Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Curhat Mely


__ADS_3

POV Mely


Rasanya hari ini begitu melelahkan. Ayah yang sedang sakit mengharuskan diriku yang harus bekerja mengantar pesanan ikan kepada semua pelanggan kami disetiap rumah makan yang ada dipinggir Danau Toba ini.


Ya, untuk menyambung hidup mata pencarian kami di daerah Danau Toba ini adalah dengan bertambak ikan. Walau tambak yang kami punya masih tergolong kecil, tapi hasilnya cukup buat keperluan sehari-hari dan bahkan hasilnya bisa ku tabung untuk biaya melahirkan.


Dalam satu Minggu ini Aku memaksa Ayah, agar mengizinkanku bekerja mengantar ikan kepada pelanggan kami. Ayah selalu melarangku, tapi jikalau Aku tidak mengantar pesanan pelanggan. Kami mau dapat uang dari mana?


Aku mengenderai motor matic Ayah dengan hati-hati dan dengan kecepatan rendah. Rasa lelahku hari ini, ditambah dengan rasa kesal. Bagaimana tidak kesal. Mobil mewah yang melaju dengan kencangnya mencipratkan air comberan yang ada dipinggir jalan kepadaku. Hingga baju yang ku kenakan kotor kena air comberan itu.


Entahlah, akhir- akhir ini Aku sering kena cipratan air comberan dipinggir jalan. Seminggu yang lalu juga aku kena ciprat. Dasar, nasibku memang sangat malang. Mungkin karena Aku anak haram kali ya? makanya nasibku selalu apes. Aku apa-apaan sih? kenapa jadi melow begini. Sampai menyalahkan takdir.


Sebelum pulang ke rumah, Aku singgah sebentar di Panatapan pinggir Danau Toba. Aku ingin bersantai sejenak. Aku memesan air kelapa muda di kedai tempatku duduk sekarang. Kata Ibu Bidan tempatku sipeksi, minum air kelapa muda sangat bagus untuk janinku.


Aku menyesap air kelapa muda itu dengan rakusnya dan ludes dalam sekali sedotan. Rasanya haus sekali. Ku layangkan pandanganku ke Danau Toba yang luas. Angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahku, membuat hatiku yang panas menjadi sejuk dan nyaman.


"Sayang, anak-anak Mama sore ini kita akan ke pulau Tuk-tuk. Ke kampung halamannya kakek kalian. Kakek sedang sakit dan kalian sebentar lagi akan hadir ke dunia. Kalau kita tetap di kota Parapat ini. Maka tidak akan ada yang rawat kakek kalian dan juga Mama, kalau kalian sudah lahir." Ucapku dengan mata berkaca-kaca. Rasanya di dalam dada ini begitu sakit. Ternyata jadi orang susah itu capek, karena Harus banting tulang untuk dapat makan hari ini.


Aku mengelus-elus perutku yang sudah sangat besar dan terasa berat, ditambah Aku juga sudah merasakan nyeri. Sepertinya Aku akan melahirkan.


"Sayang, kalian jangan lahir dulu sekarang. Kita sampai dulu ke pulau Tuk-tuk ya, baru kalian lahir. Kalau kalian lahir disini. Akan sangat banyak saudara kakekmu yang akan kita repotkan, untuk datang kesini. Sabar ya anak-anakku." Aku masih terus mengelus-elus perutku dan merasakan pergerakan mereka. Aku berusaha menenangkan diriku, dan menikmati rasa sakit yang mulai terasa dibagian bawahku.


Kalau tidak ada perubahan, sesuai HPL (Hari perkiraan lahir) maka aku akan melahirkan dua hari lagi. Aku selalu berdoa agar mereka lahir sesuai hari perkiraan yang ada di hasil USG. Walau sejak tadi pagi, Aku merasa perutku nyeri sampai saat ini, tapi masih bisa ku tahan. Rasanya seperti nyeri saat menstruasi.


