
POV Rival
Setelah perdebatan panjang yang menguras emosi. Aku keluar dari rumah mantan istriku itu dengan perasaan semakin putus asa saja. Ternyata kesalahpahaman yang membuat kami berpisah. Dan kesalahpahaman ini bersumber dari diriku. Aku yang bodoh, Aku yang ceroboh dalam mengambil keputusan. Hingga Aku harus mengikhlaskannya kembali kepada cintanya yaitu Yasir Kurnia.
Aku mengira, Yasir tidak langsung terbang ke Indonesia setelah pertengkaran kami di Australia. Ternyata Aku salah, Yasir bahkan menikahi Rili esok harinya.
Sesaat Aku menertawai diriku, yang menganggap Rili mencintaiku. Gimana Aku tidak beranggapan seperti itu? Rili yang ku ceraikan tidak memilih kembali kepada Yasir. Dia menyendiri selama satu tahun ini. Bukan karena mencintaiku, tapi karena trauma dengan penderitaan yang kuberikan yang tidak kunjung habisnya.
Sampai hari ini, Aku kembali membuatnya menangis. Dengan pernyataan cintaku dan uang yang ku berikan, membuatnya tersinggung. Lagi-lagi Aku salah mengambil sikap dan tindakan.
Semalaman suntuk, Aku meratapi kembali perjalanan hidupku yang penuh dengan Lika-liku. Sudah saatnya Aku benar-benar harus melupakannya. Dia sudah bahagia bersama Yasir. Harusnya dulu Aku melepaskannya. Disaat Yasir memintanya kepadaku. Tapi, sifat egois dan ingin memiliki membuatku tidak sadar diri. Malah menahannya dan akhirnya memberi penderitaan kepadanya.
Puas merenung dan instropeksi diri, Aku meninggalkan jembatan kembar. Memacu mobil perusahaan yang menjemput ku mencari penginapan.
Ponselku yang kehabisan daya baterai pun tidak ku perdulikan lagi. Hingga Aku terlelap sampai pagi hari.
Bangun dengan badan yang pegal-pegal membuatku tidak semangat pagi ini. Mungkin Aku masuk angin, karena sampai dini hari tetap diluar semalam.
Aku bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membuang hajatku. Perutku mules sekali. Setelah selesai dengan urusan kamar mandi. Aku bersiap-siap akan melanjutkan perjalanan ke kota G, Kampungku dulu. Tapi, Aku harus menyelesaikan urusan kerjaan dulu disini.
Aku merasa lapar sekali, jadi ku putuskan mencari tempat sarapan yang merakyat. Mungkin karena dari kecil aku terbiasa hidup miskin, sehingga sarapan di warung sangat ku sukai.
Lagi-lagi hatiku berdebar, perasaan ku jadi kacau. Disaat mantan istriku dan suaminya satu meja denganku di warung tempatku sarapan. Baru semalam Aku memutuskan untuk melupakannya. Pagi ini, mentalku diuji kembali.
Huuffttt.... ku harap ini ujian terakhir tentang percintaan ku. Aku harus bisa menempatkan diri dengan baik diantara mantan istri dan mantan Bos ku.
Akhirnya sarapan yang menegangkan itupun berakhir dengan diriku yang membuat lelucon yang memalukan diriku sendiri.
__ADS_1
Sesaat aku tersadar, disaat Yasir memintaku cepat pulang dan mengingatkan tentang istriku.
Aku kembali merutuki kebodohanku. Dari kemarin sejak Aku pergi, Aku tidak berkomunikasi dengannya. Ditambah daya ponselku pun habis. Hingga pagi ini Aku baru menyadarinya.
Dengan cepat Aku meninggalkan warung tempat ku sarapan. Masuk ke dalam mobil dan merogoh tas ku. Aku mengambil ponselku dan mengisi daya baterai nya.
Kemudian Aku melajukan mobil ke kantor perusahaan yang baru ku buka di kota ini. Merasa ponselku sudah terisi dan bisa dihidupkan. Aku menepikan mobil yang ku kenderai. Aku pun menekan tombol on. Ponselku pun menyala.
Baru saja menyala, ponselku langsung berdering. Ada nama Ayah memanggil. Dengan cepat Aku mengangkatnya.
"Assalamualaikum Ayah." Jawab ku dengan sopannya.
"Walaikumsalam, Nak apa Mely sudah sampai di rumah?" pertanyaan Ayah, membuatku terhenyak dan tersadar. Aku telah mengabaikan istriku dari semalam, karena terlalu larut menyesali kesalahan ku kepada Rili.
"Rumah? rumah yang mana maksud Ayah?" tanyaku lebih bingung lagi. Kenapa Ayah menanyakan Mely kepadaku. Bukankah Mely bersama mereka?
