
Dert....derr....Dert....
No panggilan private number, kembali menghubungi Rili.
Matanya membeliak melihat panggilan masuk itu. Rili sekarang berada di dekat lemari TV. Ponselnya yang bergetar terus, membuatnya berjalan cepat meninggalkan tempat duduknya. Yasir memperhatikan istrinya yang berjalan ke tempat ponsel yang di cas.
Jantung Rili berdetak semakin cepat, sungguh Dia tidak mau berkomunikasi atau mengetahui tentang mantan suaminya itu. Dia bukannya benci kepada Rival. Tapi, Dia merasa tidak ada gunanya lagi, berkomunikasi dengan Rival. Dengan cepat Rili menonaktifkan ponselnya.
Yasir berdiri dihadapan Rili, menatap lekat wajah Rili yang seperti ketakutan. "Siapa yang menelepon sayang? Apa no pribadi itu lagi?" ucapan Yasir membuat Rili semakin kalut.
Sepertinya Abang Yasir sudah curiga.
Yasir ingin mengambil alih ponsel dari tangan Rili. Tapi, Rili tidak memberikannya. Dia menghindari tatapan mata Yasir, Dia berjalan ke kamar ponakannya. Dia menghindari interaksi dengan Yasir.
Sikap Rili itu membuat Yasir penasaran dan cemas. Sungguh Dia sangat penasaran. Sejak tadi siang, sikap Rili tidak terbuka.
Kedua orang tua Rili sudah masuk ke kamar. Sedangkan Yasir menyusul Rili ke kamar Adik Iparnya Riswan.
Rili mengambil alih ponakannya itu dari gendongan Ayahnya Riswan. Sedangkan Valery berbaring, setelah menyusui Valri.
Dengan gemes Rili menggendong Valri, dan tidak hentinya menciumi pipi gembul keponakannya itu, yang membuat Valri mengoceh-oceh dan menggerak-gerakkan kaki dan tangannya.
"Anak ganteng mirip siapa nih?" Yasir mengelus-elus pipi temben Valri, kemudian cup mencium pipi Rili. Yang membuat Rili terkejut dan malu.
Sikap Yasir membuat Rili sangat malu, Riswan dan Valery juga ikut malu lihat tingkah Yasir. Mereka pura-pura tidak melihat adegan mesra yang dilakukan Yasir.
Dasar malu-maluin saja.
Apaan sich? gak tahu tempat banget dech. Di depan Adik ipar sendiri, gak bisa jaga sikap. Pantesan tempat tidur roboh. Rili menggerutu dalam hati.
Melihat Rili cemberut, Yasir tertawa. " Kenapa mesti cemberut. Gak terima ya, pipinya dicium. Baiklah Abang tarik lagi." Dengan cepat Yasir mencium pipi Rili kembali.
__ADS_1
Tingkah Yasir sukses membuat Rili malu dihadapan Adiknya Riswan dan Valery. Tingkah Rili yang kesal itu. Malah membuat Valery dan Riswan tertawa.
Orang kesal koq malah ketawa sih, dasar aneh.
"Bang ke teras yuk!" Riswan menepuk pelan bahu Yasir. Riswan pun berjalan menuju teras rumah yang disusul oleh Yasir. Tapi, Dia menyempatkan bibirnya mencium pipi Rili kembali.
"Iiiihhh... dasar mesum.!" Rili mendorong tubuh Yasir. Yasir tertawa keluar menyusul Riswan ke teras.
Yasir mendudukkan bokongnya di kursi sebelah kanan Riswan.
"Terimakasih sudah mencintai kakakku begitu besarnya." Ucap Riswan dengan raut wajah sedikit mewek. Riswan, tidak tahu penderitaan yang dialami kakaknya selama menikah dengan Rival. Dia mengetahui semuanya, setelah Rili digugat cerai oleh Rival.
Yasir memutar lehernya menghadap Riswan. Dia sedikit tercengang mendengar ucapan Adik iparnya itu.
"Terima kasih untuk apa Riswan? Abang yang harus berterimakasih, karena sudah menerima keberadaanku dikeluarga ini.
Kalau orangnya sepertimu, semua orang juga mau kali Yasir.
"Tidak menyangka aja Bang. Pria sempurna seperti Abang. Mau menjadi bagian keluarga ini. Apa Abang nantinya tidak malu, Dimata rekan bisnis Abang dan keluarga besar."
"Dimata Allah, semua makhluk ciptaannya itu sama. Yang membedakannya hanya ketaatannya dan kemuliaan hatinya. Di dalam kubur, malaikat Munkar nakir tidak akan menanyakan jumlah harta kita.
"Apa kamu tidak sadar, kakakmu itu sangat berharga. Abang yang bersyukur, akhirnya bisa menikahinya." Riswan terbengong mendengar ucapan Abang Iparnya itu.
