Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Menguji kesabaran


__ADS_3

Melihat wajah Mely yang cemberut itu, membuat Rival semakin gemes saja. Rival sebenarnya sangat grogi dan cemas. Dia inginnya mereka saling memahami dulu antara satu dengan lainnya. Tapi, Mely seolah sangat tidak sabar untuk melakukannya.


"Adek beneran siap?" ucap Rival dengan lembut, Mely mengangguk. Wanita itu juga sebenarnya sangat tegang. Tapi, entah kenapa melihat suaminya Dia ingin disentuh gitu. Entahlah, mungkin hormonal Mely sangat tinggi dua hari ini.


Rival berdoa dalam hati, dengan mencoba rileks, Dia yang sudah berada di atas tubuh Mely. Dimana kedua tangannya bertumpu di ranjang, Dia pun mencium lembut kening Mely dengan durasi yang cukup lama, kemudian Dia mengecup lembut kedua mata Mely yang sudah dari tadi Mely pejamkan.


Perlakuan Rival yang lembut itu, sungguh membuat Mely bahagia dan tidak sabaran. Saking tidak sabarnya. Dia langsung membuka paksa kaos yang menutupi tubuh Rival dan Mely melepas sendiri lingerie yang dikenakannya.


Dan dengan cepat Mely memeluk tubuh Rival dengan erat, sehingga kulit keduanya bersentuhan menyalurkan kehangatan, ditubuh mereka yang panas dingin.


Rival mengendorkan dekapan Mely, mereka saling pandang dengan memancarkan gairah yang membara dan dengan buasnya Mely langsung menerkam bibir Rival. Rival pun tidak tinggal diam. Decapan dan pangutan bibir pun mereka lakukan, saling membalas, saling bertukar Saliva dan saling membelit lidah. Mereka sampai berguling-guling. Pasangan ini sungguh dibakar birahi tingkat tinggi. Seolah-olah mereka menemukan kenikmatan terbaru dalam hidupnya melakukannya.


Puas bermain dibibir ranumnya Mely. Kini bibir Rival turun ke leher, meninggalkan jejak disana. Yang membuat Mely menggelinjang. Kemudian bibir itu turun ke gundukan hangat dan kenyal. Rival pun memainkannya. Mer*emas, memilin, men*gisap dan menggigit kecil. Yang membuat Mely ingin lebih. Dia mendesah, tubuhnya melengkung. Karena merasakan nikmat dari sentuhan Rival.


Bibir itu pun kini turun lagi kebagian inti bawahnya Mely. Bagian yang akan menjadi tempat penyatuan mereka. Dengan pelan tapi pasti. Rival bermain-main dibagian itu.


Sedangkan tangannya kanannya mengelus lembut paha dan ************ Mely. Dan tangan kirinya tak tinggal diam, tangan itu memberikan kenikmatan di bukit kembar nya Mely. Yang membuat Mely mengeluarkan suara-suara eksotis yang membuat Rival semakin bergairah.


Rival sangat menyukai tempat penyatuan mereka ini, walau Mely sudah basah. Rival tidak merasa jijik sedikitpun. Dia malah semakin menyukainya. Apalagi Dia melihat Mely malu-malu gitu, dengan mencoba menutupnya dengan kedua pahanya. Rival pun tidak tinggal diam, disaat Mely malu dan ingin merapatkannya, Rival malah semakin merenggangkannya.


Dan Rival Kembali memainkannya yang membuat Mely mendesah dengan frustasinya. Mely sampai menggelinjang, pinggulnya terangkat. Dia merasakan kenikmatan yang luar biasa menjalar ditubuhnya dan bermuara di kepalanya. Rasanya nikmat, dan membuat tenang dan pikiran jadi ringan.


Rival berhenti sejenak merangsang bagian bawah Mely. Dia kembali mengeskplor bibir Mely, kemudian turun ke leher, dada dan kembali lagi ke bagian inti tempat penyatuan mereka. Saat Rival hendak memainkan bibirnya kembali di area itu. Dia melihat cairan putihsedikit kental bercampur darah, di bagian inti luarnya.


