Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Perkelahian


__ADS_3

Duarrr...... terdengar suara petir yang sangat keras.


Rili yang sedang bertelepon akhirnya diam tanpa suara. Dia sangat terkejut. Dia takut disambar petir.


"Halo... halo..!" ucap Rili, "Kenapa Abang Rival mematikan handponenya?" Rili menjauhkan ponselnya dari kupingnya. Ternyata jaringan tidak ada.


Sementara Rival yang masih terus berkata. "Halo.... halo... halo... Dek? Dek Rili,....?!" Rival sangat panik. Dia berpikiran yang macam-macam karena secara tiba-tiba handponenya Rili mati.


"Apa mungkin Dia kena sambar petir?" ucap Rival sambil mondar-mandir di teras rumah tempat Dia melayat.


Rumah yang lagi berduka masih lumayan ramai, walau acara tahlilan sudah selesai. Orang-orang pada terjebak hujan deras. Makanya Rombongan Rival yang terdiri dari 4 sepeda motor tersebut memilih menunggu hujan reda baru akan pulang.


Rival mendatangi temannya yang lain yang sedang duduk di ruang tamu. "Aku pulang duluan ya teman!" Ucap Rival dengan paniknya.


"Tunggu hujan reda sedikit, baru kita konvoi. Kamu tidak takut nanti di hutan Nabundong?" ucap Uccok.


NABUNDONG adalah sebuah kawasan hutan lindung. Mendengar namanya saja langsung terbayangkan hal-hal angker dan menakutkan.


Hutan ini menyimpan banyak kisah misterius.


Mulai dari penemuan mayat, kendaraan terjun ke jurang, perampokan, hingga cerita penampakan mahluk halus dan monyet besar melompat ke kendaraan yang melintas.


Di kaki bukit hutan Nabundong terbentang Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) yang berliku dengan panjang sekitar 10 kilometer. Kiri kanannya terdapat bukit berhutan lebat, tebing curam rawan longsor dan jurang sedalam 30 sampai 100 meter.


Makhluk gaib juga sering menakut-nakuti pengendara, Dia akan duduk diboncengan untuk mengganggu pengendara yang akhirnya menimbulkan kecelakaan.


"Aku takutnya hanya kepada Sang Pencipta" Ucap Rival.


"Sebentar lagi pasti hujannya reda, kita jalan sama-sama." Ucap Ucok lagi.


"Ini hujan tidak akan reda. Sekarang sudah pukul 22.00 Wib. Mau jam berapa lagi sampai di rumah kalau menunggu hujan reda. Gak apa-apa. Aku bisa pulang sendiri." Ucap Rival. Dia pun berpamitan kepada keluarga yang kemalangan.


Rival memakai mantel dan helmnya. Dia langsung tancap gas.


Hujan, badai akan ditempuhnya. Karena Dia sangat mengkhawatirkan istrinya.


Sepanjang jalan Dia berdoa, agar Rili masih dalam keadaan sehat, bahwa Rili tidak disambar petir saat mereka tadi bertelponan.


Sudah satu jam Rival mengendarai motornya. Syukurlah motornya bisa diajak kompromi. Biasanya kalau Rival mengendarai motornya disaat hujan, biasanya motornya sering mati mendadak.


Tibalah Rival melewati Hutan Nabundong yang terkenal angker dan menakutkan itu. Rival sama sekali tidak takut.


Kira-kira 20 meter di depannya Dia melihat mobil pribadi berhenti di pinggir jalan yang dengan lampu belakang kerlap-kerlip.

__ADS_1


Semakin dekat ke mobil Dia melihat dua sepeda motor terparkir.


Buggghhh... bugh.... bugh...


Terdengar suara orang berkelahi.


Dia sudah sangat dekat dengan mobil yang menyita perhatiannya.


Dia melihat seorang pria dikeroyok oleh 4 orang.


Sudah biasa di tempat ini ada perampokan. Rival tidak berhenti, Dia ingin cepat pulang. Dia tidak mau ikut campur urusan orang. Pikirnya, tapi hati kecilnya berontak. Akhirnya Dia memutar balik, belum turun dari motornya Dia melihat pria yang dikeroyok tersebut hendak dipenggal dengan parang.


Rival menggas motornya sehingga tepat berhenti di depan orang yang hendak memanggal tersebut, sehingga orang itu tersungkur karena tabrakan motor Rival. Syukur Rival lihai mengontrol laju motornya, kalau tidak dia akan terjun bebas ke jurang Nabundong.