Kata Ibu-ibu tetangga kami, kalau anak pertama itu biasanya kalau mau lahir biasanya lama prosesnya, Mau sampai dua hari merasakan sakit baru bayinya lahir. Kalau kita masih bisa beraktivitas, berarti bayinya masih bermain-main itu, mereka belum mau keluar. Entahlah, Aku kurang mengerti secara Aku baru kali ini hamil.


Tapi, ada ibu-ibu juga yang berbagi pengalaman. Saat kami jumpa di Puskesmas saat Speksi. Katanya anak pertamanya cepat lahirnya. Hanya 6 jam merasakan mules dan sakit dan langsung lahir.


Membayangkan melahirkan tanpa ada orang terdekat mendampingi, membuatku takut sekaligus sedih. "Ya Allah, mudahkanlah proses melahirkanku. Dan izinkan Aku melahirkan di kampungnya Ayah. Ada bibi dan putrinya yang akan mengurusku." Aku bermonolog, Aku menyeka dengan cepat air mata yang jatuh bercucuran dipipiku.

__ADS_1


"Aku harus pulang, sepertinya perutku sudah semakin sakit." Aku berjalan ke arah motor ku yang terparkir. Mengenderainya dengan pelan.


Air mata lagi-lagi jatuh tanpa permisi dari sudut mataku. Akhir-akhir ini Aku sering menangis saat mengenderai motor. Syukur aku masih bisa fokus. Kalau Aku lengah dan kecelakaan bagaimana?


Entahlah, empat bulan pergi dari hidupnya nyatanya membuat hatiku semakin sakit dan merindukannya. Aku berfikir dengan pergi dari hidupnya akan membuat hatiku tenang dan bahagia. Tapi, nyatanya Aku menderita. Aku sangat merindukan sentuhannya. Walau ku tahu sentuhannya tidak berlandas cinta.


Dia tidak mencintaiku, bahkan Aku sudah mengandung anaknya. Tapi, Dia masih saja memikirkan mantan istrinya itu. Hati ini masih merasakan sakit, apabila mengingat semua ucapan palsunya. Dia bilang mencintaiku. Tapi, Dia terang-terangan mengkhawatirkan dan selalu memikirkan mantan istrinya.


Sejak pertemuannya dengan seorang pria di resepsi pernikahan kami, suamiku banyak berubah. Dia lebih sering merenung dan begadang. Aku tahu Dia memikirkan mantan istrinya yang sangat dicintainya itu.


Aku mencoba meredam emosiku saat itu. Selama Dia masih tetap disisiku tidak ada alasan untuk mendebatnya. Hingga pagi itu pun datang. Dia nampak sibuk mempacking pakaiannya ke dalam tas ranselnya.


Dia meminta izin untuk pulang duluan ke Indonesia dengan alasan mengurus cabang perusahaan yang baru dibuka di kota S. Kota mantan istrinya.


Dasar memang Dia tidak bisa berbohong, atau sengaja aku tidak tahu. Dia yang keceplosan mengatakan ingin ke kota S. Membuatku mengambil kesimpulan bahwa Dia akan menemui mantan istrinya itu.


Setelah memberangkatkannya pergi, Aku langsung masuk ke dalam kamar. Menangisi hidupku yang malang. Punya suami, tapi tidak mencintaiku. Itu rasanya sakit sekali. Apalagi Dia sering menyebut nama wanita yang dicintainya itu tanpa sadar. Itu membuat harga diriku sebagai istri tidak ada.


Hari itu juga Aku menyusulnya ke Indonesia. Awalnya Aku mengira, Dia singgah dulu ke rumah kami, kemudian berangkat ke kota S. Tapi, ternyata Dia tidak singgah ke rumah. Dia langsung terbang ke kota S. Mengetahui fakta itu. Hatiku semakin sakit saja terasa. terluka tapi tidak berdarah.


