Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Mama... Aku Ingin Pulang


__ADS_3

"Waahhh... Si Bos lagi bermesraan ternyata." Ucap Rival setelah Dia menutup pintu ruangan Yasir dan berlalu pergi ke lobi.


Di ruangan Yasir, Maura nampak duduk di sofa sedangkan Yasir memberesi dokument laporan yang baru diperiksanya.


"Abang belum sembuh total, tapi sudah langsung bekerja. Mengunjungi perkebunan ini lagi. Bisa saja kan Abang, mewakilkannya kepada Asisten Yusuf." Ucap Maura dengan Ayunya. Dia nampak memainkan jarinya yang lentik dengan kuku yang berwarna pink.


"Kamu ada urusan apa sampai menemui saya kesini." Ucap Yasir dingin. Matanya sama sekali tidak tertarik untuk melihat Maura.


"Abang sampai kapan mengharapkan wanita kampung itu? Bukannya Dia sudah menikah?" tanya Maura dengan mimik wajah yang begitu bahagia. Senyuman selalu mengembang dibibirnya.


"Kamu jauh-jauh datang kesini hanya untuk membahas itu!" ucap Yasir. Dia mulai kesal dengan Maura, matanya kini melotot kepada wanita itu.


"Tidak juga, Aku ke kota ini ada urusan pekerjaan. Aku mau buka Butik disini dan Ayah mendukungnya." Ucap Maura.


Yasir menghela napas panjang, Dia merasa beban pikirannya bertambah hari ini karena kehadiran Maura, yang mulai membahas Rili.


"Tiga bulan yang lalu, saya sudah tegas mengatakannya kepadamu. Bahwa sampai kapanpun Kamu itu hanya saya anggap sebagai adik." Ucap Yasir, Dia hendak meninggalkan Maura di ruangannya itu.


"Tunggu dulu bang, tapi Dia kan sudah menikah. Dia tidak mencintaimu Bang Yasir!" ucap Maura lantang.


Yasir menghempaskan tangan Maura yang berusaha menghentikan langkahnya untuk keluar dari ruangan kerjanya.


Kepala Yasir rasanya tambah sakit. Mendengar ucapan Maura yang mengatakan Rili tidak mencintainya. Hatinya tidak bisa menerima kenyataan pahit itu.


"Tunggu... Abang Yasir tunggu! Aku ikut pulang denganmu." Ucap Maura sambil berlari menyusul Yasir yang kini nampak sudah memasuki pintu lift.


"Jaga sikapmu dikantor ini." Ucap Yasir kepada Maura saat berada di dalam lift.


"Semua karyawan juga tahu bahwa Aku ini akan menjadi istrimu." Timpal Maura.


"Tidak akan pernah terjadi!" ucap Yasir dan melangkahkan kakinya menuju parkiran.


Rival yang melihat Bosnya keluar, langsung berjalan cepat menuju parkiran. Dia langsung membukakan pintu mobil belakang.Tapi, Yasir malah membuka pintu mobil sebelah kemudi.


Yasir langsung mendudukkan tubuhnya. Maura langsung masuk ke mobil yang pintunya dibuka Rival.


"Cepat jalan Bang!" Ucap Yasir.


Saat mengendera Rival pun dibuat bingung dengan Bosnya yang nampak mengacuhkan Maura.


"Pak, kita mau kemana ini?" tanya Rival. Dia bertanya karena mereka sudah melewati MES untuk para pimpinan.


"Pulang ke rumah."


"Alamatnya dimana pak?"


"Jalan saja, nanti saya kasih petunjuk arahnya." Jawab Yasir.


"Bukannya Bapak tinggal di Mes?" tanya Rival.


"Dulu saat masih Directur Utama keseringan di Mes. Tapi, sekarang saya lebih suka di rumah." Jawab Rival.


Mobil yang dikendarai Rival sudah keluar dari Area perkebunan. Baru 2 KM mobil tersebut melaju di Jalinsum(Jalan Lintas Sumatera). Yasir memerintah Rival untuk berhenti disebuah Rumah mewah yang berlantai Dua. Rumah tersebut bercat brown dan putih.


Rival membunyikan klakson. Nampak Pak satpam membuka pagar rumah.


"Antarkan Maura kemana Dia mau. Setelah itu Abang datang lagi ke rumah ini. Masih ada yang harus saya bahas dengan Abang. Sekalian Abang belikan sate bumbu kacang. Ini uangnya." Ucap Yasir, Dia memberikan uang pecahan Rp. 100.000 kepada Rival dan keluar dari Mobilnya.