Rival membelalak. Pikiran mesumnya langsung buyar. "Apakah ini darah? Kami kan belum melakukan penyatuan, kenapa ada darah?" Rival memandangai dengan detail cairan yang ada dibagian inti Mely. Dia diam dan tidak beraksi lagi. Yang membuat Mely keheranan. Karena suaminya itu menghentikan sentuhannya.


Mely akhirnya membuka matanya yang dari tadi merem melek, karena kenikmatan yang diberikan Rival. Dia melirik ke arah bawah tubuhnya. Dia melihat Rival terduduk di antara kedua pahanya dengan menatap bagian intinya.


"Saaayannng.... kenapa?" ucap Mely dengan suara manjanya. Rival menoleh ke arah Mely dengan tersenyum devil dan putus asa.


"Kenapa?" Mely kembali bertanya. Sehingga Dia pun mendudukkan tubuhnya.


"Ada darah." Ucap Rival tersenyum kecut. Mely langsung memeriksa bagian intinya dengan merabanya. Benar saja, darah dan cairan kental putih sudah lengket ditangannya.


Mely memperhatikan cairan ditangannya tersebut. Saking terkejut dan tidak percayanya. Dia tidak begitu malu lagi, dalam keadaan polos dihadapan Rival. Sedangkan Rival sudah sangat frustasi sekali. Enda pusakanya yang masih didalam sangkar itu, sudah berontak ingin keluar tapi tidak jadi dikeluarkan. Karena sarangnya sudah palang merah.


Mely menangis sambil memperhatikan jarinya yang berlumur darah. "Kenapa datangnya sekarang?" ucapnya dengan wajah begitu menyedihkan sambil berurai air mata.

__ADS_1


Rival yang tadinya juga kesal, akhirnya tertawa melihat tingkah Mely yang seperti bayi yang menangis minta mimik susu itu. Gejolak nafsu birahi pun seketika menguap hilang dari pikiran, digantikan dengan rasa lucu.


Rival tertawa melihat istrinya yang begitu menggemaskan. Dia menarik tubuh polos Mely dan mendekapnya. Dia menghadiahi puncak kepala Mely dengan ciuman bertubi-tubi. Sedngakan Mely memasrahkan dirinya di dada bidangnya Rival.


"Sudah, sudah sayang. Jangan menangis lagi." Rival masih berusaha menenangkan Mely.


"Kenapa mesti sekarang coba datangnya. Apa tidak bisa menunggu besok?" Mely merengek dalam dekapan Rival. Kenapa tubuhnya ini tidak bisa diajak kerja sama. Padahal menurut biasanya, Dia akan halangan 3-4 hari lagi. Kenapa malah maju waktunya.


"Abang kecewa?" tanya Mely masih mendekap suaminya itu.


"Jujur sih kecewa. Tapi, mau gimana lagi. Mungkin sekarang belum waktu yang tepat." Ucap Rival. Mengelus lembut punggung Mely.


Mely melepas pelukan Rival, Dia hendak turun. Tiba-tiba saja Dia malu dengan tubuh polosnya. Dia pun meraih lingerie nya yang kebetulan bisa diraihnya. Dengan cepat Dia memakainya kembali dengan tersenyum kepada Rival. Rival pun menelan ludahnya kasar melihat Mely saat memakai lingerie itu.


Dengan tersenyum Mely turun dari ranjang berjalan cepat menuju kamar mandi. Dia sangat malu sekali. Sedangkan Rival memperhatikan seprei yang sudah ada noda darah menstruasi Mely. Dia pun turun dari ranjang. Memakai kembali sarungnya yang sudah terlepas.


Rival melepas seprei dari bed. Melipatnya dan meletakkannya di atas meja rias Mely. Dia pun duduk di ranjang tersebut, menunggu Mely keluar dari kamar mandi.


Saat Menunggu Mely selesai dari kamar mandi. Rival menyoroti kamar Mely yang nuansanya jauh dari feminim. Satu boneka pun tidak ada di kamar itu. Cat dinding kamar Mely berwarna lila. Rival menyukai warna itu. Di dinding banyak foto Mely terpajang, mulai dari kecil hingga dewasa. Tapi, kebanyakan foto kecilnya hanya bersama Ibunya. Sedangkan dengan Ayahnya hanya ada satu foto. Sepertinya saat Mely tamat SMA.


