
Rival terbangun, Dia menoleh ke arah Mely yang masih memeluknya. Pagi ini Dia merasa bahagia sekali. Sikap Mely yang lucu, membuatnya selalu ingin tertawa. Beginikah rasanya dicintai?
"Benarkah gadis kecil ini mencintaiku? atau Dia hanya menemukan sosok yang dicarinya ada padaku?" Rival membatin dan terus saja memandangi wajah Mely yang cantik itu dan masih tertidur dengan lelapnya.
Rival membelai kepala Mely dan mencium puncaknya. "Bisakah Aku mencintainnya? walau sekarang ku akui, Aku mulai tertarik dan suka dengan sentuhan serta sikap manjanya. Apa yang kurasakan ini cinta? atau reaksi hormonal ku saja yang ingin disentuh dan menyentuh lawan jenis?" Rival asyik bicara sendiri dalam hatinya. Dia masih belum yakin dengan dirinya yang mau menerima Mely dalam hidupnya.
"Mungkin sudah saatnya Aku melupakannya. Melupakanmu Rili. Semoga hati ini tetap istiqomah dengan keputusan yang sudah ku ambil dengan membolehkan Mely masuk dalam hatiku. Aku juga yakin, Rili juga sudah sangat bahagia dengan Yasir." Rival masih bermonolog, sambil mengelus pelan lengan Mely. Dia menoleh kembali ke wajah Mely. Bibir Mely menjadi sasaran mata genitnya. Dia mengecupnya sekilas yang membuat Mely menggeliat, tapi tetap melanjutkan tidurnya.
Rival melepas lengan Mely yang memeluk tubuhnya dengan pelan. Dia turun dari ranjang, kembali menyelimuti tubuh Mely. Dia masuk ke kamar mandi. Membersihkan tubuhnya, kemudian Dia melangkah ke kamarnya dengan hanya mengenakan handuk kepunyaan Mely di pinggangnya.
Rival memakai baju Koko putih dan sarung, Dia melaksanakan sholat shubuh di ruang sholat. Setelah selesai melaksanakan sholat. Rival berjalan menuju dapur. Dia akan memasak sarapan untuk mereka berdua.
Rival memeriksa rice cooker, ternyata masih ada nasi yang dimasaknya semalam. Dia pun berniat akan memasak nasi goreng. Dia kemudian membuka lemari es memeriksa bahan yang bisa diolahnya menjadi lauk. Ternyata ada udang di wadah yang tertutup rapat dalam plastik.
Rival mulai mengupas bawang, memotong seledri dan menyiapkan semua bahan yang digunakan untuk memasak nasi goreng dan sambal udang. Rival membuat sendiri bumbu nasi gorengnya, tanpa mencampur dengan bumbu instan.
Hampir setengah jam Rival berkonsentrasi menuntaskan acara memasaknya. Hingga konsentrasinya Buyar saat Dia melihat Mely berjalan ke arahnya dengan menguap.
Rival tersenyum kepada istrinya itu, melihat senyuman Rival yang menggoda membuat Mely ingin sekali mengecup bibir yang melengkung itu.
"Abang masak apa?" Ucap Mely dan langsung memeluk Rival dari belakang, yang membuat Rival sedikit grogi. Dia belum terbiasa diperlakukan wanita seperti yang dilakukan Mely.
"Masak sambal udang extra pedas." Ucap Rival masih sibuk dengan spatula dan wajan di depannya.
"Waaah... Aku suka sekali yang pedas. Hot... hot.... se hot suamiku." Goda Mely dengan semakin membenamkan wajahnya di punggung Rival.
Rival tersenyum dalam hati. "Oohh bahagianya disentuh-sentuh begini." Gumamnya dalam hati.
Ooalahh Rival kasihan banget dirimu selama ini jablay saat bersama Rili.
__ADS_1
Mely masih saja terus memeluk Rival yang bergerak kesana-kemari, mempersiapkan sarapan mereka. Rival enggan meminta Mely untuk melepas pelukannya. Dia takut Mely tersinggung. Kalau Mely sudah luas memeluknya, tentu Mely akan melepaskan pelukannya. Begitulah kira-kira pemikiran Rival.
Tapi, nyata nya. Mely semakin mempererat pelukannya. Mely pun sangat heran dengan dirinya. Begitu banyak perubahan yang terjadi dengannya setelah mengenal Rival. Dia yang biasanya sedikit Badung, jadi sering di rumah. Mau ikut bersama Mamanya mengikuti pengajian dan acara-acara perkumpulan sesama ibu-ibu.
Makanya sekarang Dia lagi mempraktekkan ilmu yang didapatnya, saat mengikuti semua kegiatan Mamanya. Seorang istri harus lembut kepada suaminya, manja, berhias dan wangi.
Dia pun teringat dengan dirinya yang belum mandi. Sehingga Dia melepas tangannya yang membelit pinggang Rival tersebut. Dan dengan cepat Dia lari ke kamarnya, masuk ke kamar mandi. Dia pun mandi dengan sangat bersih.