"Ok Bos!" jawab Rival.


"Dasar Manusia Es balok." Ucap Maura kesal.


Rival melajukan mobilnya membelah jalan Raya menuju kota.

__ADS_1


"Abang namanya siapa?" tanya Maura dengan lembut dan tersenyum. Rival bisa melihat senyuman Maura dari kaca spion.


"Rival Nyonya." Jawab Rival dengan sopan.


"Nyonya? jangan panggil saya Nyonya. Saya bukan istri majikanmu. Panggil saya dengan sebutan Nona!" jawab Maura ketus. Dia nampak kesal dengan jawaban Rival yang memanggilnya dengan Nyonya.


"Oh maaf Nona." Ucap Rival.


"Kamu ya sama menyebalkannya dengan Abang Yasir. Buat moodku rusak hari ini." Ucap Maura sambil mengibas-ngibaskan rambutnya yang lurus dan ujungnya berwarna keemasan tersebut.


"Apa AC nya kurang dingin nona? biar saya tambahin volumenya." tanya Rival.


"Tidak usah, sudah tidak gerah lagi koq. Aku kesal sekali sama Bosmu itu. Aku sudah jauh-jauh datang menyusulnya malah dicuekin." Ucap Maura, Dia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskan pelan. Dia sepertinya sedang menenangkan dirinya.


Rival yang sedang konsentrasi menyetir, dibuat tertarik dengan perkataan Maura.


"Bukannya tadi mereka sedang bermesraan. Kenapa menjadi kesal." Gumam Rival dalam hati.


"Ada ya pria aneh seperti Bos mu itu."


"Maksud Nona apa? Bos Yasir aneh gitu?"


"Iya, aneh."


"Tapi, Aku melihatnya tidak aneh. Dia pria baik, tampan dan cocok banget jadi pemimpin." Jawab Rival.


"Dia aneh. Seleranya pun sekarang jadi aneh. Sate Madura lah, soto Medan lah. Mana kata Dia enak."


"Memang enak Nona." Timpal Rival.


"Buat lidah orang kampung itu memang enak Tapi, Aku tidak suka."


"Iya Nona." Jawab Rival malas. Dia sudah nampak tidak simpati kepada Maura. Karena sifatnya yang sombong.


"Akhirnya peluang itupun datang. Aku dapat info bahwa wanita yang sangat dicintainya itu sudah menikah. Makanya Aku susul Abang Yasir kesini. Aku pikir, Dia akan menerimaku, Ternyata tidak." Ucap Maura sambil berdecak.


"Oohhhh... Kupikir Bos Yasir sudah menikah."


"Dia tidak akan pernah mau menikah dengan perempuan manapun, terkecuali dengan wanita kampung itu." Ucap Maura kesal.


"Tapi, kata Nona tadi, wanita kampung itu sudah menikah. Mana mungkin lagi Bos Yasir masih mengharapkan wanita yang sudah bersuami. Nona sabar aja, banyak berdoa agar Allah membuka hati Bos Yasir dan menerima Nona." Ucap Rival, dengan fokus melihat kedepan saat menyetir.


"Dia mau jadi bujang lapuk kali, atau menunggu jandanya." Ucap Maura kesal.


"Stop, stop. Aku turun disini." Maura turun tepat didepan Minimarket.


🍁🍁🍁


Rival kini sudah sampai di rumah Yasir, Dia nampak duduk di sofa berwarna hitam di ruang tamu.


Yasir mendatangi Rival. "Ini Bos satenya, dan uang kembaliannya." Ucap Rival.


"Iya. Terima kasih. Kembaliannya sama Abang saja." Ucap Yasir. Dia memberikan amplop coklat kepada Rival.


"Apa ini Bos?" tanya Rival sedikit bingung.


"Itu gaji Abang, sesuai dengan kesepakatan yang saya bilang kemarin. Mulai besok pukul tujuh pagi, Abang jemput saya ke rumah ini. Dan Ini no telepon Rumah. Kalau ada apa-apa Abang bisa hubungi no telepon Rumah." Ucap Yasir. Dia nampak menyandarkan punggungnya di sofa yang terdapat di ruang tamu tersebut.


"Abang boleh pulang!" ucap Yasir.


"Baiklah, terima kasih banyak Bos." Ucap Rival sungkan bercampur bahagia. Senyuman begitu mengembang tak lepas dari bibirnya sepanjang jalan menuju rumah. Dia merasa Yasir seperti penyelamat hidupnya, terutama dalam masalah ekonomi.


