
"Siapa?" tanya Rili, melihat suaminya itu sangat serius menanggapi teman bicaranya di telpon.
"Abang Rival," ucap Yasir dengan gerakan mulutnya saja tanpa suara.
Rili manggut-manggut. Dia sebenarnya merasa kurang nyaman jikalau terus berjumpa dan berkomunikasi dengan mantan suaminya. Bukan karena ada rasa. Tapi, gimana gitu. Mantan suami gituloh.
Rili mendudukkan bokongnya di ranjang sembari membaca majalah yang diambilnya dari atas meja dekat tempat tidur. Dia menunggu Yasir selesai bertelelpon dengan Rival.
Setelah selesai bertelepon, Yasir membaringkan tubuhnya di ranjang. Dia menghela napas kasar.
"Kenapa Yachay..?" tanya Rili heran, suaminya itu seperti punya beban saja.
"Abang Rival, meminta kita cepat sampai ke rumahnya." Ucap Yasir. Dia mengubah posisinya, jadi telungkup dan mendekat ke Rili.
"Acaranya kan malam. Kenapa harus cepat kesana?" tanya Rili heran. Kenapa pula mantan suaminya itu mengganggu saja.
"Abang sudah menolak permintaannya. Tapi, Abang itu memaksa. Katanya ini mengenai masalahnya dengan istrinya. Yang akan selesai jika Adek berjumpa dengan istrinya." Yasir meminta Rili berbalik badan. Sehingga paha Rili bisa dibuatnya sebagai bantal.
"Aahhhkk... kalau begitu Adek gak mau. Adek merasa tidak ada urusan dengan mereka. Ngapain kita ikut campur. Lagian Adek perhatikan istrinya itu membenci Adek. Apa Abang tidak melihat cara Dia menatap Adek, saat kita di rumah sakit membantunya melahirkan? tatapannya itu membuat tidak nyaman." Ucap Rili dengan mengangkat bahunya. Dia tidak tertarik untuk bertemu dengan Mely.
"Itu Dia sayang yang jadi masalah nya. Ternyata gara-gara Adek mereka bertengkar. Dan istrinya itu kabur saat hamil besar." Ucap Yasir, tidak percaya rumitnya masalah rumah tangga Rival.
"Kenapa gara-gara Aku. Aku tidak ada ganggu mereka. Kenapa jadi begini? Adek tidak mau jumpa dengan pasangan itu lagi." Mata Rili sudah mulai berkaca-kaca. Ucapan Yasir yang menyalahkannya membuatnya sakit hati.
"Itu Dia dek Masalah Abang Rival. Istrinya cemburu kepada Adek." Rili langsung menyangkal.
"Emangnya Aku ada godain suaminya. Kan tidak, kenapa Dia cemburu kepada ku. Lagian kalau benar Dia cemburu. Aku tidak mau jumpa, nanti Dia berang dan mencak-mencak bagaimana? Adek gak mau Aahh..!" Ucap Rili marah.
"Ya sudah sayang, kalau tidak mau. Yuk Aahh sarapan dulu. Biar perut kenyang, pikiran pun tenang." Yasir yang sudah berdiri dihadapan Rili, langsung meraih tangan istrinya itu untuk bangkit dari ranjang.
"Sayang, kita sarapannya di restoran dekat kolam renang ya?" ucap Rili, bergelayut manja dilengan Yasir.
"Malas, nanti makannya gak fokus. Banyak penampakan." Ucap Yasir, menolak permintaan aneh istrinya.
"Aku pingin lihat orang pakai baju renang atau bikini." Ucap Rili berbisik di telinga Yasir.
"Whattt.....?!" Yasir setengah berteriak, aneh-aneh saja keinginan istrinya itu.
"Adek masih normal kan?" Yasir menempelkan punggung tangannya di kening Mely. Siapa tahu Istrinya kesambet setan mesum di tempat ini.
