Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Haram Hukumnya


__ADS_3

"A...pppaaaa i...ni... Iiiii..ni maaksuudddnya apa?" ucapnya lagi dengan tidak percaya dengan apa yang dibacanya.


Mely kembali mengulang membaca isi surat itu. Dia mengulangnya lagi bahkan lebih dari tiga kali.


"Kenapa bisa Abang anaknya Ayah. Bukannya keluarga Abang di kampung semua?" ucap Mely dengan bingungnya menatap Rival dengan mata melotot, mulut menganga dan Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak percaya dengan apa yang dibacanya.


Rival mengusap wajahnya kasar, memasrahkan kepalanya bersandar di sofa menatap langit-langit kamar itu dengan mata yang sudah berkabut.


Dia membenci kenyataan ini. Kalau seperti ini kejadiannya. Dia lebih memilih tidak usah mengetahui siapa orang tua nya yang sebenarnya.


"Ceritakan kenapa Abang bisa jadi anaknya Ayah juga. Setahuku hanya Aku anak nya Ayah. Kenapa Abang juga jadi anaknya Ayah. Ini hasil test salah. Ini tidak benar." Ucapnya terisak, menatap Rival yang masih menatap langit-langit kamar yang diukir itu.


"Abang merekayasa ini kan? karena Abang benar-benar ingin menguasai harta Ayah." Ucap Mely masih menangis menarik lengan Rival yang tidak mau menatapnya.


Rival menoleh, menatap tidak percaya Mely yang tega mengatakan itu.


"Untuk apa Abang merekayasa itu. Abang bukan gila harta." Ucapnya kesal kepada Mely. Mely yang ditatap kesal oleh Rival. Membuat hatinya sangat terluka.


"Mulai saat ini kita harus pisah." Ucap Rival dengan menahan sakit didadanya. Dia merasakan dadanya begitu nyeri dan perih mengatakan itu.


Mely menggeleng, air mata terus saja mengalir membanjiri pipi putihnya.


"Tidak, tidak.... Jangan tinggalkan Aku. Adek sedang mengandung anak Abang. Jangan , jangan ceraikan Aku." Ucapnya dengan terisak mengatupkan kedua tangannya dihadapan suaminya itu. Dengan raut wajah yang begitu menyedihkan. Mely tidak berani lagi memeluk suaminya itu. Karena suaminya itu pasti menepis dirinya.

__ADS_1


Rival sungguh tidak tega melihat Mely yang begitu memprihatinkan. Akhirnya Dia menarik Mely kepelukannya. Seketika tangis Mely pecah, menggema di ruangan itu. Sedangkan Rival sudah tidak tahan lagi menahan matanya yang merembun. Akhirnya air mata itu pun kini jatuh di pipinya.


Kedua nya lama terdiam dalam keadaan berpelukan itu. Pasangan suami istri seolah sedang memberi penguatan satu sama lainnya.


"Kita tidak boleh berpisah, bagaimana dengan anak kita?" ucapnya masih menangis dalam dekapan Suaminya itu.


Rival terdiam, Dia juga tidak menginginkan ini semua terjadi. Dia juga sangat mengkhawatirkan anak kembarnya itu.


"Jangan tinggalkan Aku, jangan ceraikan Aku." Ucapnya masih menangis, mengeratkan pelukannya. Dia tidak mau kehilangan suami dan cinta pertama nya itu.


"Kita harus berpisah, pernikahan kita ini haram hukumnya. Kita bersaudara." Ucap Rival, menoleh istrinya itu yang kini juga menatapnya.


"Haram hukumnya, jika kita mengetahui dari awal. Kita sudah terlanjur menikah. Aku mencintaimu Abang Rival. Jangan ceraikan Aku. Jangan tinggalkan Aku dan anak-anak kita."Mely semakin menangis tersedu-sedu. Dia semakin mengeratkan pelukannya. Rival sampai merasa sesak, karena Mely terlalu erat memeluknya.


"Tidak, tidak.... Aku tidak mau. Kita anggap saja kita tidak mengetahui kenyataan ini. Jangan pernah tinggalkan Aku." Mely semakin mengencangkan tangisannya. Ingus yang memenuhi hidungnya, kini dilapnya ke kaos polo warna navy yang dikenakan Suaminya itu.


Rival menghela napas dalam, tarikan napas itu dirasakan Mely. Karena dada Rival yang bidang itu ikut terangkat.


"Masalah ini yang membuat Abang setres berat. Adek tidak ingin kita berpisah. Abang lebih tidak menginginkannya. Kenyataan pahit ini membuat Abang sangat terpukul. Abang sangat berharap menemukan orang tua kandung Abang. Tapi, disaat Abang mengetahui siapa orang tua kandung Abang. Harusnya kebahagiaan yang Abang rasakan. Tapi, nyatanya fakta ini sangat membuat Abang defresi." Ucap Rival dengan lembut, Dia ingin memberi pengertian kepada Mely. Bukan istrinya itu saja yang akan terluka jikalau mereka berpisah.


