Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Menyeramkan


__ADS_3

"Adek cepat mandinya. Udah mau habis waktu shubuh ini." Ucap Rival.


Buuyyarrr......Rili langsung menceburkan dirinya ke dalam air yang tidak dalam tersebut. Dia yang dengan semangat menceburkan dirinya ke dalam sungai akhirnya air sungai terciprat ke Rival.


Rival diam saja melihat tingkah istrinya itu yang mandi dengan hebohnya. Dia harus cepat menyelesaikan cuciannya. Karena Dia harus cepat pergi kerja mendodos sawit ke perkebunan yang ada di dekat kampung mereka.


Paltak......


Kotoran monyet tepat jatuh di kepala Rili. Merasa ada sesuatu yang jatuh di rambutnya. Tangan kanannya dengan cepat meraba benda yang jatuh di kepalanya tersebut.


"Aapa...apa ini?" ucap Rili dengan jijiknya disaat kotoran monyet yang diraba nya sudah lengket sebagian ditangannya.


"Apa ini kotoran monyet?" tanyanya sambil menatap telapak tangannya yang sudah kena kotoran monyet.


Rival menoleh kebelakang, karena Rili nampak histeris dan ribut mendapati kotoran monyet tersebut dikepalanya.


"Itu e..ek nya si monyet yang naksir samamu dek." Ucap Rival dengan menyembunyikan wajahnya yang sedang menertawai istrinya tersebut.


Dari kecil sampai sekarang Rival tidak pernah kena kotoran monyet yang bergantungan di dahan bambu. Masak istrinya baru kali ini mandi di sungai tersebut sudah dihadiahi dengan kotoran monyet.


Rili mencak-mencak di dalam air. Dia sangat kesal. Dia menampar-nampar air dan muncrat ke wajahnya.


Dia juga melayangkan tinjunya ke monyet yang sedang bergantungan di dahan bambu.


"Awas kalian, Aku akan tembak mati besok!" ucap Rili sambil melempari monyet yang bergantungan tersebut dengan batu kecil yang di ambilnya dari dasar sungai.


Yang lucunya monyet itu seolah mengerti kalau Rili sedang kesal. Sehingga monyet itu mengeluarkan suara-suara yang menyenangkan mereka sambil melompat-lompat.


"Kek....kek...kyukkk.. kek...kyuk. huuuk...khukkkk...!" ucap monyet sambil melompat-melompat kegirangan dan ada juga monyet yang memamerkan pantatnya yang lebar yang berwarna ke pink-pink an itu.


"Ayo cepat mandinya, Cuci rambutnya. Itu monyet sedang ngerjain adek. Atau istilahnya lagi mengospek pendatang baru." Ucap Rival sambil membilas cuciannya.


"Ospek? yang benar saja." Ucap Rili dengan kesalnya. Dia mengambil sampo dari tas peralatan mandinya.


Rili langsung membersihkan kepalanya yang kena kotoran monyet. Hingga satu botol sampo habis Dia gunakan. Dia masih merasa rambutnya belum bersih. Seumpama masih ada sampo satu botol lagi, maka Dia juga akan memakainya untuk mencuci rambutnya.


Setelah selesai mandi, Rili mengambil handuk yang diletakkannya tergantung di atas bambu yang dibuat seperti jemuran.


"Adek duluan aja ke atas," Ucap Rival.


"Aku takut, kita sama aja jalannya Bang!"


"Waktu shubuh udah mau habis. Ini mungkin sudah jam 6 pagi. Lihat tuch sudah mulai terang. Kamu duluan aja Abang masih mau disini sebentar. Mau kompromi dulu sama monyet-monyet, agar tidak gangguin Adek." Ucap Rival berbohong, sebenarnya Dia mau BAB.


"Baiklah bang," ucap Rili sambil berjalan menuju mushollah dengan sedikit tanjakan.

__ADS_1


Setelah selesai sholat, Rili memakai pakaiannya. Tiba-tiba Dia merasa ingin buang air besar. Sehingga Dia turun lagi ke sungai yang mendapati suaminya sedang BAB di sungai.


Rili terkejut. "Auuwww....!" ucap Rili sambil menutup matanya dan berbalik. Dia melihat sedikit paha dan bokong Rival sebelah kiri saat Rival BAB di sungai yang air nya tidak dalam itu.


Rival memilih tempat yang airnya mengalir dan ada batu-batu kecil di dasar sungai. Disitulah Dia berjongkok untuk mengeluarkan sampah di perutnya.


Syukur Rili tidak melihat Rival dari arah depan saat BAB. Sempat Dia melihat arah depan. Maka Dia akan melihat benda pusaka Rival tergantung di dalam air. Syukur juga benda pusaka Rival tidak di cuil-cuil ikan kecil di sungai tersebut.


Rival yang memang sudah selesai, akhirnya cebok dan mengambil handuk yang dilingkarkan dilehernya, kemudian dipakainya dengan cepat.


"Kenapa turun lagi." Ucap Rival sambil berjalan dengan pelan di dalam air mendekati Rili yang masih berdiri di tepi sungai.


"Adek mau PUP bang?"