"Normal lah, ya sudah. Kalau Abang gak mau, Adek lihat orang pakai bikini." Rili menatap Yasir dengan tatapan menuntut.
"Tidak, tidak.... Jangan minta Abang untuk berpakaian seperti itu sayang. Please.. jangan buat permintaan yang aneh-aneh." Ucap Yasir dengan menghentikan langkahnya saat hendak memasuki restoran.
Rili tersenyum devil, "Belum Adek katakan, koq Abang tahu keinginan Adek?" tanya Rili, menahan tawa. Dia membayangkan suami nya berbikini dan berprilaku seperti perempuan. Pasti itu sangat menyenangkan sekali.
__ADS_1
"Ya tahulah, Apa yang ada dihati dan pikiran Adek itu. Bisa Abang tahu. Kita ini sudah sehati dan sejiwa." Ucap Yasir menggombal. Berharap Rili mengurungkan keinginannya itu.
"Kalau begitu, Abang tahu dong. Kalau Adek pingin. Harus diwujudkan." Ucapnya dengan menunjukkan ekspresi wajah puppy eyes nya. Memohon kepada Yasir, agar menuruti kemauannya.
"Jangan bahas itu lagi. Kita sarapan saja. Sudah pukul 08.00 Wib." Ucap Yasir, menggandeng Rili masuk ke Restoran.
Mereka pun makan dengan lahap, apalagi mereka sudah sangat lapar.
🌻🌻🌻
Di kediamannya Rival pagi ini sangat heboh, karena Febri dan Mama Maryam, masih kewalahan menangani si kembar. Yang sering secara bersamaan buang air kecil atau buang air besar, bahkan menangis pun barengan.
Rival mengambil alih mengurusi istrinya. Mulai dari memandikannya dan membantunya berpakaian.
"Sayang, minum dulu obatnya." Rival memberikan obat nya Mely ke telapak tangan Mely. Dia pun langsung meminumnya.
"Susunya juga sayang, diminum." Mely menghentikan tangan Rival yang hendak mengambil susu di atas nampan.
"Adek masih kenyang. Tadi kan banyak banget makannya." Ucapnya memegangi perutnya.
"Nona, coba dech susui si Raynan." Febri memberikan Raynan kepada Mely.
"Anak baik Budi," ucapnya penuh kasih sayang dan menciumi putranya yang sangat wangi itu. Karena baru selesai mandi.
"Apaan sih, Adek juga bisa." Menepis tangan Rival yang ingin meraup benda kenyal itu.
"Adek gendong aja yang benar si Raynan. Abang aja yang keluarin." Rival ngotot. Dia pun berhasil menyembulkan buah dadanya Mely. Karena geram Rival meremasnya dengan kuat, sehingga cairan keluar dari putingnya Mely
Ternyata ASI Mely sudah ada.
"Aaaaawww... apaan sih. Sakit tahu. Main remas aja." Mely menepuk lengan suaminya itu. Mama Maryam, hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Rival yang urat malunya sudah putus. Sedangkan Febri, merasa Rival sosok suami yang baik.
Dia sampai berangan-angan punya suami seperti sosok ya Rival.
"Nona Mely, Asi pertama itu sangat bagus untuk si Raynan." Ucapnya mencoba membenarkan posisi Mely saat menyusui.
"Posisinya harus pas nona, supaya pinggang nona nanti tidak sakit atau pegal." Setelah Febri membenarkan posisi Mely. Si Raynan pun langsung mendapatkan pu*Ting Mely dengan sempurna. Sehingga Bayi itu anteng saat disusui.
"Feb, Istriku ini sudah Ibu-ibu, jadi jangan panggil Nona lagi. Panggil saja Omak-omak." Ucap Rival berniat melawak. Tapi gak lucu.
Buktinya tidak ada yang tertawa.
"Iya Pak." Jawab Febri tersenyum malu-malu.
