Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Gengsi dong


__ADS_3

Rival geram, Dia memukul setir dan berdecak kesal. Sekar, menoleh ke arah Febri di sebelahnya. Sedangkan Febri menampilkan wajah bingung, yang ditutupi oleh senyumannya. Dengan perasaan tidak karuan, Rival melajukan mobilnya menuju rumah Pak Ali.


Ternyata keluarga besar Rival dari kampung dan Mama Maryam sudah sampai di Rumah Almarhum Pak Ali.


"Feb, kamu pulang diantar supir. Jagain istri dan anakku. Kalau kamu butuh bantuan. Minta bantuan saja sama Pembantu yang masih ada di rumah." Ucap Rival tegas, Dia menatap Febri dari kaca spion. Dan Febri bisa melihat itu.


"Baik Pak." Jawabnya cepat dan ramah.


Rival dan Sekar turun dari mobil. Rival menghampiri supir mereka yang ada di rumah utama itu. Dan memintanya mengantar Febri ke rumahnya.


"Mana Ibu Dek?" tanya Rival kepada Firman yang sedang duduk di beranda rumah bersama Amrin.


"Masuk ke dalam kamar Bang. Sepertinya Ibu kurang sehat. Dia gemetaran dan tidak sanggup melangkah di lantai rumah ini. Kata Ibu, rumah Abang Rival terlalu licin." Ucap Firman, Dia tahu Ibunya itu tidak sanggup berjalan di lantai rumah keramik yang bersih dan mengkilap. Namanya juga rumah orang kaya, tiap menit di pel, beda dengan rumah kebanyakan orang di kampung yang di pel palingan sehari sekali.


"Abang tinggal sebentar." Rival berpamitan kepada Adik dan iparnya Amrin. Dia berjalan sedikit cepat menuju kamar tempat Ibu Durjana berada. Sekar mengikuti gerak langkah Rival. Untuk kali ini Rival tidak akan mendiamkan masalah ini.


Rival beranggapan Ibu angkatnya itu sudah sadar, karena sudah mendapatkan efek jera dengan ditahan. Tapi, ternyata Ibu angkatnya itu menyimpan dendam kepada Rili.


Rival hendak membuka lebar pintu yang tidak tertutup itu, guna Dia masuk ke kamar tempat Ibu Durjanna istirahat. Tangannya terhenti mendorong Hane pintu, disaat Ia mendengar percakapan Mila dan Ibunya.


Di kamar tempat Ini Durjanna dan Mila berada. Mila meminta Ibunya untuk beristirahat. Tapi, wanita tua itu menolak. Dia masih ingin menggosip dengan putri nya itu. Bertanya kepada Mila mengenai Rili. Padahal Mila sendiri, tidak tahu menahu soal Rili.


"Benarkan Mila, Si Rili itu dari awal sudah menyelingkuhi kakakmu. Tapi, lihatlah seolah Ibu terus yang salah. Kakak mu Rival juga percaya sekali kepada mulut manisnya. Gara-gara Dia, Ibu mendekam di penjara. Syukur datang Almarhum Pak Ali. Membebaskan Ibu." Ucapnya dengan nada kesal.


Rival tak kalah kesal mendengar ucapan Ibu angkatnya itu, yang selalu menghakimi orang lain dengan buruk.


"Sudahlah Bu. Yang berlalu biarlah berlalu. Untuk apa diungkit lagi. Toh kita semua sudah hidup bahagia. Abang Rival juga sudah sangat bahagia dengan anak dan istrinya. Mungkin yang kita alami memang seperti itu takdirnya Bu. jadi, Ibu jangan mengingat-ingat lagi, kehidupan kelam di penjara." Ucapan Mila langsung dicekal Ibu Durjanna.


"Itu tidak bisa Ibu lupakan. Ibu malu masuk penjara. Seandainya Abang mu tidak menikah dengan wanita pembawa sial itu. Mana mungkin Ibu akan merasakan bagaimana sakitnya hidup di penjara." Ibu Durjana menitikkan air mata. Mengingat kisah hidupnya di umur yang tak terbilang muda itu. Harus merasakan dinginnya tidur beralaskan tikar dan orang-orang dalam satu ruangan dengannya yang tidak menyukainya. Dia merasa sangat tersiksa.

__ADS_1


Mila mendekat kepada Ibunya, Dia mendudukkan bokong di tepi kasur. Memegang tangan Mamanya. Sedangkan Rival dan Sekar masih menguping di balik pintu.


"Bu, ikhlaskan semua yang terjadi. Lupakan kejadian yang menyakitkan. Aku tidak mau timbul keributan lagi disini Bu, Karena Ibu terus saja ingin tahu mengenai Rili." Mila memberi pengertian pada Ibunya. Dia harus bisa menenangkan Ibunya itu.


"Apa Ibu tidak lihat kemarahan Abang Rival tadi Bu. Kita tidak tahu masalah mereka sebenarnya. Kenapa Abang bercerai dengan Rili, terus kenapa tiba-tiba Abang Rival sudah menikah lagi. Jadi Bu, kita lebih baik diam saja. Jangan kita habiskan energi kita untuk memikirkan itu, karena kita masih benci kepada seseorang. Seperti Ibu yang tidak menyukai Kak Rili." Ucap Mila Dia menatap mata Ibunya yang masih menyimpan dendam kebencian itu.


"Ingat loh Bu, Benci dan cinta itu beda nya hanya setebal kulit Ari bawang. Jadi, jangan sampai Ibu sakit, karena memikirkan Rili terus.


"Kau ini, kenapa malah tidak berpihak kepada Ibu." Ibu Durjana cemberut. Wajahnya yang sudah keriput dibawah matanya. Semakin nampak mengeriput Karen cemberut.


