir dengan begitu kesalnya. Dia juga melemparkan bantal ke Yasir, yang mencoba mendekati.


"Apa maksud Adek?"


"Ada darah di seprei ini." Ucap Rili makin histeris. Dia merasa telah diperkosa Yasir. karena Dia juga merasakan sakit di bawah perut sampai pangkal paha.


"Mungkin darah lukanya Adek yang di kening dan pelipis." Jawab Yasir. Masih menjaga jarak dari lemparan bantal dari Rili.


"Ini darahnya segar. Pasti Abang mengambil kesempatan sewaktu Aku pingsan kan?" ucap Rili masih menangis.


Yasir menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia bingung dengan tuduhan Rili.


"Maksud Adek apa?"


"Abang pasti memperkosa Aku kan?" Ucap Rili sambil melempar bantal lagi ke arah Yasir.


"Tidak!"


"Jangan bohong..... Tadi juga Aku bermimpi. Kita bercumbu sampai melakukannya. Terus Adek belum selesai. Maksudku, rasa yang pernah kurasakan dulu.. Eehhh... itu anu... maksudnya." Akhirnya Rili mempermalukan dirinya sendiri. Dia menyimpulkan yang dialaminya itu bukan mimpi, tapi benar terjadi.


Begitu rindunya Dia terhadap Yasir. Sehingga Dia selalu memimpikan Yasir mencumbunya.


Yasir tersenyum melihat kepolosan Rili. Yasir sudah mengerti maksud dari perkataan Rili.


"Ooohh... itu. Iya, Abang memang melakukannya."


Bersambung


Mohon beri like, coment positif. Rate bintang 5 dan jadikan novel ini sebagai favorit.


Jangan lupa VOTE nya kak! Karena itu adalah amunisi untuk membuat semangat menulis.

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2