Rival pun sudah menyajikan sarapan mereka di meja makan. Dia melirik ke jam ya g ada di dinding dapur tersebut. Ternyata masih pukul enam pagi.
Dia kembali ke kamarnya, Dia bersiap-siap untuk berangkat bekerja. Mengganti bajunya dengan kemeja lengan panjang warna putih dengan celana goyang warna hitam. Mely yang sedang berada di ruang makan, tidak melihat keberadaan Rival di tempat itu. Dia pun berjalan cepat menuju kamar Rival dan memegangi perutnya yang masih kram.
Dia membuka handle pintu Rival dengan pelan. Dan mendapati Rival sedang memasukkan kemejanya. Melihat Mely datang, refleks Rival dengan cepat mengancing dan memasang ikat pinggangnya. Rival masih canggung dengan kebersamaan mereka.
Mely tersenyum, walau meringis sedikit karena perutnya yang kram.
Pak Ali telah memberikan uang yang banyak kepada Rival, dengan alasan sebagai perdamaian atas Mely yang menabraknya. Tapi Rival menolaknya. Padahal maksud Pak Ali memberikannya adalah, agar Rival bisa membeli pakaian dan keperluan untuknya, serta Mely yang sekarang adalah istrinya.
Rival hanya mau menerima mobil yang diberikan Pak Ali, sebagai transportasi nya ke kantor.
Mely mendekat ke arah Rival, Dia kini berdiri dihadapan suaminya itu. Memperhatikan penampilan Rival yang sangat sederhana.
"Abang hari ini sibuk ya? makanya masih pagi sekali udah rapi?" tanya Mely lembut, Dia mengelus dada Rival yang bidang yang membuat Rival grogi.
"Iya." Jawabnya singkat, karena Dia mati Kutu dengan sikap Mely.
Mely ingin mencomentari penampilan Rival. Tapi Dia takut suaminya itu tersinggung.
"Nanti jemput Mely kan sayang?" ucap Mely masih sibuk tidak menentu, merapikan kerah baju Rival yang memang sudah rapi.
__ADS_1
"Iya, jam 4 kan Dek?" Rival masih mematung dengan perlakuan Mely yang memainkan kerah kemejanya. Mely juga memperhatikan dengan lekat wajah Rival.
"Iya." Jawabnya singkat, Dia mulai menggoda Rival dengan memeluknya erat, kemudian meminta Rival mencium ceruk lehernya. Permintaan Mely itu membuat Rival ingin menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
Rival pun melakukan keinginan Mely. Yang membuat junior Rival menegang dibawah sana. Tentu saja ciuman itu menjalar kemana-mana. Tangan Rival pun langsung bergerak menyentuh satu gundukan yang bisa dijangkaunya. Dia meremasnya pelan sedangkan bibir mereka kini bertautan.
Merasa aksi mereka ini akan menuntut lebih, padahal Mely palang merah. Rival pun menyudahinya. Bisa gila Dia sepanjang hari, menahan gejolak nafsunya yang mulai dari semalam ditahannya.
"Abang harus cepat berangkat. Ada rapat jam sembilan, Abang yang harus gantikan Ayah memimpinnya." Ucap Rival lembut, karena Mely merajuk, disaat Rival melepas pangutan bibir dan permainan tangannya di bagian dada Mely.
"Iya." Jawab Mely, mereka pun keluar dengan bergandeng tangan. Sarapan dengan romantisnya saling suap-suapan dan minum dari gelas yang sama. Mely seolah mempraktekkan ilmu yang didapatnya saat mengikuti perkumpulan ibu-ibu komplek dengan Mamanya selama tiga bulan tersebut. Ternyata rasanya begitu membahagiakan.
Rival pun berangkat kerja yang diantarkan Mely Sampai ke beranda rumah. Dia kembali memeluk Rival dengan manjanya dan Rival juga membalas pelukannya dan menghadiahi kening dan puncak kepala Mely dengan ciuman.
"Abang berangkat ya. Nanti hati-hati di jalan saat berangkat ke kampus." Ucap Rival, Dia memasuki mobilnya dan melajukannya.
Rival mendudukkan tubuhnya di kursi kerjanya dengan menghela napas dalam. Setengah harian ini, begitu padat kegiatannya sehingga Dia lelah sekali. Hingga telpon berbunyi di meja kerjanya. Dia pun mengangkatnya.
"Ada yang mencari Bapak? apa ku persilahkan masuk?" tanya sekretarisnya dengan lembut. Ya tadi Rival berpesan agar jangan mengganggunya saat jam istirahat.
Rival melihat jam di pergelangan tangannya sudah pukul 12.10 Wib. Waktu Zuhur akan tiba.
"Ya persikahkan Dia masuk."
TBc.
Mampir juga ke novel ku yang berjudul
Dipaksa menikahi Pariban
__ADS_1