Dia akui, bahwa kakaknya Rili memang baik. Tapi, sepertinya Yasir terlalu berlebihan menilai Rili.
"Begitu banyak cobaan yang sudah kami lalui. Karena cinta kami yang tulus, akhirnya kami bersatu. Saat ini Abang sangat bahagia sekali. Saking bahagianya, Abang tidak bisa, tidak mengekspresikan cinta itu." Ucap Yasir dengan tersenyum. Akhirnya keikhkasannya melepas Rili, berbuah manis.
"Kalau menurutku sich, Abang terlalu mengekspresikan cintanya. Sehingga kadar malunya nihil. Tapi, sepertinya *********** besar." Ternyata Riswan tak kalah mesumnya.
Mimik wajah Riswan yang tadinya serius dan sedikit melow, berubah jadi muka mesum dan tidak bisa menyembunyikan raut wajah ingin tertawa.
__ADS_1
"Gempa lokal yang Abang ciptakan tadi sore. Sukses membuat penghuni rumah panik dan panas dingin. Apalagi Ibu, sok-sok tidak mengerti. Membuat kami dikamar tertawa terbahak-bahak." Riswan kembali menertawai Yasir yang sekarang wajah putihnya berubah
warna tomat matang.
Yasir tertawa untuk menutupi rasa malunya. Dia juga mengusap wajahnya dengan kasar.
"Kamu seperti tidak pernah saja begituan." Yasir malu, tapi Dia mencari pembenaran. Bahwa gempa lokal yang diciptakan adalah hal lumrah.
Riswan menahan tawanya. Perutnya sampai terasa sakit. Dia tidak tahan untuk tidak ketawa keras.
Saat ini Yasir benar-benar malu. Adik iparnya ini sungguh menyebalkan. Yasir Kurnia menjadi bahan olok-olok an. Karena ulahnya sendiri yang selalu minta jatah melebihi aturan minum obat. Asal janganlah over dosis, sehingga memerlukan perawatan.
"Tidak usahlah dibahas, sama-sama tahulah kita Riswan. Macem kamu tidak pernah mengalaminya saja. Yasir membuat muka tembok. Tapi, Dia sebenarnya sangat malu.
"Iya bang. Aku juga candu. Tapi, tidak sampai membuat tempat tidur ambruk. Hanya bergoyang-goyang saja dan mengeluarkan suara decitan. Hahhahaha....!" Riswan tertawa lepas. Sungguh Yasir menjadi bahan lelucon.
"Aaahhkkk... kamu ini buat orang malu saja." Yasir menepuk bahu Riswan yang masih tertawa itu. Dia pun masuk ke dalam meninggalkan Riswan.
Dasar adik ipar soplak. Yasir sungguh kesal menjadi bahan Bulian Adik Iparnya. Dia memasuki kamar mereka. Dia mendapati Rili sedang memberesi pakaian ke lemari baru mereka.
Yasir mengunci pintu. Rili tersenyum, senyuman Rili membuat jantung Yasir berdetak. Sungguh Yasir begitu bahagia melihat senyuman Rili. Menjadi budak Rili Dia akan Ridho. Asalkan bisa melihat senyuman itu terus.
"Bang, Jang begini. Geli tahu." Rili merasa sedikit tidak nyaman. Karena, Yasir memeluknya dari belakang. Disaat Rili berdiri, sedang memasukkan pakaian ke lemari.
Bagaimana Rili tidak merasa geli. Yasir menciumi ceruk leher, kuping dan tengkuk Rili. Dia juga menggelitik pinggang Rili.
"Yuk, buat anak!" Bisik Yasir ditelinga Rili dengan suara sensual. Yang membuat bulu Roma Rili meremang. Darahnya juga berdesir, yang bermuara di bagian bawa perut Rili. Sungguh sentuhan Yasir, sukses menyulut birahinya.
"Sayang...!" Rili sudah mulai terbuai. Karena tangan Yasir yang sudah menelusup masuk kedalam piyama Rili. Tangan itu sudah mulai memainkan bukit kembar Rili yang masih terbungkus Bra. Bokong Yasir menggesek-gesekan bagian belakang Rili. Sedangkan bibirnya bermain-main di telinga Rili yang membuat Rili panas dingin. Rili merinding, Dia menggeliat.
Skip.... bayangin saja sendiri. Pokoknya pasangan suami istri ini tidak ada kata bosan untuk itu, sebelum adonan mereka jadi. Semoga adonannya jangan bantat. Karena tidak sesuai takaran dan lama pembuatan. ☺️🤭.
__ADS_1
Tetap yang kubutuhkan dukungan kakak-kakak cantik. Dengan memberi like coment rate 🌟 5 dan jadikan novel ini sebagai favorit.
Votenya seikhlasnya. Makin banyak Vote, tentu Author lebih semangat nulisnya.