"Aku sayang sama Ibu. Untuk kali ini, Aku tidak mau lagi mendukung pikiran negatif Ibu itu. Laa Ibu tidak melihat kemarahan Abang Rival tadi?" tanya Mila, kembali menatap Ibunya yang masih cemberut.


"Aku tidak akan memaafkannya. Gara-gara Dia Ibu masuk penjara." Jawabnya, wajah Ibu Durjanna menampilkan raut kecewa dan dendam.


Terdengar suara pintu dibuka. Penghuni kamar yaitu Ibu Durjanna dan Mila. Sama-sama menoleh ke arah pintu. Mereka masih melihat ekspresi wajah Rival yang tidak bersahabat. Rival melangkah dengan lemah.


"Ibu harus minta maaf kepada Rili. Saat ini juga. Ayo ikut Rival ke Rumah Sakit Bu?" Rival yang berada disisi Ranjang tempat Ibu Durjana istirahat mengulurkan tangannya.


"Tidak ada seorang Ibu dan wanita tua. Meminta maaf kepada bekas menantunya yang masih muda. Harusnya Dia yang meminta maaf kepada Ibu." Ucap Ibu Durjanna, menjauhkan pandangannya dari Rival dan Mila, dengan menghadap kamar mandi. Dia kesal bukan main dengan permintaan Rival. Dimana-mana orang yang lebih muda harusnya meminta maaf bukannya dirinya. Ibu Durjanna mendumel dalam hati.


Rival menggelang-gelengkan kepalanya. Sungguh Dia sangat iba melihat Ibu angkatnya ini. Walau sudah bau tanah. Tapi, masih tetap egois. Tidak pernah merasa bersalah. Rival sudah dengan lembut mengajak Ibunya itu bicara. Tapi gak bisa juga dikasih pengertian.


"Meminta maaf adalah hal yang terpuji dan baik Bu." Rival kembali membujuk Ibunya, agar meminta maaf kepada Rili. Sehingga semuanya berdamai.


Ibu Durjana melototkan matanya kepada Rival. "Untuk apa minta maaf, Ibu tidak merasa bersalah." Kilah Ibu Durjanna dengan muka masem. Dimana letak harga dirinya seorang Ibu Durjanna. Apabila Dia meminta maaf kepada Rili.


Pertimbangan harga diri dan kerasnya hati jadi alasan supaya tidak dianggap lemah. Karena keegoisan masing-masing, akhirnya banyak pertengkaran yang tak menemukan jalan damai.


"Bu, konflik ini harus diselesaikan. Kita tidak tahu, kapan kita berpulang ke Rahmatullah Bu. Tolongah Bu. Buang egois itu sedikit." Rival yang sudah duduk di tepi ranjang menghadap Ibunya. Meraih tangan Ibu Durjanna yang tergeletak di atas kasur. Dia harus bisa membujuk Ibunya itu. Agar masalah selesai dengan Rili.

__ADS_1


"Ibu masih hidup lama. Jangan kamu doa kan Ibu mati." Ucapan Rival Kembali ditarik Ibu Durjanna ke arah negatif.


"Berani minta maaf lebih dulu menandakan kalau Ibu punya jiwa yang lebih besar. Jadi, Ibu tidak perlu malu meminta maaf kepada orang yang lebih muda dari Ibu." Rival masih merayu Ibunya, memberi pengertian. Agar Ibu Durjanna mau meminta maaf kepada Rili.


Ibu Durjanna melepas paksa tangannya yang digenggam Rival.


"Kalau Dia merasa bersalah, Dia hang harus meminta maaf kepada Ibu. Kenapa kamu memaksa Ibu untuk minta maaf kepadanya. Apa kamu disuruhnya?" Ketus Ibu Durjanna. Membuang Muka dari Rival.


Rival pun mulai menyerah, "Baiklah, kalau Ibu tidak mau memaafkan atau meminta maaf kepada Rili. Rival sebagai anak hanya bisa mengingatkan." Ucapnya dengan sedih. Dia tidak mungkin memaksa lagi Ibu angkatnya itu.


Rival keluar dari kamar itu. Sehingga tinggallah Ini Durjanna sendirian di kamar itu. Karena saat Rival memelas kepada Ibu Durjanna. Mila dan Sekar keluar dari kamar. Berniat membantu di dapur. Persiapan acara tujuh hari meninggalnya Pak Ali.


"Mila.... Sekar....!" teriaknya, Ibu Durjanna ingin buang air kecil. Dia tidak tahan berjalan sendiri di lantai kamar yang licin dan dinginnya minta ampun terasa di kakinya. Ibu Durjanna yang terbiasa berjalan di tanah dan lantai papan. Merasa kesusahan beradaptasi berjalan di lantai marmer atau keramik.


Tidak ada sahutan. Dia berdecak kesal


"Kemana mereka semua?" Ucapnya, turun dari ranjang, berusaha berjalan memegangi dinding kamar untuk sampai di kamar mandi.


Ibu Durjanna, sangat hati-hati melangkah kakinya. Sehingga Dia Sampai juga di kamar mandi. Dia pun membuang air seninya. Menyiramnya seadanya. Dengan lemah, Dia melangkahkan kakinya dan akhirnya kakinya yang kemah itu memijak air dari bekas cebok nya.


Bugghhh...


Ibu Durjanna jatuh di kamar mandi, dengan kepala terbentur ke lantai kamar mandi. Satu orang pun tidak ada yang melihat Dia jatuh.


Mampir juga ke novel ku Yang lain yang berjudul


❤️ Dipaksa menikah Pariban


❤️ Pengantin Pengganti.

__ADS_1


Kalau sudah baca tinggal kan jejak dan di favorit ya kak ❤️🙏


__ADS_2