Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Cuek-cuek


__ADS_3

Asisten Jef mengantar Dokter Afifah sekaligus akan menebus resep Dokter.


"Sayang, maafkan Abang ya!" ucap Yasir dengan mata berkaca-kaca. Dia duduk dikursi di sisi ranjang. Dia memegangi tangan Rili dan menciumi jemarinya. Rasa bersalah menghantamnya. Tidak seharusnya Dia terbawa perasaan tadi. Dia tidak akan menanyakan lagi alasan Rili tidak menghubunginya setelah Rili resmi bercerai dari Rival. Dia juga tidak akan menanyakan apakah Rili mencintainnya atau tidak. Yang penting Rili sudah menjadi istrinya sekarang.


"Walau kamu tidak cinta sama Abang, tidak apa-apa. Yang jelas Abang cinta dan sayang samamu." Ucapnya putus asa. Rili langsung menarik tangannya dari genggaman Yasir. Dia geram mendengar ucapan Yasir.


Yasir menatap wajah Rili yang memalingkan wajahnya ke arah lain. Dia sangat senang, akhirnya Rili merespon ucapannya juga, walau dengan sikap jutek.


"Abang lapar? dari tadi siang belum makan." Ucapnya bohong, Dia sedang mencari perhatian Rili yang berubah jadi dingin itu.


Kamu bukan anak kecil lagi, yang kalau makan harus diingatkan. Gumam Rili dalam hati. Masih memalingkan wajahnya dari Yasir. Bahkan Dia sudah membelakangi Yasir.


Melihat Rili tidak meresponnya. Dia membuka jas nya dan sepatunya, kemudian naik ke atas ranjang dan berbaring menghadap Rili. Yang membuat Rili membalik badannya lagi. Yasir gemes melihat tingkah Rili. Dia pun mengusap-usap punggung Rili yang masih ditutupi oleh pakaian Rili.


Dia menggerak-gerakkan jari telunjuknya, seolah punggung Rili adalah media untuk melukis. Dia menggerakkan jari telunjuknya membentuk simbol 💖. Tingkah Yasir itu membuat Rili kegelian. Dia menggerak-gerakkan punggungnya, sebagai aksi protes atas aksi Yasir yang tidak disukainya.


Melihat Rili masih merajuk, Yasir tidak tinggal diam. "Kalau Abang peluk, boleh gak ya?" ucapnya pelan di dekat telinga Rili yang membuat Rili merinding. Tapi Rili tidak menjawab.


"Abang kangen Dek, sudah berapa jam kita pisah. Abang datang, masak Adek cuekin Abang." Ucap Yasir sedih dan tidak berani menyentuh istrinya yang lagi ngambek itu.


Kalau mau peluk. Peluk aja, ngapain minta izin segala. Gumam Rili dalam hati. Dia sebenarnya masih sedih, kesal dan masih merasa tertekan. Tapi, Dia sungguh tidak bisa mengabaikan suaminya yang begitu dicintainya ini. Yang sekarang, sudah seperti bayi yang menangis dan merajuk minta disayang-sayang sama Mamanya.


"Dek, Abang lapar." Ucap Yasir dengan polosnya. Yang membuat Rili geram.


"Kalau lapar ya makan." Ucap Rili jutek. Ucapan Rili yang jutek membuat Yasir bahagia sekali. Akhirnya istrinya itu kemakan pancingannya juga.


"Baiklah, Abang makan dulu ya." Ucap Yasir tenang, Dia beranjak dari tempat tidur. Tingkah Yasir yang seolah pingin makan sendiri itu dan tidak mengajak Rili. Membuatnya sedih dan kesal.


Air mata Kembali jatuh di pipi putihnya. "Aku juga lapar, makanya tidak bertenaga. Dia malah mau makan sendiri." Gumamnya Dia melap air matanya dengan jemarinya.


20 menit berlalu, Jef datang membawa obat dan kresek berisi makanan. Dia langsung menuju ruang makan. Karena Yasir sudah menghubungi Jef tadi. Meminta Jef membeli makanan kesukaan Rili.


"Bos, kenapa tidak jadi dinner di Hotel?" tanya Jef sambil membantu Yasir menata makanan di meja makan.

__ADS_1


"Ada insiden tadi." Jawab Yasir. Dia masih sibuk menyiapkan makanan di atas meja.


"Berarti pindah rumah tidak jadi malam ini Bos?"


"Tidak jadi. Besok pagi Aku kabari kamu. Mana obat istriku?"


"Ini Bos." Jef menunjukkan obat Rili.


"Sana kamu pulang." Yasir mengusir Jef dengan mendorong-dorongnya sampai pintu.


"Aku pikir, Aku akan ikut makan malam." Ucap Jef malas dan kesal di ambang pintu.


"Kamu mau jadi obat nyamuk Haahh? Aku mau bermesraan sama istriku. Mau suap-suapan. Kamu nanti pasti tidak tahan melihatnya. Jadi lebih baik kamu makan di Hotel saja." Ucap Yasir dan menutup pintu dengan keras yang membuat Asisten Jef terlonjak karena kaget. Dia pun pulang dengan menggerutu.