Mata Rival pun berhenti menyoroti ruang kamar Mely, disaat Mely sudah keluar dari kamar mandi hanya menggunakan jubah mandi. Rival tersenyum, dengan bertelanjang dada dan memakai sarung Rival pun masuk ke dalam kamar mandi. Dia Ingin buang air kecil dan mencuci wajahnya. Yang tadi sempat tegang. Karena kebawa hawa nafsu.


Mely pun heran melihat suaminya itu kembali masuk ke kamar mandi. Tapi, Dia tidak menanyakan alasan Rival kembali masuk. Dia sedang sibuk memakai pembalut kain.


Merasa Mely sudah selesai dengan kegiatan memakai baju. Rival pun keluar dari kamar mandi, dengan perasaan sedikit malu dan grogi.


Dia melihat Mely hendak memasang seprei. Dengan cepat Rival mengambil alih. Mely pun tersenyum melihat Rival yang melakukannya. Kini Mely duduk di kursi riasnya. Yang terlebih dahulu, Dia meletakkan seprei kotor di tempat kain kotor.


"Sudah terpasang." Ucap Rival dengan tertawa kecil.


"Mely langsung memeluk Rival yang sedang berdiri disisi ranjang.


"Suami idaman." Ucapnya pelan, dan memasrahkan kepalanya di dada bidangnya Rival. Hati Rival menghangat mendengar pujian Mely. Dia pun mencium puncak kepala Mely dengan sayangnya. Menggendong Mely dan membaringkan Mely diranjang. Rival pun merebahkan tubuhnya disebelah Mely.


Dengan manjanya Mely kembali minta dipeluk. Rival pun dengan senang hati melakukannya. Sambil mencium pipi Mely. Sedangkan Mely memainkan putin*g Rival. Yang membuat Rival kegelian.


"Jangan." Ucap Rival sambil menahan tawa. Karena aksi Mely yang bermain di dadanya Rival.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Geli sayang."


"Benarkah?"


"Iya." Rival menangkap tangan Mely dan menciumnya.


"Adek besok ke kampus?" Rival masih menggenggam tangan Mely.


"Iya, semoga saja besok perutku tidak nyeri. Sekarang saja sudah mulai terasa nyeri." Ucap Mely menahan rasa sakit, karena Dia menstruasi. Dia pun menguap. Dia sebenarnya sangat menkantuk.


"Kenapa perut Adek? kenapa tiba-tiba sakit.


Apa Adek lapar?" Rival begitu khawatirnya. Dia sampai mendudukkan tubuhnya. Memegangi perut Mely. Yang membuat Mely terharu, melihat sikap perhatiannya Rival.


"Aku tidak lapar. Ini karena Adek Menstruasi. Biasanya akan terasa sakit dibagian bawah perut selama satu hari." Ucap Mely dan kembali menarik lengan Rival agar berbaring.


Mely langsung memeluk tubuh suaminya itu.


"Ya sudah, kita tidur ya. Atau Adek minum obat dulu."


"Tidak biasa minum obat. Adek biasanya minum jamu. Yang sering dibuatin Bibi Ida." Ucap Mely, masih dalam dekapan suaminya itu.


"Bibi Ida pulang kampung. Terpaksa Mely ke supermarket belinya besok."


"Oohh iya sayang. Kita tidur aja ya. Kamu perlu istrirahat itu."


"Belum mekantuk, masih ingin bercerita." Mely kembali menguap. Dengan menutupnya dengan telapak tangannya.


"Tidak menkantuk? Adek saja sudah menguap." Rival memciumi gemes pipi Mely. Sungguh pipi Mely sangat kenyal dan lembut. Wangi lagi, seperti pipi bayi saja, yang membuat Rival ingin selalu menciumnya.


TBC


Lama up, karena tidak lolos review. Ini sudah direvisi berulang kali.🤭


Ramaikan juga novel ku yang berjudul

__ADS_1


Dipaksa menikahi Pariban.


__ADS_2