"Biar Mama saja yang bicara," Aku mendengar suara Mama Maryam, meminta Ayah memberikan ponselnya kepadanya. Aku mendengarkan dengan seksama suara mereka yang sangat khawatir itu.
"Nak Rival, berikan ponselnya kepada Mely. Dari semalam Dia tidak mengangkat telpon kami. Dan sekarang ponselnya tidak aktif." Ucap Mama Maryam dengan paniknya. Aku yang mendengar nya lebih panik lagi. Kenapa mereka mengira Mely bersamaku. Aku saja dari Australia langsung ke kota S. Tidak singgah di rumah kami di kota M.
"Mely tidak bersamaku Ma. Aku sekarang di Kota S. Tidak di rumah." Ucap ku dengan perasaan yang mulai gelisah. Ada apa dengan istriku Mely.
"Bukannya Mely bersama Mama dan Ayah. Kenapa malah menanyakanku?" ucapku dengan perasaan tidak tenang dan menduga-duga. Aku memegang stir dengan kuat dan mataku menerawang ke badan jalan.
"Setelah kamu berangkat. Dia pergi secara diam-diam dari rumah. Mama lagi temani Ayah check up ke Rumah Sakit." Ucap Mama Maryam dengan terisak. Aku semakin kalut saja mendengar penjelasannya.
"Ma, Rival tutup teleponnya ya? Aku coba hubungi Mely dulu. Assalamualaikum...!" Aku langsung memutus panggilan telepon Mama dan langsung mencari kontak Mely di ponselku.
__ADS_1
Dengan paniknya, Aku mulai menekan tombol memanggil. Benar kata Mama nomor ponselnya tidak aktif. Aku tidak mau mengulangi panggilan itu. Kini aku menghubungi nomor rumah kami. Setelah dua kali memanggil. ART pun mengangkatnya.
"Bi Siti, apa Mely di rumah?" tanyaku dengan panik dan tidak sabar menunggu jawaban dari Bi Siti.
"Eeehh tuan, bukannya Nona sudah bersama tuan?" Jawaban Bi Siti semakin membuatku tidak tenang. Ada apa dengan Mely. Apakah Dia marah padaku dan menyusulku. Tetapi kenapa Dia tidak menghubungi ku atau kirim pesan kepadaku. Apa karena ponsel ku sempat mati. Tapi, bisa sajakan Dia kirim pesan kepadaku.
Kepalaku jadi semakin sakit saja terasa, sudah perutku bermasalah.
"Tidak ada Dia bersama saya Bi. Jam berapa Mely sampai di rumah kemarin Bi?" tanyaku lagi dengan paniknya.
"Sekitar pukul tengah lima sore tuan. Nona masuk dalam keadaan menangis dan mengunci kamar. Nona baru mau keluar, setelah ada tamu pria yang datang habis magrib." Ucap Bi Siti yang membuatku semakin penasaran. Siapa pria yang datang malam-malam ke rumah.
"Lalu Bi, apa yang terjadi setelah Mely berjumpa dengan pria yang Bibi sebutkan." Tanyaku dengan semakin tidak tenang.
"Setelah bicara kurang lebih dari satu jam, non Mely masuk ke kamar lagi dengan menangis dan tamu itu pulang tuan." Jawaban Bi Siti, sungguh membuatku semakin kalut dan panik. Perasaan was-was dan khawatir kepada Mely semakin membuat debaran jantungku semakin cepat saja.
"Laa..lu Bi, kenapa Bibi mengatakan Mely bersamaku?" tanyaku dengan suara bergetar. Praduga-praduga negatif bermunculan dipikirkanku tentang keberadaan Mely.
"Non Mely pamit malam itu juga tuan sekitar pukul sembilan malam. Katanya Dia akan menyusul tuan ke kampung." Ucap Bi Siti dengan nada takut. Mungkin Dia sudah mengetahui ada yang tidak beres dengan kami.
Tanpa sepatah kata, Aku langsung mematikan sambungan telepon dengan Bi Siti, Art kami. Kemudian Aku melakukan panggilan dengan keluargaku di kota G. Dari hasil sambungan telepon yang kulakukan dengan Ibu. Ternyata Mely tidak datang ke rumah kami di kampung. Lalu kemana Dia?
Dengan perasaan kacau dan paniknya. Aku menghubungi anggotaku yang bertugas dalam menyiapkan semua keperluan ku untuk bepergain dengan jet pribadi. Aku harus pulang ke rumah kami di kota M.
Aku kembali mencoba menghubungi nomor ponselnya. Tapi tidak aktif. Aku pun mengirimkan pesan. Agar disaat ponselnya aktif, Dia menghubungi ku.
Mely kamu kemana? Apa kamu marah kepadaku? Apa aku telah melakukan kesalahan?
__ADS_1
TBC.