Setelah Yasir mengusir Asistennya, Dia berjalan cepat menuju kamar. Dia melihat Rili Masih berbaring miring dalam posisi semula.


Yasir mendekati Rili yang membelakanginya itu. Dia mencium rambut Rili, kemudian memain-mainkannya dengan menggulung-gulungnya. Yasir terus melakukan itu, Dia menunggu reaksi Rili. Benar saja, baru lima kali perlakuan. Rili sudah menepis tangan Yasir yang memainkan rambutnya, tapi masih membelakangi Rili.


Yasir tersenyum, " Sayang, makan Yok?" ucapnya lembut, sambil mengelus rambut Rili.


"Kita makan ya sayang, Adek kan harus minum obat." Masih mengelus kepala Rili penuh dengan sayang.


Perlakuan Yasir tentu membuat Rili luluh. Dia berbalik menghadap Yasir. Yasir tersenyum, dan merapikan rambut Rili yang menutupi sebagian wajahnya.


"Maafkan Abang ya!" ucap Yasir dengan mengatupkan kedua tangannya, dengan wajah baby eyes. Yang membuat Rili ketawa dalam hati, tapi masih menampakkan wajah kesal. Rili benar-benar tidak bisa marah terhadap Yasir.


Rili menganggukkan kepalanya, pertanda Dia mau makan. Dengan cepat Yasir membopong tubuh Rili ala bridal style, yang awalnya membuat Rili berontak kecil. Akhirnya pasrah dengan perlakuan Yasir yang romantis itu. Sebenarnya Dia masih canggung mendapat perlakuan mesra dari suaminya. Tapi, semakin Dia berontak, maka Yasir akan semakin menjadi-jadi.


Yasir mendudukkan Rili di kursi meja makan. Dia duduk disebelah kiri Rili. Di meja makan sudah terhidang makanan yang meningkatkan tekanan darah ada daging rendang, kentang goreng, sayur capcai serta soup daging. Menunya memang Indonesia banget. Sesuai dengan selera Rili.


"Makanannya banyak sekali, kalau tidak habis kan sayang." Ucap Rili, Dia memperhatikan makanan yang terhidang di atas meja.


Kening Yasir menyergit. Dia merasa makanan ini tidak banyak, menunya pun hanya tiga macam.

__ADS_1


"Pasti habis, kalau tidak habis bisa disimpan di kulkas. Besok dipanasin lagi." Ucap Yasir yang mulai menaruh nasi ke piring Rili.


Ucapan Yasir membuat Rili tercengang. Yasir yang sangat kaya, mau makanan sisa. Dia memutar lehernya sehingga mereka bersitatap. Mata Rili kembali berkaca-kaca melihat suami dihadapannya. Yasir memang begitu mencintainya.


"Apa Abang salah lagi?" tanya Yasir dengan wajah penuh iba. Dia sangat takut membuat kesalahan, sehingga Rili kembali membencinya lagi.


Rili menggeleng.


Yasir tidak tega melihat wajah Rili yang nampak sembab itu. Rili kebanyakan menangis.


"Maafin Abang Ya!" Yasir mengelus pelan pipi Rili dan mentoel hidung Rili yang memerah, karena kebanyakan menangis, entah sudah berapa kali Yasir meminta maaf, yang permintaan maafnya sekalipun belum dijawab Rili.


"Abang dimaafin kan sayang?" Yasir mengelus lembut kepala Rili. Rili pun mengangguk. Yasir sangat senang permintaan maafnya di Terima. Dia mencium dengan cepat kening Rili, yang membuat Rili malu.


"Aaahhhkkkk" ucap Yasir, Dia menyodorkan nasi ke arah Rili.


"Aku bisa makan sendiri." Ucap Rili, masih menutup mulutnya.


"Iya, baiklah kalau tidak mau disuapi." Ucap Yasir, berpura-pura kesal. Dia meletakkan sendok yang berisi makanan Rili kembali ke piring Rili.


Dia memutar tubuhnya lurus ke arah makanan. Dia pun menyantap makanannya, dengan berpura-pura cuek. Rili pun memakan makanannya. Mereka makan dalam diam.


Setelah makan, Rili melihat obat di meja makan. Dia meraihnya dan memakannya, sedangkan Yasir pura-pura cuek. Entah apa dibenak Yasir. Tadi Dia baik dan perhatian, merasa perhatiannya tidak digubris, Dia langsung berubah cuek.


Selesai makan obat. Rili ingin sekali minum teh manis panas. Dia pun bergerak dari tempat duduknya, berjalan pelan menuju meja dapur tempat gula, bubuk teh dan thermos berada.


Yasir memperhatikan Rili yang berjalan menuju meja dapur. Dia pun mengekori Rili. Dia sungguh tidak tega bersikap dingin. Lihatlah, Yasir pura-pura cuek. Rili malah semakin cuek.


TBC..


Baca juga novel terbaruku yang berjudul


*PARIBAN I HATE YOU

__ADS_1


Happy reading


__ADS_2