Rival memarkir mobil Yasir Merk Toyota Land Cruiser tersebut di halaman samping Rumahnya. Dia melirik jam tangannya. Ternyata sudah pukul 18.00 Wib.

__ADS_1


Saat Dia berjalan ke arah balai-balai. Dia melihat Ayahnya memandangnya dengan pandangan sangat terkejut.


"Mobil siapa itu nak?"


"Mobil Bos, Ayah."


"Dikasih mobil kamu nak?"


"Tidak Ayah, ini mobil dinas." Jawab Rival. Dia nampak memeluk Ayahnya. Dia sangat bersyukur setelah menikah ternyata rezekinya berubah drastis.


"Ibu dimana Ayah?" ucapnya sambil mengurai pelukan dari tubuh kurus Ayahnya yang sedang memakai baju Koko warna cream dan sarung tersebut.


"Dari tadi Ayah tidak melihat Ibumu. Mungkin Dia di rumah Mila."


"Ooohh.... Iya Ayah, Rival Masuk dulu." Ucapnya dan langsung berlari cepat masuk ke rumah. Dia nampak membuka sepatunya sebelum masuk ke ruang keluarga.


"Pasti Adek Rili lagi di kamar." Gumam Rival dalam hati.


Dia sangat bahagia hari ini, ingin rasanya Dia menghujani ciuman bertubi-tubi disekujur tubuh istrinya tersebut. Tapi, pasti Rili tidak mau.


Ceklek....


Rival memasuki kamar, Dia melihat Rili di dalam selimut.


"Dek," ucap Rival sambil menggoyang pelan kaki Rili.


Rili tidak merespon. Akhirnya Rival merangkak mendekati istrinya itu. Dia menyibak selimut yang menutupi tubuh Rili.


Rival melihat wajah Rili pucat, kening dan kepalanya berkeringat. Sehingga rambut Rili lepek. Rival menempelkan punggung tangannya dikening Rili.


"Dek, kamu sakit. Tubuhmu panas sekali." Ucapnya begitu khawatirnya dengan mengecek seluruh tubuh Rili dengan tangannya.


Rili tidak menjawab, Dia begitu tak bertenaga. Untuk ngomong saja mulutnya terasa keluh dan sakit.


"Ayo, kita berobat." Ucap Rival dengan suara bergetar. Dia sangat ketakutan melihat istrinya yang suhu tubuhnya begitu tinggi.


Rival menggendong Rili ala bridal style. Dia memakai sendal jepitnya dengan cepat. Dia menekan kunci mobil dan membuka pintu mobil bagian depan. Dia mendudukkan Rili di jok depan.


Ayah Rival yang melihat Rili digendong putranya itu dibuat terkejut. "Parumaen kenapa nak?"


"Sakit Ayah, Aku bawa ke klinik dulu." Ucapnya dan langsung tancap gas setelah Rili di pakaikannya seat belt.


Sepanjang jalan menuju klinik, Rili mengingau. Memanggil-manggil Mamanya. Matanya terpejam, tetapi cairan bening lolos dari mata indah milik Rili.


"Ma, Mama ... Rili mau pulang. Ma, mama.... jemput Rili. Ma,.....!" Ucapnya dengan mata tertutup.


Duarr...... Jantung Rival berdetak cepat dan sangat keras mendengar Rili yang mengingau.


"Kenapa Istriku bisa mengatakan itu, apa pernikahan ini sangat menyiksanya. Tapi, Aku selalu memperlakukannya dengan baik. Dia pun tidak banyak bercerita tentang yang dialaminya. Apa yang terjadi? Kami baru menikah. Harusnya saat-saat ini adalah moment indah buat kami berdua." Hati Rival bertanya-tanya.


Kini mereka sudah keluar dari simpang dan melintasi jalan besar menuju kota. Dia sengaja membawa Rili ke klinik terbesar dikotanya. Karena kalau dibawah ke rumah sakit pun. biasanya kalau sudah magrib Dokternya kosong.


Setelah memarkir mobil. Rival membopong tubuh Rili, dengan cepat Dia meminta perawat untuk menanganinya. Perawat itu meminta Rival membawa istrinya ke ruang pemeriksaan.


"Inikan mobil saya, kenapa ada di klinik ini?" Ucap Yasir. Dia memarkirkan mobilnya disebelah mobil yang dibawa Rival.


Bersambung...


Mohon beri like, coment positif. Rate bintang 5 dan jadikan novel ini sebagai favorit.


Jangan lupa VOTE nya kak, biar lebih semangat lagi authornya.


Author juga ada group. Silahkan gabung ke group ya kak.

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2