Ternyata wanita itu sangat penting buatnya. Aku istrinya yang sedang mengandung anaknya, tidak dipedulikannya sama sekali. Seharian Dia tidak menghubungiku. Sikapnya itu membuatku semakin down saja.


Aku pun tidak bisa membendung rasa sakit yang kurasakan. Aku harus memperjuangkan rumah tanggaku. Aku harus mengatakan kepada wanita itu, bahwa Aku sangat mencintai suamiku dan sedang mengandung buah cinta kami.


Sesampainya di rumah, Aku pun langsung menghubungi wanita yang dicintai suamiku itu. Suara wanita itu sangat lembut, Dia juga sabar melayaniku di telepon. Bahkan Dia menasehati ku agar jangan setres karena Aku sedang hamil.


Saat itu juga hatiku tersentak. Tidak ada gunanya Aku membenci wanita itu. Aku akan salah sasaran, jikalau Aku memarahinya. Maka, disaat Dia memutuskan panggilanku. Aku pun tidak berani menghubunginya.


Kemudian Aku menghubungi nomor ponselnya Mas Rival. Tapi ponselnya tidak aktif. Mendapati Dia tidak bisa dihubungi membuatku semakin prustasi saja. Bisa-bisanya Dia tidak mengabariku dan ponselnya mati.

__ADS_1


Sikap Dia hari ini yang tidak mengingatku, membuat hatiku ini sangat sakit. Berjam-jam Aku menangis di dalam kamar. Mengasihani nasibku sendiri. Masalahku sepele memang. Hanya mengenai suami yang tidak mencintai kita.


Banyak diluaran sana wanita seperti ku. Tidak dicintai suaminya, ada suami yang main tangan kepada istrinya, suka mabuk-mabukan, berjudi bahkan tidak menafkahi istrinya. Anehnya istrinya itu masih saja setia kepada suaminya.


Tapi, kenapa Aku merasa tidak sanggup lagi hidup bersamanya? Aku tidak mau dikasihani seperti ini. Kalau Mas Rival begitu ingin bertemunya dengan wanita itu dan tidak mau mengajakku. Itu artinya apa coba? itu artinya Aku harus pergi dari hidupnya. Aku tidak mau dimadu.


Tok...tok...tok...


Tangisanku terhenti, disaat pintu kamarku diketuk ART kami.


flasback on


"Non, ada tamu di depan?" ucap Bi Siti.


"Aku sedang tidak ingin diganggu Bi. Aku sakit Bi. Tanyakan saja apa keperluannya." Ucapku dari kamar dengan intonasi tinggi, agar Bi Siti mendengar ucapanku.


"Baiklah Non." Ucap Bi Siti.


Aku mendudukkan tubuhku dan bersandar di headbord tempat tidur. Melap air mata yang membasahi wajahku dengan tisu basah yang ku raih dari nakas dekat ranjangku. Rasanya tubuhku lelah sekali.


Tok...tok...tok...


"Non, tamunya tidak ingin pergi. Katanya Dia harus bertemu dengan Nona, sebentar saja." Ucap Bi Siti dengan takutnya. Itu jelas terdengar dari cara bicaranya.


"Iya Bi, sebentar lagi Aku akan turun." Jawabku malas. Aku turun dari ranjang, kemudian berdiri didepan cermin. Aku melihat penampilanku yang nampak menyedihkan di pantulan cermin.


Aku masuk ke kamar mandi, membasuh wajah ku. Aku tidak mau orang melihatku dalam penampilan kacau. Ku usapku sedikit bedak di wajahku dan ku oleskan lipstik tipis dibibirku.


Merasa penampilanku sudah baik, Aku turun ke bawah untuk menjumpai tamu pria yang dikatakan Bi Siti. Betapa terkejutnya Aku mendapati pria yang ingin kutemui sejak dulu tapi tidak pernah kesampaian berada dihadapanku, kenapa Bapak ini menemuiku?

__ADS_1


__ADS_2