"PUP?" tanya Rival.


Rili mengangguk.


"Mau BAB?" tanya Rival.


"Iya,"


"BAB di tempat Abang yang tadi aja. Abang tunggu di mushollah."


"Nanti BAB mu tidak mau keluar, karena Abang disini."


"Abang berbalik dulu, jangan lihatin Adek. Lagian ini udah sesak."


"Cepatlah." Ucap Rival dan berbalik badan sambil memakai celana kain panjangnya.


Setelah Selesai BAB, Rili dan Rival pulang ke Rumah. Sebelum Sampai di Rumah, Rival singgah sebentar di kebun sayurnya. Dimana kebun itu adalah tanah orang, yang Dia tanami dengan berbagi hasil.


"Ini kebun Abang?" tanya Rili.


"Iya,"


"Sayurnya bagus-bagus banget bang." Ucap Rili sambil matanya mengerjap-ngerjap. Baru kali ini Dia melihat sayur yang begitu bagus dan nampak alami.


Walau Ayah Rili berkebun juga, tapi Rili jarang ikut ke kebun jagung Ayahnya.


Di kebun sayur itu Rival menanam ubi, kangkung, bayam, terong, kacang panjang, cempoka, cabe rawit. Dan semua tanaman sayur itu akan siap panen empat hari lagi dan tugas ibunya Rival lah yang akan menjual sayur itu ke pasar.


Rival nampak memetik sayur daun ubi. Dia memanennya hanya sedikit, hanya untuk dimakan hari ini saja.


"Nanti kita masak sayur daun ubi tumbuk dan lauknya sambal tuk-tuk ya dek!" ucap Rival dengan nada yang kurang semangat. Dia sedikit sensitif pagi ini. Karena Dia merasa tidak bisa memberi istrinya makan enak.

__ADS_1


"Waaawww... itu makanan kesukaan ku bang!" ucap Rili dengan tersenyum sambil mengambil alih memabawa sayur yang dipetik Rival.


Entah kenapa sejak bicara dari hati ke hati tadi malam. Rili sudah bisa bersifat supel kepada Rival. Dia sudah tidak terlalu takut lagi. Tapi, hatinya masih tetap sama, dihatinya masih ada nama Yasir Kurnia. Mungkin selama hidupnya nama Yasir tidak akan lekang dari hati Rili.


Buat Rili tidak bisa melupakan Yasir adalah cobaan hidup paling sulit yang akan dilaluinya. Dia akan menjalani hari-hari bersama Rival suaminya, tapi dihatinya orang lain.


Rili dan Rival nampak bekerja sama memasak di dapur. Pemandangan itu membuat ibu mertuanya murka. Tapi, ibu mertuanya tidak menampakkan kemarahannya saat itu. Dia menunggu moment yang tepat untuk memberi ajaran kepada menantunya itu. Agar anaknya jangan dibuat budak. Padahal Rili sudah melarang Rival untuk membantunya, tapi Rival yang ngotot untuk membatu Rili memasak.




Setelah selesai memasak Rili menatanya.


Rili menggelar tikar di lantai ruang dapur.


Mereka makan bersama dengan khidmat.


Entah kenapa Rili sangat berselera makan pagi ini, Dia sampai menambah dua kali nasi dari porsi biasanya Dia makan.


"Bah...bah.... kuat juga kamu makannya ya, tapi koq badan kamu kurus." Ucap ibu Rival dengan ketus dan menatap Rili.


"Baguslah Bu, itu tandanya Rili cocok tinggal disini." Ucap Rival sambil tersenyum kepada Rili.


"Kalau kuat makan, ya harus kuat kerjalah. Besok kamu ikut sama ibu ke sawah." Ucap Ibu Rival dan kemudian membasuh tangannya di wadah mencuci tangan.


"Bu?" ucap suaminya memberi peringatan dengan matanya agar istrinya itu menjaga omongannya.


"Rili jangan di ajak kesawah ya Bu. Biar hari Minggu depan aja, rival Selesai kan membasmi gulma padi kita dengan disemprot." Ucap Rival dengan sopan kepada ibunya itu.


"Kamu sama istri jangan mau diatur. Jangan jadi Susis. Tadi kamu mencuci, sekarang kamu ikut memasak. Jadi apa fungsi istrimu ini? Mau makan tidur?"


Darimana pula ibunya tahu Rival uang mencuci kain kotor mereka. Apa Ibu nya Rival mengintip mereka di sungai.


"Bu!" ucap Rival dengan suara tinggi. Dia sudah tidak tahan lagi dengan sikap ibunya yang selalu menilai jelek istrinya.


Rival tidak menyangka ibunya bersikap seperti itu. Dimana harga dirinya sebagai orang tua. Rival tidak habis pikir


Rili yang mendengar suara Rival yang agak tinggi, menjadi takut. Jantung Dia mau lepas dari tempatnya saat Rival mengeluarkan suara sedikit keras Saat ini rasanya ruangan dapur itu seperti dikuburan saja. Menyeramkan!


Bersambung


Mohon beri like, coment, vote, rate bintang 5 dan jadikan novel ini sebagai favorit


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2