Aksi ke empat orang tersebut berhenti.


"Siapa Dia?" Ucap perampok kepada temannya.


Rival turun dari motornya, dia membuka Helm dan mantelnya dengan cepat.


"Aku tidak tahu, ayo kita habisi kedua orang ini." Ucap ketua geng perampok.


Pria yang dikeroyok dengan cepat bergerak ke arah Rival, disaat ke empat perampok tersebut lengah saat Rival membuyarkan aksi mereka.


"Iya."


Rival nampak waspada dengan mengepalkan kedua tangannya. Bersiap untuk beraksi apabila ada serangan. Setelah Dia melepas Helm dan mantelnya. Motornya juga berada dekat Rival.


Rival dan Pria yang dirampok tersebut sudah dikelilingi oleh keempat perampok.


Perampok menyerang Rival dengan mendekat untuk meninjunya. Rival menangkisnya dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya bergerak cepat meninju wajah si perampok dan kakinya menendang perampok yang hendak meninjunya tersebut.


Mengetahui perampok Lain akan menyerangnya, dengan cepat kaki Rival bergerak ke belakang, sehingga si perampok tersungkur.


Perkelahian itu semakin menegangkan saja, dibawah guyuran hujan dan diterangi cahaya bulan. Saat Rival sedang menghajar babak belur ketua geng perampok. Dimana posisinya telentang dan Rival berada di atas tubuhnya. Rival terus menghadiahi perampok terus dengan tinjunya. Di wajah dan perutnya.


Sedangkan pria yang dirampok juga melakukan perlawanan yang sama, kedua perampok juga babak belur dibuatnya.


Saat Pria yang di rampok, sedikit lengah setelah selesai menghajar bagiannya, ternyata ada satu perampok hendak menyabetnya, Rival pun melihatnya, Sehingga Rival dengan cepat berlari untuk menangkis parang yang hendak disabetkan ke punggung pria yang dirampok dengan menggunakan kayu yang diambilnya acak di tempat tersebut.


Setelah parang terlempar, maka dengan membabi buta Rival menghajar perampok tersebut dengan kayu yang sebesar betis orang dewasa tersebut.


Melihat temannya hampir mati di hajar Rival. Maka ketiga perampok tersebut lari kocar-kacir dengan motornya. Mereka meninggalkan teman mereka yang sedang dihajar Rival.

__ADS_1


Melihat perampok yang dihajarnya secara membabi buta tidak berdaya, maka Rival berdiri dengan tegak. Dia ngos-ngosan. Dia pun akhirnya terduduk di tanah pinggir jalan.


Pria yang dirampok tersebut pun mendudukkan tubuhnya di sebelah kiri Rival.


Mereka terduduk dengan kaki sama-sama berseloncor. Sambil menata napasnya masing-masing.


"Terima kasih banyak bang!" ucap Pria korban perampokan.


"Iya, sama-sama." Jawab Rival masih ngos-ngosan. Rasanya lelah sekali menghajar perampok tersebut.


"Abang ada tali,?" tanya Rival.


"Sepertinya ada. Bentar!" Jawab si pria korban perampokan. Dia nampak membuka bagasi mobil Fortuner sportynya.


Dia mengambil tali tambang, yang kebetulan ada di mobil tersebut.


"Mari kita ikat perampok yang satu ini, kasihan sekali nasibnya ditinggalkan kawannya." Ucap Rival sambil tertawa miris melihat perampok yang sudah babak belur itu.


Mereka pun akhirnya mengikat perampok yang ditinggalkan kawanannya itu.


Rival dan korban perampokan kembali duduk ditanah pinggir jalan. Hujan pun akhirnya Reda.


Pria yang dirampok mengambil air mineral dari mobilnya dan menyodorkannya ke Rival.


Rival meneguknya dan sisanya dimuncratkannya ke wajahnya.


"Terima kasih banyak ya bang! seandainya Abang tidak lewat, maka kemungkinan Aku sudah tewas."


"Iya, sama-sama." Ucap Rival yang masih nampak mengistirahatkan tubuhnya.


"Nama Abang siapa?" tanya si korban perampokan.


"Rival."


"Namaku Yasir Kurnia." Ucapnya sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


Bersambung..


Mohon beri like, coment positif. Rate bintang 5 dan jadikan novel ini sebagai favorit.


Jangan lupa VOTE nya kak, biar lebih semangat lagi authornya.


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2