"Aku tidak mau kita bercerai. Kejadian seperti kita ini banyak terjadi. Bagaimana dengan anak-anak nya Nabi Adam yang juga menikahi saudaranya sendiri." Ucapnya masih menangis tersedu-sedu. Ucapan istrinya itu membuat Rival tercengang sekaligus terkejut. Ternyata Mely masih mengingat semua kisah Nabi yang pernah diceritakan kepada istrinya itu. Saat dulu Mely menimbah ilmu agama kepada Rival.


Cara Rival yang sabar saat mengajarinya dululah yang membuat Mely akhirnya jatuh cinta kepada suaminya itu.

__ADS_1


"Kita bukan anak nabi. Jangan Adik samakan kisah kita dengan anaknya Nabi Adam. Nabi Adam saja masih mengatur pernikahan anak-anaknya. Adik masih ingat cerita Abang kan?" ucap Rival melirik Mely yang masih memeluknya yang masih menangis itu. Mely menggeleng.


"Pernikahan sedarah atau incest, sekarang tidak diperbolehkan lagi. Hukumnya haram.


Memang pada masa awal peradaban manusia, jumlah manusia sangat sedikit, hanya ada Adam dan Hawa beserta anak-anaknya. Hubungan antar dua manusia perlu diatur agar bisa meneruskan keturunan yang lebih baik. Pengaturannya adalah dengan pernikahan.


"Pada waktu itu karena hukum larangan pernikahan saudara sedarah atau kandung belum diturunkan maka mau tak mau pernikahan dilakukan sesama saudara. Generasi manusia tidak dapat dipertahankan dan lestari kecuali melalui jalan ini." Ucap Rival lembut, agar Mely mau mengerti. Dia pun kali ini mencoba menganggap Mely Adiknya yang harus diayomi. Tidak mempermasalahkan Mely yang masih memeluk nya posesif.


"Ya sudah, kita lanjutkan saja pernikahan kita. Pada saat Nabi Adam saja berlaku. Kenapa sekarang tidak berlaku lagi." Jawab Mely, Dia ingin Rival mengikuti kejadian pada saat Nabi Adam. Yang menikah sesama anaknya.


Rival menggelang, menyayangkan sikap Mely yang susah mengerti itu. Rival pun Kembali memberi pengertian kepada istrinya itu.


"Pada kisah anak-anak Nabi Adam. Tidak dihalalkan menikah dengan saudara kembarnya sendiri. Anak-anak keturunan Adam dan Hawa dilahirkan berpasang-pasangan alias kembar dua, lelaki-perempuan. Namun pasangan itu, tidak boleh saling menikah. Pernikahan hanya diperbolehkan dengan pasangan kembar lainnya. Di antara anak-anak itu ada dua pasangan kembar yang membuat ulah, yaitu pasangan Qabil-Iqlimah dan Habil-Labuda." Ucap Rival, Kembali mengulang menceritakan kisah anak-anak Nabi Adam.


"Menurut aturan hukum perkawinan yang berlaku kala itu, Qabil boleh mengawini Labuda, dan Habil harus kawin dengan Iqlima. Adapun perkawinan Qabil dengan Iqlima dan Habil dengan Labuda, tidak perbolehkan, karena mereka sama-sama lahir (saudara)  kembar, dan perkawinan itu harus disilang, antara yang lahir kembar terdahulu dengan yang lahir kembar sesudahnya, asal jangan dengan yang sama-sama lahir atau kembarannya. Namun karena di mata Qabil, wajah Labuda tidak secantik Iqlima, ia menolak aturan itu." Ucap Rival, mulai bisa tenang.


"Iya, Adek mengerti. Adek masih ingat kisah anak-anak Nabi Adam itu. Dimana Qabil tidak mau menikah dengan Labuda. Dia hanya ingin menikah dengan saudara kembarnya sendiri yaitu Iqlima. Dan Dia membunuh saudaranya Habil, agar bisa menikahi Iqlima. Ya sudah, kita seperti anak-anak Nabi Adam saja." Ucapnya menatap lekat wajah Rival yang tidak setuju dengan pemikiran istrinya itu.


"Itu dulu saat manusia hanya masih ada Adam, hawa dan anak-anaknya. Sekarang jumlah manusia sudah bertambah banyak, pilihan antara laki-laki dan perempuan pun semakin banyak. Hingga kemudian pernikahan sesama saudara pun kemudian tidak dibenarkan, bahkan pernikahan sesama saudara sepersusuan.


"Sejak zaman Nabi Muhammad SAW, hukum ini mulai dijalankan. Apalagi diperkuat dengan turunnya surah an-Nisa ayat 23, “Diharamkan atas kamu menikahi ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan.”


"Syariat menikah dengan saudara kandung itu diperbolehkan sebelum datangnya Risalah Muhammad SAW. Sejak Rasulullah diutus, ketentuan menikah saudara sedarah itu dihapuskan mutlak." Terang Rival, melap air mata Mely yang membasahi pipinya.

__ADS_1


"Kita jangan berpisah, Adek tidak mau. Ini terjadi, berarti ini yang terbaik. Jangan tinggalkan Aku." Ucap Mely kembali memeluk Rival dengan masih menangis. Rival mencoba melepas pelukan Mely yang semakin erat itu. Yang membuat Mely semakin kesal kepada suaminya itu.


__ADS_2