"Jam berapa sampai teman mu itu Feb?" tanya Rival, sembari mengganggu putranya yang disusui Mely.
__ADS_1
"Jam dua belas siang Pak. Tapi, Dia minta dijemput di terminal. Karena Dia naik Bus." Febri segan kepada Rival. Karena temannya minta dijemput ke terminal.
"Ya nanti Pak Budi yang jemput. Atau Pak Firman." Ucap Rival. Dia beranjak dari duduknya dan bergerak ke arah Mama Maryam yang membawa Raina berjemur di balkon.
"Ma, gimana ini?" tanya nya sedih dan khawatir. Dia pun ikut duduk disebelah Mama Maryam di kursi santai di balkon itu.
Mama Maryam menoleh ke Rival yang mengusap wajahnya kasar.
"Kenapa lagi, bukannya kalian sudah baikan?" tanya Mama Maryam, sembari memandangi wajah putrinya yang lebih mirip kepada Rival.
"Baikan sementara Ma. Kalau untuk baikan selamanya. Aku harus menjumpakan Mely dengan Rili." Ucapnya pasrah.
"Apa hubungannya dengan Rili?" tanya Mama Maryam mulai serius menanggapi ceritanya Rival.
"Entahlah, Mely inginnya begitu. Kan itu merepotkan orang namanya." Jawabnya lemas, bersandar di kursi santai itu.
"Mungkin Mely ingin belajar dari Rili, kenapa kamu dulunya cinta banget sama Dia. Positif thinking aja." Mama Maryam, berdiri.
"Mau kemana Ma? ada banyak hal yang ingin Rival tanyain kepada Mama."
"Mengenai apa?"
"Salah satunya mengenai Pak Firman." Mama Maryam Langsung menoleh kepada Rival.
"Kamu mau menanyakan apa, jangan tanya Mama. Tanyain aja langsung kepada yang bersangkutan." Ucap Mama Maryam malas.
"Sebenarnya ini ada sangkut pautnya sama Mama. Tapi, ya sudahlah kalau Mama tidak ingin Rival introgasi." Ucapnya mengekori Mama Maryam masuk ke dalam kamar.
"Ma, persiapan di rumah utama sudah sampai dimana?" tanya Rival, Dia ingin mengetahui persiapan untuk acara tujuh hari meninggalnya Pak Ali.
"Sudah beres, pembantu disini juga sebagian sudah pada kesana." Mama Maryam memberikan Raina kepada Mely. Untuk bergantian disusui. Sedangkan Raynan sudah berada dalam gendongan Febri.
"Iya Ma. Mely dan si kembar sebaiknya disini saja tidak usah ikut ke rumah utama." Ucap Rival kembali duduk disebelah Mely, mulai menggoda istrinya yang menyusui dengan ikut menekan-nekan buah dada Mely. Yang membuat Mely geram.
"Biar airnya banyak keluar sayang. Ya harus dipencet." Jawabnya tak mau kalah.
Mely pun membiarkan suaminya itu berbuat sesuka hatinya. Yang penting si Raina tidak merasa terganggu saat disusui.
karena malam ini akan diadakan acara tujuh hari meninggalnya Pak Ali dikediamannya Pak Ali. Maka sebagian pembantu pergi ke rumah utama, beres-beres perlangkapan yang diperlukan. Setelah pengajian dan kirim Doa, maka akan diadakan makan bersama. Begitulah tradisi di tempat mereka tinggal.
Keluarga Rival yang di kampung pun akan hadir dalam acara itu. Karena saat Pak Ali meninggal, keluarga dikampung tidak bisa datang. Karena saat itu Ayah Rival di kampung sedang sakit.
"Mas, jam berapa kak Rili datang nya?" tanya Mely, pertanyaan Mely itu menghentikan kegiatannya mentoel-mentoel pabrik susu anaknya.
"Mungkin sore, gak apa-apa kan dek, Rili datang nya sore?" tanya Rival memelas.
__ADS_1